Semenjak lepas landas di daratan, wanita muslimah itu tak henti mengeluarkan air mata. Hal tersebut sontak membuat Rifaldo menjadi bingung. “Bilqis? Hei! Bilqis Syadja Khumairroh?” Rifaldo menghentak. Menghentikan aktivitas menangis Bilqis yang kembali tersedu-sedu. Issh! Bukankah tadi dia berkata, jika senang sekali? Lalu, mengapa menangis lagi? Rifaldo membatin heran. Dahi pria itu tak henti berkerut karena tak paham. “BILQIS? WOI!” Rifaldo memekikkan suara. Bilqis sontak menatap wajah pria, yang sedari tadi memperhatikan ia dari depan. “Ada apa, Rif?” Bilqis bertanya polos. Mengusap bulir air mata. Air mata yang keluar sebagai tanda bahagia; atas berkurangnya rasa sesak di dalam d**a. What the hell? Wanita ini justru bertanya ‘ada apa’ kepadaku? Seharusnya, aku yang bertanya dem

