bc

My Sister Is My Idol

book_age18+
235
FOLLOW
1K
READ
sensitive
CEO
drama
bxg
lighthearted
office/work place
selfish
sacrifice
like
intro-logo
Blurb

Sejenak bayangan keluarga kecil bahagia menyusup di pikiran Vania. Kebersamaan, canda, tawa nan manja di pangkuan sang ayah bersama ibunda tercinta. Keluarga yang sangat harmonis. Namun kenyataannya, ia adalah anak dari seorang janda.

Waktu tidak menunggu siapapun, hanya dua pilihan, diperjuangkan atau diikhlaskan. Entah bagaimana, waktu berputar begitu cepat, dipaksa memilih terus berjalan atau berhenti. Kadang tidak ada pilihan lain selain terus berjalan. Nikmati dan berusaha semaksimal mungkin. Meski kenyataan tidak selalu sesuai harapan.

Perasaan cinta manusia memiliki fase yang begitu unik. Di mana cinta bisa menjadi sumber kekuatan dan sekaligus kelemahan. Ketika jatuh cinta, hidup seolah berwarna dan serasa menjadi orang paling beruntung di dunia.

Dalam persahabatan Vania, Evans dan Esa tumbuh benih-benih cinta hingga membuat hati mereka menjadi dilema. Rasa cinta mengalir begitu saja, Evans tak mampu lagi membendung rasa kepada Vania. Begitu pula Esa, yang menyimpan rasa suka kepada Evans, seorang pemilik resto terbesar di Jakarta, tempat Vania dan Esa bekerja.

Sayangnya cinta juga bisa membuat luka. Di saat hal itu terjadi, mungkin seseorang akan merasa menjadi orang yang paling tersakiti didunia.

Aditya kembali hadir dalam kehidupan Vania, setelah sekian lama berpisah sebab ia melanjutkan kuliah di luar negri. Sedikit kecewa yang Vania rasa karena selama Aditya menuntut ilmu disana, ia tak pernah memberi kabar kepadanya sedikit pun.

Lantas siapa yang akan Vania pilih, Aditya atau Evans? Ke mana hati akan menuntunnya untuk melabuhkan cintanya.

