Badly Dressed

1123 Words
            “Benar-benar tidak masuk akal!” Andromeda masuk kembali ke dalam ruang perpustakaan dan membanting pintu dengan keras hingga menutup di belakangnya. Emily yang sedang menatap foto-foto keluarga Jocom di dinding sangat terkejut dengan kedatangan pemuda itu.             “Apa yang akan kau katakan pada seluruh keluargamu ini tentang pernikahan palsu kita?” Emily menunjuk foto-foto di pigura sambil mengikuti langkah Andromeda yang berakhir di meja kerjanya. “Aku rasa, aku tidak jadi menyetujui kesepakatan bisnis ini denganmu. Silakan kamu cari perempuan lain saja.”             Andromeda membuka laci mejanya dan mengambil buku cek dari dalam sana. “Oh, ya? Itu yang kau pikirkan? Padahal aku baru saja mau menandatangani buku cek ini. Berapa? Dua ratus juta kan?”             Emily menarik kursi dan duduk bersebrangan meja dengan Andro. “Kau serius dengan pernikahan palsu ini? Apa kau tega mempermainkan persaan seluruh anggota keluargamu? Kalau sampai mereka tahu kita hanya menikah pura-pura bagaimana?”             Andromeda memandangi wajah Emily dengan tatapan heran. Gadis ini, apakah dia sedang menolak untuk menikahiku lagi sekarang? Baru tiga kali bertemu entah sudah berapa kali dia menolakku. Andaikan Emily tahu, justru karena perbuatan keluarganya Andromeda harus sampai kelabakan seperti ini. Jadi untuk apa dia perlu repot-repot memikirkan bagaiman perasaan keluarganya?             “Siapa bilang ini pernikahan palsu?” Andromeda terlihat tak sabar.             Emily mengernyitkan keningnya, “Lalu? Kalau bukan pernikahan palsu, lantas apa?”             “Tentu saja ini pernikahan sungguhan!”             “Maksudmu? Kita akan menikah secara agama dan secara hukum?”             “Iya.” Andromeda menjawab singkat dan tegas.             Mata Emily membola. Demi Tuhan dia belum mau menikah dengan siapa pun termasuk Andromeda. “Tapi, katamu kemarin ini hanya kesepakatn bisnis?”             Kesabaran Andromeda kini benar-benar sudah berada di batasnya. Egonya sebagai laki-laki kembali terluka. Kenapa gadis ini malah tampak tak senang saat Andromeda berkata akan menikahinya dengan sungguh-sungguh?             “Ini pernikahan sungguhan dengan beberapa kesepakatan yang akan kita buat kemudian,” ujar Andromeda pelan sambil berusaha mengatasi emosinya. “Kalau kau setuju, maka aku akan segera menandatangani cek sejumlah nominal uang yang kau minta, jika tidak setuju maka segeralah pergi dari sini dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku!”             “Tidak semudah itu, Andromeda,” ujar Emily membuat Andormeda terkejut. Dia lalu mengeluarkan secari kertas dari dalam kantung celananya, “Ini nomor telepon debt collector yang selalu datang ke rumahku untuk menagih. Aku tidak tau berapa tepatnya jumlah hutang ayahku, tapi aku mau semuanya lunas!”             Andromeda meraih kertas yang disodorkan oleh Emily, “Artinya kau bersedia menikah denganku kan?”             Emily mengembuskan napasnya dengan berat, “Aku pikir, aku hanya berpura-pura saja menikah denganmu. Tapi, ternyata sungguhan. Tapi, karena kamu bilang pernikahan ini tidak akan berlangsung lama, ya sudah aku setuju. Aku harap kamu segera mendapatkan proyek yang sangat kamu inginkan itu agar kita bisa segera bercerai.”             Andromeda tersenyum sinis. Menikah saja belum, gadis ini bahkan sudah memikirkan perceraian mereka. apakah Emily sama sekali tidak tertarik padanya? Sedikit pun?             “Tapi aku masih tidak enak dengan keluarga besarmu nanti. Aku merasa seperti penjahat yang menipu mereka. Aku harus menjawab apa kalau mereka bertanya padaku tentang hubungan kita? Di mana kita kenal, sejak kapan kita saling suka, kapan kita berpikiran untuk….”             “Berhentilah memikirkan hal-hal yang bukan menjadi tugasmu,” potong Andromeda.             “Tugasku? Memangnya apa tugasku?”             “Tugasmu adalah memastikan bahwa kau tidak muncul di acara konfresni pers hari Senin dengan dandanan seperti ini lagi. Kau ini benar-benar tidak masuk akal. Apa kau tidak memiliki pakaian lain yang lebih baik untuk bertemu dengan omaku?”             Raut wajah Emily berubah. Gadis itu tampak sangat kesal mendengar setiap kalimat yang dilontarkan oleh Andromeda, “Memangnya apa yang salah dengan pakaianku? Kamu ini belum menjadi suami tapi sudah banyak mengatur. Aku tidak butuh gaun atau pakaian mahal lainnya karena aku tidak melihat pentingnya memiliki pakaian-pakaian itu sekarang. Siapa sangka, kemudian aku bertemu dengan orang kaya sepertimu dan mendadak kamu mengajakku menikah.”             Andromeda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ocehan Emily. Bertemu dan langsung mengajak menikah katanya? Dia berkata seperti itu seolah-olah Andromeda jatuh cinta dan tergila-gila padanya. “Aku tidak peduli tentang bagaimana caramu berpakaian. Kau tidak pakai pakaian pun aku tidak peduli! Tapi aku mau kau datang ke acara konfrensi pers hari Senin dengan pakaian yang pantas karena kita akan go public!”             “Go public?” Emily menautkan kedua alisnya.             “Ya. Aku akan mengenalkanmu sebagai calon istriku di konfrensi pers itu.”             “Konfrensi pers apa sih itu?”             “Konfrensi pers peralihan kepemimpinan tertinggi PT. Jocom Jaya Abadi dari Oma Sofia kepadaku, Andromeda Jocom.”             “Apa?” Emily membelalakkan matanya. Dia sudah tahu perihal jabatan Andromeda sebagai direktur utama PT. Jocom Jaya Abadi dan itu sudah memberinya cukup beban. Pasti tidak mudah memainkan peran sebagai istri seorang direktur utama, apa pun tujuannya. Tapi ternyata sebentar lagi Andormeda akan menduduki posisi tertinggi di perusahaan itu. CEO?             Andromeda mengeluarkan sesuatu kembali dari dalam lacinya dan meletakkan benda itu di atas meja, “Belilah pakaian yang pantas dengan ini.”             Emily tahu kartu berwarna hitam dengan corak-corak warna lain itu adalah kartu kredit. “Apa harus?”             “Kau tidak berpikir untuk muncul di konfrensi pers dengan pakaian seperti itu kan?” Andromeda bertanya kesal sambil menatap pakaian yang tengah dikenakan Emily. Bahkan Rani, asisten rumah tangga merkea, bisa berpakaian lebih baik darinya.             Emily berpikir sejenak dan menimbang bahwa yang dikatakan Andromeda ada benarnya. Dia harus tampil dengan pakaian yang baik karena akan memerankan calon istri CEO. Dia sebenarnya tidak mau menerima apa pun lagi Andromeda tapi dia sendiri juga tidak memiliki cukup uang untuk membeli pakaian yang bagus. “Oke. Baiklah.” Emily mengambil kartu kredit tersebut dan memasukkannya dalam sling bag miliknya.             “Christof akan mengantarmu berbelanja,” ujar Andromeda.             “Aku bisa pergi sendiri,” bantah Emily.             “Christof akan menemanimu!” seru Andromeda dengan penekanan di setiap akhir katanya.             Emily mengembuskan napas kesal sambil beranjak dari kursi. “Oke. Oke Tuan Andromeda.”             Emily sudah berbalik menuju pintu untuk keluar dari ruang perpustkaan saat Andromeda berkata, “Jangan pulang sebelum kau menghabiskan minimal lima ratus juta!”             “Apa!?” Emily berbalik menatap Andromeda, “Kamu gila?”             “Aku tidak gila dan kau tidak salah dengar. Pergilah!” Andromeda beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Emily, mendorong tubuh gadis itu untuk keluar dari ruangan dan menutup puntunya. Dia ingin istirahat sejenak dengan huru-hara yang ditimbulkan Emily hari ini.             Setelah mengunci ruang perpustakaan, Andromeda mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan menghubungi salah seorang body guard-nya, “James, ikuti mobil Christof dan update padaku tentang keberadaan gadis yang bersama Christof.”             Andromeda menutup ponselnya sambil menghela napas dan mengembuskannya pelan, “Dia bahkan mungkin tidak tau di mana harus memberli barang branded. Argh! Menyusahkan saja.”[]  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD