Setelah puas menangis, Varizen dan Jonathan duduk saling berhadapan. Mereka diam dalam waktu cukup lama. Hati pria muda itu merasakan sakit ketika melihat gadisnya menangis seperti itu. Selama Jonathan kenal dnegan Varizen, tak pernah sekalipun gadis itu menangis terisak. Apakah mungkin rasa sakit itu ditumpuk lalu diluapkan barusan. Pria itu merasa senang karena menjadi tumpuan hidup Varizen. “Apakah dia datang kemari?” kata Jonathan memulai percakapan. Varizen tersenyum getir, “Dia sangat tampan, sampai aku tak menyangka kalau dia adalah ayahku.” Jonathan ingin tahu lebih banyak lagi, “Jadi, dia sudah menemukanmu. Apakah pria itu menyakitimu.” Kedua mata mereka beradu. Varizen tersenyum tipis sekali karena kekhawatiran pria itu. di dunia ini, rasanya hanya Jonathan yang peduli.

