Press Conference

1330 Words
              Andromeda Jocom tengah duduk di jok belakang sambil melekatkan tatapannya pada gadget. Sesekali dia tersenyum membaca entah apa yang tertera di sana. Perkiraan cuaca, index harga saham gabungan atau sekadar meme yang menampilkan joke-joke sarkas. Yang jelas, pemuda dalam balutan two piece suit berwarna abu-abu tua itu tampaknya sedang dalam suasana hati yang baik. Dia tidak lagi menatap kosong ke luar jendela mobil seperti yang dilakukannya beberapa hari yang lalu.             Christof, supir pribadinya, menyadari perubahan sikap tuan mudanya tersebut dan berpikir apakah Andromeda tidak lagi dipusingkan dengan perihal mencari istri? Kalau begitu, apakah Andromeda sungguh-sungguh tentang pernikahannya dengan Emily? Kata-kata Emily yang mempertanyakan apa tujuan Andromeda mencari istri dan setuju untuk menikahi Emily, terus saja menghantui Christof. Saat mengantarkan Emily pulang ke rumah selepas berbelanja Sabtu kemarin dia hampir saja kelepasan berbicara pada Martha.             Untunglah Christof masih bisa mengontrol dirinya saat Martha bertanya dari mana saja dia dan Emily seharian ini. Alih-alih berkata mereka dari kediaman keluarga Jocom, Christof segera menjawab, “Aku meminta Emily memeriksa tugas sekolah Inayah.” Christof menyebut nama putri bungsunya. Saat itu Emily hanya mengerling ke arah Christof dan menyerahkan segala penjelasan atas permasalahan ini pada pamannya itu. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah Christiof sendiri tidak tahu dari mana dia harus mulai menjelaskan segalanya kepada Martha.             Christof melirik sekali lagi ke arah Andromeda melalui spion tengah sebelum berujar, “Tuan Muda, maafkan jika saya lancang. Tapi apakah Tuan sungguh-sungguh soal menikahi Emily?”             Andromeda yang sedari tadi asyik menatap gadget kini mengangkat kepalanya dan memandang Christof melalui kaca spion yang sama. “Ya. Aku serius. Ada apa Christof?”             “Sebenarnya aku bertanya-tanya kenapa Tuan tertarik pada Emily. Maksudku, Nona Renata…bukankah kalian…..”             “Aku dan Renata sudah tidak ada apa-apa lagi.” Andromeda memotong cepat. Dia tidak suka orang lain mempertanyakan masalah pribadinya. “Dan soal Emily, aku serius. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tidak terlalu peduli dengan background seseorang?”             “Aku senang mendengarnya, Tuan,” gumam Christof, “Emily anak yang baik meski kadang-kadang agak keras kepala. Dia begitu sejak kematian ayahnya. Dia harus bekerja di saat teman-temannya yang lain menikmati masa muda.”             Andromeda mengangguk. Dia sudah dengar mengenai ayah Emily yang mati meninggalkan banyak utang itu.             “Begini, Tuan. Jika Tuan memang serius, apa tidak sebaiknya Tuan melamar Emily pada ibunya? Meski ibunya hanya orang biasa yang bekerja sebagai penjual makanan tapi….”             “Apa maksudmu orang biasa?” Sekali lagi Andromeda memotong ucapan Christof. Orangtua Andromeda maupun opa dan omanya selalu menanamkan pada pemuda itu untuk menghargai dan memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan, tak peduli dari strata sosial mana mereka berasal. Kedua orang tuanya, terlebih mendiang opanya tidak mentolerir siapa saja keluarga Jocom yang memandang rendah orang lain.             Namun demikian ucapan Christof benar-benar mengejutkan Andromeda. Dia terlalu fokus dengan perkara membawa calon istri ke konfrensi pers sampai lupa harus meminta Emily secara baik-baik kepada ibunya. Astaga, setelah ini dia harus segera menemui keluarga Emily. Dia bahkan tidak tahu nama calon ibu mertuanya. “Siapa nama ibunya Emily?” tanya Andromeda.             “Martha,” jawab Christof. “Almarhum ayahnya, Irfan Andries. Emily memiliki satu adik laki-laki yang masih SMA, Reinal.”             Andromeda mengangguk. “Bisakah kau membantuku membelikan beberapa barang yang sekiranya disukai oleh Reinal dan ibunya Emily? Aku berencana mengunjungi rumah Emily dalam waktu dekat untuk melamar.”             “Apa!?” Tentu saja Andromeda harus melamar Emily baik-baik. Itulah yang diharapkan oleh Christof. Tapi, demi mendengar sendiri hal itu dari mulut Andromeda, Christof tetap saja terkejut. Dia terkejut sekaligus bahagia. Dia tahu Andromeda adalah pemuda yang baik. Heru Jocom telah menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti pada anak semata wayangnya ini. Apa pun alasan Andromeda akan menikahi Emily saat ini sudah tidak menjadi persoalan bagi Christof. Dia tahu Andromeda akan memperlakukan Emily dengan baik.             “Ya, tolong sampaikan pada Emily tentang rencana kedatanganku untuk melamarnya,” sahut Andromeda sambil memasukkan gadget ke dalam kantungnya. Dia membenahi jasnya dan bersiap untuk turun karena mobil mereka telah memasuki pelataran JOSSE. Konfrensi pers akan diadakan di aula lantai enam. Sepuluh menit lagi.   ***             Emily tidak menjawab satu pun pertanyaan yang dilontarkan oleh Seli. Bagaimana mungkin dia bilang alasannya diundang oleh Pak Direktur ke kediaman kelurga Jocom adalah untuk diperkenalkan pada Nyonya Sofia sehubungan dengan rencana pernikahan mereka? Seli bisa mati sesak napas seketika. Untunglah kedatangan Nura menyelamatkan Emily dari rentetan pertanyaan Seli yang tak kunjung ada habisnya.             “Kamu sudah siap Emily sayang?” Nura, yang hari itu tampak cantik dalam balutan dress panjang dengan hiasan manik dan ruffle di d**a serta hijab warna senada, menghampiri Emily yang tengah bertugas di bagian ticketing.             Emily sudah tahu dengan jelas apa maksud kedatangan Nura di bioskop tempatnya bekerja. Dia akan mendandani Emily karena sebentar lagi gadis itu harus menghadiri acara konfrensi pers PT. Jocom Jaya Abadi. “Aku belum minta ijin ke Pak Manajer,” gumam Emily.             “Andromeda sudah mengatur semuanya,” sahut Nura.             Demi mendengar nama Andromeda disebut, Seli yang saat itu sedang berdiri tak jauh dari Emily, kembali memicingkan matanya. Apa yang terjadi sebenarnya antara Emily dengan Andromeda?             “Oke kalau begitu,” Emily mengikuti langkah Nura keluar dari bioskop tanpa mempedulikan Seli yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.             Saat tiba di The Beauty House, Nura tidak menunggu lebih lama untuk segera mendandani Emily. Gadis itu memiliki kontur wajah yang kecil dengan hidung lancip. Dengan tampilan natural seperti ini, Emily terlihat jauh lebih muda dari usianya. Kalau Emily bilang dirinya masih SMA mungkin orang-orang akan percaya. Tubuhnya begitu mungil jika bersanding dengan Andromeda yang memiliki tinggi nyaris seratus delapan puluh senti meter.             Tujuan utama Nura adalah membuat Emily terlihat elegan namun tetap menonjolkan karakter Emily yang natural dan manis. Wanita itu menyapukan pensil warna coklat muda pada alis Emily, membuat winged eye liner dengan lihai dan yang terakhir adalah menyulap bulu mata Emily menjadi lebih lentik dari biasanya. Tentu saja Nura memiliki karyawan untuk melakukan semua itu pada pelanggan The Beauty House, namun demi memastikan Andromeda mendapatkan apa yang dia inginkan, maka Nura turun langsung mendandani Emily. Untuk bibir Emily, Nura memakaikan lip gloss berwarna peach demi menambah kesan fresh.             “Aku suka sekali rambutmu yang lembut dan sehat ini,” Nura menyentuh rambut Emily. “Tidak perlu melakukan apa pun pada rambut indah ini.” Karena ini adalah acara formal, maka Nura mengikat rambut Emily ke belakang dan membiarkan beberapa anak rambut membingkai wajah mungil gadis itu.             Tepat di saat itu, ponsel Nura berdering. Melihat nama Andromeda di sana, Nura menyalakan load speaker dan meletakkan ponsel itu di meja rias karena dia tidak ingin pekerjaannya diinterupsi.             “Kenapa Andro?” tanya Nura sambil merapikan rambut Emily.             “Aku tau sulit sekali membuat wajah seperti Emily menjadi menarik, tapi cobalah cepat sedikit. Sebentar lagi giliranku berbicara. Aku mau dia sudah ada di sini saat aku mulai bicara nanti.”             Emily, demi mendengar ucapan Andromeda di seberang telepon, hanya bisa menganga saking kesalnya. Menyadari perubahan raut wajah Emily, Nura segera mengambil ponselnya dan berujar, “Andro, aku sedang mendandani Emily, sebentar lagi dia ke sana. Aku tutup dulu, ya.”             Nura tidak menunggu persetujuan Andromeda saat memutus sambungan telepon itu, “Aku heran bagaimana kalian saling kenal.” Nura menuntun Emily untuk bangkit dari kursi dan menuju ke kamar ganti. Dia telah menyiapkan little black dress dengan lengan hingga siku bagi Emily. Gadis itu yang memilihnya dan Nura setuju dengan pilihan itu. Little black dress terlihat klasik namun di satu sisi juga membuat pemakainya terlihat effortless sehingga sesuai dengan karakter Emily yang simpel. Sebagai sepatunya, Nura memilihkan stiletto dengan perpaduan warna hitam dan peach. Heels sepuluh senti meter akan membuat Emily tampak serasi saat bersanding dengan Andromeda nanti. Saat Emily keluar dari kamar ganti, Nura nyaris tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sebuah maha karya, “Andromeda tidak akan memalingkan matanya darimu.” Nura menyerahkan clutch keemasan dari bahan kulit reptil buatan desainer tanah air pada Emily untuk menyempurnakan penampilan gadis itu. Emily sudah sudah sangat layak untuk diperkenalkan sebagai calon istri CEO PT. Jocom Jaya Abadi.[]            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD