SELAMAT MEMBACA
***
Sekar terbangun dengan sedikit terkejut. Saat dia menoleh kesebelahnya, ranjang di sebelahnya sudah kosong. Dan yang lebih membuatnya heran, kenapa sekarang tidurnya ada di tengah ranjang bukannya semalam di pinggir. Siapa yang menariknya ketengah, dan lagi siapa yang meletakkan guling di kedua sisinya. Sekar langsung berfikir memangnya dia bayi, sampai dihalangi guling agar tidak jatuh seperti ini. Tapi tiba-tiba Sekar teringat dengan satu manusia yang kemungkinan melakukan semua itu, siapa lagi kalau bukan Ndoro Karso.
Setelah memikirkan semua itu, Sekar tidak segera bangun. Dia justru berguling - guling dengan malas di atas ranjang. Menikmati ranjang sang Ndoro yang sangat nyaman itu. Apalagi aromanya begitu menyegarkan entah pewangi sepreinya atau aroma tubuh Ndoro Karso yang tertinggal. Jujur membuat Sekar betah berlama-lama tidur di ranjang itu. Tidurnya juga sangat nyenyak semalam, hingga pagi dia bangun dengan kondisi segar.
Tiba-tiba mata Sekar menatap jam dinding di seberang ranjangnya. Sekar langsung bangun, ketika hari sudah siang. Sekar langsung buru-buru kekamar mandi dan membersihkan diri sebelum keluar dari kamar.
Tidak butuh waktu lama, sampai Sekar kembali keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar dan baju yang sudah ganti. Dia langsung keluar dari kamar ingin melihat kondisi di luar.
"Ndoro Putri mau sarapan sekarang?" Tanya Mbok Sugeng saat melihat Sekar sudah keluar dari kamar. Tadi dia menerima amanah dari sang Ndoro untuk menyiapkan sarapan untuk Ndoro Putrinya jika sudah bangun. Namun, jika belum sang Ndoro berpesan agar jangan di bangunkan.
"Iya Mbok," jawab Sekar lalu berjalan menuju meja makan.
"Ndoro pergi keluar, kata Ndoro tadi setelah sarapan Ndoro Putri boleh jalan-jalan keluar jangan di rumah saja biar tidak bosan." Ucap Mbok Sugeng menyampaikan pesan sang Ndoro.
"Ndoro pergi kemana Mbok?" Tanya Sekar lagi. Bukan karena peduli, hanya saja Ndoro Karso sudah pergi pagi-pagi sekali. Membuat Sekar merasa heran.
"Kebun melonnya panen, jadi Ndoro kesana untuk mengawasi orang panen melon Ndoro Putri.”
Sekar hanya mengangguk tidak lagi bertanya ataupun bicara.
***
Setelah sarapan, Sekar memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah milik Ndoro Karso. Setelah berjalan-jalan sesaat dia baru menyadari jika kediaman sang Ndoro itu sangat luas dan mewah. Aksen jawanya sangat kental. Di setiap sudut kediamannya terdapat ornamen-ornamen klasik khas jawa yang semakin menambah kesan mewah di rumahnya.
"Ndoro Putri mau kehalaman belakang?" tanya Mbok Sugeng yang siang itu menemani sang Ndoro Putri berkeliling.
"Di sana ada apa Mbok?" tanya Sekar dengan penasarannya. Lagi pula, dia takut untuk menginjak halaman belakang. Bisa saja, Ndoro Karso tidak berkenan nantinya.
"Ada kolam ikan, ada kolam renang, juga pohon buah Ndoro." Jelas Mbok Sugeng lagi.
"Saya boleh kesana?" tanya Sekar dengan ragunya.
"Nggih boleh Ndoro. Ndoro putri boleh kemana pun yang Ndoro mau di rumah ini." Ucap Mbok Sugeng lagi menjelaskan.
Sekar langsung berjalan dengan semangatnya menuju halaman belakang rumah Ndoro Karso ini. Ingin melihat lebih banyak lagi apa saja yang ada di rumah sang Ndoro yang sebesar itu. Mungkin dari luar orang tidak akan tau ada apa di dalamnya, karena rumah Ndoro Karso ini di kelilingin tembok yang tinggi. Mereka yeng melihatnya dari luar mungkin hanya akan tau jika kediaman sang Ndoro itu begitu besar. Tapi apa yang ada di dalamnya, tentunya hanya orang-orang yang tinggal di sana yang tau.
Sampai di halaman belakang, Sekar melihat beberapa laki-laki yang sedang bekerja. Ada yang merawat tanaman, membersihkan kolam bahkan ada yang sedang menyapu. Mereka semua kompak menunduk saat melihat garwo sang Ndoro tiba-tiba datang.
Melihat semua itu Sekar merasa sedikit heran. Karena rasa-rasanya, dia tidak melihat rewang perempuan selain Mbok Sugeng di rumah ini. Sejak kemarin, jika bertemu rewang maka mereka semua laki-laki.
"Mbok, memang di sini tidak ada perempuan ya?" Tanya Sekar pada Mbok Sugeng. Mbok Sugeng yang mendengar hal tersebut hanya menggeleng dan tersenyum dengan tenang.
"Mboten enten Ndoro." (Tidak ada Ndoro) jawab Mbok Sugeng.
"Jadi hanya kita berdua perempuan di sini?" Tanya Sekar lagi dengan tidak percayanya. Masa tidak ada perempuan yang bekerja di rumah itu. Semua pekerjaan di sana diambil alih oleh laki-laki. Memasak, mencuci baju, semua laki-laki. Kenapa?
"Nggih Ndoro. Awalnya malah cuma saya sendiri. Tapi sekarang ada Ndoro Putri. Jadi hanya kita berdua perempuan di sini."
"Kenapa begitu Mbok?"
"Ndoro Karso Mboten remen kalih rewang setri Ndoro." (Ndoro Karso tidak suka dengan pembantu perempuan Ndoro)
Sekar semakin dibuat heran dengan sikap Ndoro Karso itu. Mungkin aneh adalah kata yang pantas untuk menggambarkan sosok sang Ndoro itu.
Tiba-tiba fokus Sekar tertuju pada pohon jambu air yang ada di pekarangan belakang rumah Ndoro Karso. Kebetulan sedang berbuah dan sangat lebat.
“Itu boleh dipetik Mbok?” tanya Sekar sambil menunjuk pohon jambu air di hadapannya.
“Ya boleh. Ndoro Putri mau?”
Sekar langsung tersenyum dengan semangatnya ketika ditanya seperti itu. Siapa bilang dia tidak mau. Melihat pohon berbuah tentu saja matanya langsung berbinar.
Selain pohon jambu air, masih ada jambu kristal, belimbing, mangga, kelengkeng, sawo, sirsak, Sekar juga melihat sepertinya ada pohon delima di ujung. Dan entah apalagi karena jarak pandang yang terbatas. Sekar tidak melihatnya dengan jelas. Yang pasti, pekarangan belakang rumah Ndoro Karso itu penuh dengan pohon buah. Sepertinya sang Ndoro itu sosok yang gemar menanam buah-buahan. Sekar lihat hanya ada satu dua tanaman bunga di sana, selebihnya diisi dengan tanaman buah. Bahkan di pot-pot kecil yang seharunya berisi bunga, juga berisi pohon buah.
Sekar langsung mendekati pohon jambu yang tidak terlalu tinggi itu. Tangannya spontan ingin memanjat karena sudah gemas dengan buah yang matang-matang. Tapi untungnya, Mbok Sugeng langsung dengan sigap menahan tangan Ndoro Putri yang sudah dieratkan di dahan itu.
“Ndoro mau apa? Biar diambilkan Tejo.” Cegah Mbok Sugeng lagi.
“Saya ambil sendiri saja Mbok. Pohonnya tidak tinggi,” ucap Sekar lagi.
“Ngapunten (maaf) Ndoro. Tidak boleh, nanti kalau jatuh Ndoro Karso duko (marah).”
Mendengar itu, Sekar akhirnya menurut tidak jadi memanjat sendiri pohon jambu air itu.
“Jo, tulung pek no jambu Jo.” (Jo, tolong petikkan jambu Jo) ucap Mbok Sugeng pada Tejo yang kebetulan sedang menyapu di sana.
Tejo yang dipanggilpun langsung dengan sigap menghampiri keduanya.
“Saya ambilkan galahnya dulu Ndoro,” ucap Tejo dengan sopan pada Sekar.
Sedangkan Mbok Sugeng kembali kedapur untuk mengambil tempat guna wadah jambu yang akan dipetik.
Sekar pun menunggu para rewang sang Ndoro itu dengan perasaan tidak sabarnya.
Tejo datang dengan galah panjang untuk memetik jambu.
“Ngapunten Ndoro ini apa tidak ingat sama saya?” tanya Tejo pada Sekar sambil mulai memetik jambunya.
Sekar yang ditanya seperti itu tentu saja bingung. Dia lalu mengamati Tejo dengan lekat. Namun setelahnya menggeleng pelan.
Tejo hanya tersenyum tipis, lalu menyerahkan jambu yang sudah dipetik itu pada Sekar. Lalu dia mulai memetik yang lain.
“Memangnya kita pernah bertemu Jo?” tanya Sekar dengan bingungnya.
“Mungkin Ndoro Putri lupa, kalau saya ini yang waktu kecil sering dipanggil Kempleng. Dulu sering mancing di kali. Kalau Ndoro ke desa dulu kita sering main sama teman-teman yang lain.”
Sekar langsung terbelalak mendengar itu. Sungguh demi apa, dia sama sekali tidak bisa mengenali temannya yang dulu sering dipanggil Kempleng itu. Wajahnya jauh berbeda dengan saat kecil. Dulu laki-laki itu berbadan krempeng dan hitang sekarang saja sudah lumayan bersih dan bertubuh besar. Siapa yang akan menyangka.
“Jadi kamu Kempleng yang dulu itu. Maaf ya, saya benar-benar tidak kenal. Kamu sekarang jauh beda dari waktu kecil.”
Tejo hanya tersenyum maklum mendengar itu.
“Iya Ndoro, Kempleng kecil sudah tidak ada. Sekarang saya Tejo,” ucap Tejo lagi.
Mbok Sugeng datang membawakan bakul dan sebuah pisau, Sekar langsung meletakkan jambu di tangannya kedalam bakul yang dibawa oleh Mbok Sugeng.
“Jadi kamu kerja di sini sekarang Jo, kok tidak bilang dari awal kalau kenal saya?” tanya Sekar lagi.
“Saya sungkan Ndoro. Kita ini sudah lama tidak ketemu, mungkin juga Ndoro Putri sudah lupa. Lagi pula saya sadar, saya ini siapa, Ndoro Putri siapa.”
“Halah Jo, sama saja. Namanya orang itu, tidak usah begitu. Kamu sudah menikah sekarang?” tanya Sekar lagi dengan ramahnya, Sekar merasa lega jika ternyata dia punya teman di sana. Sekar sama sekali tidak canggung ngobrol dengan Tejo sampai membuat Mbok Sugeng sedikit heran. Tapi tidak berani bertanya.
“Sudah Ndoro, saya sudah punya anak satu. Usia setahun,” jawab Tejo lagi.
“Wahh selamat ya, kapan-kapan ajak istrimu kesini biar bisa kenalan Jo.”
“Nggih Ndoro,” ucap Tejo lagi.
Tak terasa bakul di tangan Mbok Sugeng sudah terisi penuh dengan jambu yang sangat menggiurkan.
Tejo lalu menyudahi acara petik buahnya lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Kapan-kapan ngobrol lagi ya Jo,” ucap Sekar sambil melambaikan tangannya pada Tejo.
Setelah itu, Mbok Sugeng langsung mencuci jambu itu di kran air yang tidak jauh dari sana. Sedangkan Sekar menunggu di gazebo kecil di tengah halaman.
Setelah di rasa bersih, Mbok Sugeng lalu menyerahkan jambu itu pada Sekar. Tidak perlu menunggu lama, Sekar tentu saja langsung mengeksekusi jambu yang sangat menggiurkan itu.
Tiba-tiba dari kejauhan, Mbok Sugeng melihat sang Ndoro yang berdiri sedikit jauh mengamati mereka. Mbok Sugeng hanya tersenyum sambil menunduk pelan.
“Ndoro Putri,” panggil Mbok Sugeng pelan.
“Kenapa Mbok?” tanya Sekar tanpa menoleh. Karena dia fokus memotong jambunya.
“Kadang kita itu tidak punya kuasa untuk melawan takdir. Yang bisa kita lakukan satu-satunya hanya berdamai dengan keadaan. Semoga Ndoro Putri mengerti dengan maksud Simbok. Kalau tidak ada yang penting lagi, saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan.”
Tanpa menunggu jawaban dari Sekar, Mbok Sugeng sudah lebih dulu pergi. Membuat Sekar bingung dengan maksud ucapan Mbok Sugeng yang tiba-tiba.
“Berdamai dengan keadaan, apa maksudnya?” guman Sekar bingung. Tapi dia memilih mengabaikannya.
“Enak jambunya Nduk?”
Mendengar itu, Sekar langsung menoleh. Dan melihat Ndoro Karso datang membawa sebuah melon di tangannya.
“Enak,” jawab Sekar pelan.
“Kamu suka melon?” tanya Ndoro Karso lagi sambil menunjukkan melon di tangannya.
“Suka,” jawab Sekar sambil mengangguk.
Ndoro Karso tersenyum mendengar itu, dia lalu ikut duduk di sebelah Sekar dan mengambil alih pisau di tangan Sekar. Mulai memotong melon yang tadi dia bawa dan memberikannya pada Sekar.
“Coba ini,” Ndoro Karso menyerahkan sepotong melon yang sudah dia bersihkan itu pada Sekar.
Sekar pun menerimanya dan memakannya. Manis, kesan pertama yang dia rasakan saat air dari melon itu menyentuh lidahnya.
“Enak?” tanya Ndoro Karso lagi.
“Enak Ndoro, terimakasih.” Ucap Sekar dengan lirih.
“Siapa yang petikkan jambunya ini tadi?” tanya Ndoro Karso saat melihat sebakul penuh jambu air segar di hadapannya.
“Kempleng,” jawab Sekar dengan spontan. Namun menyadari ada yang salah dia buru-buru mengoreksinya.
“Ehhh Tejo maksudnya.” Ulang Sekar lagi.
Ndoro Karso lagi-lagi hanya tersenyum mendengar itu.
“Sama Tejo saja ingat, kenapa sama saya tidak ingat Nduk cah ayu?”
“Hahhh?”
***