Pikiran Kayana benar-benar terganggu hanya karena mengingat raut wajah kecewa Jaden. Hatinya merasa tercubit, merasa bersalah telah menyinggung, hatinya benar-benar tidak nyaman, sekalipun ia menolak karena memang tidak ingin pulang bersama lelaki itu.
Ya, Kayana memang serius saat menolak ajakan Jaden, ia tidak ingin memberi harapan pada lelaki itu. Namun sungguh menyebalkan, karena ia memiliki sifat tidak enakan, serta overthinking yang terkadang selalu berlebihan. Membuat perasaannya terus merasa bersalah, kalut dan akan kesalahannya itu akan terus terpikirkan, walaupun sebenarnya tidak disengaja.
Jemarinya terus bergerak, mengetikan sesuatu di sebuah aplikasi chat, di tatapnya lamat beberapa saat tapi kemudian menekan tombol delete lagi, dan terus seperti itu berulang kali.
Mr. Jaden, maafkan saya. Saya tidak maksud menyinggung anda. –hapus.
Mr. Jaden mohon ijin saya ingin meminta maaf. Saya sungguh tidak bermaksud –hapus.
Jay sorry, aku tidak bermaksud menyinggungmu. –hapus.
Jaden maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud menyinggungmu. –hapus.
Maaf. –hapus.
Hais! menyebalkan
“Argh!” Kayana mengerang kecil sambil melihat ponselnya. Serba salah. Ia takut ia terlalu berlebihan dalam menghadapi Jaden. Tapi ia juga takut jika ia semakin menyinggung.
“Kakak kenapa?”
Kayana terjengit, ia terkesiap kemudian berbalik ke arah ruang tamu. Menatap ke arah seorang gadis yang sedang sibuk dengan sebuah laptop di depannya. Dia adalah Gendis, salah satu dari anak asuh Bunda Ani yang memang mereka semua tinggal bersamanya, di rumahnya ini. Kayana yang hanya seorang perempuan sebatang kara memang dengan suka rela mengajak mereka tinggal bersama, dengan alasan enggan kesepian. Padahal sebenarnya hati Kayana memang murni, dia perempuan yang begitu baik hati dan penuh kasih sayang.
“Kamu sedang apa Gendis? Kenapa malam-malam belum tidur?”
“Aku sedang mencari ide untuk tugas akhir.” Jawab Gendis. “Aku tanya Kakak duluan loh tadi. Aku perhatiin Kak Kaya sepertinya gelisah sekali.”
“Ah! Itu. Tidak, tidak apa-apa Gendis. Hanya mengkhawatirkan satu dan berbagai hal. Ini setelah ambil minum, Kakak juga mau tidur kok. Kamu jangan malam-malam tidurnya. Jangan sampai kesehatanmu terganggu cuma karena tugas akhir.”
“Enggak Kak, aku harus memastikan mendapatkan nilai terbaik demi bisa bekerja di tempat yang bergengsi, supaya gak cuma Kakak yang lelah nanggung beban kami semua. Kakak juga harus mikirin keadaan Kakak sendiri.”
“Tapi nilai kamu sudah bagus Gendis.”
“Tidak Kak, sebenarnya ada yang nilainya berbeda tipis dengan Gendis. Dia sangat pintar, tapi karena dia double degree, perhatiannya jadi terbagi. Kalau sampai dia fokus pada tugas akhir di jurusan Arsitek nilaiku bisa terlampaui dan kesempatanku buat kerja di tempat bergengsi semakin sulit.”
Kayana membawa dua gelas air minum untuknya dan Gendis. “Minum dulu. Jangan berpikir yang berat-berat Gendis, sekalipun kamu bukan yang terbaik tapi kamu masih bisa lulus dengan pujian. Dimanapun kamu kerja nanti itu bukan masalah berarti, sebab itu sudah jalan yang terbaik dari Tuhan.”
“Tapi aku harus bisa mendapatkan uang banyak Kak, demi Adikku. Aku ingin Gio segera mendapatkan penanganan yang lebih baik dan kalau bisa aku ingin Gio segera sembuh.”
Kayana menghembuskan napas, Gio—adik Gendis, memang menderita penyakit jantung bawaan sejak lahir. Sehingga untuk mendapatkan kesembuhan yang maksimal tentu saja harus mendapatkan perawatan yang maksimal juga.
“Kakak akan berupaya semampu Kakak agar Gio bisa mengikuti setiap treatment dari Dokter. Kamu fokus saja pada goals kamu. Jangan pikirkan apapun. Percaya sama Kakak ya. Kakak pasti akan melakukan yang terbaik buat Gio.”
Gendis mengulurkan tangan, memeluk Kayana. “Makasih banyak Kak, Gendis gak akan pernah melupakan kebaikan yang Kakak kasih buat kita berdua.”
Kayana mengelus kepala Gendis sesaat. “Tidak masalah Gendis. Sudah ya? Jangan begini lagi. Jangan pikirkan apapun. Kamu cukup fokus pada tugas akhir.”
Gandis mengangguk. “Sekali lagi terimakasih Kak.”
Ting!
Dering ponsel Kayana mengintrupsi. Membuat Kayana melepaskan pelukan itu lalu meraih ponsel tersebut. Seketika matanya membulat saat melihat pesan terakhirnya ternyata tanpa sengaja terkirim dan Jaden baru saja membalas pesannya.
Hais! Menyebalkan. –terkirim, dibaca.
Apakah sopan, muncul-muncul langsung menghina saya seperti itu?
Balas Kayana, jangan hanya membacanya.
Saya tahu kamu masih di sana.
Kayana kamu kangen saya ya?
Mata Kayana mengerjap kemudian dengan cepat keluar dari aplikasi chatting tersebut. Napasnya memburu, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Malu, sungguh. Ia benar-benar malu.
Bagaimana bisa chat itu malah terkirim? Dasar ceroboh! Rutuk Kayana.
“Ciee siapa tuh?” goda Gendis.
“Bukan siapa-siapa?”
Senyuman Gendis semakin melebar. “Bukan siapa-siapa kok panik gitu Kak? Mana mukanya merah banget lagi. Ciee....”
“A—apa sih?!” Kayana bangkit dari duduknya. “Jangan mengada-ada. Sudah. Sana tidur Gendis. Sudah malam.”
Gendis bukannya takut, dia justru terkekeh kecil. “Jangan lupa balas Kak chatnya, kasian dia entar nunggu.”
“Gendis!”
Gendis kembali tergelak, semakin puas. Sementara Kayana kini menyadari wajahnya terasa semakin panas, dan ia sangat yakin saat ini wajahnya pasti sangat merah.
Enggak! Bukan! Ini bukan salah tingkah! Ini cuma karena terkejut dan malu. Iya, aku hanya malu. Batin Kayana.
***
Jangan terlalu percaya diri, saya hanya salah kirim.
Jaden terkekeh kecil melihat pesan yang ia terima itu. Sebenarnya, sejak beberapa saat lalu ia memperhatikan kolom chat-nya dengan Kayana yang muncul kata mengetik, sehingga dengan sengaja sejak beberapa saat lalu ia menunggu chat dari perempuan itu. Begitu sebuah pesan masuk ia pikir akan mendapatkan kalimat panjang. Nyatanya perempuan itu hanya mengatakan ujaran kekesalannya saja.
Kayana, Kayana. Sejak dulu kamu tidak berubah ya. Pikir Jaden dengan kepala menggeleng kecil. Ia ingat betul dulu saat masih sekolah pun Kayana pernah mengatakan ini, setelah kelulusan. Sampai saat ini ia tidak tahu pesan apa yang sebenarnya akan perempuan itu kirimkan. Tapi yang ia terima hanya.
Sudahlah, terserah. Aku tidak peduli.
Saat ia membalas chat tersebut, Kayana hanya membalas dengan kalimat yang hampir sama persis seperti yang ia terima saat ini.
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu Jay?”
Jaden mengalihkan pandangan dari ponselnya, menatap ke arah sang ibu yang datang ke ruang kerjanya dengan membawa satu nampan dengan dua gelas minuman di atasnya.
“Mama. Tidak Ma, ini bukan apa-apa.” Jaden tersenyum lebar. “Mama membawa apa?”
“Teh Chamomile. Kamu sedang sibuk tidak?”
“Tidak Ma, ayo duduk di sofa saja. Ada yang ingin Mama bicarakan ya?”
Sang Ibu mengangguk. “Tentang James.”
Kening Jaden mengerut saat mendengar nama Kakaknya di sebutkan. “James?”
Tyas—ibu Jaden mengangguk kecil. “Mama khawatir dengan pergaulan James, Jay. Apalagi di luar negeri. Mama sedang berpikir menukarmu dan James lagi. Kalau kamu Mama percaya kamu tidak akan macam-macam Jay, tapi Kakakmu.”
Jaden tersenyum simpul, meskipun dalam hatinya gusar saat mendengar pertukaran tugas kembali. Padahal ia belum genap satu bulan berada di Indonesia dan ia pun belum mendapatkan Kayana sama sekali. Ia sudah bertekad saat ia harus kembali ke Australia lagi, setidaknya ia harus bersama Kayana sebagai pendamping hidupnya—itu adalah tekad Jaden yang harus ia penuhi sebagai tujuan hidupnya.
“James tidak seburuk itu Ma. Lagipula James sebenarnya memang lebih cocok dengan kehidupan di luar sana. James akan lebih mengeksplore.”
“Tapi kamu juga memajukan perusahaan kita yang ada di sana Jaden.”
Jaden tersenyum tipis. “Mama jangan begini, nanti James berpikir Mama pilih kasih. Sebentar lagi ya Ma? Biarkan setidaknya sampai satu tahun atau dua tahun.”
“Tapi Mama takut nanti tiba-tiba ada perempuan membawa bayi dan tiba-tiba mengaku itu anak James.”
Jaden kembali terkekeh kecil. “Tidak akan Ma, James tidak seburuk itu kok. Percayalah. Meskipun James memang terlihat seperti bad boy tapi dia soft boy kok.”
“Atau Mama jodohkan saja ya? Benar! Mama akan mencari cara untuk menjodohkan James. Agar setidaknya ada yang menemani dia di sana. Mama akan bicarakan dengan Papa.”
“Ma... jangan berpikir terlalu berlebihan.” Jaden menggenggam tangan ibunya. “Kami sudah dewasa. Kami tahu mana yang baik untuk kami dan tidak. Jadi Mama tidak perlu terlalu khawatir ya? Mama dan Papa cukup nikmati masa pensiun kalian. Lebih baik jalan-jalan keliling Indonesia, seperti impian Papa dan Mama dulu. Ya?”
“Mama tetap akan membicarakannya dengan Papa. Mama akan mencari perempuan yang cocok bersanding dengan James, yang setidaknya hampir sepadan dengan kita.”
Jaden menghembuskan napas, seraya menatap Tyas yang tampak gusar. Pikirannya mendadak berkecamuk. Ibunya selalu saja membahas tentang strata sosial. Mau tidak mau membuat hatinya pun selalu gusar. Apalagi jika mengingat Kayana bukan dari bagian keluarga terpandang.
“Yasudah Mama kembali ke kamar ya? Jangan lupa tehnya diminum. Jangan tidur terlalu malam ya Jay?” ujar Tyas seraya mengecup puncak kepalanya, sebelum akhirnya beranjak pergi.
Jaden menyesap teh di tangannya, kemudian menatap kolom pesan lalu melihat foto profil Kayana.
Apapun yang terjadi, aku akan tetap memperjuangkanmu Kay. Aku tidak akan membuatmu pergi dan aku tidak akan membiarkan penantianku sampai titik ini sia-sia.
Setelah beberapa saat kemudian ia mengetikkan sesuatu lagi di kolom pesan itu.
Kayana, aku akan menunggumu sampai kapanpun. Aku tidak akan menyerah—terkirim.
Jangan terlalu banyak berkhayal dan melantur Jaden. Tidurlah! Ini sudah malam.
Ada yang perhatian nih.
Ok Kay aku akan tidur kalau kamu yang meminta.
Semoga mimpi indah Kay—terkirim
Semoga kau bermimpi buruk!
Thank you, I love you too.—terkirim.
Aku tidak mengatakan I love you!
Jaden terkekeh kecil. menatap gemas pada pesan yang baru saja ia baca.
Iya sayang, I love you too.—terkirim.
Aku sudah katakan aku tidak mengatakan I love you.
Iya sayang iya, I love you too—terkirim.
Orang gila!
Aku gila karenamu—terkirim
Mati saja sana!!!
Tidak bisa, sebelum aku menikahimu.—terkirim
Tidak ada yang mau menikah denganmu! Terus saja bermimpi!
Aku akan membuatmu berubah pikiran sayang—terkirim
Tidak akan pernah.
Senyuman Jaden kembali terbentuk, diiringi dengan desiran lembut penuh kehangatan memenuhi setiap penjuru dadanya. Berbalas pesan dengan Kayana, meskipun bukan pesan cinta tapi sungguh, ini sangat menyenangkan, benar-benar membuat hatinya terasa penuh dengan suka cita.
Katanya mau tidur. Tidur sana. Sudah malam.—terkirim.
Salah siapa kamu terus mengirimku pesan?
Aku tidak memintamu membalasnya?
Haha jangan marah. –terkirim
Aku tidak akan membalas pesanmu lagi! Menyebalkan!
Jangan salah tingkah begitu dong.
Tapi sudah, jangan membalasnya lagi.
Kalau kesal besok saja.
Aku akan menjemputmu
Good night Kay, my future.—terkirim