First Mov[i]e

2735 Words
            Shift kerja Emily hari itu dimulai pukul 10.00. Ia datang tepat waktu dan segera masuk ke ruangan khusus staf untuk mengonfirmasi kedatangan pada mesin absen finger print dan membuat beberapa laporan.             “Em, kamu tidak lupa kan hari ini kamu sudah janjian nonton dengan Pak Direktur di teater 3? Di jam pemutaran film pertama,” Seli menerobos ke ruangan staf dan terkejut Emily masih duduk santai di depan komputer. Hanya mereka berdua di dalam ruangan tersebut karena pegawai lain telah memulai aktvitas mereka di bagian masing-masing. Gadis berkaca mata itu kemudian menyebutkan judul film yang akan di putar di teater tersebut.             “Janji? Aku tidak merasa pernah buat janji sama Andromeda. Ini perintah kan dia bilang.” Emily mnjawab cuek namun Seli sama sekali tidak tahu d**a dan pikiran sahabatnya itu bergejolak. Apakah menemui Andromeda adalah solusi dari masalahnya?             “Aku tidak peduli apa pun itu alasannya. Tapi Pak Direktur sudah datang,” ujar Seli.             “Apa!?” Emily terlonjak dari kursinya. Dia gelagapan.             “Cieeh…yang mau nonton berdua sama Pak Direktur. Astaga! Kamu ini seperti habis menang lotre, Em. Sebentar.” Seli menahan bahu Emily. Mengamati wajahnya dengan saksama, “Wajahmu biasa-biasa saja. Kalah jauh dibanding Renata yang model itu. Kenapa selera Pak Direktur jadi anjlok begini ya, Em?”             Emily mendengus kesal sambil menyentakkan kedua lengan Seli. Ia tidak pernah main judi jadi tidak tahu bagaimana rasanga menang lotre. “Aku tidak tau apa tujuannya memanggilku. Dan ya, kamu benar. Dengan wajah sejelek ini aku tidak mungkin masuk dalam kriteria perempuan yang menarik bagi seorang Andromeda Jocom.”             Emily berjalan keluar ruangan staf dan menuju bagian concessions disusul Seli yang mengekor di belakangnya sambil tertawa-tawa. “Cieeeh, nonton berdua sama Pak Direktur. Syukurilah kesempatan itu. Kamu mau ke mana Em? Pintu teaternya kan di sana.”             Emily menata beberapa pop corn dalam mangkuk kertas dan beberapa kaleng soda dalam sebuah nampan yang memiliki tali untuk digantung di leher. Pegawai bioskop memiliki jadwal untuk bergantian menjajakan makanan ringan saat film tengah diputar. Emily berinisiatif untuk sekalian menjual pop corn saat di dalam teater nanti. Dia tidak mungkin kan duduk sepanjang pemutaran film di samping Andromeda? Lagi pula apa sih yang Andromeda inginkan darinya? Melamarnya menjadi istri? Emily menjadi ragu. Itu pasti hanya bualan Paman Christof semata. Ataukah Paman Christof salah dengar?             “Lagipula aku tidak nonton berdua saja dengan dia di dalam gedung teater sebesar itu kan?” Emily menggantung tali nampan berisi cemilan itu di lehernya.             “Em, kamu mau apa bawa-bawa begini segala?” Seli tak habis pikir dengan tindakan Emily. Gadis itu bukannya menambah riasan di wajah, malah sibuk memikirkan cemilan-cemilan yang akan dijajakan di dalam.             “Siapa tau Tuan Andromeda lapar.” Emily meninggalkan pojok concessions dan melangkah cepat menuju ruang teater 3.             “Em!” Seli berteriak memanggil sahabatnya itu namun Emily terlanjur menghilang di balik salah satu dinding. Gadis berkaca mata itu tidak memiliki kesempatan untuk bilang bahwa Andromeda Jocom telah menyewa teater 3 hanya untuk dirinya dan Emily. Pengunjung lain tidak boleh masuk.             Sementara itu, Emily terkejut mendapati pintu teater yang dijaga oleh dua orang pria berbadan kekar berpakaian serba hitam. Ke mana pegawai bagian ticketing?             “Nona Emily Andries?” Salah satu dari pria berbadan kekar itu bertanya yang dijawb dengan anggukan oleh Emily. “Tuan Andromeda sudah menunggu di dalam.”             