Siapa yang menyangka detektif benar-benar ada di dunia nyata dan tidak hidup di dalam fiksi belaka. Kedatangan seorang detektif lah yang membuat Via, sekretaris Andromeda, mengetuk pintu ruangan pemuda itu, “Permisi, Pak. Ada tamu yang mencari Anda.”
“Kalau itu Renata, bilang aku sedang sibuk dan tidak bisa menerima tamu,” sahut Andromeda tanpa melepaskan tatapan dari laptop di hadapannya. Dia memang memblokir nomor Renata sehingga gadis itu, sejak makan malam terakhir mereka, tidak bisa menghubunginya. Dari Via, Andromeda juga mengetahui bahwa beberapa kali Renata datang ke kantornya, namun tidak pernah berehasil menemui Andro. Pemuda itu telah berpesan kepada Via dan kedua body guard-nya untuk tidak mengizinkan Renata masuk.
Saat ini Andromeda sedang berfokus mempersiapkan peralihan kepemimpinan Jocom Group. Dia tidak ingin diganggu, termasuk oleh Renata. Terlebih gadis itu sudah jelas menolak lamarannya. Renata bilang ingin menikah dengan Andro tapi tidak ingin punya anak dalam waktu dekat, sementara yang dibutuhkan Andro saat ini hanyalah seorang anak dari benihnya. Dia bahkan tidak peduli sama sekali dengan pernikahan. Andaikan dia bisa memperoleh anak tanpa menikah, itu malah lebih bagus lagi. Tapi, tentu saja hal itu tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan membuat keadaan bertambah rumit. Paman-pamannya tentu saja tidak akan membiarkan itu terjadi. Mereka bisa saja membuat-buat lagi alasan bahwa anak di luar pernikahan tidak berhak mewarisi perusahaan.
“Bukan Nona Renata, Pak,” ucapan Via membuyarkan lamunan Andro, “Seseorang dari perusahaan bernama Eye Agency. Edward Jubun.”
Mata Andromeda sesegera itu juga beralih dari layar lapotop, “Persilakan dia masuk.”
Via mengangguk dan keluar dari ruangan Andromeda. Beberapa saat setelah itu, seorang pria paruh baya berstelan jas hitam memasuki ruangan. Dia menyambut uluran tangan Adromeda, “Kita sudah berbicara di telepon tadi malam.”
“Saya tidak menyangka Anda datang secepat ini,” Andromeda mempersilakan tamunya itu untuk duduk, “Detektif Jubun.”
Pria yang disapa Detektif Jubun itu tersenyum sembari duduk di kursi bersebrangan meja dengan Andro, “Saya juga tidak menyangka bisa menginjakkan kaki lagi di kota ini setelah…hm…” Detektif Jubun menggerakkan jari jemarinya. Menaksir sesuatu, “setelah mungkin lima tahun berlalu.”
Andromeda menaikkan kedua belah alisnya, “Oh, Anda pernah datang kemari sebelumnya? Kasus apa? perselingkuhan?”
Detektif Jubun hanya menjawab dengan senyuman. Dia tentu saja tidak mungkin membuka privasi kliennya dan Andromeda sangat mengerti akan hal itu. Masih hidup kah kliennya itu sekarang?
“Jadi, siapa orangnya?” Detektif Jubun langsung masuk kepada inti pembicaraan. Kemarin Andromeda menghubunginya untuk rencana menggunakan jasa detektif ini demi melakukan back ground check pada seseorang.
Andromeda menarik laci mejanya dan mengeluarkan sebuah foto berukuran 4R dari sana. “Gadis ini.”
Detektif Jubun mengambil foto yang diangsurkan padanya dan melihat sebuah tulisan di belakang foto itu, “Emily Andries.”
Andromeda mengangguk. “Apakah waktu satu bulan cukup untuk menyelidiki segala hal tentang dia?”
“Tidak masalah,” sahut Detektif Jubun.
“Maksudku segala hal. Rekam medisnya, penyakit menular, penyakit turunan, reputasinya.”
Detektif Jubun mengernyitkan kening. Dia sudah terbiasa dengan beragam permintaan nyeleneh dari klien-kliennya dan terlatih untuk tidak bertanya lebih jauh tentang tujuan klien-klienny tersebut memintanya melakukan penyelidikan. Menyelidiki latar belakang seseorang adalah perkara remeh baginya. Dia telah menghabiskan hampir dua puluh tahun hidupnya untuk melakukan itu.
“Jika tidak ada lagi yang Anda sampaikan, saya akan pamit dan mulai bekerja.” Detektif Jubun mengantungi foto Emily di balik jasnya. Andromeda membalas dengan anggukan. “Baiklah, kalau begitu saya permisi. Anda bisa menghubungi saya jika membutuhkan infromasi tambahan.”
Andromeda kembali mengangguk. Matanya memandangi punggung detektif itu hingga menghilang di balik pintu, namun pikirannya justru berkelana kembali pada pertemuannya dengan Emily tadi pagi. Mengingat bagaimana sikap gadis itu padanya, Andromeda merasa harus benar-benar mematikan kesehatan mental perempuan itu. Ah, tapi tidak apa-apa jika ada sedikit gangguan pada mentalnya, yang paling penting gadis itu masih perawan, jadi dia tidak perlu merasa cemas akan tertular penyakit seksual.
Andromeda segera menggelengkan kepalanya. Apa-apaan ini? Kenapa dia tidak bisa mengenyahkan Emily dari pikirannya? Satu-satunya gadis yang menolak dia. Lalu saat bertemu, melemparnya dengan kaleng soda. Benar-benar tidak masuk akal.
***
“Andro, konfrensi pers itu akan diadakan dua hari lagi.” Nyonya Sofia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia selalu senang ketika Andro pulang cepat dari kantor dan menyempatkan diri untuk makan malam dengannya. Asisten rumah tangga mereka hanya bekerja sampai sore, sehingga malam hari begini akan terasa sunyi jika Andromeda harus lembur. Untuk memastikan oma-nya tetap aman berada di rumah sendirian, Andromeda menggaji dua orang satpam untuk berjaga.
“Aku tau, Oma. Aku akan membawa calon istriku saat konfrensi pers nanti.” Andromeda tersenyum dan menatap wanita tua itu dengan lembut, “Dia akan datang ke sini besok untuk berkenalan dengan Oma.”
Nyonya Sofia balas tersenyum. Hatinya benar-benar lega dan diliputi kebahagiaan, “Tidak perlu. Aku sudah kenal Renata.”
Andromeda menghentikan pergerakan sendok dan garpunya saat mendengar nama itu disebut, “Maafkan aku, tapi dia bukan Renata Oma.”
“Apa!?” Nyonya Sofia jelas terkejut namun tetap berusaha menjaga sikap. Dia tidak tahu wanita lain lagi yang dekat dengan cucunya itu selain Renata, “Siapa dia?”
“Emily. Emily Andries.” Andromeda merasa aneh ketika nama itu terucap dari bibirnya. Hanya itu saja informasi yang akan dia sampaikan. Dia tidak ingin mengatakan apa-apa soal Renata yang menolak lamarannya karena tidak bersedia memiliki anak dalam waktu dekat.
“Aku tidak pernah mendengar nama itu.” Nyonya Sofia meneliti dengan saksama raut wajah Andro dan pemuda itu tidak tampak sedang bercanda.
Andromeda meraih tangan Nyonya Sofia, “Oma bilang kita tidak boleh melihat orang lain dari statu sosialnya.”
“Tentu saja.”
“Emily adalah gadis biasa saja. Dia bahkan bukan berasal dari keluarga berada. Apa Oma tidak masalah dengan itu?”
Nyonya Sofia balas menggenggam jemari Andromeda. “Opa-mu dulu juga berasal dari orang yang tidak memiliki apa-apa, Andro. Kita semua sama. Hanya ini lah yang membedakan,” Nyonya Sofia menyentuh d**a kirinya sendiri, “Hati yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya.”
“Terima kasih, Oma.” Andromeda tersenyum dan melanjutkan menyantap makan malamnya.
“Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya besok.”
Andromeda mengangguk, “Mungkin Oma akan suka.”
“Aku hanya mementingkan kebahagiaanmu, Andro. Aku tau ini situasi yang sulit bagimu. Semoga gadis itu juga memahami situasi ini dan bukan hanya sekadar memanfaatkanmu.”
Andromeda tersenyum, “Apa aku terlihat seperti orang yang mudah dimanfaatkan?”
Nyonya Sofia tertawa kecil sambil menggeleng, “Kau terlihat tampan seperti ayahmu.”
Nyonya Sofia memang tidak pernah mempermasalahkan gadis seperti apa yang sedang dekat dengan Andromeda, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya tentang apa yang terjadi pada Andromeda dan Renata. Bukankah mereka sudah lama berhubungan?[]