Dilarang Pisah

1060 Words
Suasana menegang ketika Nesya memasuki ruang tamu, duduk di samping pria yang baru saja bertemu sudah terseret masalah. Berkali-kali Nesya menggumamkan maaf dijawab anggukan santai. Sofa memanjang ditempati bertiga dengan posisi Nesya di tengah-tengah, membuat Nesya merasa berdebar-debar diapit dua laki-laki tampan. Oke, bukan waktunya memikirkan hal tidak penting sekalipun memang pesona keduanya mampu membuat kaum hawa di muka bumi klepek-klepek. Nesya sudah menebak kalau mamanya dan sang papa akan salah paham, tidak mau mendengar penjelasan serta percaya pada asumsi sendiri. "Jadi begini alasan kamu minta batal, bikin malu saja!" Adiyasa sudah memasang ekspresi galak, tatapan matanya mengalir deras prasangka buruk menduga anaknya selingkuh. "Ini enggak ada hubungannya sama Mas Glen, Pa," sanggah Nesya tidak mau orang lain dibawa-bawa. Mendengar itu Elvan melirik, memberi tatapan tak rela sebelum menuntut penjelasan. "Lalu kenapa bisa ada laki-laki lain mengantar kamu ke rumah, saat hubungan kita sedang renggang." Nesya memutar bola matanya sebal, masih berusaha menahan diri tidak menampol mulut pria yang sialnya harus diakui tampan. "Cuma mengantar memang salahnya di mana? Kami enggak sengaja ketemu." Nesya melirik ke arah Glen. "Kan bisa telepon kalo mau diantar," protes Elvan dengan aroma cemburu yang mulai menguar. Nesya mencebik. "Kayak pernah ada waktu aja, biasanya sok sibuk." "Nesya!" Papanya memberi teguran keras sampai mulut perempuan itu bungkam. Beruntung Glen pintar mengendalikan diri di situasi sepanas apa pun. "Nesya benar kami baru bertemu lagi dan tidak ada hubungan apa-apa. Tapi, saya rasa Nesya masih berhak memilih." Nesya menelan ludah pahit, apa maksud kalimatnya, tolong bisa diperjelas supaya paham. Sementara tangan Elvan sudah mengepal menahan geram. "Kamu suka sama anak saya?" tanya Adiyasa penuh selidik. "Pa ... udah." Nesya mencebik, sebelum menoleh ke Glen serta memberi kode agar diam. "Mama tuh bingung kenapa kamu begini, pernikahan udah di depan mata harusnya lagi sibuk-sibuknya bukan malah main belakang." Fernita mengusap d**a dengan ekspresi benar-benar lelah. "Ini enggak ada hubungan sama Mas Glen, kenapa sih enggak percaya? Aku pisah sama Mas Elvan karena udah cape debat terus." Nesya agak dongkol, tapi kemudian diam melihat papanya memberi tatapan tajam. Fernita menghela napas berat. "Sedekat apa hubungan kalian sampai udah panggil Mas?" Hah? Nesya yakin ekspresinya terlihat sangat bodoh. Dia memutar otak mencari kosakata paling mudah dicerna agar sang mama berhenti menuduh Glen macam-macam. Dia yakin sehabis ini mungkin Glen akan mengambil jurus menghilang boro-boro menghubungi sekalipun sudah mencatat nomornya. Duh, berharap apa, sih? "Sudah! Sekarang kamu udah dewasa kalau ada masalah sama Elvan selesaikan baik-baik. Papa nggak mendukung kalian pisah!" Pembicaraan disela oleh ART-nya yang datang menaruh teh hangat di meja, membuat durasi obrolan bisa diperpanjang menunggu teh habis. Boleh tidak kalau Nesya request diganti vodka saja, entah mau cari di mana karena kepala sudah berasap. "Mama setuju, lagi pula kalian udah lama pacaran masa pas mau nikah masalah sepele saja bubar." Nesya sudah melirik Glen yang masih terlihat tenang menyesap teh hangat usai dipersilakan tuan rumah. "Nesya enggak yakin sama Mas Elvan, apa Mama sama Papa mau kalau Nesya tidak bahagia?" Elvan yang baru saja mengangkat cangkir terkejut sampai tehnya tumpah sedikit, membuat Nesya refleks menyambar tisu seraya meraih tangan calon suami, ralat mantan. "Hati-hati ini panas, Mas. Kebiasaan banget," ujarnya panik sambil meniup-niup pelan. Makanya aku butuh kamu. Lalu ia meringis seringkali memberikan perhatian tanpa sadar, Nesya merasakan semua mata menatapnya heran. Kenapa sih harus khawatir berlebihan? Nesya mengutuk dirinya sendiri. *** Nesya baru saja bangun melangkah gontai ke dapur dan langsung disambut aroma harum selagi membuka pintu, menemukan sang mama mengenakan apron cokelat sedang berkutat dengan bahan-bahan makanan. "Tumben masak banyak, Ma?" tanya Nesya heran selagi mengambil gelas di kabinet. Bukan apa-apa, biasanya mamanya malas memasak nasi serta membiarkan keluarga sarapan roti setiap pagi. "Harus masak banyak mau ada tamu ke rumah," ujar Fernita tanpa menoleh, sibuk menumis bumbu. Nesya mengernyit. "Tamu siapa sih, Ma?" "Nanti juga kamu tahu, cepat mandi terus dandan yang cantik biar enggak malu-maluin." Apaan sih, weekend rencananya mau pingsan saja di kasur. Nesya melangkah lunglai ke meja makan yang tidak bersekat dengan dapur usai mengambil air putih di dispenser, ia meneguk pelan sambil terus berpikir siapa tamu yang dibicarakan sang mama. "Kamu udah mikir semalaman belum soal keputusan kemarin?" tanya mamanya yang sudah melepas celemek serta memindahkan tugas perdapuran ke pembantu. Nesya mengangguk-angguk. "Enggak ada yang berubah mau dipikir berapa kali juga keputusan aku tetap pisah, Ma." Fernita berdecak membawa sepiring pisang goreng ke meja. "Kamu ini keras kepala banget anaknya siapa, sih? Perasaan Mama enggak gitu." Anak orang lewat kali? Nesya hanya mengangkat kedua bahu sampai mamanya gemas. Duduk di hadapan sang anak dengan tatapan menyelidik. "Padahal Mama bisa lihat kamu masih cinta sama Elvan, buktinya masih perhatian. Kamu ini enggak takut nyesal apa?" Iya, sih, menyesal enggak ya? Tapi udah cape mengalah terus. "Enggak, Ma. Buat apa nikah kalo nahan batin terus," ujar Nesya enteng selagi mencomot pisang goreng serta melahapnya. "Kamu ini, punya adik perempuan juga enggak bisa memberi contoh!" Mamanya sudah geram. "Ya udah makan pisangnya satu aja terus mandi. Punya anak dibilangin susah banget." Nesya hanya bergumam seraya bangkit dari kursi untuk mandi, harus banget ada tamu datang mengganggu me time-nya bersama kasur seharian. Mau tak mau, kan? Daripada disembur emak-emak yang kalau galaknya kambuh auto nyeremin ngalahin kuntilanak. Satu jam lebih Nesya baru kelar mandi, aroma segar dari sabun menguar. Ia keluar kamar dengan santai mengenakan dress motif bahan katun dan rambut ikal dibiarkan tergerai. Tiba-tiba mamanya mengucap istighfar saat anaknya muncul di ruang tengah. Fernita sudah berdiri, meninggalkan Karina yang sejak tadi sibuk bertanya soal tugas dari sekolah. "Kamu ini enggak punya baju lain?" Fernita memindai penampilan sang anak membuat Nesya ikut mengamati dress-nya sendiri. "Mama udah bilang ada tamu, pakai baju yang bagus kan bisa. Masa dress yang biasa dipakai guling-guling di kasur." "Memang siapa, sih? Jangan bilang Mama mau menjodohkan aku, enggak usah se-desperate itu." Nesya bergerak ke sofa menggeser adiknya yang sedang sibuk menulis tugas di hari libur, kerajinan! Fernita geleng-geleng. "Siapa juga yang mau menjodohkan kamu, mantu idaman Mama ya cuma Elvan. Dia sama keluarga lagi di perjalanan mau ke sini." Hah? Nesya yang baru memasukkan biji kuaci ke mulut langsung menelan cepat, gimana kalau biji kedondong? "Ma?" Nesya menghentakkan kaki kesal. "Ya sudah mau aja, lagian Mas Elvan baik suka kasih uang jajan," komentar Karina yang ingin digilas pakai ulekan sambel. Nesya langsung melotot galak. "Sebenarnya Mama dikasih apa sih sama Mas Elvan sampai menumbalkan anak sendiri!" protes Nesya sewot.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD