Ghibran beranjak dari posisi rebahan. Meski mata pria itu masih dipenuhi rasa kantuk, namun ia takkan membiarkan sang istri berkelana di dalam pikirannya sendiri. “Sayang, ke marilah,” Ghibran meminta. Bilqis mematikan layar ponsel Ghibran yang menyala. Meletakkan ponsel itu pada posisi semula. Lalu, mendekat ke arah sang suami dengan perasaan ragu. Di satu sisi, ia ragu karena kebohongan yang menyelinap di telinga. Namun, di sisi lain wajah Ghibran sama sekali tak pernah menunjukkan gurat penghianatan. “Apa kau masih marah?” Ghibran bertanya, sesaat usai mendapati sang istri terduduk di sampingnya. Tanpa permisi, Ghibran menarik tubuh Bilqis. Membawa tubuh mungil wanita itu ke dalam dekapan. Merangkul dengan penuh kelembutan. Sesekali membenamkan wajah di leher sang istri; hingga wani