chap-preview
Free preview
Bab 1
Mama, aku udah pulang nih!" Vania baru pulang dari sekolah, ia duduk di sofa ruang tamu sembari melepas ransel dan sepatu miliknya. "Iya sayang, mama baru selesai masak makan siang, ayo makan gih mumpung masih anget!" suara melengking khas Wulandari terdengar dari dapur sampai ruang tamu. "Iya ma, Vania ganti baju dulu ya?" Dengan sedikit rasa lelah, Vania berjalan sambil membawa sepatu lalu menaruhnya di rak. Serta meletakkan tasnya di meja dan berganti baju. Ia bersenandung lirih menghibur diri setelah seharian beraktivitas di sekolah. Setelah selesai. Vania menuju ruang dapur. Ia mengambil gelas, lalu diisinya air kemudian meneguknya. "Ah lega, hari ini rasanya capek banget Ma", ucap Vania. "Kasihan anak mama yang cantik, makan dulu yuk?? setelah makan istirahat ya sayang" kata mama Vania sambil tersenyum. "Iya ma" sahut Vania mengangguk kepala. Vania sangat menikmati masakan sang Mama. Yang rasanya tiada duanya. "Vania, Mama mau antar pesanan kue ke tempat bu Rt. Kebetulan bahan kue juga udah habis, sekalian nanti Mama mau belanja. Mungkin pulang agak lambat". Kata Mama Vania seraya sibuk memasukkan kue kedalam kotak. "Aku temenin ya ma, kan nanti Vania bisa bantu bawain belanjaan mama", sahut Vania sedikit memohon. "Mama cuma belanja beberapa bahan aja kok, nggak banyak. Kamu dirumah aja istirahat". Sambung Mama Vania sambil mengecup kening putri kesayangannya. Setelah berpisah dengan suaminya. Wulandari berjuang merawat dan membesarkan putri semata wayangnya.Hanya sendiri tanpa ada seorang pun, yang mempedulikan keadaannya saat itu. Dengan membuka usaha toko kue, yang kian hari banyak pelanggan. Terkadang saking banyaknya pesanan. Ia dibantu Sarah tetangga dekatnya. Di suatu malam. Vania santai menonton tv bersama Mamanya, ia memencet remot tv guna mencari chanel acara kesukaannya. "Ma, besok nggak lupa kan?" tanya Vania. "Lupa apa?" jawab Wulandari pura-pura lupa. "Yah, mama masak lupa sih! Besokkan acara perpisahan kelulusan Vania, Ma!" Vania menjelaskan dengan sedikit merengek manja. Mamanya merasa gemas. Ia mencubit halus kedua pipi Vania sambil tersenyum. "Iya-iya.. mana mungkin Mama lupa di best momen putri kesayangan Mama!" jawabnya lirih. Kemudian, Vania tersenyum memeluk Mamanya. Keesokan harinya. Di acara perpisahan sekolah semua wali murid duduk berbaris mendampingi siswa/siswi. Vania tentu didampingi oleh Mamanya. Kedua netra Vania menelisik ke seluruh penjuru gedung. Ia melihat, hampir semua kedua orang tua teman-temannya hadir di sana. Hanya ada beberapa temannya, yang sama dengannya. Hanya di temani dengan salah satu wali muridnya. Saat itu juga. Kedua netra Vania berkaca-kaca. "Andai saja, Mama nggak berpisah sama Papa. Andai aja, aku punya Papa seperti Mereka. Andaikan aku tau siapa? Dan dimana Papaku berada!" Batin Vania bertanya-tanya. Vania memeluk mamanya dan menangis sendu. "Sayang, kamu kenapa? sakit?" tanya mama Vania panik kebingungan, yang tiba-tiba putrinya menangis dipelukannya. Vania masih menangis. Dan setelah merasa tenang, ia mengajak Mamanya pulang. Sesampainya dirumah. Masih dalam keadaan bingung Mama Vania bertanya keoada putrinya. "Vania sayang, kamu nggak apa-apa kan nak?" Vania menatap Mamanya dengan kedua netra sedikit lebam di sertai senyuman. "Nggak papa Ma, maafin Vania, ya. Pasti Mama panik, tadi. Vania tiba-tiba ingin sekali memeluk Mama. Vania bersyukur punya Mama pengertian, sabar dan sayang.. banget ama aku. Terimakasih, Ma" ucap Vania tukus dari lubuk hati yang paling dalam. Mama Vania terharu akan pernyataan putrinya. Bulir bening yang sudah membendung di pelupuk mata, menetes membasahi kedua pipinya. Ia memeluk Vania dengan penuh kasih sayang. Setelah lulus sekolah. Kegiatan Vania membantu mamanya membuat kue, dan mengantarkan pesanan pengunjung. Hari demi hari. Vania kian mahir membuat kue, menghias, bahkan pengunjungnya bertambah semakin banyak. Namun sayang, banyak juga tetangga Vania yang iri. Akan kemajuan usaha kue milik Mamanya. Ada juga tetangga yang suka ghibah, sampai menyebarkan gosip tentang kualitas kue buatan Vania buruk. Namun, Vania dan mamanya tidak menghiraukan dan hanya fokus dengan usahanya. Sampai suatu hari. Akibat dari gosip buruk yang menyebar tentang kue buatan Vania. Jumlah orderan kue Wulandari, semakin hari semakin berkurang. "Van, Mama rasa semakin hari kok pesanan semakin menurun ya, nak?" ucap Mama Vania heran. "Mama, yang namanya rejeki itu kadang naik, kadang turun. Air laut aja pasang surut, Ma. Kita berdoa aja, semoga rejeki kita selalu dilancarkan sama Tuhan". Jawab Vania mencoba menenangkan kegelisahan Mamanya. "Aamiin..." ucap Wulandari penuh harap. Hari demi hari, usaha kue mama Vania semakin sepi. Sampai uang hasil usaha kuenya tinggal beberapa ratus ribu saja. "Mama, gimana kalau kue-kue ini. Vania titipkan ke toko-toko dan kantin sekolah?" Vania mengutarakan idenya sambil memutar-mutar pena ditangannya. "Wah, kenapa Mama nggak kepikiran, ya? Ide bagus itu, nak!" seru Wulandari menyetujui lalu kemudian memeluk Vania. Selain menitipkan kue di toko-toko dan di sekolahan. Vania juga berkeliling komplek pemukiman, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia menawarkan dan menjual kue buatannya. Meski hasil penjualan tidak sebanyak dulu. Mereka sangat bersyukur dan bahagia. Vania duduk santai didepan rumah. Ia memandangi warna-warni bunga yang berjajar rapi di teras. Menghirup udara yang terasa segar lalu melepasnya perlahan. Mama Vania menyusul dengan membawa dua cangkir teh, untuknya sendiri dan Vania. "Sayang. Mama cari kamu di kamar, ternyata ada disini." Ucap mama Vania sambil tersenyum. "Mama, boleh nggak Vania kerja?" tanya Vania meminta izin saat mamanya menyesap teh hangat. "Uhuk.. uhukk" Wulandari tersedak mendengar Vania, ia segera melatakkan kembali cangkirnya di atas meja lalu mengelus d**a. "Pelan-pelan Ma, mama nggak papakan?" tanya Vania dengan nada khawatir. Mama Vania menggeleng kepala, yang mengartikan dirinya baik-baik saja. "Gimana? boleh ya Ma, please!" ulang Vania dengan wajah meyakinkan. Mama Vania menghela nafas. "Kenapa kamu ingin bekerja? kan kita sudah punya usaha sayang. Memangnga mau kerja dimana?" Tanya balik Wulandari yang terkesan menahan Vania, untuk tetap membantu mengembangkan usahanya saja. "Nggak papa sih Ma. Cuma, aku pengen aja kerja di tempat dan suasana baru. Bolehkan, ma? Nanti Mama biar dibantu Mbak Sarah di rumah," jawab Vania dengan harapan mendapatkan ijin. "Ya udah nggak papa. Kalau itu keputusan kamu, yang penting kamu bisa jaga diri dan berhati-hati, sayang." Tutur Wulandari memberi ijin. Lalu ia memeluk Vania bangga. Vania membuka ponselnya. Guna mencari info lowongan pekerjaan di Jakarta. Karena banyaknya lowongan pekerjaan pada saat itu. Ia mendapatkan informasi dari teman-temannya. Kemudian, ia memilih tempat-tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Semua lowongan pekerjaan di isinya. Entah mana yang akan memanggilnya nanti, meskipun hanya sekedar untuk interview. Beberapa hari kemudian. Benda pipih milik Vania berbunyi. "Hallo, iya betul, baik pak saya akan datang tepat waktu. Selamat siang, terimakasih!" jawab Vania menerima panggilan. Dengan raut wajah bahagia. Vania menghampiri mamanya di dapur dan memeluknya. "Mama! Alhamdulillah! Vania ada panggilan interview besok pagi. Di sebuah resto, yang nggak jauh dari sini." Teriak Vania dengan suara lantang serta bersorak bahagia. Ia membuat mamanya yang saat itu sedang memasak, kaget. Namun kemudian, ikut berbahagia melihat putrinya tersenyum lepas dengan lompatan-lompatan kegirangan. Di resto. Vania melangkah masuk lalu menghampiri seoarang waiters. "Emmh, permisi, Mbak.Ruang interview dimana, ya?" tanya Vania dengan sopan sambil tersenyum. "Oh di sana. Mari saya antar!" jawab Waiters itu, sembari berjalan menuju sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. *** bersambung.....

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

WAKTU YANG HILANG

read
43.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook