Felisia duduk termenung di depan taman bunga miliknya. Wanita itu mengingat perilaku hangat Chen Li semalam. Namun ia langsung menepisnya dnegan cepat. Ah... mana mungkin orang kasar seperti dia memberikan kehangatan. Tak mungkin,elaknya di dalam pikirannya terus saja bicara tanpa henti. Jonathan memandangnya drai jauh, mendesah ringan. Kondisi sang ibu kurang baik. Dia banyak melamun dan sering menghela nafas panjang. Kepala pria itu tambah pening karena mencari keberadaan varizen yang tak kunjung membuahkan hasil. “Kali ini, aku harus bertemu dengannya.” Jonathan melenggang pergi, dahinya berkerut melihat Chen Li dan Jordan keluar mobil. Malas sekali berpapasan dengan orang itu, lebih baik ia memutar arah. “Tunggu!” teriak Chen Li. ‘Sial!’umpat Jonathan di dalam hati. Mau tak mau

