Airin Wijaya adalah cucu dari Albert Jocom. Ibunya adalah Farida Jocom yang menikahi seorang pengusaha konstruksi lokal bernama Vito Wijaya. Meski tidak lagi menyandang nama Jocom, Airin tetap memiliki sebagain kecil share saham di Jocom Group. Gadis itu kini, dari tempatnya berdiri, bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Andromeda Jocom pada manajer Lucas and Co yang beberapa menit lalu menuduh bahwa kartu kredit milik Andromeda yang dibawa oleh Emily adalah kartu kredit palsu.
Tapi, apa yang dilakukan Andromeda, sepupu jauhnya itu, di sana? Yang lebih membingungkan bagi gadis dua puluh enam tahun itu adalah siapa gerangan gadis berambut kecoklatan yang memegang kartu kredit Andromeda? Airin tidak pernah melihat Emily pada acara-acara keluarga Jocom sebelumnya. Apakah itu saudara Andromeda dari sebelah ibunya? Dia harus segera memberitahu informasi ini pada Farida Jocom, ibunya.
“Karena pegawai di toko ini tidak melayanimu dengan baik, maka sebaiknya kita berbelanja di tempat lain saja,” Andromeda merengkuh bahu Emily dan menggiringnya keluar dari Lucas and Co.
“Maafkan saya Tuan Andromeda, saya tidak bermaksud demikian.” Aldo mencoba menahan Andromeda tapi pemuda itu memberi kode pada kedua body guard yang senantiasa berdiri di sisinya untuk mengurus Aldo.
Aldo tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam itu menahan lengannya. Di sudut lain ruangan, Nita hanya bisa melongo melihat semua peristiwa yang terjadi dan menyesali tindakannya tidak melayani Emily dengan baik.
“Andro, aku rasa ini agak keterlaluan.” Emily mendesis. Bahunya masih direngkuh oleh Andromeda.
“Anggap saja ini pelajaran karena mereka tidak melayanai customer dengan baik. Semua customer yang datang ke toko kita, bagaimanapun tampilannya, berhak dilayani dengan baik.” Andromeda membawa Emily menjauh dari Lucas and Co. “Lagi pula masih banyak tempat lain yang menjual produk-produk yang tak kalah bagus dengan produk mereka.”
Tempat itu adalah The Beauty House by Nura. Rumah kecantikan yang merangkap butik. Pemiliknya adalah Nura Viani, sahabat Andromeda sejak SMA. The Beauty House by Nura terletak di lantai yang sama dengan Lucas and Co. Tanpa ragu Andromeda mendorong pintu kaca dan membawa Emily untuk masuk ke sana.
“Andromeda Jocom. Tumben kamu kemari.” Setiap pintu kaca didorong dari luar, maka lonceng kecil yang digantung di atas kusen pintu berdenting. Nura Viani, pemilik rumah kecantikan itu menoleh ke arah pintu masuk dan terkejut mendapati kawan lamanya di sana.
“Hai. You look gorgeous as always.” Andromeda mengulurkan tangannya dan disambut oleh Nura dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Mana Renata? Biasanya kamu datang dengan dia.” Wanita berjilbab yang tampil sangat modis dengan jeans dan outer floral yang panjangnya hingga mata kaki itu tampak mengedarkan tatapannya ke sekeliling Andromeda, mencoba menemukan Renata. Tapi gadis itu tidak ada di sana.
“Aku tidak bersama Renata,” ujar Andromeda.
Nura mengernyit. “Lalu, kamu datang ke sini untuk apa? Bukan untuk memakai nail art di kukumu kan?”
Andromeda tersenyum tipis dan menoleh ke arah Emily yang ada di sampingnya, “Ini Emily. Tolong bantu dia menemukan sesuatu yang bagus dari butikmu.”
“Oh, hai Emily. Sorry, aku tidak tau kamu datang bersama Andro,” Nura segera mengulurkan tangannya. “Nice to meet you.”
“Senang berkenalan denganmu juga.” Emily menyambut uluran tangan Nura dan terkagum-kagum dengan kecantikan wanita itu. Tingginya yang menjulang membuat Emily berpikir apakah wanita ini juga seorang model?
“Kamu mau mencari apa Emily sayang?” Nura menatap sepenuhnya ke arah Emily.
“Tolong carikan dia baju, tas dan sepatu yang pantas dikenakan di acara perusahaan.” Andromeda yang menjawab.
“Acaranya siang atau malam?” Nura kembali bertanya.
“Siang.” Andromeda menjawab singkat.
“Oke, Tuan Andromeda. Biarkan aku membawanya memilih beberapa dress rancananganku yang mungkin saja Emily suka. Sementara itu kamu bisa duduk di sofa sana.”
Andromeda mengikuti ucapan Nura dan duduk di salah satu sofa di ruangan itu sementara wanita tersebut membawa Emily ke sisi lain ruangan tempat beberapa dress dipajang. The Beauty House by Nura adalah salon and spa sekaligus butik yang menjual produk-produk rancangan Nura dan beberapa desainer lokal yang karya-karyanya sudah mendunia.
Tak berapa lama tampak Nura menghampiri Andromeda kembali. “Andro, siapa Emily? Pacar baru? Mana Renata?”
“Mana Emily?” Andromeda balik bertanya.
“Dia sedang memilih baju dan sepatu di sana,” Nura menunjuk Emily dengan kepalanya, “Dia tampak kebingungan dan tidak tau apa yang dia inginkan.”
Andromeda berdecak, “Tolong bantu aku, Nura. Lakukan sesuatu padanya. Aku harus membawa dia ke konfrensi pers lusa.”
Wanita dengan darah Amerika, Arab dan Indonesia yang mengalir dalam tubuhnya itu kembali mengernyitkan keningnya. “Kamu bisa mengandalkanku. Kamu sudah banyak membantu sejak awal beauty house ini berdiri. Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu. Jadi, katakan saja apa yang harus aku lakukan dan aku akan melakukukannya.”
“Aku bisa peraya padamu kan?”
“Tentu saja Andro. Persahabatan kita taruhannya,” Nura tersenyum meyakinkan. “Tapi, kamu belum menjawab pertanyaanku. Siapa Emily?”
Andromeda menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat. Nura adalah sahabat baiknya sejak SMA untuk itu dia tidak memiliki alasan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. “Aku sedang berada dalam situasi yang sulit, Nura. Semuanya sulit sejak orangtuaku meninggal. Kau tau itu kan?”
Nura mengangguk. Sedikit banyak dia sudah tahu tentang intrik-intrik kakek-kakek serta pama-paman Andromeda yang tampaknya berusaha menguasai Jocom Group dengan jalan menyingkirkan pemuda itu. Persahabatan keduanya sangat erat sehingga membuat Adromeda tidak menutupi apa pun dari wanita ini. Andromeda tidak memiliki banyak teman. Dia tidak mudah percaya pada orang lain. Tapi, jika ada yang bisa dikategorikan sebagai sahabat, maka hanya ada dua di dunia ini, yaitu Nura dan Marco.
“Dia calon isrtiku,” sahut Andromeda pelan.
“Apa!?” Nura memekik. Andromeda gegas meletakkan telunjuknya di bibir mengisyaratkan pada Nura untuk mengecilkan volume suaranya. “Sorry. Are you serious?”
“Aku tidak punya pilihan lain. Oma memintaku membawa calon istri saat konfrensi pers nanti.”
“Renata?” Nura memelototi pemuda itu.
“Kami sudah selesai. Renata tidak mau menikah denganku.”
“Bullshit!” Nura tahu bagaimana terobsesinya Renata pada Andromeda. Lalu kenapa gadis itu tidak mau diajak menikah?
“Ya. Renata tidak mau melahirkan anak untukku sementara itulah yang diinginkan oleh kakek-kakekku yang sialan.”
“What!?” Nura kembali memekik dan tidak peduli pada Andromeda yang terus mengisyaratkanya untuk tidak berisik.
Pembicaraan kedua sahabat itu terhenti karena Emily tampak berjalan mendekat. “Aku sudah menemukan apa yang sepertinya sesuai untukku.”
“Oh, ya? Ayo tunjukkan padaku.” Nura membimbing Emily kembali menuju pojok ruangan tempat deretan dress digantung. Dia lalu menoleh ke arah Andromeda sambil memancarkan tatapan yang mengisyaratkan kau-masih-berutang-banyak-cerita-padaku.[]