Hari ini Sabtu. Emily tidak memiliki jadwal kuliah ataupun shift di bioskop. Setengah jam yang lalu Christof telah menghubungi Emily mengatakan pada keponakannya itu bahwa sebentar lagi dia akan menjemput Emily untuk membawa gadis itu ke rumah keluarga Jocom.
“Jangan lupa dandan yang cantik,” ujar Christof sebelum menutup panggilan teleponnya.
Dandan yang cantik? Bagaimana bisa? Pakaian terbaik yang dimiliki Emily hanyalah celana jeans dan kemeja. Dia telah bolak-balik memeriksa lemari untuk melihat kemeja mana yang paling cocok digunakan bertemu dengan calon Oma mertua. Emily sedikit banyak telah mendengar soal orangtua Andromeda yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Christof menceritakan hal itu secara singkat pada Emily saat menelepon tadi. Gadis itu kemudian menjatuhkan pilihan pada celana jeans hitam dan kemeja kotak-kotak hitam. Dia memakai tank top putih dan menjadikan kemeja itu sebagai outer.
Emily kemudian menggeledah tasnya dan menemukan beberapa peralatan make up yang dipinjamkan Seli padanya. Saat Emily memberitahu bahwa Andromeda mengajaknya ke rumah setelah pertemuan mereka di teater 3, gadis berkacamata itu menjejalkan peralatan make up miliknya ke dalam tas Seli meski Emily berungkali menolak.
“Apa sebenarnya yang terjadi antara kamu dan Pak Direktur?” Seli menatap Emily curiga begitu gadis itu keluar dari teater 3 kemarin. Emily hanya mengedikkan bahu ketika itu. Mana mungkin kan dia bilang bahwa di dalam teater 3 tadi telah terjadi kesepakatan bisnis yang berujung pada rencana pernikahan keduanya. Seli bisa mati berdiri mendengar itu. Maka dengan berbagai pertimbangan, Emily memutuskan untuk menutup mulutnya rapat-rapat.
“Em! Paman Christof mencarimu,” Reinal berseru dari luar. Emily segera menyapukan sedikit perona pipi di wajahnya lalu ketika menyadari warna itu sangat norak di pipinya, dia segera menghapusnya kembali. Dia kemudian memutuskan hanya menggunakan lipstick berwarna nude dan melapis dengan lip gloss setelahnya. Emily menyugar rambut bergelombang sebahunya dan kemudian bergegas ke luar ruangan memakai sneaker andalannya.
“Mau ke mana?” Reinal melihat penampilan Emily dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Mau pergi dengan Paman Christof sebentar. Kalau Mama pulang, katakan saja aku pergi tidak lama.” Emily tidak mempedulikan tatapan bertanya-tanya adiknya itu. Ada urusan apa Emily dengan Paman Christof?
Emily menghampiri Chrsitof yang menunggunya di depan rumah dengan motor bebek miliknya.
“Aku kan sudah bilang untuk mengenakan pakaian terbaikmu.” Chrsitof memandangi keponakannya itu sambil menggelengkan kepala. Dia menjadi tidak percaya diri membawa Emily menemui Nyonya Sofia.
“Ini pakaian terbaikku.” Emily bersungut-sungut. “Aku belum bilang pada Mama soal semua ini.”
“Lebih baik jangan dulu bilang apa-apa padanya.” Christof meyela cepat dengan suara yang dipelankan. Dia tidak ingin siapa pun menjadi mendengar apa yang tengah mereka perbincangkan.
“Ini hanya pernikahan kontrak. Paman tau itu kan?” Emily refleks ikut memelankan suaranya.
Christof sangat terkejut mendengar hal itu, “Maksudmu apa? Jangan bicara sembarangan.”
“Andromeda sendiri yang bilang padaku saat kami bertemu di bioskop kemarin. Dia bilang ini hanya untuk kesepakatan bisnis. Paling lama satu setengah tahun.”
Christof mengernyitkan keningnya. Dia mendengar dengan telinganya sendiri bahwa tuannya itu hendak mencari seorang istri. Tapi, dia sama sekali tidak memiliki nyali untuk bertanya lebih jauh kenapa semuanya terkesan tiba-tiba dan kenapa bukan Renatalah yang dijadikannya istri?
