Nesya sudah duduk di meja makan, setelah berganti dengan dress floral yang manis demi mendiamkan ocehan durasi panjang sang mama. Di depannya sudah ada keluarga mantan, menghadap ke meja yang sudah dipenuhi aneka masakan lezat.
Mama-mama di area meja makan tampak antusias saling bercerita, soal kesibukan sebagai ibu rumah tangga, belum lagi membahas gosip artis pemain sinetron kesayangan emak zaman now.
"Sayang, gimana kondisi hati kamu apa udah lumayan tenang?" tanya Aira dengan raut khawatir. "Maafkan anak Mama, ya, emang suka bikin orang naik darah," ujar perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik, dia sudah kelar bergosip dengan Fernita.
Kedua papa lebih fokus menekuri makanan, mungkin baru akan bersuara usai perut kenyang.
Nesya hanya menjawab dengan ringisan dan tak sengaja bertemu tatap dengan mantan yang sialnya makin ganteng. Lagian kenapa, sih, mamanya repot mengundang keluarga Elvan sarapan bareng?
"Ditanya diam aja, enggak lagi sariawan, 'kan?" Fernita menyindir sambil menyikut lengan sang anak.
Nesya menghela napas, menghirup aroma gurih dari berbagai makanan yang berjejer di meja. Lalu ditatap perempuan yang sudah dianggap mama kedua. "Maaf pasti keputusan Nesya udah bikin Mama Aira sedih."
"Apa udah enggak ada kesempatan?" tanya Aira penuh harap.
Gadis itu menggeleng pelan, melirik ke arah Elvan yang seolah tidak peduli apa pun jawabanya. Apa laki-laki di depannya sudah benar-benar rela?
Lalu, mama-mama di meja makan saling berpandangan dengan ekspresi sedih. Sementara papa-papa berhenti menyendok makanan.
"Papa harap kamu enggak akan gegabah mengambil keputusan, ini sudah menyangkut masa depan kamu." Adiyasa angkat bicara, menatap putri sulungnya dengan tatapan kecewa.
Karina pamit keluar ada urusan sama teman sekolah dan mengatakan makan bubur saja sambil menyelesaikan tugas, pasti sekalian menghindar dari acara sidang lanjutan berkedok sarapan bersama.
Adiknya Elvan juga memilih diam di rumah, seorang mahasiswa semester awal yang terlihat cantik mewarisi paras sang mama.
"Mas juga pikirkan baik-baik, Papa enggak pernah mendidik Mas begini sama perempuan," tegas Faisal pada anak sulungnya.
Aira mengangguk-angguk, lalu melirik dua orang yang harusnya sebentar lagi menikah. "Iya, memang kalian udah enggak saling cinta?"
"Ma, aku cuma mau menghargai keputusan Nesya. Kalo dia udah enggak suka jangan dipaksa." Elvan menjawab dengan nada seolah-olah menyalahkan wanita di depannya, membuat bibir Nesya mengerut sebal.
Jadi, keputusan memilih mengakhiri hubungan tidak salah, kan? Pria di hadapannya sampai lebaran kelinci akan tetap merasa paling benar.
Aira menatap wajah Nesya dengan sungguh-sungguh. "Mama ngerti banget sifat Elvan gimana, kamu pasti cape menghadapi keegoisan anak Mama. Tapi masih bisa diperbaiki, 'kan?"
"Ma?" Elvan seakan tidak terima menuai tatapan tajam sang mama yang menoleh ke arahnya.
"Nes, mamanya Elvan udah baik loh enggak marah sama kamu yang childish banget. Kok, kamunya masih aja keras kepala," lanjut Fernita kehabisan akal membujuk putri sulungnya.
"Tapi keputusan Nesya udah bulat, maaf banget kalo bikin kecewa." Nesya mencicit.
Semua pasang mata memandang ke arahnya dengan raut kecewa, termasuk Elvan yang diam-diam memasang ekspresi tak rela.
Fernita merasa geram melihat sikap anaknya, ia meraih segelas air putih serta meneguk cepat.
"Udah enggak perlu dibujuk, lagian aku setuju sama Nesya. Kita memang enggak cocok." Elvan mengangkat bahu, membuat tangan Nesya meremas dress dengan perasaan terluka.
"Mas, kamu ini harusnya berjuang," ucap Aira gemas, ia belum bisa menstabilkan napas yang memburu terbawa emosi. Lalu Faisal cepat-cepat mengusap punggung tangan sang istri memberi kode agar lebih tenang.
Adiyasa sudah geleng-geleng, kehabisan ide membuka pikiran pasangan yang sama-sama keras.
"Berapa lama mereka pacaran, Ma?" tanya Faisal setelah suasana lebih bisa dikondisikan.
"Tiga tahun, kan, Mas?" Aira melirik sang anak meminta kepastian, Elvan hanya menghela napas panjang.
Faisal mengangguk-angguk. "Oh, udah lama berarti. Kalo enggak cocok pasti pisahnya dari tahun pertama."
Nesya meringis membenarkan kalimat mertua idaman, dia mengambil air putih lalu meminumnya. Sementara Elvan tidak bereaksi apa-apa, hanya mengedikkan bahu seolah tidak peduli.
"Gini aja, kalian perlu bicara berdua dari hati ke hati, siapa tahu menemukan jalan keluar daripada pisah, iya, 'kan?" pinta Fernita berusaha membujuk anaknya yang sekeras baja. Diliriknya Nesya yang masih terlihat ragu.
Aira mengangguk. "Mama setuju, kamu harus bisa menahan emosi, Mas. Apa enggak menyesal kehilangan Nesya padahal Mama tau banget secinta apa kamu sama calon mantu idaman Mama."
"Semua udah kelar, Ma. Udahlah!" Elvan mendesah kesal membuat Aira geleng-geleng tak percaya.
***
Nesya keluar rumah satu jam setelah keluarga mantan pulang, Almira tadi menghubungi meminta ditemani jalan-jalan ke mal membeli kado untuk keponakan yang akan ulang tahun dua hari lagi.
Ide bagus, Nesya perlu hiburan sekalipun rela menguras saldo rekening daripada pikiran suntuk di rumah. Almira bilang akan menjemput, jadi Nesya langsung menunggu di teras.
"Tante Fernita ada enggak di dalam? Aku mau pamit dulu biar enggak dikira anaknya kabur habis bikin kekacauan," kekeh Almira yang baru saja tiba, dia terlihat santai mengenakan t-shirt dipadu celana jeans.
"Udahlah enggak usah pamit, Mama aku lagi jadi singa betina." Nesya mengiring sahabatnya memasuki mobil daripada berlama-lama di teras dan mamanya keluar. Bisa gawat ketahuan kabur usai membuat huru-hara.
Tak berselang lama keduanya sampai di pusat perbelanjaan, mengelilingi toko-toko mengincar barang diskon. Nesya tidak mengingat lagi saldo tanggal tua di ATM, dia khilaf menyambar tas, heels, masih menyeret Almira menemani cari kosmetik.
"Ini kamu yang lagi kerasukan, ya? Padahal kamu cuma nemenin doang, tapi aku belum milih apa-apa buat ponakan udah ditarik sana sini memburu diskon," protes Alimara manyun, tapi tetap saja berbelok ke toko yang ditunjuk sahabatnya.
Nesya berdecak. "Halah, paling kamu cuma mau beli boneka. Nanti aja pas lewat gampang, udah hafal aku."
Alima memberi cengiran lebar selagi melihat Nesya seperti orang baru gajian memilih lip cream, eyeliner, pensil alis, dan maskara branded. "Bulan kemarin baru beli lip cream padahal," komentarnya sambil mengernyit heran.
"Enggak apa-apa, aku harus lebih cantik biar Mas Elvan menyesal," ucap Nesya dengan nada dongkol teringat sikap mantannya di meja makan, seolah tidak ada niat berjuang agar masalah bisa diatasi.
"Paling kamu yang nyesal, ngapain sih bohong sama diri sendiri. Emang pisah dari Elvan bikin kamu puas?"
Nesya mengangkat kedua bahu, dia sendiri tidak mengerti. Hanya menuruti kata hati yang sudah menyerah pada sikap dominan calon suami.
"Awas aja kalo menyesal lihat Elvan cepat gandeng pacar baru, jangan nangis curhat sama aku," salak Almira sok galak selagi mengantre ke kasir.
"Enggak lah, dia yang akan menyesal udah menyia-nyiakan aku," balas Nesya penuh percaya diri, dia maju satu langkah mendekat ke kasir.
Halo, boleh lambaikan tangan ke kamera? Almira sudah kehabisan akal menyadarkan sahabatnya, jadi biarlah rugi-rugi sendiri melepas calon sepotensial Elvan Adhitama.
"Puas belanja," sindir Almira melirik ke paper bag di tangan sobat erornya. Dia hanya bisa mengucap istighfar dan akan mengambil jurus pura-pura tidak mengenal kalau akhir bukan sahabatnya meringis minta traktir makan siang.
Nesya hanya tersenyum lebar, prioritas sekarang hanya membuat dirinya bahagia setelah disakiti pria sialan. Mereka melanjutkan ke toko boneka menemani Almira yang setiap tahun tidak pernah berganti kado.
"Bagus panda apa teddy bear, ya?" Almira menunjuk-nunjuk ke boneka ukuran jumbo berwarna cokelat.
"Tahun kemarin udah panda, kemarin lagi teddy bear," ujar Nesya mengingatkan kalau-kalau sahabatnya lupa, padahal dia sendiri masih ingat kado yang selalu sobatnya untuk keponakan cantik.
Almira mengangguk. "Iya, sih. Kalo buaya takut enggak, ya?"
"Jangan nanti gedenya ketemu buaya buntung," jawab Nesya malas-malasan karena tangannya sudah pegal menenteng banyak belanjaan.
Akhirnya setelah cukup lama galau seolah akan memilih pasangan hidup, padahal cuma kado yang pasti menambah koleksi boneka ponakannya. Dia menjatuhkan pilihan ke boneka kuda poni ukuran besar, katanya biar nanti ketemu pangeran berkuda pas dewasa.
"Terserah kamu," balas Nesya yang sempat mengernyit heran dengan pemikiran sobatnya, mana ada pangeran berkuda zaman sekarang. Kalau CEO tampan bermobil mewah baru ada efek sering mendengar cerita Almira si penikmat cerita ceo-ceo kaya.
"Ngomong-ngomong siapa laki-laki yang dibilang Elvan, dia sempat tanya semalam, lupa aku mau menginterogasi." Dia melirik Nesya yang baru saja mengeluh tangannya pegal, tanpa melihat orang di samping juga kesusahan memeluk boneka unicorn segede gajah.
Nesya berdecak, lalu yakin ekspresinya sedikit melankolis. "Dia pasti ngadu aku ketemu sama Mas Glen."
Langkah Almira terhenti, mengingat satu-satunya nama Glen yang dikenal hanya kakak kelas idola seluruh murid perempuan di sekolah. "Tunggu, jangan bilang kak Glen yang ...."
"Iyalah siapa lagi."
"Gila banget, emang, ya, kalau mau nikah mendadak masa lalu mendekat, padahal dulu enggak ada mepet-mepetnya sama kamu," sindir Almira tanpa melihat ekspresi masam perempuan di sebelah.
Iya, sih, boro-boro mau mepet bahkan dilirik saja enggak.