Bab 4

1834 Words
Detik demi detik berlalu kegelisahan semakin memuncak. Di saat dokter Hilmy yang menangani Monika keluar dari ruang UGD, bersama seorang perawat. Dengan ekspresi sedih menundukkan kepala. Dokter Hilmy menghela nafas. Dengan berat, ia harus menyampaikan keadaan pasien kepada keluarganya. "Keluarga nyonya Monika Hermawan," dengan nada rendah dan berhati-hati dokter Hilmy memanggil keluarga pasiennya. "Saya dok, bagaimana keadaan anak kami dok?" sahut Hermawan papa Monika. Dengan langkah gontai, ia merangkul Ratna Kamila, istrinya. Dan segera menghampiri dokter Hilmy, yang tak jauh dari tempat duduknya. Evans beranjak dari tempat duduknya. Ikut serta menghampiri seorang pria yang mengenakan jas panjang berwarna putih, lengkap dengan stetoskop yang di kalungkan di lehernya. "Gimana keadaan Monik, Dok?" tanya Evans dengan nada bergetar. Ia menatap wajah Dokter itu yang tampak pucat. "Kami mohon maaf, nyonya Monika.." "Monika Kenapa Dok! Jawab!" sahut Hermawan dengan tegas di iringi dengan isakkan, Ratna Kamila. Dokter Hermawan terdiam, sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya. "Nyonya Monika terlalu banyak kehilangan darah, akibat benturan di kepala beliau. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi... Maafkan kami. Nyonya Monika tidak bisa kami selamatkan." Dokter Hilmy menunduk dengan mata berkaca-kaca. Ia turut merasakan kesedihan yang mendalam atas kepergian Monika. Ia juga merasa gagal sebagai seorang dokter. Perawat disampingnya, tak kuasa menahan buliran bening yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya. "Apa! Nggak Dokter! Nggak mungkin! Tolong! Coba periksa lagi. Aku yakin, putriku masih hidup!" Hermawan berontak. Ia tidak terima dengan pernyataan dokter Hilmy barusan. Tidak mungkin putri semata wayangnya pergi begitu cepat meninggalkannya. Ratna kamila menangis sejadi-jadinya. Sedetik kemudian, penglihatannya mulai kabur dan gelap. Dengan sigap Hermawan menahan tubuh istrinya yang hampir terjatuh pingsan. "Nggak.. nggak mungkin! Dokter salah. Monika masih hidup. Cepat dokter periksa lagi! Monika masih hidup Dok!" teriak Evans. Ia tak terima dengan pernyataan dokter Hilmy. Pikirannya seketika kosong. Hatinya terasa mati. Ia jatuh, lututnya tersungkur di atas lantai. Kedua tangannya meremas dengan keras rambut berwarna hitam di kepalanya. "Vans. Evans." Terdengar samar tidak begitu jelas di telinga Evans. "Woy! Ngelamun lagi bos. Lama-lama bisa kesambet beneran lo," bentak Dion kesal melihat Evans. Sebab tidak menghiraukan panggilannya sedari tadi. Evans terperanjat kaget. Ia segera menyeka bulir bening disudut matanya. "Sialan! ngagetin orang aja dari tadi!" ucap Evans kesal. Ia merasa terganggu dengan kehadiran Dion. "Habisnya gue panggil dari tadi diem aja, mlototin Hp!" protes Dion tak kalah kesal. "Liat apa sih lo, sampe segitunya!" Wajah Dion mendongak. Berusaha melihat gambar layar di benda pipih berwarna hitam yang berada di tangan Evans. Sekilas Dion melihat foto gadis cantik yang tidak asing dimatanya. Sebelum dengan cepat Evans menyimpan benda pipih itu, di dalam saku kemeja putih yang melekat di tubuhnya. "Dasar kepo!" Umpat Evans. "Monika?" Ucap Dion lalu menghela nafas. Ya, foto gadis itu adalah Monika. Mantan kekasih Evans yang meninggal dua tahun yang lalu. Akibat kecelakaan itu, membuat kekasih Evans merenggang nyawa. Evans menoleh kearah Dion sebentar, lalu kemudian memalingkan wajah, cuek. "Sampai kapan lo seperti ini. Ya! gue tau lo cinta mati sama Monika. Tapi sadar boss. Alam lo sudah beda sama dia. Udah ikhlasin!" Dion berusaha menyadarkan Evans. "Eh, malah bengong lagi ni anak," Evans hanya diam, tak menghiraukan omongan Dion yang nyerocos sendirian. "Kau akan tetap hidup di dalam hatiku dan pikiranku. Meski ku sadar, kau tlah tiada" batin Evans. Perpisahan memang nampak seperti akhir. Dan selamat tinggal mungkin akan selamanya. Namun di dalam hatinya masih tersimpan kenangan bersama Monika yang akan senantiasa ada. Jatah hidup kita di dunia hanya sekali. Kita pun juga sangat paham kalau saja kita bisa meninggal sawaktu-waktu. Dan terkadang kita juga baru sadar bahwa kematian bisa datang kepada siapa saja. Termasuk ke orang yang paling kita cintai. Kapan pun dan di saat sama sekali tak kita duga. *** Jam Istirahat. Vania dan Esa duduk sambil bercengkrama di ruang pantry. Sebuah ruangan yang di desain khusus oleh Evans untuk para pelayan restorannya. Agar bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman di saat jam istirahat tiba. Bukan hanya tempat makan saja. Ruang pantry juga sebagai sarana bersosialisasi dan merilekskan diri bagi para pelayan restoran. "Van, kamu bawa bekal apa hari ini?" tanya Esa penasaran. "Aku bawa kue bikinan mama. Oh, iya. Mama juga bikin kue special lhoh buat kamu." Vania tersenyum menyodorkan bingkisan kue dari mamanya, untuk di bagikan kepada Esa sahabatnya. "Wah! thankyou soo much Vania," Esa sumringah membuka bingkisan lalu mengambil sepotong kue, kemudian memasukkan nya kedalam mulutnya. "Hmm. Enak bangget lembut, manisnya pas nggak bikin enek," ekpresi Esa mirip iklan di televisi. Ia benar-benar menikmati kue pemberian mama Vania. "Iya dong! Siapa dulu yang buat?" Vania tertawa. "Kapan-kapan mau dong di ajarin bikin kue Van. Kali aja nanti kalau aku udah punya cowok. Pas cowokku ulang tahun, aku bikinin kue sendiri kan soo sweet." cerocos Esa terkekeh. "boleh, kapan-kapan main ke rumahku, nanti aku ajarin." Vania masih terkekeh. "Serius ya. Oh, iya. Tadi aku liat Evans di lantai dua." Esa mangalihkan pembicaraan. "Emangnya kenapa? kan pak Evans memang sering liatin karyawannya kerja." Ucap Vania tak heran. Ini bukan kali pertama Evans berdiri di lantai dua, tepat di depan ruangannya. Dan menurut Vania, ini hal yang wajar. Seorang bos mengamati kinerja dan perkembangan restorannya. "Ih! nggak gitu Van. Aku liat perbedaan raut wajah Evans beda dari biasanya." Jawab Esa serius. "Beda gimana? sama aja tuh nggak berubah. Kecuali kalau pak Evans operasi wajah. Baru dia berubah." Vania tertawa membayangkan gimana jadinya, Evans atasannya oprasi wajah beneran. "Vania nggak lucu deh! aku serius!" Esa cemberut merasa sangat kesal. "Oke-oke beda gimana?" kali ini Vania menanggapi dengan serius. "Beda Van. Hari ini, dia tuh keliatan lebih sumringah. Sering tersenyum gitu, nggak kayak kemarin-kemarin." "Jadi sebelumnya pak Evans cemberut terus?" ejek Vania menanggapi. "Tuh kan Vania bercanda mulu deh! Sebal!" sahut Esa dengan pandangan sinis. "Sorry-sorry! Masak iya sih?" jawab Vania seraya melanjutkan makan siangnya. "Iya. Makanya aku ngomong gini ke kamu." "Mungkin dia lagi jatuh cinta," jawab Vania asal. "Jatuh cinta? Apa iya ya? Tapi sama siapa?" Esa melirik Vania dengan sorotan tajam. Vania mengedikkan bahunya, seakan acuh nggak mau tau. Di pikiran Esa hanya dia yang selama ini mengagumi seorang Evans, di restoran ini. Ia juga begitu perhatian kala bertemu Evans. Apa mungkin Evans udah peka dan mulai suka sama dia. Senyum Esa merekah. Hatinya serasa berbunga-bunga. Vania menatap heran sahabatnya. Nggak ada angin, nggak ada hujan malah ngelamun senyam senyum sendiri. "Sa, nglamunin apa kamu?" Vania menepuk pundak Esa. Membuat Esa terkejut. Esa mengeryit dan terdiam. Ketika melihat seorang pria tersenyum tipis. Terlihat dari kejauhan sedang berjalan menghampiri dirinya dan Vania duduk. Esa menghela nafas kemudian memalingkan muka. Seakan ia malas bertatapan dengan pria tersebut. "Hallo Esa sayang, lagi makan ya?" tanya Dion basa-basi. "Nggak, lagi tidur!" jawab Esa asal. Vania menyenggol lengan Esa. Mata Vania melirik tajam, ia heran dengan sahabatnya asal jawab gitu saja. Esa hanya mengedik. Ia muak melihat tampang Dion. Setelah ia tahu, Dion ternyata playboy. "Kamu kenapa Sa? kamu marah karna beberapa minggu ini aku nggak dateng kesini? Jangan marah dong, cantik kamu ilang tuh kalau kamu marah." Dion mencoba merayu Esa. "Bodo amat!" jawab Esa sinis. Vania tampak heran memperhatikan perubahan raut wajah Esa. Yang tadinya sumringah, berubah kesal dalam hitungan detik. Semenjak kedatangan Dion. Vania menatap Dion sekilas, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kearah Esa lagi. Sebenarnya Vania ingin tertawa melihat tingkah Dion dan Esa. Namun, ia menahannya. "Ngapain kamu kesini? mau godain cewek-cewek di restoran ini? masih kurang cewek di luar sana!" umpat Esa. Yang kini kehilangan selera makannya. "Cewek mana? kata siapa? orang di hatiku cuma ada nama kamu, Esa. Nih coba kamu rasain kalau nggak percaya!" tangan Dion meraih tangan Esa, lalu menempelkannya di d**a bidangnya. "Ih! Apa-apaan sih!" Esa merasa jijik. Ia segera menarik tangannya kemudian melangkah pergi meninggalkan Dion dan Vania di ruang pantry. Vania melayangkan tatapan kearah Esa. Yang melangkah meninggalkan ruangan itu dan menghilang dibalik pintu. Begitu pun Dion. Ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu menarik kursi, kemudian mendudukkan diri bersama Vania. "Kamu kok malah duduk, kejar sana! Nggak peka banget sih jadi cowok." Vania menggeleng. "Heran deh, bukannya ngejar Esa malah duduk disini." Batin Vania. Dion mengambil beberapa potong kue di kotak bekal Vania. Lalu kemudian,memakannya sampai kedua pipinya menggembung penuh. Ia tak kalah heran memikirkan Esa. Tak seperti cewek lain yang kerap kali ia beri sedikit rayuan, langsung klepek-klepek. Dengan susah Vania menelan salivanya. "ini anak laper apa doyan ya?" batin Vania. "Van, kamu udah punya pacar belum?" tanya Dion membuka percakapan. "Uhuk." Vania terbatuk mendengar pertanyaan Dion. Ia segera meraih botol. Kemudian membuka tutupnya, lalu meneguk air mineral yang ada di dalamnya. "Emang kenapa kamu tanya kek gitu?" Vania balik nanya. "Aku mau comblangin kamu ke temenku Van. Kasihan dia kelihatannya sih nggak apa-apa. Berlagak kuat sekuat baja. Aslinya rapuh!" Yang Dion maksud itu Evans, tapi tak ia sebutkan namanya. "No, no, no. Apaan sih main comblang-comblang aja! Emangnya dia bener-bener nggak laku sampe minta di comblangin kek gitu? Nggak lucu tau! Secara ini jaman now!" Vania terkekeh. "Eh nggak gitu, dia nggak minta di comblangin. Tapi," Dion bingung bagaimana menjelaskan keadaan temannya kepada Vania. Vania menggeleng kepala. Sejurus kwmudian meninggalkan Dion yang masih kebingungan dan kemudian menghilang di depan pintu. "Heran gue. Apa salah mau bantuin temen biar nggak jomblo mulu!" gerutu Dion sendirian di ruang pantry, ia lupa kalau dia sendiri juga masih jomblo. Meskipun banyak cewek yang klepek-klepek dengan rayuan gombalnya. Tapi tak satupun ia jadikan pacar. *** Lagu Ruang Rindu, yang di populerkan oleh group band Letto. Mengalun dengan indahnya. Entah sudah berapa kali lagu itu di ulang-ulang kembali. Namun tak bosan-bosannya, para pengunjung restoran mendengarkannya. Lagunya enak banget ya Van. Adem dengernya," Esa bertanya namun Vania hanya diam dengan pandangan kosong. Vania terdiam. Lantunan musik yang saat ini ia dengar, mengingatkannya pada sebuah janji. Aku janji, aku pasti kembali Beneran janji ya, awas kalo bo'ong! Iya janji Kedua jari kelingking itu terjalin membentuk sebuah simbol. Bayangan kenangan indah masa lalu itu kembali menyelinap dalam benaknya. "Ruang Rindu. Lagunya Letto suka banget aku Van." Esa menoleh memperhatikan Vania, namun tiada jawaban. "Van, kamu mikirin apa sih?" tanya Esa kesal dengan nada lebih keras. "Eh, anu enggak kok," Vania terhenyak lalu menyelipkan rambut panjangnya yang terurai ke belakang telinganya. "Hayo! Lagi mikirin apa sih?" Esa semakin penasaran. Vania hanya tersenyum penuh arti. "Kau harus menepati janjimu, aku menunggu dan masih menunggu" batin Vania dalam hati. *** Evans Haidar terdiam dalam lamunan. Kejadian dua tahun silam membuatnya sangat terpukul. Ia begitu sangat mencintai Monika. Bagaimana pun juga, Monika adalah cinta pertamanya. Sampai saat ini, perasaan cinta Evans untuk Monika tidak pernah berubah sedikit pun. Jaya Haidar Sasongko papa Evans. Turut sedih melihat putranya terpuruk dalam kisah masalalu nya. Kerap kali Jaya Haidar memperkenalkan Evans dengan beberapa wanita, anak dari rekan kerjanya. Namun Evans menolaknya. Di lain kesempatan. Evans pernah mencoba membuka pintu hatinya kepada seorang wanita yang tak kalah cantik dan menariknya dengan Monika. Tentunya atas permintaan papanya. Namun ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Tetap saja ia tak bisa menerima kehadiran wanita lain di hatinya. Sekali pun ia paksakan. Hingga sampai saat ini, Evans tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita. *** bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD