Kehilangan Klien

1001 Words
"Nes, klien sekelas Cory kamu lepas gitu aja?" Almira, rekan kerja sekaligus sahabatnya sudah siap mengoceh. "Tuh apa aku bilang efek patah hati bisa--" "Ini nggak ada hubungannya sama patah hati!" Nesya berdecak sebal, baru saja tiba di kantor seraya meletakkan tas ke meja. “Oke, gini loh padahal bisa dibicarakan baik-baik. Dia bayar tinggi masa dilepas.” Almira mengambil posisi duduk di hadapan Nesya. “Ngurus nikahan orang aja bisa, giliran ngurus masalah sepele sama Elvan nyerah, efeknya ke mana-mana, 'kan?” Nesya menaikkan kedua alis, lalu menyandarkan tubuh lelahnya ke sofa. Semalam ia sudah cukup mendengar omelan tanpa difilter sahabatnya, membuat Nesya sedikit menyesal menceritakan masalah darurat bersama pujaan hati, ralat mantan. Jadi, kalau sekarang ingin bekerja dengan tenang tanpa gangguan perempuan jelmaan nenek lampir bisa, kan? “Astaga, aku ngomong sama patung?” Almira berdecak sebal. “Iya, iya. aku dengar, kok.” Nesya segera membuka laptop hendak membuat proposal kerja sama dan menyesuaikan anggaran klien. Seharusnya ada lima pernikahan yang ditangani bulan ini, gara-gara satu mundur sisa empat pernikahan. “Ya udahlah, eh gimana pernikahan pak Dimas udah aman persiapannya?” tanya Almira, dia kembali ke meja mengambil beberapa berkas dan tasnya. “Aku mau ketemu pemilik gedung pernikahan, baik-baik di kantor.” "Udah." “Oke, aku mau pergi dulu. Ingat jangan lompat dari lantai tiga!" tambah Almira membuat mata sipit Nesya berusaha melolot. Almira menyengir lebar sebelum melesat ke luar. Perempuan itu mengenakan blazer cokelat, heels 3 cm, dan celana senada. Rambut panjangnya dicepol rapi. Riki, pemilik wedding organizer sekaligus teman kampus Nesya mengerutkan kening ketika berpapasan dengan Almira yang cengengesan. “Tuh anak kerasukan apa lagi?" . Nesya mengedikkan bahu. “Biasa.” Riki menarik kursi dan menghempaskan tubuhnya duduk di hadapan perempuan patah hati. “Kenapa lagi tiba-tiba batalin klien, lagi ada masalah?” Nesya membenarkan posisi duduk. Ia menghirup napas panjang sebelum menatap Riki dengan ekspresi memelas. “Maaf, ya. Kamu pasti marah kehilangan klien?” “Bukan gitu, masalahnya kamu kenapa?” Riki bisa diajak berdiskusi daripada Almira. Setidaknya bisa memberi saran berbobot daripada sibuk mengomel panjang. Sesaat Nesya terdiam, kuku yang dicat merah marun mengetuk-ngetuk meja. “Riki ...,” desisnya. Saat ini Riki baru membuka i-padnya. Ia mendongak. “Iya, cerita saja.” “Waktu kamu mau nikah ....” Nesya menggantung kalimatnya teringat perempuan kalem yang dinikahi sahabatnya setahun lalu. “Kamu sama Suci sering ribut nggak, sih?” Riki geleng-geleng, meletakkan i-padnya ke meja dan menatap Nesya lurus-lurus. “Sudah aku duga, ada masalah sama Elvan. Makanya aku bilang apa, udah cuti aja.” Bibir Nesya mengerucut. Di rumah suasana akan panas mengingat ia sering tidak akur dengan adiknya yang tomboy. Kelamaan cuti bisa-bisa wajah Nesya timbul kerutan akibat sering mengomel. “Aku nanya ke mana jawabnya ke mana.” Nesya melipat lengan sambil merengut. Riki tertawa, jarinya menggaruk-garuk pangkal hidung. “Kalo aku adem ayem saja, masalahnya Suci tuh penurut. Beda jauh lah sama kamu.” “Serius, Ki!” Mata Nesya yang sipit berusaha mendelik semampunya. Riki tertawa geli. “Oke, oke. Marahan menjelang pernikahan biasa, bukannya kamu sering menenangkan klien yang ribut?” Nesya meringis. Ternyata mengalami sendiri tidak semudah menasihati orang-orang. “Iya sih, tapi aku udah lelah.” “Mending kamu ngalah, kalo sama-sama keras susah. Ingat empat bulan lagi kalian menikah.” Nesya membuang napas panjang. “Nggak jadi.” “Hah? Gimana maksudnya?” “Aku batal nikah.” *** "Lagi patah hati aja masih pulang malam begini," keluh Nesya selagi mengapit berkas untuk keperluan kliennya, yang memaksa meminta bertemu di luar jam kerja. "Untung dia enggak minta aneh-aneh kayak si Cori-cori." Pria bersetelan jas baru saja keluar dari lobi kantor mengernyit melihat perempuan tak asing yang sibuk menggerutu melewatinya. Iya, Glen masih mengingat anak kelas sepuluh yang pernah memberinya surat cinta. Glen memfokuskan pandangan, memastikan kalau perempuan tadi benar-benar Nesya. Tidak sulit mengenali Nesya sekalipun penampilannya berubah jauh, dia terlihat lebih dewasa dan ... cantik. "Nes?" panggilnya membuat perempuan itu menoleh seraya mengerutkan kening bingung. "Saya tidak salah, ternyata benar kamu," ujarnya setelah mendekat. Perempuan itu mengernyit heran. Otaknya sedang tidak bisa berpikir akibat kelelahan harus menemui klien ke kantornya. "Iya, Anda siapa? Apa kita pernah bertemu?" Glen tertegun. "Kamu lupa?" Nesya memutar bola mata ke atas mengingat detail wajah laki-laki di depannya, barangkali tertimbun memori yang menumpuk di otak. Lalu dia terkejut, refleks menutup mulut dengan telapak tangan. "Ya ampun ... Mas Glen? Lama enggak lihat makin ganteng." Perempuan itu meringis ingin mengubur diri ke dasar bumi menyadari mulutnya sudah lancang. Tapi, alih-alih mengomel justru Glen mengulum senyum. "Saya anggap itu pujian." Hah? "Oh, ya, kamu kenapa di sini?" Nesya mengangkat bekas di tangan sebagai kode. "Ada klien yang bernama Qonita, dia sibuk sampai minta ketemu di area kantor." "Qonita, oke." Glen mengangguk-angguk mengetahui kalau Nesya baru saja bertemu salah satu karyawannya. "Kamu kelihatan lelah banget, mau ngobrol sambil ngopi di seberang?" Setelah mendapat anggukan mereka segera melesat ke lokasi, duduk berhadapan di kafe berkonsep outdoor yang memiliki banyak tanaman hias di dalamnya. Terdapat pula tanaman bedar yang membuat suasana sejuk dan asri. Mirip kafe-kafe di Eropa. Nesya sudah memeluk secangkir capuccino, memejamkan mata untuk menghirup aroma favorit dalam-dalam. Dia lupa laki-laki di depannya bukan Elvan. Glen sedikit mengernyit heran saat tangan Nesya terulur mengambil cangkirnya. Namun, ia tersenyum melihat Nesya begitu menikmati aroma kopi. “Kamu mau ganti capuccino?” Mata Nesya melebar menyadari tindakan konyolnya. Bagaimana mungkin ia melakukan kebiasaan dengan Elvan di depan pria lain. Nesya meringis, buru-buru meletakkan cangkir ke depan Glen. “Maaf,” kata Nesya canggung. “Aku nggak suka minum kopi.” Glen menautkan alis dan mengalihkan pandangan ke segelas milkshake di depan Nesya. “Tapi aku suka aromanya, jadi kebiasaan begitu," jelas Nesya mengetahui kebingungan pria di depannya. Glen baru paham. Kemudian mengangguk. “Oh, saya baru tahu.” Mereka mengobrol banyak hal, tertawa bersama sampai Nesya lupa masih dalam keadaan patah hati. Pembicaraan berakhir pukul sembilan malam dan Glen menawarkan mengantar ke rumah, sedangkan Nesya mengiyakan saja tanpa menklak sedikitpun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD