Top Secret

1172 Words
            Albert Jocom masuk ke dalam ruang kerjanya dengan kekesalan yang sudah sampai di ubun-ubun. Farida Jocom, putri bungusnya, mengekor di belakang.             “Apa-apaan ini Farida!?” Albert Jocom menggebrak meja hingga beberapa alat tulis terpental dari sana. “Kau bilang semuanya beres. Tapi lihat itu!”             Farida mengembuskan napas dengan berat. Dia pun tidak mengerti tentang hal yang terjadi di konfrensi pers tadi. Bagaimana mungkin Andromeda begitu yakin memperkenalkan Emily sebagai calon istrinya? Selama lima tahun ini Farida bisa memastikan satu-satunya wanita yang dekat dengan Andromeda hanyalah Renata. Dia membantu Renata mendekati Andromeda, sebaliknya, dia membuat Renata berjanji untuk tidak menikah dengan Andromeda dalam waktu dekat. Setidaknya sampai semua rencana Albert Jocom berjalan dengan mulus.             Renata adalah keponakan Vito Wijaya, suami Farida. Gadis itu sering ikut menghadiri beberapa acara keluarga Jocom dan sering kali pula datang di acara perusahaan. Dia tertarik pada Andromeda sejak pertama kali melihatnya.             “Tante akan membantumu mendapatkan Andro, tapi sebagai imbalannya kamu harus menuruti kata-kata Tante.”             “Apa itu Tante Farida?”             “Kamu tidak boleh menerima lamaran Andromeda.”             Saat itu kening Renata berkerut. Apa maksud tantenya itu?             “Ini terkait permasalahan keluraga yang tidak perlu kamu tahu. Kamu akan menikah dengan Andro ketika saatnya tiba. Tidak untuk sekarang ini. Kamu paham kan?”             Renata tidak begitu tertarik dengan urusan bisnis keluarga Jocom. Menikah juga bukan prioritasnya saat ini. Dia masih menikmati karirnya di dunia modelling. Untuk itu dia menyetujui kesepakatan dengan Farida. Selama lima tahun ini semua berjalan dengan mulus karena tampaknya Andromeda juga tidak berencana menikah dalam waktu dekat. Keduanya menikmati kebersamaan mereka sebagai sepasang kekasih, namun di waktu yang bersamaan juga sama-sama tenggelam dalam karir masing-masing.             “Bertahun-tahun aku berupaya membujuk pemegang saham lain untuk meninjau kembali pasal sialan yang Alfred bikin di akta perusahaan.” Ucapan Albert membuyarkan lamunan Farida. “Kau tau kan aku melakukan semua ini demi dirimu, Farida? Suamimu itu, dengan bisnisnya yang lebih sering rugi, bagaimana bisa menjamin kelangsungan hidupmu dan Airin! Harusnya kau mencontoh kakakmu. Dia pandai memilih suami. Kekayaan Ibrahim tidak akan habis tujuh turunan. Dia tidak perlu khawatir meski tidak mendapatkan sepeser pun saham Jocom!”             Farida menatap ayahnya dengan tatapan serupa anak kucing kehujanan. Dia benar-benar ketakutan dan kehilangan harapa sekaligus. Dia hanya memiliki satu anak, yakni Airin. Saat Airin berkeluarga nanti, maka gadis itu akan benar-benar menjadi bagian terluar dari keluarga Jocom. Share sahamnya akan semakin kecil. Lalu bagaiman dengan anak-anak Airin nanti? Airin harus mendapatkan suami yang kekayaannya setara dengan keluarga Jocom atau peraturan tentang puncak kepemimpinan tertinggi wajib berasal dari garis keturunan Alfred harus dihilangkan.             “Aku sudah mengurus segalanya di perusahaan ini, tapi untuk mengurus satu orang Andromeda saja kau tidak becus!” ketus Albert. “Apa perlu aku lagi yang turun tangan untuk menyingkirkan pemuda sialan itu sebagaimana yang sudah kulakukan pada orangtuanya?”             Mata Farida membelalak, “Ayah, pelankan suaramu! Di sini dinding bisa saja bertelinga, Ayah.”             “Aku benar-benar kecewa padamu,” sahut Albert. “Cepat lakukan sesuatu sebelum dia menikahi gadis itu dan membuatnya mengandung. Kita tidak menginginkan anak dari Andromeda dalam waktu dekat ini. Sofia sudah setuju untuk memberi Andromeda kesempatan memiliki anak sampai RUPS tahun depan sebelum mengubah isi akta perusahaan.”             Farida mengangguk. Memang benar apa yang dikatakan oleh Albert. Dia harus segera melakukan sesuatu sebelum semua usaha ayahnya untuk mengambil alih perusahaan selama ini menjadi sia-sia. Tepat di saat itu, Airin menerobos masuk ke dalam ruang kerja kakeknya.             “Mama tidak akan percaya apa yang aku dengar dari Shandy,” Airin berkacak pinggang.             “Ada apa, Sayang?” Farida menatap putrinya itu tak mengerti.             “Emily, gadis yang diperkenalkan Andromeda sebagai istrinya itu, ternyata keponakannya Christof.”             “Christof?” Albert dan Farida bertanya bersamaan.             “Iya. Christof. Supir keluarga Andromeda.”             “Hah? Bagaimana mungkin?” Farida sangat terkejut demi mendengar penuturan Airin.             “Aku bertemu dengan Emily di Lucas and Co Sabtu kemarin. Dia bersama Andromeda. Andromeda bahkan memberikan kartu kredit pada gadis itu.” Airin menjelaskan. “Aku bersama Jenny saat itu. Jenny bilang dia pernah melihat Andromeda menemui Emily di bioskop.”             Albert dan Farida saling berpandangan. Siapa sebenarnya Emily ini? Kalau dia hanyalah seorang karyawan bioskop atau bahkan keponakan dari supir pribadi Andromeda, lalu kenapa pemuda itu tertarik padanya? Sejak pulang dari Amerika dan mulai memegang jabatan di perusahaan, Andromeda tidak pernah terlihat bersama wanita lain sebelum kemudian menjalin hubungan dengan Renata. Lalu kenapa sekarang dia memilih Emily?             “Mama, sebenarnya apa yang terjadi antara Andro dan Renata? Mereka putus?”             Farida hanya bisa menggeleng. Dia juga penasaran tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Renata dan Andromeda. Kabar terakhir yang dia dengar dari Renata adalah bahwa sejak Renata menolak lamaran Andro, pemuda itu tidak mau lagi menerima panggilan telepon ataupun kunjungan dari Renata. Farida pikir semuanya baik-baik saja dan sesuai rencana, hingga kemudian gadis bernama Emily itu muncul. Dia benar-benar harus mencari tahu apa sebenarnya yang direncanakan oleh Andromeda. Tapi apa pun itu, dia harus segera menggagalkannya.   ***             Shandy Gobel menerobos ke dalam ruangan Andromeda tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Sorry, aku pikir kau sudah pindah ke ruangan CEO,” ujar Shandy ketika mendapati sepupunya itu sedikit terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.             “Mulai besok.” Andromeda menjawab cuek lalu kembali menekuri dokumen-dokumen yang ada di atas meja kerjanya. “Ada perlu apa?”             “Sejak kapan kau dekat dengan Emily?” Shandy bertanya to the point. “Kau ingat, kau bahkan tidak berkata apa-apa saat Christof mengajukan keponakannya yang yatim untuk bekerja di bioskop kita. Aku yang berinisiatif menerimanya. Aku yang mewawancarinya.”             “Oh, ya? Aku tidak ingat soal itu.” Andromeda tidak melihat ke arah Shandy.             “Aku benar-benar terkejut karena gadis itu secara ajaib sebentar lagi akan menjadi istrimu.” Shandy tersenyum penuh arti.             Kini Andromeda mengangkat kepalanya dan menatap sepupu jauhnya itu tepat di manik mata hitamnya. Usia mereka yang hanya terpaut tiga tahun menjadikan mereka dua orang yang bersahabat akrab, sebelum Andromeda dikirim oleh ayahnya untuk berkuliah di Amerika. Dia sedang berada di tingkat akhir perkuliahan saat insiden kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya itu terjadi. Meski sangat terpukul, Nyonya Sofia tidak mengizinkan Andromeda pulang. Nyonya Sofia tahu Andromeda akan semakin hancur jika melihat jenazah kedua orangtuanya yang mengenaskan. Nyonya Sofia meminta Andromeda tetap tinggal di Amerika dan mengambil sekolah magister bisnis. Saat pemuda itu akhirnya pulang kembali ke Indonesia, hanya satu pesan Nyonya Sofia, “Hormatilah seluruh anggota keluarga Jocom, tapi jangan mempercayai mereka sepenuhnya.” Sejak saat itu, selain kepada Nyonya Sofia, Andromeda tidak pernah percaya pada siapa-siapa dalam keluarganya, termasuk Shandy Gobel.             “Bukankah begitu cara cinta bekerja? Secara ajaib dan tiba-tiba,” sahut Andromeda kemudian.             Shandy Gobel tertawa terbahak-bahak. “Apa sebenarnya rencanamu Andro?”             Andromeda mengangkat kedua belah alisnya, “Rencana? Aku tidak punya rencana apa-apa.”             Shandy mengangguk pelan, “Oke. Aku tidak peduli apa rencanamu tapi kalau kau menyakiti Emily, aku tidak akan tinggal diam.” Setelah mengatakan hal itu Shandy berbalik pergi dan keluar dari ruangan meninggalkan Andromeda yang kini berganti menatap punggung sepupunya itu dengan heran. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD