bab 21

1539 Words
Akhirnya Evans mendapatkan nomor pribadi Vania. Jadi sewaktu-waktu ia bisa menghubungi Vania sesuka hatinya. Sedangkan di lantai dasar, Esa mencari-cari keberadaan Vania. Kedua matanya menelisik ke seluruh ruangan. Pencariannya terhenti ketika melihat Vania yang baru keluar dari ruangan Evans. Dengan perlahan Vania menuruni tangga, wajahnya terlihat kesal, bibirnya terlihat komat kamit seakan sedang berbicara sendiri. Esa menatap Vania dengan heran. Kini Vania berjalan semakin mendekatinya. "Kamu darimana Van?" Tanya Esa berpura-pura tidak tau, padahal ia tadi melihat Vania keluar dari ruangan Evans dengan kedua mata dan kepalanya sendiri. Vania bingung, masa iya dia akan berkata bohong. "Ak aku, dari ruangan Evans. Tadi dia memintaku untuk membersihkan air yang tumpah di meja kerjanya," jawab Vania, ia tak berani ngomong yang sebenarnya. "Oh, begitu," sahut Eaa seolah-olah percaya dengan apa yang Vania katakan. Nggak mungkin Vania bilang, kalau Evans menyuruhnya untuk ke ruangannya hanya untuk meminta nomor pribadinya. Vania takut jika Esa salah paham nantinya dan cemburu. Padahal Vania sudah berusaha menghindari Evans. Namun ada saja alasan Evans untuk membuatnya tetap dekat dengannya. Vania tersenyum menatap Esa yang masih menatap dirinya dengan tatapan yang aneh. "Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu nggak percaya denganku," Esa masih terdiam menatap Vania, tak lama kemudian senyuman indah mengembang di wajahnya. Yang semakin membuatnya terlihat manis. "Yaudah yuk pulang. Besok kita kan cuti berdua nih. Gimana kalau kita jalan-jalan kemana gitu, Van!" Ajak Esa dengan semangat "Boleh juga tuh! ide yang bagus, Sa. Kebetulan udah lama aku nggak pernah jalan-jalan," ucap Vania setuju dengan usul sahabatnya itu. "Kalau gitu deal ya, besok kita jalan-jalan, yee!" Esa bersorak riang gembira. Sejurus kemudian mereka saling berpelukan. "Tapi kita mau jalan kemana?" Tanya Vania. "Gimana kalau kita nongkrong di mall. Siapa tau nanti pas kita kesana ada diskon beras-besaran, kan bisa auto borong, kita," jawab Esa mentang-mentang baru gajian. Jiwa shoppingnya meronta-ronta. "Oke setuju! Besok jam berapa?"tanya Vania lagi. "Gampang besok aku kabari lagi. Yang pasti kita besok jalan-jalan, okkey!" Jawab Esa dengan tenang. "Baiklah, ayo kita pulang. Hari sudah semakin larut malam. Sebaiknya kita buru-buru pulang! Sampai bertemu besok. " ucap Vania tersemyum melambaikan tangannya. Kebetulan mang Ujang sudah stanbuy di depan restoran. Ia segera menghampiri mang Ujang dan segera menggunakan helm dengan cepat. Suasana restoran sudah mulai sepi tiada umat satu pun yang masih berada di sana. Evans pun, baru terlihat keluar dari ruangannya. Lalu dengan cepat, ia menuruni anak tangga. Memastikan semua karyawannya sudah pulang meninggalkan restoran. Lalu kemudian ia mengunci sendiri restoran miliknya itu. Setelah pintu terkunci, ia melangkah menuju mobil sport miliknya, yang terparkir rapi di depan restoran sejak tadi pagi. Tiba-tiba saja Evans merasakan setetes air jatuh dari langit yang tampak hitam, mengenai tangannya. Detik demi detik air itu semakin banyak siap membasahi apa pun yang berada di permukaan bumi. Nampaknya hujan itu mulaideras. Evans bergegas masuk kedalam mobil miliknya, lalu kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya mobil yang di kemudikan Evans menghilang dijalanan. *** Vania baru selesai membersihkan diri. Setelah beraktifitas seharian, kini ia merasa lebih segar setelah mandi. Ia tersenyum mengingat dirinya telah memberikan nomor pribadinya kepada Evans. Vania mendudukkan diri diatas tempat tidurnya. Tangannya meraih sebuah benda pipih miliknya, yang terletak di samping foto di atas nakas. Vania terlihat penasaran. Dibukanya dalam benda pipih itu daftar riwayat panggilan, dibukanya lagi tempat pesan masuk. Namun, tak ada pesan masuk bahkan panggilan tak terjawab yang ia temukan. "Payah! lalu untuk apa dia meminta nomor pribadiku. Aku pikir dia langsung menghubungiku," cetusnya sendirian, lalu kemudian ia meletakkan kembali benda pipih itu, ke atas nakas. Vania me ghela napas panjang, merebahkan tubuhnya dengan perlajan di atas tempat tidurnya. Kedua mata Vania menatap keatas dinding, namun pikirannya berpetualang. "Kenapa dia jadi berubah menyebalkan seperti itu? Apa semudah itu ia melupakan perasaannya kepadaku, setelah ia menyatakannya sendiri." Vania mendengus pasrah. "Apa mungkin dia memutuskan untuk memilih Esa. Terlebih dia memberi Esa sebuah jam tangan yang terlihat bagus dan mahal. Lantas untuk apa dia meminta nomor pribadiku! ah bodo amat! lebih baik aku tidur dari pada memikirkan ini." Vania menguap, ia menarik selimut yang terlipat rapi di bawah kakinya. Tak butuh waktu lama, kini Vania terlihat sudah tertidur pulas. Mimpi indah! *** Malam terasa cepat berlalu. Pagi ini Vania terlihat bangun lebih awal dari Wulandari. Vania terlihat sibuk memotong sayur kangkung, dan mengiris bumbu yang sudah ia kupas sebelumnya. Setelah mencuci bersih semua sayuran. Sejurus kemudian ia menyalakan kompor dengan api sedang. Menuangkan minyak secukupnya ke dalam wajan. Kemudian menumis irisan bumbu yang sudah ia siapkan. Dengan lihainya Vania menyiapkan sarapan pagi ini. Oseng kangkung, dan tempe goreng sudah tertata rapi diatas meja makan. Nasi yang ia masak di rice cooker pun tampaknya sudah masak. Hmmm.. jadi lapar! Wulandari memasuki dapur, terlihat ia baru saja bangun dari tidurnya. "Anak mama rajin banget! Hmmm, aromanya enak sekali mama jadi laper nih," tuturnya memuji Vania. Ia tersenyum melihat putrinya yang sudah tumbuh dewasa. Vania pun turut tersenyum melihat sang Mama yang tengah berdiri di samping meja makan. "Mama udah bangun, kalau begitu mari sarapan ma. Kebetulan Vania juga udah laper. Oh iya, aku bikinin s**u dulu buat Mama, sekalian bikin kopi buat Vania juga." Vania mengambil dua gelas belimbing, lalu kemudian membuat s**u dan kopi. "Kalau begitu mama mandi sebentar sayang. Ngantuknya biar ilang, nggak tau kenapa kedua mata mama masih terasa lengket. Masih pengen merem, padahal mama tidurnya dari sore." Wulandari menutupi mulutnya yang menguap dengan tangannya. "Iya ma," sahut Vania. Sejurus kemudian Wulandari masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri. Selesai mandi Wulandari segera menghampiri Vania yang tengah duduk menunggunya di meja makan. Kemudian mereka menikmati sarapan bersama. Terlihat harmonis, meski hanya berdua saja. "Ma, nanti rencananya Vania mau jalan-jalan sama Esa. Mumpung libur!" Ucapnya mengawali percakapan. Ia memasukkan makanan kedalam mulutnya. Wulandari mengangguk, ia sibuk mengunyah makanannya. "Nanti Mama juga mau keluar, ada acara arisan di rumah Tante Rully. Mama di suruh bantu menyiapkan makanan disana nanti. Kalau Vania keluar jangan lupa kunci pintunya ya, mama nanti juga membawa kunci cadangan," tutur Wulandari. "Baik ma," jawab Vania, kemuadian ia meneguk air di dalam gelas miliknya. Selesai sarapan, Wulandari mencuci semua peralatan masak dan makan yang tertumpuk di atas wastafel dapur. Sedangkan Vania, melanjutkan kegiatan pagi ini dengan menyapu dan mengepel seluruh ruangan yang ada di rumahnya. Sesekali terlihat, ia mengusap keringat di dahinya dengan lengannya. Lepas itu Vania mandi membersihkan diri. Ia terlihat bingung memilah memilih baju yang ada dalam lemarinya. Akhirnya ia mengambil kaos berwarna biru, dan celana pensil berwarna hitam. Terlihat simple tapi cocok di pakai Vania. Dengan sedikit menyisir dan mencepol rambut hitamnya. Ia terlihat cantik dan tetap anggun. Vania nggak pernah dandan terlalu menor. Ia hanya menggunakan sunscreen pelindung dari paparan matahari dan sedikit mengoles liptint di bibirnya yang tipis. Kini, ia siap untuk pergi jalan-jalan. Hanya tinggal menunggu kedatangan Esa, sahabatnya. Vania mengambil benda pipih yang ia charger. Terlihat baterainya sudah terisi penuh Vania mencabut kabel charger itu. Di lihatnya beberapa pesan masuk dari Esa. "Van aku otewe, jemput kamu sekarang," pesan Esa di sebrang sana. "Okkey, aku tunggu. Hati-hati dijalan." Balas Vania. Vania meletakkan benda pipih itu di atas nakas. Lalu kemudian dia menyimpan baju yang ia keluarkan dari lemari untuk di pilihnya tadi. Tiba-tiba benda pipih miliknya berbunyi. Ia meraih dan menyentuh tombol warna hijau untuk menerima panggilan. "Ya Sa, kamu sudah sampai dimana?" Jawab Vania menerima panggilan. "Keluarlah! Aku menunggumu di depan rumah." Tak lama sambungan telpon terputus. Kedua mata Vania membulat, ia kaget mendengar suara yang berasal dari benda pipih miliknya. Suara yang tak asing bagi Vania. " Evans! Untuk apa dia kesini." Vania segera keluar untuk menemuinya. Vania membuka pintu depan rumahnya. Benar saja, ia melihat mobil hitam milik Evans terparkir rapi di halaman rumahnya. Ia menghampiri mobil itu, lalu kemudian Evans turun dari mobilnya. "Ada apa!" tanya Vania ketus. Evans tersenyum melihat Vania yang terlihat tak menyukai kehadirannya. "Aku mau mengajakmu jalan. Dan kamu nggak boleh menolaknya," jawab Evans yang terkesan memaksa vania. Vania menaikkan sebelah alis matanya. "Kau memaksaku. Aku nggak bisa! Aku sudah ada janji jalan sama Esa. Lebih baik kamu pulang saja sekarang." Vania blak-blakan mengusir Evans. Namun Evans malah menanggapi dengan tenang. "Kalau begitu, aku yang akan ikut kalian jalan-jalan." Evans mengerlingkan sebelah matanya. "Hah!" Vania tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Apa kau serius, mau ngintilin kita?" tanya Vania dengan ekpresi serius terheran-heran. "Bukan ngintilin, lebih tepatnya jalan bareng," protes Evans. "Nggak, nggak! Kamu nggak boleh ikut. Orang ini acara kita. Lagian kamu itu cowok jalan sama temenmu cowok sana. Ngapain ngikut kita sih!" Vania bersikeras. "Terserah apa yang kamu katakan. Aku akan tetap jalan sama kalian. Lagi pula pasti Esa juga nggak keberatan jika aku bergabung." Evans terlalu percaya diri. "Hah!" Vania masih saja terheran-heran dengan Evans. "Jelas saja Esa akan senang. Orang dia suka sama kamu. Lagi pula aku pasti akan rikuh bila ada dia. Apa sih maunya ni cowok!" batin Vania sebal. Ia mengerucutkan bibirnya. Membuat Evans gemas melihatnya. "Omong-omong nih. Masa iya kamu nggak mempersilahkan aku masuk. Kan aku tamu disini." Evans ngarep Vania mau menerima kehadirannya. "Nggak! Orang aku nyuruh kamu pulang. Pakai acara minta masuk segala," jawab Vania ketus. "Dih, galaknya. Jangan galak gitu, nanti cantik kamu ilang loh!" goda Evans. Ia tertawa melihat Vania bersungut-sungut kesal. "Eh, malah ketawa. Emangnya lucu!" Vania membuang muka dengan bibir mencibir. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD