Di resto. Dua pasang mata itu tak sengaja tertangkap pandangan Vania. Keduanya saling memandang dalam hitungan detik. Ya, Evans Haidar lah yang diam-diam memperhatikan Vania dari lantai dua, tepat di depan pintu ruangannya.
Evans langsung memalingkan muka berpura-pura memperhatikan yang lain. Guna menutupi bahwasannya, ia tertangkap basah sedang memperhatikan Vania. Vania hanya berdiri diam. Di pikirannya, mungkin atasannya sedang melihat kinerja para karyawannya saat ini. Tanpa berpikir yang aneh-aneh. Ia melanjutkan pekerjaannya, sebab di jam-jam makan siang seperti ini resto selalu ramai pengunjung.
Memang Evans seringkali memperhatikan para karyawannya di lantai atas. Tak segan ia sesekali turun menyambut para pengunjung dan membantu melayani secara langsung. Dengan senang hati tanpa rasa malu, sebagai pemilik restoran. Evans tak pernah menyombongkan dirinya sebagai bos. Ia menganggap para karyawan yang bekerja di restoran miliknya, sebagai bagian dari keluarganya. Evans juga sangat baik dan akrab dengan semua karyawan.
"Woy bos! nglamun aja. Awas! nanti kesambet lu!" Dion menepuk pundak Evans membuyarkan lamunannya.
Dion adalah teman dekat Evans. Ia ganteng dan humoris. Hampir setiap hari ia selalu datang ke restoran milik Evans. Namun, kesibukan belakangan ini membuatnya jarang berkunjung.
"Ck, kemana aja baru nongol? nggak tersesat kamu tadi?" Evans berdecak kesal sebab Dion sudah membuatnya kaget.
"Ya nggak lah, baru aja seminggu nggak kesini lu kangen ya ama gue? Gue emang ngangenin! Pasti semua cewek di resto ini merindukan kehadiran seorang Dion." Sahut Dion tertawa ke-pede-an sambil menyugar rambutnya kebelakang.
Evans menyunggingkan senyuman, menggeleng kepala mendengar pernyataan Dion.
"Ya sorry, jadwal gue akhir-akhir ini padat merayap bro! makanya pas lo telfon kemarin, gue nggak bisa dateng." Dion meminta maaf sebab ia tidak bisa menghadiri acara Evans kemarin.
"Waiters baru, siapa namanya?" tanya Dion spontan melihat Vania sibuk mengantar pesanan pengunjung.
"Kenalan aja sendiri!" sahut Evans.
"Cantik juga, sayangnya gue udah terlanjur deketin Esa. Taunya ada yang lebih seger."
"Kenapa nggak kamu deketin dua-duanya aja sekalian? atau sekalian aja tuh semua cewek di resto ini banyak tuh! Kan diluaran sana banyak juga yang kamu deketin." Evans geram mengingat tingkah temannya yang playboy. Semua Waiters di restonya sudah pernah Dion pacari. Saat ini, ia pendekatan dengan Esa. Masak iya, Vania mau di embat juga. Bener-bener si Dion ini.
"Santai bro, Vania buat lo aja deh! lo kan jomblo. Sekali-kali gue ngalah buat lo, sana deketin masak kalah sama gue!" Dion menepuk-nepuk punggung Evans.
Ia membujuk Evans untuk membuka hatinya untuk wanita. Mengingat Evans masih jomblo setelah putus dari Monika, dua tahun yang lalu. Sampai saat ini. Ia lebih memilih sendiri tanpa kekasih hati. Kebanyakan wanita yang mendekatinya hanya karna materi semata. Nggak tulus dari hati seperti Monika.
Evans mendengkus dengan kasar. Ia melangkahkan kaki menuju ruangannya, meninggalkan Dion yang masih berdiri melongo melihat Evans mengabaikannya.
Evans kemudian duduk di sofa. Tangannya meraih benda pipih di atas nakas. Ia membuka pasword benda pipih yang saat ini berada di tangannya. Kemudian membuka galery menggeser foto-foto kebersamaannya bersama Monika. Terlihat sangat serasi dan bahagia. Namun sayangnya kecelakaan tak terhindarkan merenggut nyawa kekasihnya kala itu.
Brak! Tabrakan tak terhindarkan lagi. Sebuah mini bus menabrak seorang wanita yang hendak menyebrang, di depan sebuah cafe. Diduga supir mini bus itu mengantuk sehingga tidak bisa mengendalikan laju mini bus yang ia kendarai, hingga menabrak korban. Seketika jalanan macet total. Orang-orang berkerumun menolong korban. 15 menit kemudian, polisi datang di tempat kejadian mengamankan supir mini bus, serta mengatur lalu lintas.
Evans menunggu kedatangan Monika, di cafe yang tak kunjung datang. Ia mengambil benda pipih dari saku kemejanya. Kemudian menghubungi kekasihnya itu. Namun sambungan tidak terhubung. Ia mengulangnya berkali-kali tetap tak ada jawaban. Evans kembali lagi menekan nama Monika di benda pipih berwarna hitam itu. menempelkan di telinganya. Namun kali ini, jawaban operator yang ia dapat. Menandakan nomor kekasihnya tidak aktif, tidak bisa ia hubungi lagi. Evans merasa cemas, baru kali ini Monika terlambat. Bahkan sudah sangat terlambat. Biasanya Monika datang lebih awal dan menunggu kedatangannya. Namun kali ini, ia susah sekali di hubungi. Evans mulai khawatir, benaknya bertanya-tanya dimana kekasihnya saat ini.
Evans menoleh kearah luar, yang dilapisi dinding kaca bening. Sehingga ia dapat melihat dengan jelas kerumunan Orang dan banyak polisi di depan cafe. Ia mulai cemas, pikirannya tertuju kepada kekasihnya. Jantungnya berdebar, takut suatu hal yang tak di inginkan terjadi pada kekasihnya.
"Ada apa di depan sana?" Evans bertanya kepada salah satu pelayan cafe.
"Ada kecelakaan minibus, menabrak seorang wanita pak!" jawab pelayan cafe.
Jantung Evans mulai berdetak cepat, dadanya mengembang kempis. Kekhawatirannya memuncak. Ia segera berlari keluar, membelah kerumunan orang-orang yang menonton korban dengan susah payah. Akhirnya ia sampai, di mana seorang wanita wajahnya berlumuran darah tergeletak di aspal yang sangat keras.
Seketika tubuh Evans lemas. Betapa kagetnya Evans. Ternyata korban kecelakaan itu adalah Monika kekasih hatinya.
"Monik! Monika bangun!" Teriak Evans.
Evans memangku kepala kekasihnya. Ia berusaha menyadarkan wanita terkasihnya. Entah sejak kapan, bulir bening memenuhi pipi Evans, menetes ke wajah ayu terkasihnya.
Dengan berat, Monika membuka kedua matanya. Meringis menahan sakit dikepalanya akibat terbentur aspal jalanan. Lalu memejamkan matanya lagi.
"Ambulans! Mana ambulans cepat panggil!" teriak Evans, amarahnya memuncak melihat kerumunan orang yang hanya menonton tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sedang perjalanan menuju kesini pak," jawab salah seorang polisi yang bertugas disana.
Evans berusaha kuat melihat kekasihnya terkapar tak berdaya. Tangannya gemetar mengelus rambut Monika yang berlumuran darah. Bulir bening terus mengalir dari mata Evans. 5 menit kemudian, ambulan datang di tempat kejadian. Seorang polisi bernama Bripda Teguh Wibowo, ikut serta masuk ke dalam mobil ambulan menemani Evans Haidar.
Dengan segera mobil ambulan membawa Monika menuju rumah sakit terdekat.
"Monika kamu harus kuat sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" batin Evans.
Evans berusaha tegar, meskipun rasa takut tengah menggerogoti ketenangannya. Kedua tangan Evans menggenggam erat tangan Monika yang tampak semakin pucat. Selain memang kulit Monika putih. Monika telah banyak mengeluarkan darah hingga terlihat begitu pucat.
Setibanya di rumah sakit. Evans segera membopong kekasihnya menuju ruang UGD. Seorang dokter dan perawat berlarian dengan mendorong sebuah ranjang pasien secepat mungkin. Guna membantu Evans. Selanjutnya, membawa masuk Monika ke dalam ruang UGD.
"Anda tunggu diluar biarkan kami menangani pasien!" ucap salah satu perawat menahan Evans di depan pintu.
"Tapi aku harus masuk, Monika pasti ketakutan di dalam sana!" jawab Evans tegas berusaha masuk ke dalam ruangan. Namun, terhalang oleh dua orang perawat.
"Mohon anda mengerti" sahut perawat dengan cepat, ia menutup pintu.
Evans menyugar rambutnya dengan kasar. Wajahnya tampak cemas dengan perasaan takut. Sebenarnya, Evans ingin sekali mendampingi kekasihnya di situasi seperti ini.
"Mungkin. Monika saat ini sedang ketakutan didalam sana. Tuhan tolong kuatkan Monika jangan sampai terjadi apa-apa dengannya. Aku tak sanggup! Tolong Tuhan sembuhkan dia." Batin Evans dengan harapan begitu besar.
Bripda Teguh Wibowo merasa simpati. Membuat kedua matanya berkaca-kaca, memahami perasaan Evans saat ini. Namun, Bripda Teguh sadar. Bahwa yang bisa ia lakukan hanyalah, berusaha untuk menenangkan dan mengajak Evans duduk di kursi tunggu, tepat di samping pintu masuk ruangan UGD.
Tak lama kemudian. Kedua orang tua Monika datang menghampiri Evans, yang tengah duduk dikursi tunggu rumah sakit, bersama Bripda Teguh yang tepat berada di sisi sebelah kiri Evans. Evans yang masih terlihat syok, mengingat apa yang terjadi hanya bisa diam menunduk. Tak tau harus bagaimana? Ia menjelaskan kepada orangtua Monika.
Perasaan cemas dan khawatir akan keadaan putrinya. Orang tua Monika menlontarkan pertanyaan, demi pertanyaan, serta meminta penjelasan dari Evans. Namun, Evans hanya bisa diam tak mampu memberi penjelasan. Seperti orang kebingungan.
Kemudian, Bripda Teguh yang ikut serta mengantarkan tadi. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kepada kedua orangtua Monika.
Bagaikan tersambar petir disiang bolong, mendengar penjelasan pak polisi. Tubuh Ratna Kamila, mama Monika seketika lemas tak berdaya, sampai hampir terjatuh. Beruntung Hermawan suaminya, cepat menopangnya dari belakang.
Mereka duduk dengan perasaan cemas, serta menunggu dengan penuh harapan. Orangtua Monika tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan putrinya. Dengan harapan yang sangat besar, berharap dokter keluar membawa kabar baik tentang keadaan putrinya.
Sedari tadi seorang perawat keluar masuk ruang UGD dengan langkah tergesa-gesa. Kepanikan serta ketegangan menyelimuti wajah mereka.
"Suster! Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Hermawan dengan perasaan resah dan gelisah.
Namun perawat itu hanya menunjukkan wajah panik, segera masuk kembali ke dalam ruang UGD.
***
Bersambung...