Coffee or Tea?

1131 Words
            Christof tidak akan pernah percaya apa yang kemudian terjadi saat dia bilang bahwa Emily, gadis yang rencananya akan diperkenalkan kepada Andromeda, tidak bersedia untuk datang. Andromeda sendiri nyaris tidak mempercayai telinganya saat mendengar kabar itu dari supir pribadinya tersebut. Gadis mana yang berani menolak bertemu dengannya? Andromeda tidak pernah menerima penolakan dari gadis mana pun selama tiga puluh dua tahun hidupnya.             “Jadi, dia tidak mau bertemu denganku?” gumam Andromeda. Christof hanya bisa menunduk tanpa berani memandang ke arah tuannya.             “Maafkan saya, Tuan Muda. Keponakan saya sangat keras kepala.”             “Kau bilang tadi siapa namanya?”             “Emily, Tuan Muda.”             “Kalau dia tidak mau menemuiku. Aku yang akan menemuinya,” ujar Andromeda tenang tapi terselip nada memerintah yang tak terbantahkan pada suaranya.             “A…apa? Tapi, Tuan….” Christof sangat terkejut dengan reaksi Andromeda. Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi.             “Aku tidak punya banyak waktu, Christof. Di mana kita bisa menemuinya?”             Dan di sinilah mereka kemudian berada. Andromeda sama sekali tidak menyangka bahwa Emily bekerja di perusahaan miliknya dan masih berada di gedung yang sama dengan kantornya. Andromeda tidak pernah nyaman berada di tempat umum dan menjadi pusat perhatian seperti saat ini. Andromeda baru menyadari, selama bekerja di perusahaan baru pertama kali dirinya menginjakkan kaki di bioskop ini, baik untuk menonton film ataupun untuk kepentingan pekerjaan. Jaringan bioskop ini merupakan salah satu unit usaha yang menyumbangkan laba terbesar pada Jocom Group, namun supervisi bioskop bukan bagian dari tugasnya. Christof menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang berdiri di belakang meja kasir concenssions. Gadis bertubuh mungil dengan rambut bergelombang sebahu. Gadis dengan kulit pucat dan pipi yang merona kemerahan. Andromeda memandangi gadis itu lekat-lekat. Gadis tersebut balas menatapnya.             “Tuan Muda, apakah Anda yakin?” Christof berbisik.             “Tunggu di sini, Christof. Biar aku yang menemuinya sendiri.” Andromeda meninggalkan Christof dan berjalan ke arah Emily.             Tiba-tiba seorang gadis berambut panjang dan berpakaian modis menghalangi jalan Andromeda, kedua body guard refleks meghalau.             “Hai, Andro. Apa yang kamu lakukan di sini?” gadis itu menyapanya. Andromeda memberikan isyarat bagi kedua body guard  untuk membiarkan gadis itu mendekatinya. “Kamu lupa padaku? Aku Jenny. Temannya Renata. Kita pernah bertemu beberapa kali.”             Andromeda tidak memberikan reaksi apapun terhadap setiap kalimat yang Jenny lontarkan. Sementara gadis itu justru celingukan tampak mencari seseorang. “Mana Renata? Kamu tidak bersamanya?” tanyanya kemudian.             “Tidak.” Andromeda menggeleng. “Maaf, aku sedang ada urusan lain.”             “Urusan apa?” Jenny memburu, namun Andromeda tidak menggubris dan justru meninggalkannya. Tujuannya saat ini hanya satu, menemui Emily, gadis yang berani menolak untuk bertemu dengannya.             Jarak Andromeda dan Emily hanya tinggal beberapa langkah lagi saat Shandy Gobel keluar dari sebuah pintu bersama dengan manajer bioskop.             “Andromeda, apa yang kau lakukan di sini?” Shandy Gobel tampak terkejut dengan kehadiran sepupunya. Manajer bioskop yang berdiri di belakang Shandy tampak gugup. Dia tidak diberitahu perihal kunjungan direktur utama ke bioskopnya hari ini.             Andromeda hanya menoleh sejenak ke arah Shandy tanpa berkata sepatah kata pun. Dia berlalu dan menghampiri Emily. Shandy mengernyitkan keningnya hingga kedua alis tebalnya nyaris bertaut. Dia tahu benar kedatangan Andromeda bukan untuk men-supervisi bioskop, apalagi untuk menonton film.             “Ada yang bisa saya bantu?” tanya Emily saat Andromeda telah berdiri tepat di hadapannya. Emily bisa melihat wajah Seli yang melongo dari ekor matanya.             