“Halo Seli, di mana aku bisa menemukan baju dan tas branded di mall kita ini?” Emily bertanya cepat begitu sambungan telepon dijawab oleh Seli. Christof telah menurunkannya di pelataran mall dan mengatakan pada Emily untuk menunggunya di tempat parkir selagi gadis itu berbelanja.
“Maksudmu di JOSSE?” Seli balik bertanya. Seluruh mall milik Jocom Group dinamai dengan Jocom One Stop Shop and Entertainment, sehingga orang-orang lebih suka menyingkatnya dengan JOSSE. “Tunggu dulu, di mana kamu sekarang? Bagaiman pertemuanmu dengan Pak Direktur di rumahnya?”
“Aku akan menjelaskan ini semua kepadamu saat kita bertemu di bioskop Senin nanti. Sekarang yang paling penting adalah di mana aku bisa menemukan barang-barang branded itu?”
“Coba Lucas and Co,” ujar Seli di seberang telepon. “Di sana ada baju, sepatu dan tas branded.”
“Oh, ya? Itu lantai berapa?”
“Lantai dua,” jawab Seli. “Em, tapi mau apa kamu ke sana? Gaji kita setahun juga tidak bisa….”
Kalimat Seli terpotong karena Emily sengaja menutup sambungan teleponnya. Saat ini dia tidak ada waktu untuk mendengar ocehan Seli. Hari sudah beranjak sore. Dia harus segera berbelanja kalau tidak ingin pulang malam dan menimbulkan kecurigaan pada ibunya.
“Lucas and Co. Ah, ini dia!” Emily baru saja akan melangkah masuk ketika seorang karyawan toko menghadangnya.
“Nama saya Nita. Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Gadis bernama Nita itu memandangi penampilan Emily dari atas hingga ke bawah. Tidak ada pengunjung Lucas and Co yang berpakaian seperti ini. Apakah orang ini tidak salah masuk?
“Saya mau berbelanja,” jawab Emily. Dia sadar tengah diamati oleh Nita dan itu membuatnya sedikit canggung. Karyawan bernama Nita ini, dengan rok span dan blazer hitamnya, bahkan berpakaian lebih baik dari Emily.
“Maaf, apa yang Anda cari?” Nita masih menghalangi jalan masuk.
“Tas, sepatu, baju,” jawab Emily ragu-ragu. Dia melongok sekilas ke dalam tenant Lucas and Co dan menyadari semua pengunjung di dalam sana berpakaian dengan elegan. Apakah karena itu dia sekarang seolah tidak diizinkan untuk masuk?
“Tas seperti apa?” Nita tarus memburu.
“Bolehkah saya masuk dulu?” Emily mulai kesal. “Bukankah saya harus melihat-lihat dulu untuk bisa memutuskan tas seperti apa yang akan saya beli?”
Nita tersenyum tapi jelas sekali dari sorot matanya dia tengah menghakimi penampilan Emily. Orang-orang berpenampilan seperti ini sudah dipastikan hanya melihat-lihat dan tidak akan pernah membeli. Untuk itu sebaiknya dicegah daripada hanya membuang-buang waktunya.
“Ada apa, Nita?” Seorang pria muda, dengan kemeja putih dan celana bahan berwarna abu-abu, melihat sedikit kekacauan yang terjadi di ambang pintu, berjalan mendekat. Tugasnya sebagai manajer tenant mengharuskan dia bisa mengatasi situasi seburuk apa pun yang terjadi di tokonya.
“Maaf, Pak Aldo. Katanya Nona ini ingin mencari tas, baju dan sepatu,” jawab Nita sambil memandang wajah Aldo dengan tatapan yang Aldo pahami sebagai orang-ini-bukan-customer-potensial-jadi-sebaiknya-kita-usir-saja.
“Oh, ya? Apa Nona tidak salah tempat?” Aldo menatap Emily dengan senyum yang tampak dibuat-buat.
Emily mengernyitkan keningnya. “Ini Lucas and Co, bukan? Atau ada Lucas and Co lainnya di JOSSE?”
“Lucas and Co hanya ada satu di kota ini dan hanya ada di JOSSE.” Aldo menjawab dengan keramahan yang dipaksakan.
“Kalau begitu biarkan saya masuk dan melihat-melihat,” Emily menyahut kesal.
Aldo dan Nita saling berpandangan. Apakah Nona ini tidak tahu harga dress termurah di toko mereka? Tiga puluh juta rupiah. Nona ini bahkan hanya mengenakan tank top dua puluh ribu, sepatu tanpa merk dan jeans dengan brand tiruan.
“Permisi, apa kami boleh lewat?” Dua orang gadis berdiri di belakang Emily dan tampak terganggu karena tidak bisa masuk ke dalam toko.
“Ah, Nona Airin dan Nona Jenny.” Nita mengalihkan pandangannya dari Emily kepada dua gadis berpakaian modis yang baru datang. “Silakan masuk, Nona.”
“Selamat datang Nona.” Aldo dan Nita membuka jalan dan bahkan menunduk saat kedua gadis itu melenggang masuk.
Emily menyakasikan itu semua dengan kekesalan yang sudah sampai di ubun-ubun. Rupanya benar dugaannya. Dia tidak diizinkan masuk hanya karena berpakaian seperti ini? Sungguh keterlaluan! Siapa yang mengajarkan dua manusia ini untuk menilai orang dari penampilannya?
“Oke, saya masuk.” Emily segera mengekor dua gadis yang baru datang itu masuk ke dalam tenant.
“Maaf, tunggu sebentar Nona.” Nita berusaha menghalangi.
“Kenapa lagi? Mereka boleh masuk kenapa saya tidak?” Emily menyahut ketus.
Aldo mendekati Nita dan berbisik, “Sudah, biarkan dia masuk. Kamu ikuti dia. Jangan sampai merusak barang-barang di sini.”
Nita mendengus kesal. Kalau tidak ada Emily, dia bisa langsung melayani Airin dan Jenny, customer loyal Lucas and Co yang pada setiap kedatangan pasti akan membeli produk mereka. Karyawan Lucas and Co akan berebutan melayani keduanya karena karyawan akan mendapatkan komisi dari toko sebesar satu persen dari harga produk yang terjual. Emily benar-benar membuat Nita kehilangan tambang uangnya hari ini.
Emily memandangi deretan tas yang terpajang di etalase dan tidak menemukan satu pun yang menarik minatnya. Terlalu berkilau, warnanya terlalu terang, pola kulit hewan yang terlalu aneh, terlalu banyak bulu-bulu.
Emily berpindah ke etalase sepatu dan hal yang sama terjadi. Heels yang terlalu runcing, warna yang terlalu menyolok, bahkan beberapa model sepatu di sana membuat Emily tidak yakin apakah masih bisa berjalan jika mengenakannya. Mungkin memang benar bahwa toko ini tidak sesuai untuk orang sepertinya.
“Apa sudah ketemu apa yang Anda ingin beli?” Nita sedari tadi mengekor setiap langkah Emily.
“Belum. Apakah tidak ada yang lebih biasa?” Emily benar-benar bingung dan tidak dapat menjatuhkan pilihan.
“Yang lebih biasa? Kami tidak menjual barang biasa di sini. Anda bisa mencarinya di tempat lain.” Nita menjawab sambil tersenyum meski terdengar nada sinis pada kalimatnya.
“Ah, yang itu!” Emily melihat ke bagian atas etalase dan menemukan sebuah tas berwarna putih yang tampak simpel. Ukurannya juga sedang dan tidak menyolok ketika digunakan. “Aku mau beli yang itu.”
Nita membelalak melihat ke arah tas yang ditunjuk oleh Emily. Gadino Bag by Hilde Palladino. New Arrival. Harganya tak kurang dari lima ratus juta rupiah. Gadis ini akan membeli dengan apa? Jual ginjal pun sepertinya tidak cukup. “Itu barang baru dan belum ada diskon. Apakah Anda yakin?”
Emily mengangguk mantap. “Boleh aku lihat? Sepertinya aku tertarik dengan tas yang itu.”
Menyadari Nita hanya berdiam di tempatnya tanpa ada tanda-tanda hendak menurunkan tas itu dari etalase di atas sana, Emily kembali bertanya, “Aku boleh lihat dulu kan? Aku ingin cek apakah resletingnya baik-baik saja. Biasanya ada sedikit cacat. Entah resletingnya atau jahitan di sudut-sudutnya yang kurang kuat sehingga mudah jebol.”
Nita meringis mendengar semua kalimat Emily. Demi Tuhan itu adalah Gadino Bag by Hilde Palladino. Tas dari kulit buaya dengan tiga puluh sembilan berlian putih yang ditanam di balik gesepernya. Mana mungkin resletingnya rusak atau jahitannya mudah jebol? Nita hampir kehilangan kewarasannya. “Sebentar, saya akan tanyakan kepada manajer kami dulu.”
“Dia menunjuk Gadino Bag?” Aldo tercekat saat Nita memberitahu bahwa customer mereka yang tidak potensial itu menunjuk salah satu tas paling mahal di toko mereka.
“Pak, tolong Bapak saja yang tangani. Saya pusing, Pak.” Nita memberengut.
“Ya, sudah. Kalau begtu kamu layani Nona Airin dan Nona Jenny saja,” ujar Aldo yang langsung disambut dengan anggukan antusias oleh Nita.
Tanpa menunggu lagi Nita segera menghampiri Jenny dan Airin yang tengah duduk di salah satu sofa untuk mencoba sepatu. “Apakah Nona Jenny dan Airin sudah menemukan yang Anda berdua cari?” tanya Nita dengan senyum lebar.
“Loh, kemana Aldo? Tadi dia yang melayani kami.” Airin bertanya acuh tak acuh.
“Maaf, Bapak Aldo sedang menangani customer yang merepotkan di sebelah sana,” jawab Nita ramah.
“Merepotkan?” Jenny kelihatan penasaran. Dia mengikuti arah pandang Nita. “Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa sebenarnya Nona. Tapi dia bilang ingin membeli Gadino Bag. Itu barang baru kami. Harganya 577 juta.”
“Bagus kan kalau dia membeli. Bukannya kalian akan dapat banyak komisi kalau tas itu berhasil terjual?” Airin menyahut santai sambil mencoba sepatu lainnya dan sesekali berdiri untuk mematut dirinya di cermin.
“Iya, tapi tidak mungkin orang seperti dia….” Nita sengaja menggantung kalimatnya.
“Seperti apa?” Kali ini Airin menjadi penasaran dan mengikuti arah pandang Nita dan Jenny, sahabatnya. Dia menemukan sosok gadis berambut coklat sebahu dengan pakaian yang jauh dari pantas untuk dikenakan saat mengunjungi Lucas and Co tengah berbicara pada Aldo, sang manajer toko.
“Sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya,” gumam Jenny.
“Kamu kenal?” tanya Airin.
“Sepertinya itu gadis yang dijumpai Andromeda di bioskop beberapa hari yang lalu.”
“Andromeda? Andromeda Jocom?” Airin terkejut dengan informasi itu.
“Ya. Andromeda sepupumu.”
Airin membalas dengan senyum sinis, “Untuk apa Andromeda menemuinya? Kamu tau sendiri kan bagaimanna dinginnya Andromeda pada wanita? Hanya Renata yang berhasil menaklukkannya. Lagi pula, untuk apa Andromeda ke bioskop?”
“Entahlah. Aku juga memiliki pertanyaan yang sama banyaknya denganmu,” jawab Jenny sambil mengedikkan bahunya.
Sementara itu, Aldo, manajer toko, mengulas senyum ramah sambil bertanya pada Emily, “Pegawai saya bilang Anda ingin membeli tas itu.” Aldo menunjuk sebuah tas putih yang berada di etalase paling atas.
“Ya. Benar.” Emily menjawab yakin, “tapi saya ingin lihat dulu. Boleh diturunkan supaya saya bisa melihatnya lebih dekat? Saya ingin memeriksa jahitan dan resletingnya.”
“Tentu saja bisa. Tapi, boleh saya tau Anda akan membayar dengan apa? Kartu atau tunai?” Aldo memaksakan senyum ramah sekali lagi kepada Emily. Tidak mungkin dengan uang tunai mengingat harga tas itu yang setengah miliar.
“Oh,” Emily merogoh ke dalam sling bag-nya dan mengeluarkan kartu kredit pemberian Andromeda, “aku akan membayar dengan ini.”
Bola mata Aldo nyaris melompat dari tengkorak kepalanya demi melihat kartu kredit yang disodorkan Emily. J.P. Morgan Reserve Card, kartu kredit tanpa limit yang hanya dimiliki kaum jetset ataupun petinggi negara di dunia. Bagaimana mungkin gadis dengan tampilan seperti ini bisa memilikinya? Ini pasti palsu.
“Ini palsu kan?” Aldo bertanya tanpa ragu, “Hati-hati Nona, pemalsuan kartu kredit adalah tindakan kriminal. Saya bisa saja melaporkan Anda ke polisi saat ini juga.”
Emily terkejut mendengar pernyataan Aldo, “A…apa?”
“Ini palsu kan? Orang seperti Anda tidak mungkin memiliki kartu kredit ini.”
“Orang sepertiku!?” Mata Emily membola. Wajahnya memerah menahan kekesalan. Sialan sekali orang-orang di toko ini.
“Jadi, Anda pikir kartuku ini palsu?” Seorang pemuda muncul tiba-tiba di samping Emily. Celana jeans dan sweater dari desainer ternama. Belasan menit yang lalu pemuda itu melarikan mobilnya begitu mendapat telepon dari James, body guard-nya, yang mengabarkan bahwa gadis yang tengah dibuntutinya mengalami sedikit masalah di Lucas and Co. Karyawan toko tidak megizinkkannya masuk.
“Tu…Tuan Muda Andromeda?” Aldo terbelalak dan seketika itu juga gelagapan.
“Aku memberikan kartu kredit ini pada Emily tapi Anda bahkan meragukan keasliannya?” Andromeda menatap Aldo dengan sorot mata yang mampu membekukan kutub utara sekali pun.
“Andro, apa yang kau lakukan di sini?” desis Emily terkejut dengan kedatangan Andromeda yang tiba-tiba.
Di sudut lain di toko itu, Airin tidak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya demi melihat Andromeda Jocom ada di sana.
“Sudah kubilang kan? Dia gadis yang ditemui Andromeda di bioskop,” gumam Jenny, “Ada hubungan apa mereka berdua?” []