“Apa Paman pikir dia mau menjadikanku istri selamanya? Tidak kan?”
Christof menganggguk membenarkan apa yang sedang dikatakan oleh Emily. Kenapa Andromeda setuju untuk menikah dengan Emily? Gadis itu bahkan tidak secantik Renata dan tidak berasal dari kelas sosial yang sama dengan keluarga Jocom. Jangan-jangan yang dikatakan Emily soal pernikahan kontrak ini benar. Kisah gadis miskin dipersunting pangeran tampan dan kaya hanya ada di dongeng Cinderella. Andromeda melakukan semua ini pasti untuk tujuan tertentu. Tapi apa? Sepertinya dia harus mencari tahu.
“Tapi, tenang saja Paman. Dia sudah setuju untuk membayar seluruh hutang-hutang Papa kalau aku bersedia menikah dengannya.”
“Apa!?” Christof kali ini tak bisa mengontrol nada suaranya. Dia memekik demi mendengar hal itu. Kalau Martha sampai tahu, dia pasti akan membunuhnya. Menikahkan Emily demi membayar utang terdengar sangat tidak berperikemanusiaan. “Di mana ibumu?”
“Seperti biasa. Jam segini kan Mama bawa rantangan ke mall.” Emily menyahut cuek. Ibunya itu memiliki usaha catering kecil-kecilan. Dia memasak dan menjajakan makanannya pada karyawan-karyawan tenant yang ada di dalam mall.
“Emily, dengarkan aku. Jangan sampai ibumu tau soal ini. Biar aku yang akan sampaikan padanya. Oke?” Christof memberikan helm pada Emily. “Ayo sekarang kita berangkat. Jangan biarkan Tuan Muda menunggu.”
Emily mengenakan helm yang diberikan oleh pamannya itu sambil berujar, “Tapi yang tidak kumengerti, kata Paman waktu itu Andromeda mencari gadis yang perawan untuk diperistri. Memangnya untuk apa? bukankah lebih gampang meminta seorang artis pura-pura menjadi istrinya saja? Mereka kan lebih jago memainkan peran sebagai nyonya Andromeda. Tidak perlu syarat perawan segala bukan?”
Christof kembali terkejut dengan fakta-fakta yang dibeberkan oleh Emily. Apa sebenarnya tujuan Andromeda? Tiba-tiba dia menjadi sedikit menyesal telah melibatkan Emily sejauh ini. Harusnya dari awal dia tidak usah mengenalkan Emily pada Andromeda. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Emily, Martha pasti tidak akan memaafkannya. Ya Tuhan, bagaimana ini?
***
Nyonya Sofia memandangi Emily dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu kembali lagi ke ujung kepala.
“Nyonya.” Emily menyalami tangan keriput Nyonya Sofia lalu menciumnya dengan takzim.
Demi Tuhan Emily sangat gugup. Tapi, Andromeda yang tengah berdiri di samping Nyonya Sofia tidak banyak membantu. Bukannya memecah kecanggungan di antara mereka, dia malah turut memandangi Emily seolah-olah gadis itu adalah alien yang terdampar di bumi. Sedangkan Christof, begitu sampai di kediaman kelurga Jocom, langsung menghilang ke paviliun tempat di mana kamar asisten rumah tangga dan satpam berada.
“Emily, kan?” Nyonya Sofia tersenyum. Wanita itu masih tampak cantik di usia senja. Gestur tubuh yang anggun menambah wibawanya. “Ayo masuk.”
Nyonya Sofia berbalik menuju ke dalam rumah disusul oleh Andromeda di belakangnya. Pagi ini pemuda itu tampak berbeda karena dia tampil kasual dengan sweater dan jeans. Emily memang baru ketiga kali ini bertemu dengan Andromeda, namun pada dua pertemuan sebelumnya pemuda itu mengenakan setelan kantor yang membuatnya terkesan dingin dan angkuh.
“Ayo!” Andromeda berbalik dan menyadari Emily masih berdiri terpaku di tempatnya semula.
Emily meringis. “Apa yang harus kulakukan?”
Andromeda menoleh ke arah Nyonya Sofia dan begitu wanita tua tersebut menghilang ke dalam salah satu ruangan dia segera berbalik menghampiri Emily. “Ayo masuk! Mau sampai kapan berdiri di sana?”
“Apa sebaiknya aku pulang saja?” Jelas sekali Emily tampak gugup. “Belum terlambat kan kalau aku pulang sekarang?”
“Apa kau gila!?” Andromeda menatap Emily lekat-lekat. Gadis itu datang ke rumahnya dan bertemu dengan omanya dengan hanya mengenakan celana jeans dan kemeja. Belum lagi sepatu bututnya itu. Dia tidak tampak seperti akan bertemu calon oma mertua. Setiap kali Renata datang ke kediaman keluarga Jocom, gadis itu selalu tampil maksimal. Tapi, Emily? Ya, Tuhan! Kalau sampai Kakek-kakek dan Paman-pamannya melihat Emily, mereka pasti akan menghina Andromeda habis-habisan.
“Jangan coba-coba lari!” Andromeda mengancam.
Emily memejamkan mata sambil menyugar kembali rambut kecoklatannya. Satu-satunya yang menarik dari gadis ini adalah rambut kecoklatan sebahunya. Rambut itu berwarna alami dan tampak sehat. Dan model rambut seperti itu sangat cocok dengan postur tubuh Emily yang mungil. Tingginya yang hanya seratus enam puluh sentimeter membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.
“Andro?” Nyonya Sofia kembali muncul dan berjalan mendekati keduanya, “Apa yang kalian lakukan di sini? Ayo masuk. Oma mau memperkenalkan Emily pada Opa dan kedua orangtuamu.”
Emily mengernyitkan kening. Menyadari perubahan raut wajah Emily, Nyonya Sofia segera menambahkan, “Aku ingin kamu melihat foto-foto mereka. Kamu setidaknya harus mengetahui wajah mereka sebelum menjadi bagian dari keluarga ini.”
Andromeda menoleh ke arah Emily sambil tersenyum, atau pura-pura tersenyum, “Ayo, Em.” Pemuda itu menggamit jemari Emily dan sentuhannya seketika mengantarkan medan listrik ke seluruh tubuh gadis itu.
“Oh, ya. Sejak kapan kalian bersama?” Nyonya Sofia berjalan mendahului Andromeda dan Emily.
“Ah…kami….”
“Kami sudah lama kenal.” Andromeda gegas memotong kalimat Emily.
Sudah lama kenal? Kita baru saja bertemu tiga kali kan? Emily benar-benar tak habis pikir.
“Oh, ya? Andromeda tidak pernah bercerita tentang kamu, Emily.” Nyonya Sofia terus bertanya sambil berbelok dan menaiki tangga menuju lantai dua rumah kediaman keluarga Jocom.
“Ah, iya. Itu karena kami….”
“Dia keponakan Christof, Oma.” Andromeda kembali memotong kalimat Emily.
Seketika itu juga langkah Nyonya Sofia terhenti. Dia berbalik menghadap kea rah Emily, “Benarkah? Christof tidak pernah cerita dia memiliki keponakan yang cantik.”
Emily tidak tahu harus menanggapi seperti apa untuk itu dia hanya tersenyum.
Nyonya Sofia balas tersenyum. “Christof adalah orang yang sangat baik dan berdedikasi. Dia sudah lama ikut dengan keluarga kami. Dia sudah aku anggap seperti anak sendiri. Aku senang sekali karena ternyata calon istri Andromeda bukanlah orang asing.”
“Rani! Tolong bawakan minuman ke ruang perpustakaan.” Nyonya Sofia lalu memanggil nama asisten rumah tangga mereka. Dia kemudian kembali menatap Emily, “Kamu mau minum apa, Emily?”
“s**u coklat dingin,” Andromeda yang menjawab. Pemuda itu juga ikut menatap Emily sambil tersenyum, “Itu minuman kesukaanmu kan, Sayang?”[]
Emily mengangguk pelan sambil menyimpan begitu banyak tanda tanya di dalam kepalanya.[]