"Kamu tunggu disini. Atasan kami, sebentar lagi datang. Oh, iya. Nama kamu siapa? aku Esa." Waiters itu memperkenalkan diri.
"Aku Vania, salam kenal." Sahut Vania lalu keduanya tersenyum saling berjabat tangan.
"Oke Vania. Kamu tunggu ya, aku lanjut kerja dulu. Semoga interviewnya lancar. Semangat, ya!" Esa memberi semangat karena melihat Vania sedikit tegang.
"Iya, terimakasih." Vania tersenyum lalu mengangguk.
Sembari menunggu, Vania bersenandung lirih menghibur diri.
Beberapa menit berlalu. Sesekali Vania melihat jam berwarna gold yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. Menunggu memang hal yang paling membosankan. Namun kali ini, Vania menunggu dengan perasaan senang dengan penuh harapan.
"Ya Tuhan, semoga aku diterima kerja, di sini," batin Vania berdoa dalam hati.
Dipanggilnya Vania masuk ke ruang interview.
"Permisi pak. Selamat pagi. Saya Vania, yang kemarin ada panggilan interview pagi ini."
"Silahkan duduk!"
Belum selesai Vania memperkenalkan diri. Pria tampan yang tengah duduk tanpa melihat Vania, mempersilahkan Vania untuk duduk tanpa menghiraukan salam serta penjelasan dari Vania. Pria tampan itu sibuk menandatangani, serta membolak-balik beberapa file di atas meja kerjanya.
Seketika Vania diam. Lalu mendudukkan diri di kursi tepat di depan meja kerja pria tampan itu. Ia memperhatikan interior di dalam ruangan ber ac nan mewah itu. Baru pertama kali ia berada di ruangan senyaman itu.
"Hmmm, serasa berada di puncak gunung. Sejuk, dingin serta melihat pemandangan yang menyejukkan mata," batin Vania bibirnya merekah tersenyum manis.
Dengan hati berdebar. Vania memperhatikan pria tampan yang sedari tadi masih asyik dengan kesibukannya. Membolak-balik kertas dan memainkan pena yang dipegangnya.
"Besok pagi kamu mulai bekerja disini." Tanpa basa basi Pria tampan itu, menerima Vania menjadi karyawati baru di resto miliknya.
"Hah! Apa, Pak, Saya di terima kerja di sini?"
Vania memastikan tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Kedua matanya membulat. Ia kaget sekaligus heran. Belum ada pertanyaan yang ia dengar satu pun. Layaknya interview dengan segudang tanya jawab, seperti di film ataupun di acara televisi yang pernah ia tonton.
"Iya, kenapa? Apa kamu berniat membatalkan bekerja disini?"
"Nggak gitu maksut saya, Pak. Nggak nyangka aja, belum ada pertanyaan apa-apa dari bapak. Saya sudah diterima bekerja disini. Saya nggak lagi mimpikan, ini!" Vania mencubit lengannya sendiri memastikan jika ia tidak sedang bermimpi.
"Aduh! Ternyata nggak mimpi." Vania menunduk malu mengelus lengannya yang sakit, sebab ia cubit dengan keras.
"Kenapa? Sakit? Lagi pula apa perlu saya memberi kamu pertanyaan layaknya ujian sekolah?" Pria tampan itu menggelengkan kepalanya melihat Vania salah tingkah di hadapannya.
Pria tampan yang tengah duduk di hadapan Vania, saat ini. Bernama Evans Haidar. Yang merupakan pemilik resto, terbilang besar di Jakarta. Kelihatannya saja jutek. Namun, sebenarnya hatinya baik.
"Maaf pak! Saya kira akan ada tanya jawab seperti di film atau di televisi seperti yang pernah saya lihat," jawab Vania polos.
Ia tersenyum manis pipinya mulai memerah tersipu malu. Setelah selesai interview. Vania pamit dan berterimakasih. Ia keluar sembari menutup pintu.
"Yes! Aku diterima!" Seru Vania lirih lalu berjalan ke arah pintu keluar.
Seperti biasa. Setelah tujuannya selesai, ia langsung pulang. Vania berbeda. Tidak seperti kebanyakan anak remaja yang suka kelayapan.
***
"Gimana sayang interviewnya?" tanya mama Vania penasaran,
"Belum rejeki ma," jawab Vania.
Seketika Wulandari tampak sedih.
"Tapi boong! Ya, pasti diterima dong Ma, besok Vania udah mulai kerja," sambung Vania mencoba mengerjai Wulandari.
"Kamu mau ngerjain mama ya! Tadi bilangnya belum rejeki?" Sahut Wulandari sambil menggelitik pinggang Vania.
"Ih, Mama geli tau!" Vania tertawa sampai kedua matanya mengeluarkan bulir bening saking gelinya.
"Ya, sekali-sekali Mama biar penasaran dong!" Jawab Vania kemudian.
Wulandari menggeleng kepala. Ia tambah gemas dengan ulah Vania. Lalu kemudian memeluk Vania.
Selanjutnya Vania dan mamanya bercengkrama layaknya kedua kakak adik. Yang saling bertukar cerita dan bercanda tawa. Ya! mereka lebih terlihat seperti saudara, bukan seperti mama dengan anak. Karena Wulandari tampak 10 tahun lebih muda dari usianya, saat ini. Jadi banyak juga yang mengira Wulandari itu, kakak Vania bukan Mamanya.
***
Di hari pertama Vania bekerja. Ia sangat berhati-hati melakukan pekerjaannya. Ia selalu ingat pesan mamanya.
"Saat kerja harus fokus dan berhati-hati. Nggak boleh ngeluh! Jangan lupa makan bekal dari Mama, sayang!" pesan Wulandari.
Maklum, ini kali pertama Vania berkerja setelah lulus sekolah. Disaat sibuk, Vania kerap lupa makan. Sekalipun hanya makan biskuit untuk mengganjal perutnya yang kosong.
"Hai, kamu Vania yang kemarin interview kan?" sapa Esa Yuanita seorang Waiters di resto tersebut.
"Iya betul, Mbak!!" jawab Vania membenarkan.
"Jangan panggil mbak dong! Panggil aja Esa! Kayaknya kita seumuran deh," sahut Esa.
Vania mengangguk kepala, tersenyum manis.
"Sa. Kamu udah lama kerja disini?"
"Ya lumayan sih, kurang lebih udah satu tahunan. Kalau nggak salah." Esa mengingat-ingat memori di pikirannya, maklum ia sedikit pelupa.
"Hmm. Berarti kamu betah kerja disini. Semoga aku juga begitu. Sebenernya aku sedikit gerogi sih! Mungkin karena baru pertama kali kerja."
Jantung Vania berdebar namun, ia berusaha tetap tenang dan berhati-hati melakukan setiap pekerjaanya.
"Kamu pasti betah disini Van. Temen-temen disini baik kok, semua ramah. Yang paling bikin aku betah lagi," Esa berhenti berbicara.
Esa malu melanjutkan hal paling utama yang membuatnya betah kerja di resto itu. Kedua pipi Esa memerah, terlihat Esa senyam senyum nggak jelas. Membuat Vania semakin penasaran.
"Lhoh! Kok nggak dilanjutin, nggak asik tau!" kedua alis Vania menyatu, ia penasaran. Kedua matanya menatap tajam seolah membidik tepat sasaran.
"Kalau yang satu ini, banyak yang naksir. Cowok idaman pokoknya mah! Bisa jadi kamu naksir juga sama dia." Cerocos Esa malah menyudutkan Vania.
"Naksir siapa? Lagian yang naksirkan kamu, kok aku kamu bawa-bawa." Vania tertawa, tangannya mencubit pinggang sahabatnya, Esa terkekeh geli.
"Siapa sih yang kamu maksut?" tanya Vania penasaran.
"Hah! Masak kamu nggak tau sih," protes Esa.
Vania menggeleng, nggak tau siapa cowok yang dimaksut sahabatnya itu.
"Evans, lah! siapa lagi!" sambung Esa.
Esa menoleh ke kanan serta ke kiri, memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"What? Evans Haidar pemilik resto ini!" Kedua mata Vania membulat. Ia terkejut dengan jawaban Esa, yang bqru di bisikkan di telinganya.
"Emangnya kamu nggak naksir?"
"Enggak, biasa aja tuh."
"Hah!" Esa melongo nggak percaya dengan jawaban Vania.
"Mana mungkin ada cewek yang nggak terpesona dengan ketampanan, Evans Haidar. Terlebih, ia pemilik resto yang terbilang besar. Orang tuanya juga memiliki beberapa perusahaan. Apapun yang Evans mau, tinggal tandatangan saja di atas kertas. Saban hari, ada aja cewek yang datang ke resto. Mereka ngaku-ngaku pacarnya Evans. Sedangkan Evans nggak kenal sama mereka. jangankan kenal pernah ketemu aja enggak! Tapi kok bisa Vania cuek bebek gitu ya?" batin Esa heran dengan sikap Vania yang biasa saja saat membicarakan Evans.
Vania sangat berbeda. Nggak seperti teman Esa lainnya yang begitu antusias, memuji katampanan seorang Evans Haidar.
"Coba sini deh! ah sama beda dikit." Esa menjulurkan tangannya menempelkan tangan punggungnya, ke dahi Vania. Guna memeriksa suhu tubuh, membedakan dengan suhu tubuhnya sendiri. Selanjutnya, ia menelisik dari ujung rambut sampai ujung kaki Vania.
"Kamu kenapa sih, Sa! Ngeliatin aku sampai segitunya, apa ada yang salah?" protes Vania dengan tingkah Esa yang membuatnya berfikir ada yang salah dengan penampilannya, hari ini.
"Nggak ada sih." Esa menggeleng kepala.
"Yaudah yuk lanjut kerja lagi," Vania mengabaikan sikap Esa barusan.
"Okkey" jawab Esa lebih bersemangat.
Mengingat Vania bukan tipe cewek, yang mudah tertarik dengan cowok. Hanya dengan melihat fisik dan materi. Sekalipun cowok itu tampan seantero Indonesia. Keren, kayaraya, fisik dan materiil nggak akan meluluhkan Vania.
Bagi Vania, materi bukan landasan utama cinta. Cinta adalah sebuah perasaan tulus yang berasal dari hati. Dan bahagia tak melulu membutuhkan materi.
Saat ini. Vania hanya fokus dengan impiannya. Ia ingin menjadi wanita karir yang mandiri. Bisa meringankan beban dan membahagiakan Mama tercintanya. Menikmati setiap momen dalam hidupnya. Karena, ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok.
Urusan cowok, Vania tak ambil pusing. Jodoh takkan kemana. Vania yakin rejeki telah tertakar. Dan jodoh tidak akan tertukar. Tetapi ia tak sadar cinta itu penuh misteri perasaan suka akan datang tanpa terduga. Entah dengan siapa dimana dan kapan waktunya tiba.
Setelah beberapa bulan bekerja. Vania dan Esa bersahabat dengan sangat baik. Vania mudah beradaptasi dengan lingkungan tempat ia bekerja dan akrab dengan teman-temannya.
Vania cantik, ramah, rajin, cekatan dan disiplin. Ia selalu berhati-hati dan fokus dengan pekerjaannya. Hingga ia tak sadar, ada dua pasang mata yang kerap kali memperhatikannya dan tersenyum dari kejauhan. Mungkin baginya Vania berbeda dari gadis lain. Sehingga mampu membuatnya penasaran. Namun enggan untuk menghampiri walau hanya untuk sekedar menyapa saja. Ia lebih suka memperhatikan Vania secara diam-diam. Tidak seperti Dion teman dekatnya, yang kerap kali tebar pesona dengan sejuta gombalan. Untuk meluluhkan hati setiap wanita cantik yang ia lihat.
***
bersambung...