Begitu besar perasaan cinta Evans untuk Monika. Sehingga teramat sulit untuknya melupakan kekasih hatinya begitu saja. Meski Evans sadar mereka terpisah bukan hanya dengan jarak dan waktu, tetapi mereka terpisah dengan alam yang berbeda.
Bukan maksud mengunci hati. Terlalu dalam kenangan indah dan ketulusan yang terjalin. Membuat hati Evans terpaku mati. Kehilangan kekasih hati. Seakan hidup tiada arti.
"Andai dulu aku nggak memaksamu datang ke kafe itu, pasti saat ini kita masih bersama."
Evans teramat sangat merasa bersalah atas kepergian Monika.
***
Vania memutar kunci loker. Kemudian membuka dan meraih ransel mini berwarna hitam miliknya. Begitu juga dengan Esa. Mereka bersiap untuk pulang mengingat restoran sudah saatnya tutup. Vania dan Esa berjalan beriringan ke arah pintu keluar restoran.
Vania membuka resleting depan ransel miliknya. Kemudian mengambil benda pipih yang berada di dalam ranselnya. Ia membuka kunci layar benda pipih itu, mencari nama seseorang dalam daftar kontaknya. Lalu kemudian mengetik pesan kepada Mang Ujang. Langganan gojeknya, supaya segera menjemputnya.
"Waah, mendung Van kayaknya bentar lagi mau hujan," ucap Esa.
Ia meneliti awan hitam yang siap membasahi apapun yang berada di bawahnya.
Kedua mata Vania masih sibuk menatap dengan wajah datar, kearah layar benda pipih miliknya.
"Yuk aku anterin pulang!" Dion memasukkan jari-jari nya di sela-sela jemari Esa, lalu menggenggamnya.
Rupanya sedari tadi Dion menunggu Esa selesai bekerja.
Esa berusaha melepas genggaman Dion. Namun, Dion tidak akan melepaskannya begitu saja. Semakin menguatkan genggamannya.
"Jangan nolak, bentar lagi hujan! mau apa kamu basah kuyup? Van nggak apa-apa ya Esa pulang duluan?" Ucap Dion dengan raut wajah di buat-buat. Agar Vania memberi kesempatan Dion, untuk jalan berdua dengan Esa saat ini.
Kedua mata Esa melototi Dion. Namun, Dion tak menghiraukan. Malah ia membalas Esa dengan senyuman termanisnya.
"Oh, nggak apa-apa kok!bentar lagi mang Ujang juga jemput." Jawab Vania tersenyum, ia tidak merasa keberatan bila di tinggal sendirian.
"Beneran Van kamu nggak apa-apa?" tanya Esa dengan raut wajah sedih, mengkhawatirkan Vania, sahabatnya.
"Beneran Sa, kamu duluan gih!" jawab Vania dengan wajah serius, mencoba meyakinkan Esa.
Esa merasa nggak enak meninggalkan Vania begitu saja. Biasanya ia menemani Vania terlebih dulu, sampai Mang Ujang datang menjemput Vania. Baru kemudian, Esa pulang menggunakan sepeda motor baru miliknya. Namun hari ini, Esa berangkat kerja tidak menggunakan motor barunya. Sebab motornya di pakai sang mama karena ada keperluan yang sangat mendesak.
Dion membuka pintu depan mobilnya. Memberi isyarat kepada Esa. Supaya cepat masuk dan pulang bersamanya.
Dengan terpaksa dan perasaan berat. Esa masuk ke dalam mobil Dion, lalu melambaikan tangan ke arah Vania dengan wajah cemas.
"Hati-hati.. Sa,"
Vania membalas lambaian Esa dan tersenyum. Tidak lama kemudian, mobil berwarna merah milik Dion itu menghilang di jalanan.
Vania melihat jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya.
"Tumben mang Ujang belum dateng, ini udah lebih dari terlambat. Mang Ujang mana sih," batin Vania.
Ia kembali melihat benda pipih yang masih berada di genggamannya. Di dapatinya sebuah pesan. Lalu kemudian membacanya.
"Maaf neng Vani, Mang Ujang nggak bisa jemput soalnya istri Mang Ujang lagi sakit. Sekali lagi maaf, ya, neng Vani." Pesan dari mang Ujang.
"Yah! mang Ujang nggak bisa jemput, mana mau ujan lagi!"
Vania berinisiatif memanggil gojek yang lain. Namun, belum juga ia sempat memanggil gojek. Rintik-rintik gerimis mulai turun. Vania mulai kebingungan, ia menunda memanggil gojek kembali. Sebab, air dari langit sudah terlanjur turun membasahi bumi dan semakin deras. Kemudian ia memasukkan benda pipih miliknya ke dalam rasel hitam miliknya.
Vania menghela napas berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan, selain memutuskan untuk menunggu hujan reda. Lalu kemudian ia duduk di teras depan restoran. Hanya berteman sepi, mengingat semua rekan kerjanya sudah pulang ke rumahnya masing-masing dan restoran sudah tutup. Hanya tinggal ia sendirian di sana.
"Semoga hujannya cepet reda" batin Vania berdoa.
Suasana hujan yang dingin, membuat kedua mata Vania terasa berat. Perlahan ia menyandarkan kepalanya di tembok bercat ke abu-abuan. Ia menikmati alunan derasnya air hujan yang mengguyur bumi. Mengedipkan kedua matanya perlahan, sampai akhirnya, ia benar-benar terpejam tertidur pulas. Bekerja seharian membuat Vania merasakan lelah dan kantuk yang sangat, ketika hanya berdiam diri.
***
Di sepanjang perjalanan. Perasaan cemas menggerogoti batin Esa. Ia teringat kepada sahabatnya Vania. Hujan teramat deras. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Vania. Namun, tak kunjung ada jawaban. Ia menyesal telah menyetujui tawaran Dion. Dan meninggalkan Vania begitu saja.
"Ayo dong Van angkat,"
Esa terlihat begitu sibuk dengan benda pipih di tangannya.
"Kamu kenapa Sa?" tanya Dion sambil mengemudikan mobilnya di jalanan dengan hati-hati, sebab hujan turun begitu derasnya.
"Vania! ku telfon nggak di angkat dari tadi! kamu sih main tarik aja! Harusnya kamu juga ajak Vania pulang bareng kita!" Esa mengomel kesal.
Dion sukses membuat perasaan Esa kacau.
"Tenang dong Sa, mungkin Vania udah nyampek rumah. Karena suasana lagi hujan trus dia tidur. Jadi nggak jawab telfon dari kamu." Jawab Dion asal, mengingat rumah Vania lebih dekat, memungkinkan Vania sampai di rumahnya lebih cepat dari pada mereka.
Esa memutuskan diam. Ia malas berdebat dengan Dion saat ini. Mau protes bagaimana pun, pasti ujung-ujung nya Dion semakin membuatnya kesal maksimal.
"Sa, kamu masih marah sama aku?" tanya Dion sembari mengemudi.
Esa hanya diam menatap ke arah luar jendela mobil, dengan kaca tertutup. Ia berpura-pura tidak mendengar panggilan Dion.
"Jawab dong Sa," Dion mulai memaksa.
"Kamu marah! Karna aku nggak ngejar kamu pas makan siang tadi?" Tanya Dion lagi, dengan pertanyaan yang nggak penting bagi Esa.
"Menurut kamu?"
Esa membalikkan pertanyaan Dion dengan ketus.
Seketika Dion menepikan mobilnya, lalu mengijak pedal rem dengan cepat. Hingga mengagetkan Esa yang hampir terpental ke depan jok mobil.
"Apa-apaan sih kamu! Kamu mau bikin aku celaka hah! Untung pakai sabuk pengaman kalau nggak bisa bonyok ini jidat!" kedua mata Esa melotot ke arah Dion. Emosi nya memuncak.
"Sory-sory... habisnya dari tadi kamu cuek, marah-marah, kenapa sih? harusnya kamu seneng dong. Kita kan lama nggak ketemu masak marahan gini," ucap Dion dengan manis, berpura-pura menutupi kesalahannya.
"Kamu pura-pura amnesia? lupa apa yang membuat aku cuek sama kamu? nggak cuma cuek aku ilfeel tau nggak, sama kelakuan kamu!" Esa menatap Dion sinis.
Teringat jelas dalam ingatannya. Tak sengaja 2 hari yang lalu, ia melihat Dion dinner romantis dengan perempuan lain di sebuah cafe.
"Emangnya aku salah apa?" tanya Dion dengan wajah datar.
"Salah apa! Kamu deketin aku sok-sok an romantis, bilang suka.. bilang sayang.. nggak ada yang lain selain aku seakan-akan aku cewek yang paling kamu sayangi, tapi nyatanya kamu juga memperlakukan hal yang sama ke cewek lain di luar sana! Bahkan kemarin aja, kamu dinner bareng sama cewek itu kan!"
Esa ngotot meluapkan semua unek-unek yang membebaninya dari kemarin.Meskipun dia belum resmi pacaran dengan Dion. Esa merasa Dion mempermainkan perasaannya. Dasar Dion!
Dion terdiam dengan susah menelan salivanya.
"Mampus! kok Esa bisa tau kemarin aku dinner sama Ketty," batin Dion. Sial!
"Kata siapa Sa? Orang kemarin aku di rumah nggak kemana-mana," Dion mengelak.
"Hah, masih aja ngelak kamu ya. Aku liat dengan mata kepala aku sendiri!" amarah Esa semakin memuncak.
Kali ini Dion mati kutu di hadapan Esa.
"Mulai sakarang, nggak usah lagi deh kamu repot-repot perhatian ke aku. Dan makasih udah di anterin pulang!"
Dengan cepat Esa melepas sabuk pengaman, kemudian membuka pintu mobil lalu keluar meninggalkan Dion yang masih terdiam di dalam mobil.
Mengingat hujan sudah mulai reda, kebetulan rumah Esa juga sudah dekat. Ia memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Daripada harus semobil dan berdebat dengan Dion. Bukannya menyelesaikan masalah. Malah akan semakin memper-rumit masalah yang ada.
Dion terperanjat kaget menyadari Esa keluar dari mobil. Dengan segera, ia keluar dari mobil menyusul Esa.
"Sa kamu salah paham, kemarin itu sepupu aku baru datang dari luar kota," Dion bersikeras menjelaskan, tangannya berhasil meraih lengan Esa.
Langkah Esa terhenti. Kemudian berbalik berhadapan dengan Dion dengan wajah penuh amarah.
"Sepupu yang mana lagi? semua kamu bilang sepupu. Udah deh aku mau pulang!"
Esa melepaskan tangan Dion yang menahannya. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Dion yang masih berdiri di tepi jalan.
Dion menendang botol air mineral yang kosong, tepat berada di depannya dengan keras, meluapkan emosi.
***
Hari mulai gelap. Evans Haidar baru keluar dari restorannya. Dilihatnya Vania tertidur pulas dengan bersandarkan tembok restoran miliknya. Dengan melipat tangan di depan d**a, Vania terlihat begitu kedinginan.
Evans berniat untuk membangunkan Vania. Namun, urung ia lakukan sebab tidak tega untuk membangunkannya. Evans meneliti paras cantik Vania yang tengah tertidur. Kemudian melepaskan jas yang melekat di tubuhnya. Lalu menelangkupkan nya ke tubuh Vania yang tampak kedinginan.
Merasakan sesuatu yang hangat melekat membalutnya. Perlahan Vania membuka mata. Ia terperanjat kaget melihat Evans berada dekat, tepat didepannya.
"Pak Evans! ngapain bapak disini?" Vania bertanya kebingungan melihat jas Evans melekat menyelimutinya.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu, ngapain tidur disini?" jawab Evans tersenyum.
"Oh iya," Vania menepuk jidat.
"Iya apa?" Evans menaikkan alis matanya sebelah, heran.
"Aku tadi nunggu hujan reda sampai ketiduran,"
Vania memijit halus dahinya. Ia segera berdiri mengingat mamanya pasti sudah cemas menunggunya di rumah.
"Aku harus segera pulang!" batinnya.
Baru melangkahkan kedua kakinya beberapa langkah, suara Evans menghentikan langkahnya.
"Mau kemana?" tanya Evans.
Vania menepuk jidatnya lagi dengan kedua mata terpejam. Ia lupa akan keberadaan Evans saat ini. Dengan segera ia berbalik berhadapan dengan Evans.
"Maaf pak! Saya pamit pulang. Sudah larut malam, pasti Mama saya sudah cemas menunggu di rumah." Vania berpamitan, ia menunduk menghormati Evans sebagai atasannya.
Evans tak tega melihat perempuan pulang sendirian, apalagi sudah larut malam begini. Ia berjalan ke arah mobilnya, yang terparkir di samping teras restoran miliknya. Kemudian Evans membuka pintu mobil depan sebelah kiri.
"Yuk, aku anterin pulang," Evans tersenyum tulus, bersungguh ingin mengantarkan Vania.
"Eh, nggak usah pak. Saya bisa pulang naik ojek kok." Vania tersenyum balik.
"Udah, nggak usah nolak. Lagian udah larut malam gini mau nyari ojek dimana? kasihan Mama kamu udah nungguin, lho," jawabnEvans, netranya meneliti wajah Vania yang terlihat bingung.
"Tapi pak, saya nggak enak merepotkan pak Evans," jawab Vania sedikit menggigit bibir bawahnya, menahan rasa grogi di hadapan Evans atasannya.
"Nggak merepotkan sama sekali, malah aku seneng bisa bantu kamu. Buruan masuk keburu tengah malam nanti." Bujuk Evans supaya Vania tidak menolak niat baiknya, untuk mengantarkannya pulang.
Vania segera masuk ke dalam mobil tanpa berpikir panjang lagi. Ia membenarkan ucapan Evans. Mengingat malam semakin larut. Ia sudah sangat terlambat pulang kerumah.
"Pasti mama udah cemas nungguin aku," batin Vania.
Suasana hening di sepanjang perjalanan. Evans menyalakan audio musik, untuk menghilangkan suasana tegang yang terjadi di antara mereka.
Lagu Ruang Rindu, tengah melantun dengan indahnya ketika Evans menyalakan audio musik. Evans juga menyukai lagu yang di populerkan oleh group band Letto itu.
Evans menoleh kearah Vania, tepat di samping kirinya.
"Kamu belum pakai sabuk pengaman Van!"
Vania terperanjat kaget. Dengan segera ia meraih sabuk pengaman yang berada di kursi duduknya.
"Maaf saya lupa pak," sahut Vania, lalu ia mencoba menggunakan sabuk pengamannya.
Namun, Vania kesulitan karena sabuk pengamannya sedikit bermasalah.
"Duh! kenapa susah banget sih ini sabuk di pasang. Apa aku nya aja yang nggak bisa," batin Vania merasa kesulitan.
Menyadari Vania yang sedari tadi belum kunjung menggunakan sabuk pengaman dengan benar. Evans merendahkan laju mobilnya. Kemudian berhenti menepi, di pinggir jalan. Ia berusaha membantu Vania yang sedang kesulitan menggunakan sabuk pengamannya.
Jarak wajah Vania dengan Evans hanya beberapa senti saja. Baru pertama kali Vania sedekat ini dengan seorang cowok. Begitu sangat dekat sekali. Hingga membuat jantung Vania berdegup kencang. Dengan perasaan yang tak bisa ditebak. Kedua insan itu saling berpandangan.
***
Bersambung...