Ruangan itu berisi sekitar empat buah rak buku berukuran besar, satu set sofa minimalis berwarna pastel serta satu set meja kerja. Nyonya Sofia berjalan ke salah satu dinding ruangan tempat di mana banyak foto-foto terbingkai dalam pigura berukir yang tampak mewah.
“Ini Alfred Jocom, Opa Andromeda, suamiku. Sekaligus pendiri PT. Jocom Jaya Abadi yang kemudian sekarang lebih kita kenal dengan Jocom One Stop Shop and Entertainment.”
Emily menatap foto pria tua dalam balutan jas hitam dengan wanita tua di sampingnya yang dia kenali sebagai Nyonya Sofia. “Opa Alfred memulai semua bisnis pusat perbelanjaan ini dari sebuah toko kecil di pasar. Aku tidak pernah lupa bagaimana dia menapaki satu per satu tangga imipiannya itu.”
Emily mengarahkan tatapannya ke pigura di samping foto Opa Alfred dan Nyonya Sofia. Andromeda menyadari ke mana arah tatapan gadis itu dan kemudian berujar, “Ini foto Heru Jocom dan Mariam. Orangtuaku.” Emily bisa melihat foto Andromeda dalam versi yang lebih muda diapit oleh kedua orangtuanya di sana.
“Andro tampan seperti ayahnya bukan?” Nyonya Sofia berbisik pada Emily dan dibalas dengan senyuman oleh gadis itu.
“Lima puluh persen saham PT. Jocom Jaya Abadi dimiliki oleh mendiang suamiku. Tiga puluh persen dibagi sama rata dengan kedua adiknya, dua puluh persen sisanya diperdagangkan di bursa efek.” Nyonya Sofia menunjuk salah satu pigura yang menampakkan foto tiga orang pria tua dalam balutan jas berwarna senada, “Alfa Jocom, adik pertama dan Albert Jocom, adik bungsu.”
Keheningan yang lama tercipta di ruangan yang disebut sebagai perpustakaan oleh Nyonya Sofia itu. Ingatan tuanya masih dapat mengenang dengan jelas bagaimana intrik demi intrik yang diciptakan oleh Albert dan Alfa untuk berebut kekuasaan pasca meninggalnya Alfred Jocom. Untung saja Alfred Jocom telah mengantisipasi semua ini dengan mencantumkan syarat kepemilikan saham mayoritas pada akta perusahaan PT. Jocom Jaya Abadi. Syarat yang kemudian dipertentangkan pada RUPS beberapa hari yang lalu. Syarat yang kemudian membuat Andromeda mau tidak mau harus segera menikah dan memiliki keturunan.
Nyonya Sofia beralih pada pigura lainnya yang menampilkan seluruh keluarga besar Jocom. “Opa Alfa memiliki tiga anak. Romi Jocom, Yuda Jocom dan Silvia Jocom.” Nyonya Sofia menunjuk satu per satu foto anggota keluarga yang dimaksud, “Dan ini cucu-cucunya.”
Emily hanya bisa menganggukkan kepala. Memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan?
“Lalu Opa Albert memiliki dua orang anak perempuan. Fahria Jocom dan Farida Jocom.” Nyonya Sofia beralih ke foto anggota keluarga lainnya, “Ini cucu-cucunya.”
Mata Emily menangkap satu foto yang tampak dikenalinya, “Bukankah ini Bapak Shandy Gobel?”
“Oh, kamu kenal dia?” Nyonya Sofia tampak terkejut. Begitu pula Andromeda.
Emily mengangguk, “Aku bekerja di bioskop dan Bapak Shandy sering melakukan supervisi di sana.”
Andromeda mengernyitkan kening melihat perubahan air muka Emily. Apakah mata gadis itu tiba-tiba berbinar saat membicarakan Shandy? Jadi, dia dan Shandy saling mengenal?
“Benarkah? Rupanya kamu bekerja di perusahaan kami juga. Dunia ini sangat sempit sekali.” Nyonya Sofia menatap Emily lekat. Dalam hati diam-diam mulai menyukai gadis itu. Betapa miripnya gadis ini dengan Mariam. Apakah karena itu Andromeda tertarik padanya?
“Bapak Shandy yang mewawancaraiku dulu. Aku bisa bekerja di sana berkat dia,” sahut Emily jujur.
“Shandy memang baik hati dan ramah.” Nyonya Sofia melirik ke arah Andromeda, “Tidak seperti cucuku yang ini. Keras kepala dan angkuh!”
“Oma, kenapa malah menjelek-jelekkan aku di depan calon istriku?” Andromeda pura-pura merajuk membuat Nyonya Sofia tertawa kecil. Dia lalu menatap Emily dan melanjutkan, “Seperti halnya jumlah anggota keluarga yang terus berkembang, PT. Jocom Jaya Abadi mulai merambah ke bisnis yang lain. Kami punya jaringan hotel. The Jewel Hotel. Beberpa spot pertambangan nikel dan bijih besi. J-Minerals dan tentu jaringan retail. J Mart. Semua tergabung dalam Jocom Group.”
Mata Emily membelalak demi mendengar daftar bisnis keluarga Jocom. Seli tidak berbohong soal kekayaan Andromeda. Pemuda tampan dan kaya ini memilihnya menjadi istri. Harusnya Emily senang tapi kenapa justru ada perasaan takut dan cemas yang diam-diam menyusup ke dalam benaknya? Apa yang direncanakan Andromeda dengan pernikahan ini?
“Permisi Nyonya,” Rani, asisten rumah tangga, masuk ke dalam ruangan dengan nampan berisi tida buah gelas di tangannya.
“Ayo, kita duduk dan minum dulu.” Nyonya Sofia berjalan ke arah sofa dengan diikuti oleh Emily dan Andromeda di belakangnya.
Rani meletakkan masing-masing minuman. Teh chamomile untuk Nyonya Sofia, kopi hitam untuk Andromeda dan s**u coklat dingin untuk Emily. Begitu Nyonya Sofia mempersilakan Emily minum, gadis itu tidak menunggu lagi utuk menenggak s**u coklat dinginnya hingga tandas. Energinya benar-benar terkuras karena pertemuan pertamanya dengan Nyonya Sofia. Belum lagi silsilah keluarga dan sejarah bisnis keluarga Jocom yang dijejealkan begitu saja ke kepalanya. Benar-benar hari yang melelahkan.
Nyonya Sofia menyesap teh dari cangkrinya lalu bergumam, “Sepertinya calon istrimu ini sangat haus, Andro.”
Andro yang dari tadi tidak mengerjapkan mata karena terkejut dengan tingkah laku Emily hanya bisa tersenyum, “Mungkin Em kaget, Oma. Di hari pertama bertemu langsung diberitahukan tentang silsilah keluarga Jocom.” Dalam hati Andromeda merutuki gadis itu dan bersumpah akan mendatangkan seorang ahli untuk memberikan Emily kursus etika dan kepribadian, Jika tidak, gadis ini akan membuat Andromeda malu.
“Tentu saja harus segera diperkenalkan dengan keluarga Jocom. Dalam waktu dekat Emily akan menjadi bagian dari keluarga ini?”
“Maafkan saya Nyonya,” ujar Emily. Dia menunduk karena benar-benar bingung harus bersikap bagaimana. “Sepertinya saya belum terbiasa dengan ini semua.”
“Oh, Emily Sayang.” Nyonya Sofia jatuh iba melihat sikap Emily yang tampak salah tingkah. “Hari ini kamu telah mengenal keluarga Jocom meski hanya lewat foto-foto mereka. Di hari lain aku akan sangat senang jika kamu mau memperkenalkan keluargamu kepadaku.”
Emily refleks mengangkat kepalanya dan memandang Nyonya Sofia dengan tatapan tak percaya. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari keluarganya. Ayah penjudi yang mati meninggalkan utang, ibu yang menjajakan makanan kepada karyawan-karyawan tenant di dalam mall milik keluarga Jocom, adik yang biasa-biasa saja. “Ba…baik Nyonya.”
“Oh. Dan satu lagi. Jangan panggil aku Nyonya. Panggil aku sebagaimana Andro memanggilku. Oma.” Nyonya Sofia berkata lembut.
“Baik, Oma.”
“Baiklah kalau begitu. Andro tolong bantu Oma berdiri.” Gegas Andromeda menghampiri Nyonya Sofia dan membantunya berdiri, “Aku sudah tua. Hanya beraktivitas sedikit bisa langsung capek. Padahal aku masih ingin berbicara dengan Emily.”
“Aku akan mengantarkan Oma untuk beristirahat di kamar. Oma bisa menemui Emily lagi lain waktu. Kapan saja.” Andromeda memapah tubuh renta Nyonya Sofia dan meninggalkan Emily sendirian di ruang perpustakaan itu.
“Andro. Siuasi ini memang sulit untukmu. Tapi, kamu juga tidak bisa sembarangan memilih istri,” ujar Nyonya Sofia begitu tiba di kamarnya.
“Maksud Oma apa? Oma tidak suka pada Emily?” Andromeda bertanya hat-hati. Apa lagi yang harus dia lakukan jika Oma tidak suka pada Emily sementara konfrensi pers akan diadakan besok lusa?
Nyonya Sofia menggeleng, “Siapa bilang aku tidak suka? Anak itu begitu polos dan sepertinya hatinya baik. Tapi bukankah dia masih terlalu muda untukmu, Andro?”
“Muda?” Andromeda tidak mengantisipasi kalimat Nyonya Sofia. “Oma, Em sudah dua puluh satu tahun. Dia bisa segera memberikan Oma cucu.”
Nyonya Sofia tertawa mendengar ucapan Andromeda. “Gadis muda itu. Aku tidak yakin akan mudah kamu taklukkan, Andro.”
“Maksud Oma?” Andromeda kembali mengernyit. “Kami sepasang kekasih.”
“Kamu tidak bisa menipu mata tuaku, Andro.” Nyonya Sofia segera membantah. “Tapi, karena kamu sudah memilihnya, maka buatlah dia segera mengandung anakmu sebelum RUPS tahun depan.”
Andromeda tidak bisa melakukan apa-apa selain mengangguk. Dalam hati dia menganggumi insting omanya yang bisa menebak bahwa tidak ada apa-apa antara dia dan Emily. Tapi, membuat Emily hamil, bukankah itu perkara mudah bagi seorang Andromeda? Tidak ada satu gadis pun yang sanggup menolak pesonanya selama ini.[]