Andromeda tidak menyahut. Sebaliknya, dia menatap wajah Emily dengan lekat seperti seorang ilmuwan yang sedang meniliti spesies tumbuhan langka. Ditatap sedemikian rupa membuat Emily merasa salah tingkah. Dia mulai merasa ada perubahan atmosfer di sekelilingnya. Udara di sekitarnya entah kenapa terasa semakin pekat. Pemuda di depannya jelas memiliki semacam aura yang dominan di balik wajah tampannya.             “Apa minuman yang paling enak di sini?” Andromeda akhirnya membuka mulutnya. Suaranya berat dan dalam.             “Se…semua minuman di sini enak.” Dalam hati Emily merutuki dirinya yang entah kenapa menjadi gugup.             “Kalau begitu, apa minuman yang paling kau suka? Kopi atau teh?” tanya Andromeda tanpa melepaskan matanya dari Emily.             “s**u coklat dingin,” jawab Emily.             “Aku pesan satu.”             Emily mengangguk lalu menekan layar di hadapannya. Dia hendak berbalik untuk mengambil gelas dan mengisi s**u coklat dingin namun Seli menghalanginya, “Biar aku yang buat, Em. Kamu di sini saja.” Gadis berkaca mata itu bergegas mengambil gelas dan mengisinya dengan es batu.             “Kau sudah menonton semua film di sini?” tanya Andromeda saat Seli meninggalkan mereka dan sibuk membuat pesanan.             Emily menggeleng. “Aku banyak pekerjaan. Mana mungkin sempat menonton film?”             “Silakan.” Seli datang kembali dengan segelas s**u coklat dingin. Gadis itu menyodorkannya pada Andromeda.             “Kalau begitu, besok aku tunggu di teater 3 di jam pertama pemutaran film.”             “Maaf, tapi aku tidak tertarik untuk nonton,” sahut Emily yang dibalas dengan tendangan kaki Seli di betisnya. “Aww!!!” Emily menjerit dan menatap Seli dengan tajam. Seli membalas Emily dengan tatapan apa kau gila kenapa menolak Andromeda?             “Ini bukan ajakan,” ujar Andromeda. Dia meraih s**u coklat dingin dan menyeruputnya. “Ini perintah.”                        “Apa?!” Emily tampak terkejut.             “I…iya, Pak Direktur. Dia pasti akan datang.” Seli segera menyela sebelum Emily mengeluarkan kalimat-kalimat yang bisa membahayakan karirnya. Seli berjanji dalam hati, setelah Andromeda pergi dia akan memukul kepala Emily demi mengembalikan ingatannya karena mungkin gadis itu lupa yang sedang mengajaknya nonton film adalah Andromeda Jocom, direktur utama Jocom Group sekaligus pemuda yang didambakan seluruh gadis di kota ini.             Andromeda mengangguk pelan. Dia kembali menatap Emily dengan tajam untuk memastikan bahwa gadis itu tidak akan menolaknya kali ini. Andromeda menyeruput s**u coklat dingin di genggamannya sekali lagi lalu berbalik pergi.             “Tuan Muda Andromeda.” Langkah Andromeda terhenti saat Emily memanggilnya. “Anda belum membayar minumannya.”             Rasanya Seli ingin menggali lubang dan mengubur dirinya sendiri demi mendengar kalimat sahabatnya itu. Manejer bioskop yang sedari tadi tidak melepaskan tatapannya dari Andromeda tampak sangat terkejut dan bergegas menghampiri Emily.             “Apa-apan kau, Emily. Dia direktur utama!” Manajer bioskop mendesis ke arah Emily.             Andromeda berbalik dan kembali menatap Emily.             “Maafkan saya Pak Direktur. Pegawai saya….” Kalimat manajer bioskop terhenti karena Andromeda mengibaskan tangannya mengisyaratkan bahwa hal itu tidak menjadi masalah.             “Aku tidak bawa uang atau pun kartu debit. Bisakah kau membayarkan minuman ini untukku?” Andromeda bertanya pada Emily. “Aku akan menggantinya besok saat kita bertemu.”             Andromeda tidak menunggu jawaban Emily. Dia berbalik pergi diikuti oleh kedua body guard dan Christof di belakangnya.             Jenny menyaksikan seluruh kejadian dengan rasa penasaran yang memuncak. Sementara Shandy Gobel masih berdiri di tempatnya semula. Dia tidak pernah melihat Andromeda bersikap seperti itu pada seorang gadis, terlebih gadis yang tidak dikenalnya. Bukankah Andromeda tidak mengenal Emily sebelumnya? Ada apa dengan sepupunya itu?[]                              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD