Part 6 : Kegigihan Jaden

1888 Words
  Kayana menyesal pernah merasa tidak enak hati pada Jaden. Ia benar-benar menyesal telah merasa bersalah sebab saat ini lelaki itu justru dengan sangat santai tengah duduk di meja makan rumahnya, bersama Bunda Ani dan anak-anak lainnya, bahkan tengah bercengkrama akrab seolah lelaki itu sudah merupakan bagian dari mereka. Seharusnya kemarin ia tidak perlu merasa tidak enak dan merasa bersalah pada lelaki itu, seharusnya ia abaikan lelaki itu, dan seharusnya ia menyadari bahwa sekalipun ia menyinggung dan membuat lelaki itu sakit hati, lelaki itu pasti tidak akan menyerah untuk tetap mengganggu hidupnya. Akan tetapi tentu saja penyesalan selalu datang belakangan bukan? Tidak ada kesempatan baginya untuk mengulang waktu kembali, selain menghadapi lelaki itu dan memikirkan cara lain untuk menyingkirkannya tanpa merasa bersalah.   “Jadi dia Kak?”   Kayana terjengit, ia kemudian menoleh ke kanan. “Gendis. Kamu tuh ya, bikin kaget aja.”   Gendis memberi senyuman tiga jari, dengan kedua alis naik turun, menggodanya. “Jadi benar Kak?”   “Benar apanya?”   “Dia pacar Kakak.”   Seketika bola mata Kayana membesar. “Ngaco kamu, mana ada pacar? Kakak udah bilang Kakak gak akan pernah mau pacaran sama siapapun Dis. Bukan saatnya pacaran juga kan?”   “Kayana, Gendis. Sini, kenapa malah ngobrol di sana?” tanya Bunda Ani yang membuat keduanya berjalan ke arah meja makan dengan kompak.   “Pagi Kay.”   Kayana menghembuskan napas perlahan kemudian dengan terpaksa menyunggingkan senyumannya. “Pagi.” Ujar Kayana kemudian menarik sebuah kursi, tapi kursi tersebut segera Gendis duduki. Menyisakan sebuah kursi yang berada tepat di samping Jaden, yang duduk berhadapan dengan kursi utama tempat Bunda Ani berada.   Tidak mau memperkeruh suasana, Kayana hanya mampu menghembuskan napas lalu menarik kursi kosong itu sebelum mendudukinya.   “Kak Kay, Kak Jay membawakan kami banyak buku loh! Jadi kita bisa belajar di rumah walaupun tidak les seperti teman-teman yang lain.” ujar Gio seraya tersenyum begitu lebar.   “Kak Jay juga membawakan kami bola Kak! Terus Kak Jay bilang, katanya halaman belakang kita yang masih kosong itu, nanti bisa Kak Jay bantu bikinkan lapangan. Benarkan Kak Jay?” seru Reza, seorang anak berusia 11 tahun.   “Kak Jay juga bawakan alat lukis!” seru Bunga, anak berusia 7 tahun.   Kayana menatap Jaden dengan tatapan mata tajam, dalam hati ia tidak terima dengan perbuatan Jaden yang tanpa seijinnya membawa semua barang itu untuk anak-anak, namun di sisi lain ia tidak bisa menolak, ia tidak mau mematahkan kebahagiaan anak-anak yang sudah tampak begitu bersemangat dengan hadiah yang mereka terima.   “Jangan berisik, ini meja makan.” Tegur seorang anak perempuan yang lebih besar, dia Kania. Seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang memang cukup pendiam tapi begitu tegas, anak perempuan yang sudah berpikiran lebih dewasa daripada usianya sendiri. “Sebaiknya kita segera makan, sebelum terlambat pergi sekolah.” Lanjut Kinan, lalu menoleh pada Bunda Ani. “Benarkan Bunda?”   Bunda Ani tersenyum penuh kehangatan, tampak begitu keibuan. “Ayo kita mulai berdo’a bersama.”   Bunda Ani yang memimpin do’a sebelum akhirnya mereka semua mulai menyantap menu makan pagi sederhana mereka. Hanya ada capcay, goreng ikan dan juga kerupuk sebagai pelengkap. Suasana meja makan hening, tidak ada yang bersuara sama sekali, seperti yang selalu Kayana ajarkan. Kayana sadar, mereka memang bukan dari kalangan atas, bukan juga dari keluarga bangsawan. Akan tetapi Kayana selalu mengajarkan berbagai etika baik yang harus selalu mereka lakukan. Sekalipun mereka bukan dari bagian kalangan itu, ia pikir semua anak-anak harus memiliki tata krama, sopan santun, dan juga etika, kemudian menempatkannya sesuai dengan suasana yang ada. Seperti sekarang, anak-anak makan tanpa menyisakan apapun di piring mereka, setelah selesai anak-anak merapihkan peralatan makan dengan rapih, dan merapihkan sisa makanan yang terlanjur jatuh. Setelah itu masing-masing dari mereka mengucapkan terimakasih kepada Bunda Ani. Sebagai penghormatan.   “Anak-anak pintar.” Ujar Jaden tiba-tiba.   “Siapa yang mengajarkan kalian merapihkan alat makan kalian seperti ini?”   “Kak Kay. Kakak bilang kalau kita harus menghabiskan makanan yang ada di atas piring, selesai makan kita harus membereskan masing-masing tempat makan seperti ini. Biar nanti saat Bunda atau siapapun yang merapihkan tidak akan kesulitan.” Ujar Bunga diiringi dengan senyuman yang begitu lebar.   Kayana tidak memberi tanggapan apapun, ia hanya menyibukkan diri mengambil peralatan makan yang kosong, lalu membawanya ke arah bak pencucian.   “Biar ku bantu.”   Kayana menoleh, menatap Jaden yang membawa tumpukan alat makan lain. “Tidak perlu.” Ujar Kayana datar.   “Aku tetap ingin membantu.” Ujar Jaden seraya menggulung lengan kemejanya.   “Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan Jaden?” tanya Kayana tiba-tiba. “Kenapa kamu tiba-tiba datang dan membawakan mereka semua itu? kamu pikir aku tidak mampu membelikan mereka itu semua? Atau kamu sengaja datang untuk menghinaku?”   Jaden menarik ujung bibirnya, “Tidak sedikitpun aku pernah berpikir begitu.” Ujar Jaden tanpa mengalihkan pandangannya dari piring bekas makan yang sedang dibersihkan. “Aku hanya ingin membantu, apakah salah?”   “Kamu bisa membantu di tempat lain. Tidak perlu di sini.”   “Kay, aku hanya berniat membantu.”   “Aku bilang kamu bisa membantu di tempat lain! Yayasan sosial di luar sana masih banyak, keluargamu bahkan rutin untuk melakukan bantuan seperti ini di luar sana.”   Jaden menoleh, menatap Kayana kemudian tersenyum tipis. “Itu kamu tahu sendiri, keluarga kami memang sering melakukannya. Tapi sepertinya yang belum kamu ketahui adalah kami pun membagi wilayah untuk melakukan amal dan bantuan seperti ini. Ada wilayah Ayahku, Ibuku, Kakakku, keluargaku yang lain dan aku. Aku hanya secara kebetulan saja mendapatkan wilayah di sekitar sini.”   Rahang Kayana mengatup. “Membual.” Bilang saja kamu cuma ingin pencitraan untuk mendekatiku. Lanjut Kayana dalam hati.   “Kamu bisa mengeceknya pada sekretarisku jika tidak percaya, atau apakah aku perlu meminta sekretarisku datang sekarang juga?”   Kayana mendengus. Lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, kemudian menyibukkan diri membilas alat makan yang sudah selesai Jaden cuci, setelah itu merapihkannya di rak. Perasaannya benar-benar dongkol. Hingga Kayana bingung sekaligus malu.   “Masih perlu aku memanggil sekretarisku?”   “Tidak.” ujar Kayana. “Tapi bukan berarti aku percaya padamu, aku hanya malas berurusan denganmu lebih jauh lagi.”   Selepas mencuci piring selesai Kayana beranjak tanpa repot memedulikan Jaden di belakangnya. Ia mapihkan pakaiannya sesaat, meraih blazer juga tasnya.   “Anak-anak ayo cepat. Kita akan terlambat.” Panggil Kayana tak acuh.   “Nak. Jangan buru-buru ya di jalannya. Hati-hati.” Pesan Bunda Ani.   Kayana terkesiap. Matanya mengerjap sesaat lalu menatap Bunda Ani, setelah itu Kayana tersenyum tipis lalu mencium tangan perempuan paruh baya itu. “Terimakasih Bunda sudah ingatkan Kay.”   “Kay... maafkan Buna ya Bunda tidak bisa menolak pemberian Den Jaden. Tapi Bunda janji, lain kali Bunda tidak akan menerima pemberian orang lain sembarangan seperti itu. Sekali lagi maafkan Bunda ya sayang.”   Kayana merasa terenyuh dengan kalimat itu, ia kemudian tersenyum kembali seraya mengelus lengan Bunda Ani. “Bunda tidak perlu meminta maaf. Bunda tidak bersalah. Kalau memang anak-anak senang tidak apa-apa Bunda. Terima saja.”   “Kayana berangkat ya Bun.”   “Dis jangan sampai kamu terlambat.” Seru Kayana pada Gendis yang masih mengepel lantai depan rumah mereka.   “Siap Kak.”   “Kay.” Panggil Jaden.   Kayana menatap Jaden yang juga terdiam saat tatapan mata mereka bertemu, beberapa detik keduanya bertahan saling memandang sebelum Kayana memutus pandangan itu kemudian menghela napas panjang, setelahnya ia beranjak begitu saja tanpa menghiraukan panggilan Jaden.   Rasanya sudah cukup. Ia tidak ingin berbicara dengan laki-laki itu lagi dan berujung dengan dirinya yang merasa bersalah lagi seperti kemarin.   ***   Kakak!!! Tebak aku dibelikan apa oleh Kak Jay? Alat pembuat sketsa!!! Sampaikan rasa terimakasihku yang saaangat banyak Aku benar-benar sedang sangat membutuhkannya   Kayana hanya bisa menghembuskan napas setelah membaca pesan yang Gendis kirimkan. Kepalanya mendadak pening, ditambah dengan cuaca hari ini yang terasa sangat panas, terasa begitu menusuk-nusuk kepala hingga ia merasa kepalanya mulai sedikit berputar. Kayana menghentikan langkahnya, ia kemudian menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali, sebelum kemudian kembali melangkah menuju kantor Guru. Baru setengah hari, tapi Jaden benar-benar membuat kepalanya serasa hampir meledak dengan semua tingkah yang lelaki itu lakukan. Lelaki itu benar-benar membuat kepalanya pusing dengan semua tindakan yang lelaki itu lakukan tanpa sepengetahuannya. Contohnya tadi pagi dan lihatlah... sekarang. Siapa yang menduga Gendis yang awalnya ia pikir tidak akan mendapatkan apapun dari Jaden, justru mendapatkan hadiah paling mahal. Membuat Kayana semakin menyesal telah merasa bersalah pada lelaki itu. Kayana tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Ia bersumpah, ia tidak ingin berhubungan dengan Jaden lagi, tapi mengapa orang-orang disekitarnya kini menganggap Jaden seperti pahlawan? Padahal Jaden hanya orang baru yang secara kebetulan mampu memberikan yang mereka butuhkan. Jaden pada hakikatnya hanya orang asing yang masih harus mereka waspadai. Tapi... oh! Sudahlah. Kepalanya serasa semakin berputar saat nama Jaden semakin memenuhi kepalanya.   “Miss Kayana.”   Kayana menoleh menatap Farrel yang sedang bersama Maya di salah satu sudut kantor. Kemudian tersenyum tipis.   “Ada apa? Miss Kayana terlihat lesu. Apakah sesuatu terjadi?”   Kayana tersenyum kembali. “Tidak ada apapun Mr. Farrel. Hari ini hanya terasa lebih panas.”   “Yakin Miss?” Tanya Farrel dengan wajah yang tampak khawatir. “Miss Kayana tidak terlihat baik-baik saja.”   “Saya yakin Mr. Farrel.”   “Kalau begitu bagaimana jika kita makan siang bersama?”   “Mr. Farrel kan sudah berjanji akan makan siang bersamaku.” Ujar Maya saat baru saja Kayana akan membuka mulut untuk menjawab ajakan itu. “Ayo, bukannya sekarang sudah masuk jam makan siang?”   “Oh, iya aku lupa. Tapi bagaimana jika kita makan siang bersama? Bertiga. Bagaimana Miss Kayana?”   Kayana membasahi bibir sesaat ketika merasakan atmosfir tidak nyaman yang menguar dari Maya. Kayana bukan tidak peka dengan perasaan Maya, ia sangat peka saat ini, ia bisa merasakan Maya yang sedang menahan cemburu karena perhatian Mr. Farrel terhadapnya. Tapi ia pun bingung, alasan apa yang harus ia perbuat agar keluar dari suasana canggung ini? Inginnya ia menolak secara langsung, namun ia tidak bisa seperti itu, ia tidak enak jika harus menolak secara tidak sopan ajakan itu tanpa alasan yang jelas.   “Wah! Pak Diman! Ini anda bawa makanan dari siapa?”   Kayana menoleh cepat ke arah pintu masuk belakang, melihat seorang penjaga gerbang utama membawa dua kantung besar berisi box-box makanan.   “Anu Bu, ini tadi pihak katering bilang dari Mr. Jaden. Kiriman sederhana untuk semua orang agar tidak perlu ke luar kantor untuk makan siang, sebab cuaca di luar sedang sangat panas.” Jelas Pak Diman. “Selamat menikmati Pak, Bu. Kalau begitu saya permisi.”   Kayana tiba-tiba tersenyum lebar. “Nah itu ada makanan, sepertinya saya makan di sini saja. Permisi.” Pamit Kayana kemudian meninggalkan dua orang itu, menuju meja kerjanya terlebih dahulu sebelum kemudian ke arah seorang Guru yang sedang membagikan box makanan tersebut.     “Miss ini untukmu.” Ujar seorang perempuan paruh baya.   “Terimakasih banyak Bu.” Ujar Kayana lalu membawa makanan itu kembali ke meja kerjanya.   Ting!   Iris mata Kayana bergulir menatap layar ponselnya.   Selamat makan siang Kay, my future. Semoga kamu suka dengan makanannya ya. Aku harap kamu tidak marah lagi padaku Sampai bertemu nanti   Kayana tanpa sadar menarik ujung bibirnya, tersenyum tipis. Baguslah setidaknya kali ini bantuan Jaden datang di waktu yang tepat. Membuatnya bisa menghela napas lega, merasa terbantu di situasi penuh kecanggungan itu.   Bukan, bukan. Ia bukan sudah luluh oleh Jaden. Ia hanya... ya... sedikitnya merasa beruntung dengan kehadiran Jaden.   Ya... ia hanya merasakan seperti itu. Tanpa ada perasaan apapun lagi.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD