Konfrensi pers itu dihadiri oleh seluruh keluarga besar Jocom, tanpa terkecuali. Termasuk Ibrahim Van Gobel. Sebagai seorang menantu dalam keluarga, dia sama sekali tidak tertarik dengan bisnis keluarga Jocom. Dia sendiri memiliki perusahaan berskala nasional yang bergerak di bidang distribusi elektronik. Orang-orang bahkan menjulukinya Raja Elektronik Indonesia.
Kalau bukan karena permintaan dari Fahria Jocom, istrinya, atau pun Albert Jocom, ayah mertuanya, untuk hadir di konfrensi pers ini, dia sama sekali tidak berencana untuk datang. Apakah tidak cukup dengan merelakan putra sulungnya, Shandy Gobel, untuk bekerja pada Jocom? Mereka bahkan hanya memberikan jabatan sebagai direktur operasional pada putranya itu. Harga dirinya sebagai seorang ayah dan pengusaha kelas kakap benar-benar terluka.
Ibrahim Van Gobel sedang menunggu waktu yang tepat untuk menarik Shandy dari Jocom Group dan bergabung bersama dua saudaranya yang lain, Aidan dan Jusuf Gobel. Ketiga putranya itu adalah harapan bagi Galaksi Elektronik. Kalau bukan mereka bertiga siapa lagi yang akan meneruskan perusahaannya? Tapi, tentu saja Ibrahim tahu harus melakukannya dengan lebih hati-hati. Albert Jocom, mertuanya, yang mati-matian menginkan Shandy berada di Jocom Group. Menariknya dari sana sama saja dengan menantang pria itu berkelahi. Albert Jocom terkenal keras kepala dan tidak suka jika pendapatnya dibantah. Untuk itu kali ini, Ibrahim harus menahan diri melihat putra sulungnya itu berdiri dan bertepuk tangan bagi Andromeda, yang baru saja diumumkan oleh Nyonya Sofia untuk menggantikan dirinya menduduki jabatan CEO. Shandy bahkan bisa menduduki jabatan yang sama di Galaksi Elektronik.
“Terima kasih atas kedatangan para senior keluarga Jocom, petinggi perusahaan Jocom Group serta rekan-rekan media pada konfrensi pers hari ini.” Panggung telah berlaih pada Andromeda.
Wartawan dari berbagai media yang hadir segera mengambil tempat untuk memperoleh gambar terbaik dari Andromeda. Pemuda itu seperti magnet bagi media-media. Segala tentangnya sangat laris untuk diberitakan. Wartawan-wartawan yang datang di hari itu bahkan bukan saja dari majalah atau koran bisnis, tetapi juga dari media-media yang kerap memberitakan gosip selebriti. Kepopuleran Andromeda belakangan ini layak disandangkan dengan artis-artis papan atas tanah air.
“Sungguh suatu kehormatan bagiku untuk menerima jabatan ini. Tapi, ini juga sekaligus adalah beban yang sangat berat. Saya harus bisa melanjutkan kesuksesan yang telah Bapak Alfred Jocom, Nyonya Sofia Jocom, maupun mendiang kedua orangtuaku telah berikan pada perusahaan ini. Visi misi PT. Jocom Jaya Abadi untuk membawa brand-brand lokal bersaing di manca negara juga telah menjadi visi misi dalam hidup saya,” ujar Andromeda membuka sambutannya di hari itu.
“Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Jocom One Stop Shop and Entertainment telah memiliki lima cabang di luar negeri. Singapura, Malaysia, Hongkong, Thailand dan Tokyo. Dalam satu tahun ke depan, saya optimis bisa merambah benua biru dan membuka cabang kami di tiga negara di sana, yaitu di London, Berlin dan Istanbul.” Andromeda terdiam karena saat itu dia menangkap sesosok wanita yang berjalan anggun memasuki aula tempat dilaksanakannya konfrensi pers. Kedua alis tebalnya bertaut dan demi menyadari bahwa wanita dalam gaun hitam itu adalah Emily, keduanya matanya kini benar-benar membola.
Jika saja Nyonya Sofia tidak berdehem dan menepuk pelan punggung tangan cucunya itu, mungkin Andromeda lebih memilih hanyut dalam pesona sosok wanita yang hampir tak dikenalinya tersebut. Dia tahu Nura sangat berbakat di bidang seni dan fashion. Untuk itulah Andro tidak pernah ragu menginvestasikan sejumlah uang pada bisnis sahabatnya itu. Tapi, dia benar-benar telah meremehkan tangan dingin Nura. Wanita itu telah mengubah Emily menjadi seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelumnya.
“Saya yakin pasti bisa membawa PT. Jocom Jaya Abadi meraih lebih banyak kesuksesan. Apalagi jika didampingi oleh calon istri saya,” Andro menatap langsung ke arah Emily dan sesegara itu juga mendatangkan kecanggungan pada gadis tersebut, “Ayo, kemari. Duduk di sebelahku, Emily.”
Semua mata di aula itu seketika mengikuti arah pandang Andromeda, tidak terkecuali kamera-kamera wartawan. Emily dengan kikuk menuju ke bagian depan aula yang telah disulap serupa podium. Dia mengikuti instruksi Andromeda untuk duduk di kursi sebelah kiri pemuda itu yang dibiarkan kosong sedari tadi. Nyonya Sofia duduk di sebelah kanan Andromeda.
“Perkenalkan, ini Emily, calon istri saya.” Andromeda berkata sambil menatap yakin ke arah wartawan.
Andromeda bisa melihat dari ekor mata bagaimana Albert Jocom terhentak dari tempat duduknya. Pria tua itu memandang Andromeda dan Emily bergantian dengan ekspresi kekagetan bercampur kemarahan. Farida Jocom, putri bungsunya, tidak kalah terkejut dengan ayahnya. Calon istri? Dia sudah mendengar dari Renata soal lamaran Andro yang ditolak mentah-mentah oleh wanita itu. Dia pikir semuanya akan berjalan sempurna. Renata menolak Andro sesuai rencananya sehingga Andro tidak akan menikah dalam waktu dekat. Tapi, coba lihat itu. Siapa gadis yang diakuinya sebagai calon istri itu?
“Emily?” Shandy Gobel yang duduk berebelahan dengan Airin Wijaya juga tidak sanggup menyembunyikan keterkejutannya. “Bukankah itu Emily?”
“Kamu kenal dia?” Airin berbisik.
Shandy mengangguk. “Dia karyawanku.” Pemuda itu memulangkan kembali memorinya pada hari di mana dia melihat Andromeda berbicara pada Emily di bioskop. Ada apa ini? Sejak kapan sepupunya itu mengenal Emily? Lalu hari ini Andromeda berkata bahwa Emily adalah calon istrinya? Apa-apaan ini? Shandy kenal baik dengan Emily. Dia yang mewawancarai gadis itu saat pertama kali bekerja.
“Karyawan?” Farida Jocom yang duduk tak jauh dari Shandy, tampak terkejut dengan fakta yang dibeberkan oleh keponakannya tersebut.
“Nona Emily. Apa pendapat Anda?”
“Nona Emily, apakah Anda juga seorang model seperti Renata?”
“Andromeda, bagaimana hubungan Anda dengan Renata? Apa kalian sudah tidak ada hubungan lagi?”
“Andromeda, apakah rencana pernikahan kalian berdua untuk memperkuat bisnis keluarga Jocom? Kalau boleh tahu Emily berasal dari keluarga pengusaha yang bergerak di bidang apa?”
Pertanyaan wartawan bertubi-tubi menghujani Andromeda dan Emily. Lampu dari kamera-kamera wartawan menyilaukan mata Emily dan membuat gadis itu menjadi tidak nyaman.
“Ayo, katakan sesuatu.” Andromeda mendekatkan wajahnya pada Emily dan berbisik.
“Katakan apa?” Emily diliputi kebingungan atas semua reaksi awak media yang mendadak heboh.
“Katakan sesuatu!” Andromeda berseru sambil membengkokkan ujung mic mengarah ke wajah Emily.
“Eh!” Emily yang terkejut dengan tindakan Andro, spontan berseru panik. Suaranya yang dikeraskan oleh mic menggema di seluruh penjuru aula membuat suasana yang riuh seketika menjadi hening. Semuanya tentu saja telah menantikan calon istri Andromeda memberikan sepatah dua patah kata.
Menyadari semua mata dan telinga kini menantikan ucapannya, Emily bertambah gugup, “Sa…saya….” Emily tergagap. Ya, Tuhan! Apa yang harus dia katakan? Sialan sekali Andromeda ini. Pemuda itu tidak bilang apa-apa sebelumnya soal berbicara di mic.
Ayo cepat gunakan otakmu itu untuk berpikir, Emily. Andromeda. CEO. Pernikahan sebagai syarat untuk mendapatkan proyek. “Sebagai seorang istri, nantinya saya akan mendukung Andromeda untuk mendapatkan semua proyek yang dia inginkan.” Itulah kalimat yang akhirnya meluncur dari mulut Emily.
Demi mendengar kalimat Emily, Andromeda menatapnya terkejut tapi kemudian seulas senyum terukir di bibirnya. Momen itu tak disia-siakan oleh para awak media. Andromeda terkenal dingin dan jarang tersenyum pada rekan-rekan wartawan, terlebih yang mencoba mengorek kehidupan pribadinya.
Konfrensi pers itu berkhir dengan pegawalan ketat beberapa body guard yang menggiring Andromeda dan Emily keluar dari aula menuju ruangan kerja pemuda itu. Andromeda menutup mulutnya rapat-rapat terhadap semua pertanyaan wartawan tentang Renata.
Setelah keduanya tiba di dalam ruang kerja Andromeda, pemuda itu menatap Emily sembari berkata, “Lihatlah bagaimana Nura mengubah seekor itik buruk rupa menjadi angsa.”
Emily mencibir, “Setidaknya ucapkan terima kasih dulu atas peranku sebagai calon istri CEO yang sepertinya pantas diberi piala citra.”
Andromeda tersenyum sinis, “Oke, terima kasih.” Dia merogoh ponsel dari saku jasnya. “Berikan nomor teleponmu padaku.”
“Untuk apa?” Emily balik bertanya.
“Bukankah aku berhak mendapatkan nomor telepon calon istriku?” Andromeda menjawab cuek, “Oh, ya. Aku telah membayar hutang-hutang keluargamu. Mulai detik ini tidak ada lagi debt collector yang akan mendatangi rumahmu.”
Emily terkejut namun di satu sisi juga merasa sangat lega. Beban berton-ton yang selama ini dia pikul di pundaknya seolah terangkat seketika. “Terima kasih.” Gadis itu bergumam.
Andromeda mengangguk dan melanjutkan, “Dalam waktu dekat aku akan ke rumahmu menemui Tante Martha.”
“Hah? Untuk apa lagi sih?”
“Melamarmu.”
“Melamar!?”
“Ya. Aku tidak berencana untuk kawin lari denganmu.” Andromeda menaikkan kedua alisnya. []