Seperti rencana sebelumnya, Felisia meminta Raykan untuk bertemu dengan Varizen. Dan sekarang mereka bertiga duduk di depan restoran tempat gadis itu bekerja. Varizen dengan senang hati bersandar manja kepada sang ibu untuk melepas rindu. Lagi dan lagi, raykan harus melihat drama di antara mereka. Seperti tak pernah bertemu selama berabad lamanya, pikir pia itu terlihat jengkel. Well, kenapa dia jengkel? Karena terlalu dramatis dan membosankan. “Jadi, Ibu akan membawa aku pergi?” tanya Varizen untuk kedua kalinya. Felisia mengangguk lagi, “Apakah kau menolaknya?” Gadis itu berpikir panjang, lalu kepalanya terangkat duduk tegak mulai serius. “Aku tak ingin pergi,” katanya dingin. Felisia sedikit kaget dengan jawaban Varizen karena menolak usulnya. Sepertinya gadis itu sudah pemiki

