Ghibran mengetuk-ketuk jari telunjuk pada meja. Pagi itu, bayangan perihal Gendis yang menghampiri kediaman sang ayah, terus terngiang di dalam kepala. Ghibran dan Gendis memiliki kisah di masa lampau. Mereka berdua cukup dekat semasa SMA. Gendis sempat menyatakan perasaan kepada Ghibran. Namun, pria yang sedari muda sudah popular di kalangan wanita tersebut, menolak perasaan yang dilontarkan Gendis kepadanya. Tok-tok. Seseorang mengetuk pintu kerja. Sudah pasti, itu Raras -sekretarisnya. “Silahkan,” Ghibran berucap. Memberhentikan jari telunjuk yang sedari tadi sibuk mengetuk-ketuk atas meja. Raras masuk ke dalam ruangan. Mengantar seorang tamu pria. Dia, Jerry. Teman SMA Ghibran. “Hai, Jerr,” Ghibran menyapa. Beranjak dari duduk. Sorot matanya menginginkan Raras segera meninggalkan

