Sejak pitching besar itu, nama Alya Rakhim makin sering disebut di koridor Dianusa. Beberapa menyebutnya rising star, beberapa mencibirnya diam-diam. Tapi di tengah kekaguman dan kedengkian itu, satu hal menjadi pasti: Alya tak bisa lagi menjadi gadis tak terlihat.
Ia kini pusat perhatian.
Hari-harinya makin padat. Rapat, revisi, diskusi, lembur. Tapi tak satu pun ia keluhkan. Kalau ada satu hal yang selalu jadi senjatanya sejak kecil, itu adalah daya tahan.
Namun dunia kerja bukan hanya soal daya tahan.
Pada suatu Senin pagi, ia menerima pesan w******p dari nomor tak dikenal:
> “Cantik dan pintar. Tapi sayang, kamu tahu kan, rahasia nggak selamanya jadi rahasia.”
Alya menatap pesan itu lama. Jantungnya berdebar. Siapa pengirimnya? Rio? Cilla? Atau orang kantor?
Ia tidak membalas.
---
Siangnya, saat sedang di pantry mengambil kopi, Alya mendengar dua orang staff desain sedang bercakap pelan—dan menyebut namanya.
“...katanya dulu sempat tinggal bareng sama Pak Arsya ya?”
“Apa? Astaga... kamu dapet dari mana?”
“Gosipnya sih gitu. Makanya dia langsung diserap jadi staf meski baru lulus.”
Langkah Alya membeku. Ia tak punya waktu untuk marah. Ia hanya menarik napas, menyalakan ketenangan buat wajahnya, lalu kembali ke meja seolah tak mendengar apa pun.
Namun pikirannya tidak tenang. Ada bau busuk masa lalu yang mulai menyusup dari balik pintu yang selama ini ia jaga rapat-rapat.
---
Di malam hari, Rayhan menelepon. Suaranya terdengar ceria seperti biasa, tapi penuh perhatian.
“Alya, minggu ini bisa ketemu nggak? Aku lagi ada waktu senggang. Ada yang pengen aku obrolin langsung.”
Alya terdiam. Sudah lama Rayhan tak mengajaknya bertemu secara langsung. Mereka memang tetap saling mengirim pesan, tapi intensitasnya menurun sejak Alya mulai bekerja di Dianusa.
“Boleh,” jawab Alya akhirnya. “Hari Jumat setelah kerja, bagaimana?”
“Perfect. Aku jemput ya.”
Dan di situlah masalahnya.
Rayhan memang bukan siapa-siapa bagi Alya secara formal. Tapi pria itu—dengan kesabaran dan ketulusannya—diam-diam selalu jadi tempat Alya berpulang secara emosional. Tapi ia tahu, Rayhan juga menyimpan perasaan yang lebih dari sekadar teman.
Dan Alya, dengan segala kekacauan hidupnya, tak yakin bisa membalas.
---
Hari Jumat datang seperti badai.
Pagi-pagi sekali, email dari HR masuk ke inbox-nya:
> Kepada Alya Rakhim,
Kami ingin mengundang Anda untuk diskusi internal mengenai laporan yang baru-baru ini kami terima terkait potensi konflik kepentingan dalam perekrutan staf. Pertemuan dijadwalkan pukul 10.00 di ruang HR Lt. 5.
Alya menatap email itu. Tangan dan kakinya dingin. Ia tahu, inilah saatnya.
Mereka tahu.
Entah siapa yang melapor. Entah gosip atau bukti. Tapi badai itu datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.
---
Di ruang HR, ia duduk berhadapan dengan dua orang: Ibu Dina dari HRD dan Pak Arya dari tim compliance.
“Ibu Alya, kami menerima laporan anonim yang menyebutkan bahwa Anda memiliki hubungan personal dengan Pak Arsya, pemilik perusahaan ini, sebelum Anda direkrut. Kami harap Anda bisa menjelaskan secara terbuka agar tidak ada kesalahpahaman.”
Alya menatap mereka. Jantungnya masih berdebar, tapi wajahnya tetap tenang. Ia sudah mempersiapkan jawaban ini sejak dulu, di dalam hati.
“Benar, saya mengenal Pak Arsya sebelum bergabung ke Dianusa. Kami pernah bekerja bersama dalam proyek freelance luar kampus. Tapi tidak pernah ada hubungan yang melanggar profesionalisme selama masa itu, dan saya menjalani rekrutmen resmi seperti kandidat lainnya.”
Pak Arya menyipitkan mata. “Apakah Anda yakin tidak ada relasi personal yang bisa memengaruhi proses ini?”
Alya mengangkat dagu sedikit. “Saya tidak akan menyangkal bahwa saya pernah dalam posisi yang salah secara moral. Tapi tidak pernah ada pelanggaran administratif atau hukum. Jika ada, saya siap diperiksa lebih lanjut.”
Ruangan itu sunyi. Mereka saling menatap. Akhirnya Ibu Dina menutup map.
“Kami akan melanjutkan evaluasi. Untuk saat ini, Anda bisa kembali bekerja seperti biasa.”
Alya mengangguk. Ia tahu, ini belum akhir. Tapi ia juga tahu, ia tidak lari.
---
Sore itu, Rayhan sudah menunggu di depan kantor dengan mobil putihnya. Begitu melihat Alya, ia turun, membukakan pintu seperti biasa.
“Kelihatan capek banget. Hari yang berat ya?”
Alya masuk tanpa bicara banyak. Sepanjang perjalanan ke tempat makan, ia diam. Rayhan tidak memaksa.
Baru saat makan malam dimulai, Rayhan meletakkan sendoknya dan berkata, “Alya, boleh aku tanya satu hal?”
Alya menatapnya. “Tanya apa?”
“Apa kamu dan Pak Arsya... punya hubungan spesial dulu?”
Alya tidak terkejut. Ia hanya mendesah pelan. “Kamu juga dengar?”
Rayhan mengangguk. “Aku dengar dari orang yang bukan sembarang orang.”
Alya memainkan sendoknya. “Aku butuh bantuan dulu. Aku sendirian di Jakarta. Dan dia... datang di saat aku rapuh.”
Rayhan mengangguk pelan, mencoba mengerti.
“Kamu cinta?”
Alya menggeleng. “Nggak. Tapi aku juga nggak bisa bohong kalau dulu aku menikmati kenyamanan yang ia berikan.”
Rayhan menatap Alya lama. “Aku nggak marah. Aku cuma... takut kamu nggak bahagia.”
Alya menatapnya. “Aku pun takut.”
---
Malam itu mereka berpisah tanpa pelukan, tanpa janji. Tapi dengan pemahaman yang lebih jujur.
Di kamar kos, Alya duduk di tepi ranjang, memandangi kaca. Ia melihat bayangan dirinya: riasan tipis, mata lelah, dan sorot yang dulu penuh ambisi, kini tercampur rasa bersalah.
Ia menyalakan laptop. Mengerjakan laporan. Memeriksa ulang data. Ia tahu, satu-satunya cara bertahan adalah tetap unggul.
Namun di notifikasi email, muncul satu balasan tak terduga.
> From: Rio A.
Subject: Tentang Pagi Tadi
Aku tahu soal rapat HR. Dunia ini memang kecil. Tapi kamu harus tahu, aku juga bukan orang suci. Kita semua punya masa lalu. Tapi kalau kamu jatuh, jangan biarin diri kamu hancur. Bangun dengan kepala tegak. Dan kalau kamu butuh seseorang yang nggak akan menilaimu cuma dari masa lalu... aku ada di sini.
Alya terdiam lama.
Mungkin, tidak semua cahaya berasal dari langit yang sempurna. Kadang, yang paling hangat datang dari api kecil yang terbakar di tempat paling gelap.
---