“Apa-apaan ini Renata?” Farida Jocom mengempaskan majalah bisnis dengan foto Andromeda yang tersenyum pada Emily tercetak pada salah satu sudut covernya. CEO Baru JOSSE, Muda dan Bertalenta. Demikian tajuk berita di majalah tersebut.
Farida tak habis pikir. Konfrensi pers baru diadakan kemarin dan hari ini hampir semua media, baik cetak maupun online, memiliki foto Andromeda di halaman utama berita mereka. Itulah yang membuatnya sepagi ini mengetuk pintu apartemen Renata dengan tak sabar.
“Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi, Tante.” Renata tampak berantakan. Mata dan wajahnya sembab. Namun demikian, kecantikan tak mau pergi dari sana. “Sampai detik ini aku belum bisa menghubungi Andromeda.”
Gadis dua puluh tujuh tahun itu melirik ke arah majalah yang tergeletak di meja kemudian melanjutkan, “Aku tidak mengeti, Tante. Baru satu minggu berlalu sejak Andro melamarku, kini dia sudah menggandeng cewek lain. Siapa Emily ini? Aku tidak kenal. Teman-temanku juga tidak ada yang kenal.”
“Tentu saja kamu tidak kenal!” Farida Jocom melipat tangannya di d**a. “Dia karyawannya Shandy di bioskop. Keponakannya Christof.”
“Christof? Supirnya Andromeda?” Renata melongo. “Tante bercanda?”
“Aku tidak mungkin bercanda untuk urusan seperti ini, Renata!”
“Tapi, kenapa?”
“Justru itu yang ingin kutanyakan padamu. Ada apa dengan kamu dan Andro?” Farida memicingkan matanya.
Renata menarik dan mengembuskan napas panjang, “Andro melamarku. Dan seperti arahan Tante, bukankah aku tidak boleh menikah dengannya sebelum mendapat persetujuan dari Tante?”
“Jadi dia mengajakmu untuk segera menikah?” Kening Farida berkerut.
“Sebenarnya saat itu aku sudah akan menerima lamarannya,” gumam Renata, “Maksudku, setelah itu aku akan memberitahu Tante. Tapi kemudian Andro mengatakan hal yang membuatku shock dan aku seketika menjadi ragu, apakah aku menginginkan pernikahan ini. Maksudku, tentu saja aku ingin sekali menikah dengan Andro, tapi….”
“Astaga. Tenangkan dirimu dan bicara yang jelas, Renata.” Farida memandang keponakan suaminya itu dengan heran. Renata tampak tidak bisa mengendalikan dirinya.
“Andro bilang, menikahlah denganku dan berikan aku anak yang banyak. Aku shock mendengarnya Tante.”
“Anak?” Farida kini benar-benar terkejut.
“Aku tidak merencanakan untuk memiliki anak dalam lima tahun ke depan. Tante tau kan, karirku saat ini sedang bagus? Aku tidak tau apa alasan Andro menghindariku, tapi setelah kupikir-pikir, mungkin karena persoalan anak itu. Tapi, sebelum ini Andromeda tidak pernah kepikiran untuk menikah, lalu kenapa tiba-tiba sekarang malah ingin punya anak?”
Farida tidak menjawab semua rasa penasaran Renata. Dugaannya rupanya benar. Andromeda melakukan semua ini demi memenuhi syarat yang diminta para pemegang saham perusahaan. Mereka ingin Andromeda menunjukkan kesungguhannya dalam memimpin perusahaan. Ini bukan hanya terkait komitmen dan pengabdian, ini lebih dari itu, ini semua menyangkut keberlangsungan perusahaan. Ini semua menyangkut keberlangsungan keturunan Alfred Jocom.
“Kamu masih mencintai Andromeda, kan?” Farida bertanya.
“Tentu saja Tante. Aku tidak bisa hidup tanpa Andro. Aku stress seminggu ini,” sahut Renata. Farida bisa melihat sendiri betapa kacaunya penampilan Renata. Dia mungkin saja menangis sepanjang hari dan tidak bisa tidur di malam hari. Kantung matanya jelas terlihat, wajahnya pucat, rambutnya tak terurus.
“Kalau begitu urus dulu dirimu. Jangan membuat orangtuamu di Jepang khawatir. Aku pasti akan membantumu menemui Andromeda.”
“Benarkah Tante?” mata Renata kembali berbinar.
“Aku kan sudah bilang, satu-satunya wanita yang akan Andromeda nikahi itu adalah kamu.”
Senyuman terbit di wajah Renata, “Berita di televisi dan media memberitakan hubungan Andro dan Emily. Andaikan mereka tau Emily hanyalah keponakan seorang supir. Dia bahkan mungkin hanya mengincar kekayaan Andro.”
Farida terkejut mendengar ucapan Renata, namun segera terbersit sebuah rencana di kepalanya.
***
Begitu Emily tiba di bioskop, Seli segera menarik tangan gadis itu menuju ke ruang staf. “Calon istri Andromeda Jocom!?” Seli memandang Emily menuntut penjelasan. Dia memperlihatkan sebuah berita online di smartphone miliknya. “Aku tau ada sesuatu antara kamu dengan Pak Direktur, oh sori, sekarang dia CEO. Aku tau ada pasti ada yang terjadi di antara kalian berdua sejak dia mengajakmu nonton di teater 3. Ayo cepat katakan padaku!”
Emily hanya bisa meringis. “Seli, ini tidak seperti yang kamu bayangkan.”
“Ya, aku tau ini tidak seperti yang aku bayangkan. Andromeda Jocom dan Emily Andries, kemungkinan mereka menjadi sepasang kekasih adalah nol koma nol nol nol nol nol….”
“Oke, oke.” Emily memotong ucapan Seli. Dia celingukan melihat keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada orang lain di ruangan ini. Lalu, meski yakin tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua, Emily tetap saja berbisik saat mengatakan, “Ini hanya kesepakatan bisnis.”
“Maksudmu?” Seli ikut memelankan suaranya.
“Andromeda setuju untuk membayar hutang-hutang ayahku asalkan aku mau menikah dengannya.”
“Apa!!?” Seli memekik tanpa ada niatan mengontrol suaranya.
“Ssssttt!” Emily sibuk membekap mulut Seli.
“Tidak mungkin!” Seli menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apanya yang tidak mungkin? Kamu lebih percaya hal itu atau percaya yang diberitakan media, bahwa Andromeda jatuh cinta pada pandangan pertama dan langsung berencana menikahiku?”
Seli masih melongo dengan mulut yang membentuk huruf O. Kaca matanya sudah melorot jauh hingga di ujung hidung. “Andromeda tidak mungkin jatuh cinta padamu.”
“Nah!” seru Emily.
“Tapi, menikahi orang kaya demi membayar hutang hanya ada di novel-novel online saja, Em.”
“Aku juga tidak percaya ini terjadi padaku. Tapi aku bisa apa? Dia datang di saat aku sudah kepepet hutang. Yang terjadi pada kami adalah simbiosis mutualisme. Kamu tau kan? Hubungan saling menguntungkan. Seperti kerbau dan burung jalak.”
Seli mengernyitkan keningnya mendengar contoh yang diberikan Emily, “Maksudmu, Andromeda kerbau dan kamu burung jalaknya?”
Emily mengusap wajahnya frustasi, “Terserah saja siapa kerbaunya!”
Tepat di saat itu manajer bioskop masuk ke dalam ruang staf, “Rupanya di sini kamu Emily. Bapak Shandy mencarimu.”
Shandy Gobel? Untuk apa dia mencariku? Astaga! Pasti mau menanyakan soal aku dan Andromeda.
Emily segera berbalik mengikuti langkah manajer keluar dari ruang staf meninggalkan Seli yang masih terkejut dengan semua yang didengarnya dari sahabatnya itu. Namun, baru beberapa langkah, Emily kembali menghampiri Seli, “Tolong rahasikan semua yang aku katakana padamu, oke?”
“Pasti.” Seli mengangguk, “Tidak bisa dipercaya, saat ini dua orang pria dari keluarga Jocom sedang memperebutkanmu. Kamu seperti lagi menang lotre, Em.”
Emily hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ocehan Seli. Dia segera pergi dari sana untuk menemui Shandy yang telah menunggu di ruang manajer.
“Bisa tinggalkan kami sebentar Pak Manajer?” Shandy menoleh ke arah manajer bioskop begitu Emily masuk ke dalam ruangannya.
“Baik Pak Direktur,” Manajer bioskop keluar dan menutup pintu di belakangnya.
“Em, kamu tau kan apa maksudku memanggilmu?” Shandy tidak membuang-buang waktu untuk segera menanyakan perihal kehadiran Emily di konfrensi pers kemarin.
Emily ragu-ragu memandang wajah Shandy. Setalah selama ini dia merasa nyaman berada di dekat pemuda itu, entah kenapa kali ini dia jadi tidak tahu bagaimana menghadapinya.
“Kamu kenal Andromeda di mana? Aku tidak tau kalau kalian dekat. Sangat dekat sehingga sudah berencana untuk menikah.” Shandy menekankan kata terakhir pada kalimatnya, “Apa yang terjadi Em?”
Emily yakin Andromeda akan murka jika apa-apa yang mereka bicarakan di teater 3 sampai diketahui oleh Shandy. Meski Andromeda tidak bilang, Emily tahu, semua ini adalah hal yang sepatutnya dirahasiakan.
“Sebaiknya Bapak Shandy menanyakan langsung pada Andromeda,” ujar Emily akhirnya.
Shandy Gobel tersenyum menampilkan lesung di pipi kanannya. Senyuman itu tak pernah gagal mengahangatkan hati Emily, bahkan di situasi seperti ini. Emily sudah lama menyimpan kekaguman itu pada Shandy. Sejak pemuda itu mewawancarainya untuk bekerja.
“Em, kamu menyebut Andromeda dengan nama saja, sementara memanggilku masih pakai bapak?” Shandy Gobel membalas tatapan mata Emily. Gadis itu justru gelagapan dan segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain. “Aku tidak tau kamu ternyata sedekat itu dengan sepupuku sampai tidak canggung menyebut namanya.”
Emily hanya bisa membalas dengan senyum tipis. Jadi, benar rupanya bahwa pembicaraan mereka di teater 3 itu bersifat rahasia. Buktinya, Shandy saja tidak tahu apa yang tengah terjadi.
“Atau sebenarnya ada yang tidak bisa kamu ungkapkan padaku?” Shandy bertanya menyelidik. Emily segera menggelengkan kepalanya. “Baiklah, kalau memang sekarang kamu tidak mau mengatakan apa-apa padaku. Tapi, jika suatu saat kamu merasa ingin mengatakan sesuatu, kamu bisa menguhubungiku kapan saja. Kamu punya nomor hapeku kan?”
“Iya, Pak.” Emily mengangguk.
“Oke kalau begitu. Kamu boleh kembali bekerja, Adik ipar.”
“Hmm?” Emily menatap Shandy bingung.
“Iya kan? Kalau kamu nantinya menikah dengan Andromeda, berarti kamu akan jadi adik iparku.” Shandy Gobel kembali tersenyum. Tapi, entah kenapa senyumannya kali ini menciptakan rasa sakit di hati Emily. []