"Ngomong-ngomong gimana kabar Miranda? Pasti kalian masih seromantis dulu, ya bikin orang iri."
Nesya ingin menepuk mulut yang tidak bisa direm memilih topik sensitif, rasanya ia tidak perlu tahu perkembangan hubungan Glen dengan pacarnya sewaktu masa putih abu-abu. "Sori, aku salah nanya, ya?"
Glen menoleh dengan senyum tipis. "Tidak apa-apa, kami sudah lama putus."
"Maaf," cicitnya merasa tak enak.
Sejak lulus memang Nesya tidak mengetahui jejak Glen, lagi pula bukan urusannya karena berkat Elvan Adhitama mendadak deretan pria yang pernah sekedar disukai terlupakan. Semua gara-gara pesona Elvan yang sialnya pisah menjelang pernikahan.
"Kamu sendiri gimana?" Glen balik bertanya.
Nesya menelan ludah pahit. Tidak mungkin akan bercerita baru saja hatinya dipatahkan oleh calon suami. Dia belum percaya diri akan mengatakan baru saja membatalkan pernikahan yang pasti menimbulkan pertanyaan.
Lampu lalu lintas berubah merah dan Glen menginjak rem. Lalu sedikit mengerutkan kening melihat perempuan yang bersandar di kursi sebelah melamun.
"Are you okay?" tanya Glen khawatir. "Apa kali ini saya salah bertanya?"
"Enggak, kok." Nesya menjawab dengan nada lemah. "Hanya saja aku malas bahas dia."
Glen hanya mengangguk memahami, sekalipun bisa membaca dari raut Nesya kalau perempuan di sampingnya sedang ada beban pikiran. Namun, Glen memilih tidak ikut campur.
Setelah itu keduanya diam. Terlarut dengan pikiran masing-masing, kadang Nesya melirik pria tampan di sebelah. Dulu hanya menjadi khayalan akan duduk satu mobil dengan pria yang dikagumi. Sekarang sudah menjadi kenyataan, anehnya tidak sebahagia dugaannya.
Lagi, bayangan wajah mantan menyebalkan melintas. Diam-diam Nesya rindu melihat senyum Elvan, juga usapan tangannya selagi duduk bersebelahan.
"Nes, apa kita bisa bertemu lagi?" tanya Glen setelah sama-sama diam dalam durasi lima belas menit.
Pertanyaan Glen langsung membuat perempuan itu melebarkan mata. Mungkin Glen tidak pernah tahu kalau dulu Nesya selalu berharap Glen mau berlama-lama dekat dengannya.
Beruntung Nesya dewasa bisa mengontrol diri dan mencoba bersikap tenang. Bukan Nesya remaja yang dulu excited banget setiap melibatkan Glen.
"Kalau kamu tidak mau, jangan dipaksakan." Glen mengusap tengkuknya bingung.
"Boleh, kok." Nesya langsung menyahut, barangkali takdir memang mengirim Glen untuk menghiburnya dari patah hati. Bagaimanapun gagal menikah adalah hal menyakitkan sekaligus memalukan.
Maka saat Glen menyodorkan ponsel, tanpa pikir panjang Nesya mengetik sederet angka dan menyimpan kontaknya di smartphone Glen.
Jujur saja Glen sempat merasa bersalah mengabaikan perempuan itu dan diam-diam mengamatinya dari jauh. Iya, sekalipun tidak pernah ada yang menggeser posisi Miranda. Glen selalu menjaga jarak dengan perempuan lain. Semua demi Miranda, orang yang dicintai setengah mati endingnya berselingkuh dengan sahabat sendiri.
Keduanya kembali diam sampai mobil silver milik Glen tiba di rumah berpagar hitam. Dia menghentikan mobilnya dan ikut keluar.
Nesya hanya mengucapkan terima kasih dan meminta pengertian agar Glen mampir lain kali. Bukan apa-apa, takutnya menimbulkan masalah baru dan bisa disidang oleh keluarga. Tidak lucu baru batal menikah dan ditentang habis-habisan, malamnya mengenalkan pria lain. Sial sekali, nasib buruk sedang berpihak padanya karena sorot lampu mobil metalik mendekat kemudian pemiliknya keluar.
"Oh, bagus sekali. Ternyata ini alasanmu!" Elvan tertawa merendahkan
Padahal Elvan menunggu telepon dari calon istrinya untuk meminta maaf. Dia berharap kalau Nesya hanya terbawa emosi mengingat mempertahankan hubungan bertahun-tahun tidak mudah, Elvan serius mencintai Nesya. Seharusnya mereka bisa mencari jalan tengah mengingat pernikahan di depan mata.
Elvan masih heran alasan Nesya meminta hubungan berakhir, tanpa pikir panjang dan bodohnya ia terbawa emosi. Harusnya ia bisa menahan diri. Tapi melihat Nesya bersama pria lain, Elvan menyesal berpikir akan merundingkan masalah. Gerakan tangannya sudah mengepal sedangkan rahangnya kaku.
"Buat apa Mas datang ke sini? Semuanya sudah jelas, 'kan?" Nesya masih bersikap judes. Dia tidak mau luluh lagi mendengar rayuan Elvan.
"Kalau aku tidak ke sini, mana mungkin tahu kelakuan kamu! Tidak menyangka semurahan itu!" Elvan tertawa sinis.
Nesya geram ingin melayangkan pukulan ke mulut pedas Elvan. Bisa-bisanya menghinanya murahan. Nesya menyesal pernah meletakkan pria bermulut pedas di depannya ke posisi spesial.
"Anda tidak berhak menilai semaunya, memang ada yang salah kalau saya mendekati Nesya? Dia single, saya juga begitu. Dan sepertinya Anda hanya masa lalu." Glen merasa perlu membela Nesya mendengar kalimat keterlaluan yang tidak pantas diucapkan.
Elvan menggeram kesal apalagi saat menemukan jemari Nesya digenggam pria lain. "Jadi ini alasan sebenarnya?"
"Pergi, di antara kita sudah selesai, Mas? Dan kamu tidak berhak melarang aku, bukankah kamu bukan siapa-siapa lagi?"
Hampir saja Elvan mengumpat kasar di depan mantannya kalau saja tidak melihat wanita setengah baya muncul dengan ekspresi kaget.
"Nesya?" Fernita menatap kecewa mendapati pria lain menggenggam tangan anaknya. Dia masih berharap pernikahan Elvan dan Nesya bisa diselamatkan.
"Tante," ucap Glen dan Elvan kompak. Keduanya saling menatap tak suka.
Fernita menghela napas panjang, lalu pura-pura tersenyum menutupi rasa sedihnya. Dia tidak menyangka anaknya begitu cepat menemukan pengganti Elvan atau fakta sebenarnya kalau sang anak selingkuh.
Padahal Fernita tahu sekali kalau sejak dulu anaknya cuma mencintai Elvan. Putrinya terlihat bahagia berpacaran dengan Elvan sampai memutuskan menikah.
"Kalian masuk dulu, mungkin bisa jelaskan sama Tante." Fernita menghela napas panjang dan melirik ke arah Nesya menuntut penjelasan. "Terutama kamu, Nes."
Akhirnya Nesya menahan napasnya. Dia merasa kepalanya berdenyut, ingin sekali rebahan di kasur untuk menenangkan pikiran. Tapi siapa sangka keadaan akan semakin rumit kalau papanya ikut menggelar sidang dan menginterogasinya. Selain itu, Nesya merasa bersalah melibatkan Glen.
"Sorry," cicit Nesya melirik ke Glen yang terlihat tenang.
Fernita sudah berjalan memasuki ruang tamu diikuti Elvan yang mati-matian menahan amarah. Sebenarnya bisa saja Elvan pulang dan menolak bicara baik-baik, tapi dia masih menghargai keluarga Nesya.
Glen tersenyum. "Tidak apa-apa."