Jakarta di pagi hari seperti panggung sandiwara yang selalu sibuk. Langit belum sepenuhnya cerah, tapi jalanan sudah penuh oleh orang-orang berseragam dan berambisi. Termasuk Alya Rakhim, yang kini melangkah mantap ke dalam kantor megah Dianusa Advertising, tempat yang dulunya hanya jadi khayalan anak kampung.
Ruang kerjanya tidak besar, tapi terang, dengan jendela kaca yang menampilkan potongan langit biru. Laptop, notepad, dan tumpukan brief kerja sudah menunggunya. Alya menarik napas panjang. Dunia kerja tidak seperti kampus—di sini, setiap kesalahan punya harga. Tidak ada dosen yang memberi nilai belas kasihan. Hanya target, tenggat, dan tekanan.
Hari pertamanya diisi dengan orientasi, bertemu tim kreatif, dan diskusi awal tentang kampanye produk lokal yang sedang akan diluncurkan. Timnya terdiri dari lima orang, dan satu di antaranya membuat Alya membeku sejenak saat diperkenalkan.
“Ini Rio, senior copywriter. Dia yang biasa pegang project besar. Kalian bakal sering kerja bareng,” kata manajer HR dengan senyum ramah.
Rio menatap Alya sejenak. Senyumnya ramah, tapi matanya tajam, seperti mencoba membaca lebih dalam dari wajah seseorang.
“Selamat bergabung, Alya,” katanya sambil menjabat tangan. “Kita lihat seberapa tajam ambisi kamu di lapangan nanti.”
Alya hanya tersenyum tipis. Ia tidak takut tantangan. Tapi entah kenapa, dari cara pria itu bicara, seperti ada pesan tersembunyi. Seolah Rio tahu... sesuatu.
---
Seminggu pertama berjalan seperti roller coaster. Alya harus menulis, menyunting, membuat presentasi strategi, ikut meeting dengan klien, dan sesekali jadi penyambung ide antardepartemen. Tapi meski lelah, ia merasa hidup. Otaknya dipaksa terus berpikir, dan itu membuatnya merasa berguna.
Namun bukan berarti tidak ada luka lama yang mengintip.
Setiap kali mendengar nama “Pak Arsya” disebut dalam rapat—karena pria itu adalah pemilik sekaligus direktur utama Dianusa—jantung Alya berdegup tak beraturan. Meski mereka kini menjaga jarak dan profesional, kenangan masa lalu sulit dihapus. Ia tahu, hubungan mereka dulu bukan cinta, tapi ketergantungan yang menyamar.
Suatu sore, ketika sedang menyusun presentasi untuk kampanye digital, Rio mengetuk meja Alya.
“Presentasi kamu bagus. Tapi tone-nya terlalu halus. Kamu nulis buat target umur dua puluh lima ke atas, bukan remaja TikTok.”
Alya mengangguk. “Noted. Saya revisi sekarang.”
Rio menatap layar Alya, lalu matanya menatap langsung ke matanya. “Kamu bukan anak baru biasa. Tapi kamu juga bukan orang yang nggak bisa jatuh. Hati-hati, ya.”
Kata-kata itu terdengar seperti nasihat sekaligus peringatan. Alya merasa perutnya mual. Apa Rio tahu tentang masa lalunya?
---
Sabtu pagi, Alya memutuskan mampir ke kafe tempat ia dulu bekerja. Kafe itu sekarang sudah direnovasi dan lebih luas. Suasana tetap akrab.
“ALYAAAA!” teriak Sasa, salah satu sahabat di geng kampus, memeluknya erat.
“Liat kamu beneran kayak nonton sinetron: dari barista ke strategis!” sahut Naya sambil tertawa.
Empat dari lima anggota geng berkumpul. Yang tak hadir hanya Cilla—anak dari Pak Arsya. Cilla masih kuliah di Sydney dan katanya sekarang pacaran dengan pria Korea. Semua yang hadir berbagi kabar, tawa, dan nostalgia. Tapi Alya bisa merasakan, di sela canda dan pelukan hangat itu, ada tatapan tajam dari Naya yang seperti sedang mengukur.
Saat mereka hanya berdua di sudut, Naya akhirnya bicara.
“Kamu deket sama bokap Cilla ya, dulu?”
Alya terdiam. Jantungnya berdegup. “Dulu... iya. Tapi sekarang sudah selesai. Bahkan aku nggak pernah komunikasi pribadi lagi.”
Naya mengangguk. “Aku tahu kamu pintar, Alya. Tapi kadang hidup itu licik. Orang yang dapat posisi tinggi bukan selalu karena pintar, tapi karena tahu siapa.”
Alya menatap sahabatnya itu, pelan. “Aku tahu, Nay. Dan aku juga tahu semua keputusan ada harga dan risikonya. Tapi aku nggak pernah merusak siapa pun.”
Naya mendesah. “Aku harap kamu bener-bener tahu jalan yang kamu ambil. Karena kalau jatuh lagi, kita nggak bisa narik kamu secepat dulu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
---
Malam harinya, Alya duduk sendirian di kamar kos. Ia menatap layar laptop, melihat ulang naskah kampanye yang ia buat. Kata-kata yang ia tulis terasa hambar malam itu. Bukan karena kehilangan inspirasi, tapi karena pikirannya masih sibuk dengan peringatan orang-orang.
Benarkah ia terlalu ambisius?
Benarkah ia masih membiarkan masa lalu menentukan langkahnya?
Notifikasi email masuk.
> From: Rio A.
Subject: Catatan Revisi Slide Kedua
— By the way, kamu pernah kenal dekat sama Pak Arsya ya?
Alya mematung. Tangannya berkeringat. Tapi ia membalas.
> Alya:
Saya dulu kerja part-time di salah satu proyek freelance yang beliau kelola. Tidak lebih.
Tak ada balasan malam itu. Tapi Alya tahu—sejak hari ini, ia harus lebih hati-hati. Dunia kerja bukan hanya tentang kompetensi. Tapi tentang persepsi.
---
Beberapa minggu berlalu. Proyek besar yang Alya pegang bersama Rio akhirnya masuk tahap pitching. Ia berdiri di depan ruangan penuh direksi, termasuk Pak Arsya. Mengenakan blazer biru tua, Alya memaparkan ide kampanye dengan suara mantap. Ia menghindari kontak mata dengan pria itu. Ia fokus pada layar, pointer, dan kata-katanya sendiri.
Ketika sesi tanya-jawab dimulai, Rio membuka suara.
“Saya rasa konsep ini bagus, tapi perlu disesuaikan dengan behavior audiens yang lebih dewasa. Saya ingin dengar dari Pak Arsya langsung—bagaimana pendapat Anda tentang gaya Alya sebagai penanggung jawab?”
Ruangan hening. Semua mata tertuju pada Pak Arsya.
Pria itu menatap Alya sejenak, lalu berkata, “Alya punya potensi besar. Tapi jangan puas dulu. Dunia ini suka menjilat dan mencakar dalam waktu bersamaan.”
Alya tersenyum. “Saya akan tetap belajar. Karena saya tahu, dunia tak akan pernah cukup lunak untuk mereka yang lengah.”
Ada anggukan di ruangan itu. Dan meski Alya keluar dengan lutut gemetar, hatinya justru semakin teguh.
---
Di luar gedung, hujan turun. Alya berdiri sebentar di bawah atap, memandangi langit kelabu yang kini tak menakutkan lagi. Di ponselnya, ada pesan masuk dari Rayhan.
> Rayhan:
Kamu bikin presentasi tadi seperti pahlawan. Aku nonton diam-diam di ruang kontrol 😄.
> Rayhan:
Kamu kuat, Alya. Tapi jangan lupa: kadang orang paling kuat juga butuh istirahat.
Alya tersenyum kecil.
Ia masih belum tahu bagaimana akhir dari semua ini. Tapi satu hal pasti: jalannya kini tidak dibakar oleh kesalahan, tapi diterangi oleh keberanian menghadapi konsekuensi.
---