Emily segera melangkahkan kakinya memasuki ruang teater. Layar bioskop menayangkan cuplikan film-film lain yang akan ditayangkan sepanjang tahun. Film zombie yang terjadwal sebagai film pertama pada hari itu belum dimulai. Emily sudah hafal setiap jengkal ruangan teater ini, bahkan dalam keadaan gelap dia bisa melangkah tanpa kehilangan arah. Ketika seorang staf ditugaskan di bagian ticketing, tugasnya tak berhenti sampai di menjual tiket di loket saja. Saat film akan dimulai, mereka berjaga di pintu untuk merobek tiket setiap penonton yang masuk, menjadi guide bagi pengunjung yang terlambat dan kesulitan menemukan kursi mereka, serta memeriksa lampu dan pendingin ruangan sepanjang pemutaran film. Memastikan setiap penonton bisa menikmati film dengan nyaman.             Emily telah berada di depan layar dan langsung menangkap sosok Andromeda Jocom yang duduk di kursi E nomor 6 karena hanya dialah satu-satunya makhluk hidup yang ada di ruangan itu sebelum Emily masuk.             “Kau terlambat tujuh menit.” Andromeda Jocom melirik ke arah Rolex Daytona yang melingkari pergelangan tangannya.             “Filmnya kan belum dimulai.” Emily berjalan menaiki satu persatu anak tangga yang landai.             “Kalau semua penonton berpikiran sepertimu, dalam waktu dekat bioskop ini bisa sepi.” Andromeda mengamati dari ujung kaki hingga ujung rambut Emily. Gadis itu mengenakan seragam pegawai bioskop berupa kemeja hitam berpadu rok panjang warna senada dengan belahan samping yang ujungnya berada beberapa senti di atas lutut. Tapi yang Andromeda tak habis pikir, untuk apa gadis ini membawa nampan berisi pop corn dan soda? “Kau tahu kan, jam pemutaran film sudah diatur sedemikian rupa agar setiap penonton bisa melihat cuplikan film lain sebelum film mereka diputar. Itu untuk memastikan ini bukan kunjungan terakhir mereka.”             Alih-alih duduk di kursi E5, Emily memilih duduk di kursi E4. Membiarkan satu kursi kosong mengantarai mereka. “Orang akan kemabali ke bioskop karena ingin nonton film lainnya, bukan karena melihat iklan cuplikan film di awal,” bantah Emily. “Tapi ngomong-ngomong, mana semua orang?” Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk kemudian menyadari tidak ada siapa pun selain mereka berdua di sana.             “Orang apa?” Andromeda bertanya sambil menghujam manik mata Emily. Gadis itu menjadi salah tingkah karena demi Tuhan, kemeja putih dan celana bahan khaki yang dikenakan Andromeda tampak sempuran membungkus tubuhnya. Bahkan saat lampu di dalam ruang teater diredupkan, Emily masih bisa melihat dengan jelas jejak-jejak kelabu di rahang dan bagian atas bibir pemuda itu karena pemiliknya membiarkan bulu-bulu halus tetap bertumbuh di sana.             “Pe…penonton yang lain mana?” Emily tergagap. Ia segera memalingkan wajah sebelum terhanyut dengan pesona Andromeda. Berita-berita di tabloid gosip itu rupanya benar adanya. Merela tidak hiperbola saat mengabarkan ketampanan pewaris tunggal salah satu jaringan pusat perbelanjaan terlaris di Indonesia itu.             Andromeda tersenyum sinis. Dia paling tidak suka terlihat dan berada di kerumunan. Ketika sedang dinner bersama Renata, dia akan mem-booking seluruh restroran, ketika bepergian ke luar kota, dia akan menyewa jet pribadi, ketika berlibur di pantai, dia akan menyewa private beach.             “Kau sudah tau kan alasanku memanggilmu kemari?” Alih-alih menjawab pertanyaan Emily, ia justru bertanya. Dia tidak suka basa-basi dan tidak berniat menghabiskan waktu dua jam setengah bersama Emily menonton sekuel film zombie dari Korea ini.             Emily mengangguk ragu-ragu, “Kamu sedang mencari seorang istri.”             Andromeda senang Christof sudah menceritakan hal itu pada Emily sehingga dia tidak perlu membuang-buang waktu menjelaskannya lagi pada gadis dengan wajah polos ini. Emily bahkan tampak tak berupaya tampil menarik di depan Andromeda. Apa jangan-jangan dia tidak suka laki-laki.             “Tapi, aku tidak punya kenalan perempuan yang sesuai seleramu,” gumam Emily dan hal itu sukses membuat Andromeda mengerutkan keningnya.             “Seleraku? Kau tau apa soal seleraku?” Andromeda bertanya tak percaya. Dia jelas mengajak Emily untuk bertemu lagi hari ini dalam rangka menawarkan sebuah kesepakatan terkait pernikahan. Tapi, apa sesungguhnya yang ada di dalam pikiran gadis itu sekarang?             “Yang seperti Renata kan? Renata Wijaya,” sahut Emily sambil menatap wajah Andromeda. Degup jantungnya sudah mulai terbiasa dengan wajah maskulin Andro dan aksi Zombie di layar lebar rupanya sama sekali tak menarik bagi mereka berdua.             Andromeda mengangkat kedua belah alisnya, sedikit terkejut karena ternyata Emily tahu soal hubungannya dengan Renata. Pasti dia sering membaca berita gosip yang muncul di media-media online.             “Kenapa kamu tidak menikah saja dengan Renata pacarmu itu?”             Andromeda menatap sinis ke arah Emily. Inilah salah satu hal yang dia tidak suka jika harus berada di tengah kerumunan orang atau berinteraksi dengan orang asing. Mereka tidak pernah bisa menahan diri untuk menggali informasi pribadinya. “Bukan urusanmu!”             Berganti Emily yang mengerutkan keningnya.             “Begini. Kau tentu tau maksudku memanggilmu kemari. Christof sudah bilang kan?” Andromeda mulai kehilangan kesabarannya.             “Paman Christof bilang kamu mau menjadikanku istri. Itu tidak benar kan? Mana mungkin orang sepertiku menjadi istri Andromeda Jocom, The Most Eligible Bachelor in Town.” Emily mengingat tajuk salah satu berita online yang pernah diperlihatkan Seli padanya.             Andromeda mengembuskan napasnya frustasi, “Yang dikatakan Christof benar. Dan kedatanganmu kemari, bukankah itu karena kau juga setuju untuk menjadi istriku?”             Emily tentu saja sudah tahu soal Andromeda mencari istri dan Christof menawarkan Emily padanya, tapi mendengarnya langsung dari Andromeda tetap saja berhasil mendatangkan rona merah di wajahnya, “Apakah yang tadi itu lamaran?”             Andromeda terkejut. Dia baru dua kali bertemu Emily dan pada pertemuan kedua dia bertanya apakah gadis itu mau menjadi istrinya? Benar-benar gila! Dunia sudah gila! Terkutuklah para pemegang saham yang mensyaratkan hal konyol ini di RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) tempo hari.             “Terserah saja kau menganggapnya apa,” ujar Andromeda akhirnya.             “Sori, tapi aku belum kepikiran untuk menikah.”             “Ap!?” Ini kali kedua Emily menolaknya. Tidak mau bertemu Andro dan sekarang tidak mau menikah dengannya? Apa Emily memiliki penyakit semacam rabun senja dan susah melihat jelas dalam kondisi pencahayaan minim seperti ini? Bukankan Andromeda memiliki wajah dan tubuh yang- semua wanita akan setuju- sangat sexy?             Andromeda menggelengkan kepalanya tak percaya dengan makhluk yang tengah diajaknya berbicara. Kalau bukan karena waktu konfrensi pers penggantian CEO yang semakin dekat, dia tidak akan menunggu lama untuk meninggalkan Emily dan mencari kandidat istri yang lain. Tentu saja masih banyak perawan di kota ini. Dia hanya harus lebih giat mencari. Harus seorang gadis perawan karena dia tidak bisa membayangkan dirinya tidur dengan gadis yang pernah disentuh oleh laki-laki lain sebelumnya. Ego seorang Andromeda tidak mengizinkan hal itu terjadi.             “Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah. Aku ingin menyelesaikan kuliahku dan mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih besar,” gumam Emily.             “Kau sedang kuliah?” Andromeda terkejut dengan fakta itu. Christof tidak pernah cerita soal ini. Ah, ya Christof tidak pernah cerita apa pun mengenai Emily sebelum ini.             “Kamu pikir untuk apa aku bekerja banting tulang dengan shift yang kadang-kadang tak manusiawi ini kalau bukan untuk membiyai kuliahku dan membantu ibuku membayar hutang?” Emily menyahut cuek.             “Hutang?” Kenyataan bahwa Emily berkeja sambil kuliah adalah sebuah fakta yang mencengangkan bagi Andromeda, perihal utang adalah fakta lainnya yang tak kalah membuatnya terkejut.             Emily mengangguk, “Ayahku meninggal mewariskan tumpukan hutang yang jumlahnya membuat kepalaku mau pecah setiap kali memikirkannya.”             “Berapa usiamu?” tanya Andromeda terkesan random. Tapi dia benar-benar sangat penasaran.             “Dua puluh satu tahun,” jawab Emily.             Sepuluh tahun yang lalu, di usia yang hampir sama dengan Emily, Andromeda kehilangan kedua orangtuanya karena kecelakaan. Saat itu dia sedang menempuh sekolah bisnis di Amerika. Dia sangat sedih dan terpuruk. Kalau bukan karena Nyonya Sofia yang selalu menghiburnya, dia mungkin sudah akan melakukan hal-hal buruk. Tapi, lihat gadis itu. Mengalami hal yang serupa ditambah terlilit utang, tapi tetap tampak semangat untuk bekerja dan melanjutkan kuliah. Sepertinya dia memang bukan manusia.             “Aku tidak menegerti kenapa kamu harus mencari sembarangan wanita untuk diperistri.” Emily masih sangat penasaran.             “Sudah kubilang itu bukan urusanmu!”             “Itu jelas akan menjadi urusanku. Karena sepertinya aku sedang mempertimbangkan tawaranmu itu.” Emily gegas menyela.             “Benarkah? Kau mau menikah denganku?” Andromeda menatap Emily, mencari kesungguhan di wajah gadis itu.             “Tapi aku butuh alasan.”             “Baiklah,” Andromeda menarik napas dan mengembuskannya dengan pelan. Bagaimana caranya menjelaskan situasi ini pada Emily dengan cara yang sederhana?, “Katakanlah ini adalah sebuah transaksi bisnis. Aku sangat meninginkan suatu proyek, tapi rekan bisnisku ini meminta persyaratan yang tidak masuk akal. Aku hanya bisa mendapatkan proyek jika aku menikah.”             Kerutan di kening Emily bertambah banyak demi mencerna setiap kata yang meluncur dari mulut Andro. “Kamu tidak sedang menjalankan bisnis perdagangan manusia kan? Kamu tidak akan menjual organku ke pasar gelap kan?”             “Apa!?” Kali ini mata Andromeda membulat sempurna. “Tentu saja tidak. Apa kau gila?”             Emily jelas sekali mengembuskan napas lega, “Oke, kalau begitu. Tapi, setelah kamu mendapatkan proyek itu, bagaimana dengan aku dan pernikahan kita?”             Andromeda tersenyum penuh kemenangan dan senyuman itu, meski tak dimengerti Emily apa maksudnya, tetap saja membuat gadis itu kembali terpesona. Tuhan jelas tidak main-main saat menciptakan pemuda ini. “Kalau kau mau bekerja sama dengan baik, aku jamin pernikahan ini tidak akan berlangsung lama. Paling lama satu tahun. Oh, mungkin satu tahun setengah lah.”             “Bekerja sama dalam hal apa?” tanya Emily. Andromeda ingin menjawab bekerja sama dalam hal membuat bayi, namun dengan berbagai pertimbangan yang keluar dari mulutnya justru, “Nanti kau akan tau.” “Setelah itu kamu akan menceraikanku?” Emily kembali mengejar.             “Tentu saja! Kalau itu yang kau inginkan.”             Emily mengangguk pelan. Jadi, ini semacam pernikahan kontrak? Emily pikir hal seperti ini hanya ada di film, tapi ternyata kaum elit seperti Andro juga melakukannya.             “Tapi, selama dalam pernikahan nanti, apakah aku tetap boleh melanjutkan kuliah? Setahun lagi aku lulus, aku tidak ingin menunda kelulusan.”             “Oke. Kau boleh tetap kuliah atau melakukan hal-hal lain yang kau inginkan,” sahut Andromeda.             Emily tersenyum karena menyadari tawaran menikah dengan Andromeda sepertinya bukan hal yang buruk. “Eh, tapi….”             “Ya Tuhan! Apa lagi? Pacarmu keberatan kalau kau menikah dengan laki-laki lain?”             “Hah? Aku tidak punya pacar.” Emily menjawab cepat. Dan dalam hati Andromeda tersenyum puas. Segalanya jauh lebih mudah kalau gadis ini tidak punya pasangan.             “Lalu apa? Mantan pacarmu posesif?”             “Mantan pacar? Aku tidak punya.”             “Kau tidak pernah pacaran?” Andromeda mengejar.             “Pacaran? Untuk apa? Pacaran tidak menambah pundi-pundi rupiah di kantungku.” Emily tampak kesal. Mana mungkin dia punya waktu untuk pacaran. Semua waktu luangnya digunakan untuk mengambil lembur di bioskop demi mendapat uang tambahan.             Andromeda terkejut dengan kenyataan gadis berumur dua puluh satu tahun yang belum pernah pacarana ini. Tapi di satu sisi dia lega karena Christof berkata benar. Emily pasti tidak pernah disentuh oleh laki-laki mana pun.             “Lalu apa lagi yang mengganggu pikiranmu?” tanya Andro.             “Eh, begini. Apakah proyek yang kamu inginkan itu, yang mensyaratkan adanya pernikahan, memiliki untung yang besar?”             Andromeda terkejut dengan pertanyaan Emily. Dia memang memutuskan untuk tidak memberitahu Emily tentang persyaratan konyol para pemegang saham, lagi pula apa gadis itu akan mengerti meski dijelaskan? “Apa maksud dari pertanyaanmu?”             “Aku ingin bagi hasil.” Emily menjawab cepat.             “Kau mau memerasku?”             “Tidak ada yang gratis di dunia ini.”             “Oke. Kau mau apa?”             “Aku ingin kamu membayarkan hutang-hutang keluargaku.”             “Oke, berapa?”             “Banyak. Aku tidak yakin kamu mampu. Tapi aku hanya mau menikah jika kamu sepakat untuk membayar hutang-hutang keluargaku.”             “Katakan saja berapa jumlahnya.” Andromeda sedikit kesal karena Emily tampak meremehkannya. Memang berapa utangnya?             “Dua ratus juta. Mungkin belum termasuk bunga.”             Andromeda memutar bola matanya dan mengembuskan napas dengan kesal. Dia beranjak dari tempat duduk, melangkahi tempat duduk Emily dan berbalik meninggalkan gadis itu. Apa-apaan Emily ini? Dua ratus juta? Apakah gadis itu tidak tahu harga jam tangan yang sedang dikenakan oleh Andromeda adalah senilai dua puluh kali nominal utang keluarganya itu?             “Aku tahu pembicaraan kita tidak akan menemui kesepakatan,” Emily terkejut karena Andromeda malah pergi meninggalkannya. Dia sadar menemui Andromea memang bukan solusi dari masalahnya.             “Christof akan menjemputmu besok dan membawamu ke rumahku. Aku akan memberikan berapa pun nominal yang kau minta.” Andromeda menyahut tanpa berbalik pada Emily.             “Kamu serius?” Emily sangat terkejut.             “Apa kau lihat aku main-main?”             “Tunggu! Tapi kamu mau ke mana? Kita belum selesai bicara!” Emily beranjak dan berlari mengerjar Andromeda.             “Bicara apa lagi?” Andromeda berbalik dan menatap Emily dengan kesal.             “Dari tadi kita hanya berbicara tentang aku. Aku juga perlu tau tentang siapa kamu.”             “Kau tidak perlu tau siap aku!” Andromeda kembali lanjut berjalan menuju pintu keluar teater 3.             “Hei, dasar orang aneh!” Emily refleks mengambil sekaleng soda dari nampan  dan mengayunkan lengannya seolah akan melemparkan benda itu  ke arah Andromeda. Dia tidak berniat untuk melakukannya, tapi sial sekali karena kaleng soda itu benar-benar lolos dari genggamannya dan mendarat telak di punggung Andromeda.             Pemuda itu berbalik dan menatap wajah Emily dengan dingin. Kenapa gadis bodoh ini melemparinya dengan kaleng soda? Dia sudah gila atau apa?             “Ma….maaf. Aku tidak sengaja. Sungguh!” Emily hanya bisa menyengir. []  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD