Debt

1091 Words
            Emily menusap bagian belakang kepalanya yang masih terasa sakit karena dipukul berulang kali oleh Seli kemarin. Saat punggung Andromeda menghilang Seli menjadi histeris.             “Kamu ini kenapa sih, Emily? Apa kamu sudah gila?! Itu Andromeda Jocom!” Seli kembali menjitak kepala Emily.             “Aww… aww….”Emily menjerit sambil mengusap kepalanya. Manajer bioskop hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah Emily dan Seli lalu memutuskan untuk meninggalkan kedua karyawannya itu kembali ke dalam kantornya.             “Ya, terus kenapa kalau itu Andromeda Jocom?” Emily bertanya kesal.             “Tuan Andromeda, Anda belum membcayar minumannya.” Seli menirukan kalimat Emily. “Kamu serius dengan apa yang kamu bilang? Kamu pikir dulu tidak sih sebelum berbicara? Jangankan s**u coklat dingin itu, bioskop ini adalah miliknya. Ah, seluruh mall ini adalah miliknya! Kamu juga berani-beraninya menolak ajakannya nonton!”             Emily menggaruk kepalanya yang tidak gatal berulang-ulang melihat tingkah sahabatnya. “Aku tidak mau nonton atau melakukan hal lain apa pun dengannya!”             “Hal lain?” Seli kembali terperangah. “Kamu ini gila atau bagaimana? seluruh gadis di kota ini rela mengantre demi bisa mendekatinya, tapi kamu…kamu….”             “Bukankah di situ malah letak keanehannya? Dia bisa mengajak gadis mana pun untuk nonton bersama. Kenapa harus mengajakku?”             Seli tampak terkejut dengan kalimat Emily. “Oh. Benar juga ya. Setahuku Andromeda punya pacar. Sebentar.” Seli mengeluarkan smartphone dari saku rok panjangnya lalu mulai mengutak-atik. “Nah, benar. Pacar Andromeda seorang model papan atas. Namanya Renata.”             Seli menunjukkan foto Andromeda dan seorang gadis yang sangat cantik di sebuah restoran mewah. Emily menatap foto yang Seli temukan di internet tersebut. Hal itu memunculkan banyak pertanyaan di benaknya.             “Kalau dia sudah punya pacar, kenapa bukan pacarnya saja yang dia nikahi?” gumam Emily. Pagi itu dia tengah bersiap-siap di kamarnya untuk bekerja. Jarak rumahnya dan mall sangat dekat. Rumah Emily terletak di perkampungan padat penduduk di belakang mall.             Emily memijit pelipisnya. Haruskah hari ini dia bolos kerja saja? Dia sama sekali tidak ingin bertemu dengan Andromeda lagi. Dia tidak ingin mempertimbangkan tawaran Paman Christof meskipun pria itu terus memintanya.             “Tolong beri saya kesempatan lagi.” Emily terkejut dari lamunan karena mendengar suara ibunya disertai bunyi gaduh di luar kamarnya. Ia bergegas keluar.             Kaki Emily terhenti di ambang pintu kamar sdaat melihat tiga orang pria berbadan besar dan berpenampilan menyeramkan sedang mengacak-acak barang-barang di rumahnya.             “Berkali-kali di cari pun tidak ada yang bisa diambil dari rumah ini!” seru salah seorang di antara mereka.             “Hei, Bu. Sudah saya bilang jual saja rumah ini. Meskipun hasilnya pun tidak seberapa tapi setidaknya setengah dari hutang suamimu bisa lunas!” timpal yang lain.             Martha bersimpuh di kaki salah satu debt collector itu, namun lelaki itu justru menendangnya hingga tersungkur.             “Mama!” pekik Emily. Dia menghampiri ibunya dan membantu wanita itu berdiri.             “Tolong berikan kami kesempatan lagi.” Martha memelas.             “Kesempatan bagaimana lagi?! Sudah hampir lima tahun kami kasih kalian keringanan. Kalian tahu kan, semakin lama hutang kalian semakin menumpuk!”             “Sebentar, Pak.” Emily menyela. Dia bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya. Gajinya bulan ini. Dia menghampiri salah satu debt collector dan menyerahkan amplop itu. “Tolong, berikan kami perpanjangan waktu lagi.”             “Em, itu kan untuk uang kuliahmu.” Martha terkejut dengan apa yang Emily lakukan.             “Gampang, Ma. Yang penting mereka pergi dulu,” bisik Emily.             “Uang segini cuma bisa bayar tunggakan bunga dua bulan,” Ujar salah satu dari debt collector setelah menghitung uang di dalam amplop. “Kesabaran kami ada batasnya. Ini peringatan terakhir untuk kalian. Bulan depan kalau belum bisa lunasi, angkat kaki saja dari rumah ini! Ayo kita pergi!”             Saat ketiga debt collector itu menghilang, Martha kembali menangis sesenggukan. “Semasa hidupnya menyusahkan, ketika mati pun hanya menambah masalah!”             “Sudahlah, Ma.” Emily mengusap punggung ibunya menenangkan. Emily tahu persis yang sedang dibicarakan oleh ibunya tak lain adalah ayahnya sendiri. Semasa hidup lelaki itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Kadang kala dia ikut berlayar dengan kapal penangkap ikan selama berhari-hari dan kembali hanya dengan uang yang tak seberapa. Di lain waktu dia ikut menjadi tukang pada proyek pembangunan mall dengan gaji yang sebagian besar dihabiskan untuk berjudi dan mabuk-mabukkan. Martha pandai menyisihkan uang, sehingga berapa pun uang yang diberikan oleh suaminya itu dapat mencukuoi kebutuhan keluarga mereka. Martha juga memiliki usaha katering kecil-kecilan. Dari sana dia dapat menyicil rumah yang mereka tempati saat ini. Rumah ini adalah harta mereka satu-satunya. Bagaimana mungkin akan dijual untuk membayar hutang? Ayahnya meninggal saat Emily baru lulus SMA. Seminggu setelah kematian ayahnya, debt collector datang ke rumah mereka menagih bilangan uang yang sangat besar kepada Martha. Dua ratus juta rupiah. Selam tiga tahun ini Martha dan Emily membanting tulang untuk melunasi utang yang bukannya berkurang justru semakin banyak. Ayahnya kalah berjudi dan meminjam pada rentenir jauh seblum jatuh sakit dan meninggal. Di tahun-tahun akhir hidup suaminyanya Martha memang mencurigai gelagat pria itu yang mulai menjual barang-barang berharga milik mereka, motor, televisi, maupun perhiasan Martha yang tak seberapa. Namun, wanita itu sama sekali tidak mengetahui, suaminya memiliki utang yang sangat besar jumlahnya. Sejak saat itu kedatangan debt collector seolah menjadi sebuah rutinitas di hidup Emily. Dia sudah mulai terbiasa dengan pemandangan tadi padi; debt collector datang, mengacak-acak rumahnya, ibunya memohon-mohon sambil bersimpuh di kaki mereka. Awalnya Emiliy tidak sanggup melihat itu semua, saat ini dia sudah terbiasa. “Bagaimana ini? kita akan tinggal di mana kalau mereka mengambil rumah ini? sebentar lagi Rei ujian kelulusan SMA. Bagaimana? bagaimana nasibnya nanti?” tangis Martha belum juga mereda. “Rei tidak perlu tahu masalah ini, Ma. Biar tidak mengganggu konsentrasinya untuk ujian. Setelah Rei lulus SMA, dia bisa mulai cari pekerjaan. Kita pasti menemukan cara untuk membayar utang Papa.” “Ibu macam apa Mama ini? membiarkan anak-anaknya hidup hanya untuk bekerja keras membayar utang?” “Tidak ada utang pun, kita semua tetap harus bekerja keras kan?” Emily beranjak. “Aku berangkat kerja dulu ya, Ma. Sudah hampir terlambat.” “Em, maafkan Mama, ya.” “Untuk apa? Mama tidak salah.” “Uang kuliahmu. Kamu bilang sudah menunggak satu semester.” “Mama tidak usah pikirkan itu. Nanti aku bisa pinjam sama Paman dulu.” Emily segera meninggalkan rumahnya untuk pergi ke bioskop tempatnya bekerja. Sepanjang perjalanan, suara Paman Christof menggema di dalam kepalanya. “Tolong pertimbangkan ini, Emily. Kamu jangan egois! Lakukanlah ini demi ibu dan adikmu juga. Andromeda Jocom adalah pemuda yang baik. Dia akan memperlakukanmu dengan penuh hormat.” []  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD