Evans menatap lembut kedua iris mata Vania. Ia meneliti wajah Vania yang nampak lebih cantik mempesona.
Begitupun Vania juga tertegun menatap polos wajah tampan atasannya.
Cahaya, yang terletak di mata wanita. Terkadang membawa aura yang membuat pria kehilangan rasa percaya diri.
Lantunan lagu di dalam mobil membuat suasana semakin terasa romantis.
Bila dilihat dari arah luar kaca mobil bagian depan. Evans dan Vania terlihat layaknya sepasang kekasih yang sedang berciuman.
"Sa.. sabuk pengamannya udah terpasang pak!" ucap Vania sedikit terbata mengingatkan Evans, supaya cepat berpindah ke posisinya semula.
Evans tersenyum salah tingkah. Dengan segera kembali ke posisi kemudi seperti semula. Kemudian, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Dengan berat Vania menghela napas. Ia merasakan sebuah perasaan yang aneh ketika dekat dengan Evans. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang, seperti genderang mau perang. Namun, ia juga merasakan kenyaman berada di sisi Evans. Sebuah perasaan yang sulit di artikan.
"Oh iya, rumah kamu masih jauh Van?" tanya Evans mencoba menghilangkan rasa canggung diantara mereka.
"Udah deket kok, bentar lagi nyampek." Vania tersenyum dengan perasaan sedikit grogi.
"Biasanya kamu pulang naik apa?" Evans terlihat lebih tenang dari pada sebelumnya.
"Biasanya saya, di antar jemput Mang Ujang ojek langganan saya tapi..."
" Tapi kenapa?" Sahut Evans penasaran.
"Hari ini mang Ujang nggak bisa jemput. Katanya istrinya lagi sakit," jawab Vania melanjutkan.
"Saya tadi mau cari ojek lain. Tapi keburu hujan, jadinya saya mutusin nunggu sampai hujan reda. Tau nya malah ketiduran,"
Vania tersenyum lepas, mengingat dirinya sendiri. Alih-alih nunggu hujan reda tapi malah ketiduran bersandarkan tembok di depan restoran.
Evans ikut tersenyum mendengar cerita Vania.
"Lha pak Evans, ternyata tadi belum pulang?" tanya Vania kemudian.
"Hmm, aku tadi masih sedikit sibuk. Rencananya mau buka cabang restoran baru di daerah Bandung."
Evans merendahkan laju mobilnya. Hujan mulai turun lagi dengan begitu derasnya.
"Wah, bagus itu pak. Semoga restoran pak Evans semakin maju dan berkembang."
"Aamiin.. tapi belum nemuin lokasi yang cocok sih," sambung Evans.
"Nanti juga nemu pak, pelan tapi pasti. Yang penting harus sabar," jawab Vania polos.
Vania memberanikan diri memperhatikan Evans. Menurutnya Evans itu ganteng, baik, ramah, pekerja keras. Tapi kenapa masih sendiri aja. Apapun yang Evans mau tinggal beli, dia kan pemilik restoran yang terbilang cukup besar di Jakarta. Dan malah punya cabang di mana-mana. Vania juga mengingat cerita sahabatnya Esa, tentang wanita-wanita cantik yang mengejar cinta Evans. Tapi Evans nggak peduli.
"Jangan-jangan pak Evans.. nggak! Vania plis deh jangan mikir yang aneh-aneh!" batin Vania mencoba menepis prasangka buruk tentang Evans yang tiba-tiba muncul.
Vania melihat sebuah gantungan boneka kecil yang menggantung dihadapannya. Tangan Vania rileks menyentuh gantungan itu.
"Lucu banget ini,"
Gantungan itu terlihat menarik di mata Vania.
"Masak kamu lupa, itu kan gantungan kamu Monik," jawab Evans yang terdwngar datar.
Evans tak menyadari apa yang baru ia katakan. Gantungan itu mengingatkannya dengan Monika kekasihnya dulu. Evans lupa yang saat ini duduk di sampingnya saat ini, Vania.
"Monik? pacar pak Evans ya?" tanya Vania penasaran.
Evans terkejut begitu menyadari pembicaraan mereka.
"Monika... dia,"
Evans terdiam tak bisa berkata-kata.
Vania mendengar dan mengamati Evans dengan serius. Namun, Evans tak kunjung melanjutkan pembicaraannya. Seketika alis Vania mengernyit dengan Kedua mata tampak menyipit. Ia kesal, kini Evans telah membuatnya benar-benar penasaran.
Sepanjang perjalanan Vania dan Evans hanya diam. Ada sebuah perasaan yang menganjal di benak Evans. Membuatnya tak bisa berkata-kata.
Tak berapa lama, mereka sampai di rumah Vania. Sebuah rumah minimalis, rapi dan elegan. Dihiasi berbagai bunga dan tanaman hias. Tampak terawat, berjejer rapi nan indah di depan rumah.
"Makasih ya pak, udah repot-repot nganterin saya pulang," ucap Vania tersenyum penuh arti.
"Nggak ngrepotin kok! Oh, iya. Jangan panggil pak. Emangnya aku keliatan kayak bapak-bapak ya?" protes Evans sambil ngaca di spion mobilnya. Ia merasa risih dengan panggilan "pak".
"Bukannya gitu, kan pak Evans atasan saya ditempat kerja. Jadi saya panggil pK nggak salah kan?" protes Vania tak mau kalah.
"Panggil namaku aja! lebih enak dari pada panggil pak!" jawab Evans menyarankan.
"Baik pak, eh maaf! Evans maksud saya, Vans" Vania nyengir salah sebut lagi.
Evans menghela nafas. Seakan pasrah mau Vania memanggilnya pak, om, atau memanggilnya kakek sekalipun. Namun ia juga merasa risih, hampir semua karyawannya memanggilnya pak. Jadi berasa udah tua aja dia.
"Sekali lagi terimakasih pak, ups! Evans maksud saya,"
Lagi-lagi Vania nyengir salah sebut lagi. Maklumlah ia hanya belum terbiasa saja.
Evans tersenyum melihat Vania. Sikapnya yang salah tingkah terkesan lucu.
Kemudian Vania membuka sabuk pengaman. Lalu membuka pintu mobil dan turun dengan hati-hati.
"Van..." tiba-tiba Evans memanggilnya.
"Ya!" Vania membalikkan badan.
"Ini! Ransel kamu ketinggalan," Evans tersenyum mengulurkan Ransel milik Vania.
"Terimakasih," ucap Vania dengan nada rendah.
Evans tersenyum menatap raut wajah cantik Vania penuh arti. Entah kenapa, ia merasa tenang melihat wajah cantik Vania.
Vania perlahan menutup pintu mobil.
"Hati-hati dijalan pak Evans!" Vania terhenyak dengan kedua mata membulat.
Dengan segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Karena ia sadar, salah sebut lagi, lagi, dan lagi.
Evans tertawa kecil, ia merasa sedikit terhibur melihat tingkah Vania saat ini. Ditambah wajah Vania yang terlihat begitu polos.
"Ma.. maaf belum terbiasa, jadinya salah terus," ucap Vania membela diri. Kedua pipinya mulai terlihat merah merona tersipu malu.
Evans hanya mengangguk. Seolah paham apa yang di maksud Vania tadi.
"Ya udah, aku masuk dulu Vans. Sekali lagi terima kasih."
Vania melambaikan tangan. Menatap mobil berwarna hitam yang di kemudikan Evans hingga menghilang di jalanan.
Kemudian Vania melangkah menuju pintu depan lalu masuk ke dalam rumah. Di dapatinya Wulandari. Mamanya tengah tidur di sofa ruang tamu. Nampaknya, Wulandari menunggu putrinya pulang dari kerjanya. Sampai ia tertidur di sofa sembari menggenggam benda pipih di tangannya.
"Mama... Ma"
Vania membangunkan Wulandari dengan nada rendah nan lembut.
Wulandari terbangun, lalu mengumpulkan tenaganya untuk bangun. Dengan segera duduk berdampingan dengan Vania.
"Sayang, kamu udah pulang? kenapa kamu pulang selarut ini? kamu nggak apa-apa kan?" tanya Wulandari terlihat sangat cemas.
"Nggak apa-apa ma, tadi pas aku mau pulang hujannya deres banget. Ditambah lagi, Mang Ujang nggak bisa jemput. Jadinya aku nunggu hujan reda, eh, taunya malah ketiduran. Maafin Vania ya Ma, Mama pasti cemas!" Vania menjelaskan apa yang membuatnya pulang terlambat.
"Tapi kenapa ponsel kamu nggak bisa di hubungi? Mama sampai khawatir banget lho!" perasaan cemas masih menggerogoti hati Wulandari.
Dengan segera Vania mengambil benda pipihnya dari dalam ransel.
"Yah! handpone aku low bat ma," Vania menatap Mamanya sedih.
"Trus kamu pulangnya gimana sayang, Mama hubungin Esa juga nggak aktif. Mama pikir kamu sama Esa." Wulandari terus mengintrogasi.
"Aku... di anter Evans, tadi Ma," Vania mulai terbiasa memanggil Evans bukan dengan sebutan 'pak' lagi.
"Evans siapa?" tanya Wulandari.
"Evans itu atasan Vania, Ma. Pemilik restoran tempat Vania kerja. Kalau nggak di anter dia, mungkin Vania nekat pulang dengan jalan kaki," jelas Vania.
Wulandari memeluk Vania. Ia bersyukur putrinya pulang dengan keadaan baik-baik saja. Ia tak bisa membayangkan. Apabila putrinya pulang sendirian di tengah malam.
Wulandari menghela napas berat. Mencoba menepis perasaan cemas yang sempat menggerogoti batinnya. Ia baru menyadari jas berwarna hitam yang melekat, membalut tubuh putrinya.
"Kamu, pakai jas siapa?" Wulandari meneliti jas berwarna hitam tersebut.
Vania menepuk dahinya.
"Aduh! Inikan jas nya Evans. Mana aku lupa balikin tadi!" Vania tersenyum kecut.
"Udah nggak papa, besok biar mama cuci dulu. Lusa baru kamu balikin. Lagian udah malem gini masa mau kamu balikin," ucap Wulandari menenangkan putrinya.
Vania nyengir. Kenapa bisa dia sampai kelupaan begini.
"Apa iya aku mulai pikun!" batinnya.
"Ya udah, buruan mandi! Mama mau manasin makanannya dulu. Nanti kita makan bareng," ucap Wulandari tersenyum.
"Iya mah," Vania mengangguk nurut.
Kemudian, ia melangkah ke arah kamar, memutar kenop pintu kamar lalu masuk ke dalam. Tak lupa ia mencharger benda pipihnya yang mati karena kehabisan baterai.
Senejak Vania terdiam. Ia mengingat tingkahnya sendiri sewaktu bersama Evans di sepanjang perjalanan. Membuatnya senyum-senyum geli sendiri. Kemudian ia melepas jas berwarna hitam yang masih melekat di tubuhnya. Tercium parfum aroma wangi yang menenangkan, berasal dari jas itu.
"Kok bisa sih aku lupa balikin ini jas. Terus.. kok bisa Evans manggil aku dengan sebutan Monik. Dia bilang Monika.. siapa Monika? Emang muka aku sama persis dengan Monika? Sampai dia salah panggil nama. Esa, ya! dia pasti tau siapa Monika. Aku pastikan besok udah nggak penasaran lagi," gerutu Vania sendirian di dalam kamar.
Vania bukan tipe cewek yang kepo dengan urusan orang lain. Tapi dia paling nggak suka di buat penasaran. Vania yakin Esa sahabatnya tau tentang Monika. Aku pastikan besok rasa penasaranku terbayar.
***
Evans tinggal di perumahan elit super mewah yang terbilang besar di Jakarta. Pagar yang berdiri kokoh dengan pilar yang megah dan simetris. Dihiasi dengan pemandangan yang indah menyejukkan mata. Lengkap dengan pos penjaga di depan rumah. Menyambut siapa pun yang datang berkunjung untuk sekedar bertamu. Nuansa mewah ala desain arsitektur modern klasik gaya Eropa memancar dengan anggun ketika memasukinya. Dengan ornamen-ornamen kristal di setiap sudut.
Evans sampai di rumahnya, ia memarkirkan mobil hitam miliknya di garasi. Berjejer dengan mobil berwarna putih milik papanya. Kemudian ia segera masuk ke dalam rumah. Tak ada satu pun asisten rumah tangganya yang membukakan pintu. Sebab Evans sudah berpesan kepada semua asisten rumah tangga dirumahnya.
"Apabila sudah waktunya istirahat, istirahat saja! tidak perlu membukakan pintu untuknya."
Oleh karena itu, ia selalu membawa kunci cadangan kemana pun ia pergi. Untuk berjaga-jaga bila sewaktu-waktu ia pulang terlalu larut malam.
Evans bergegas menaiki anak tangga. Menuju kamarnya di lantai dua. Sekilas ia menoleh ke arah pintu kamar Jaya Haidar Sasongko papanya. Yang nampak terkunci rapat. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.
Selesai mandi, Evans merebahkan tubuhnya di ranjang tidurnya. Ini merupakan waktu dan posisi ternyaman untuk melepas lelah setelah seharian beraktifitas.
Evans mencoba memejamkan kedua matanya. Namun, paras cantik Vania terngiang terus dipikirannya. Senyumnya seolah menusuk hati, membuat jantung Evans berdegup kencang. Sebuah perasaan yang sama, pernah ia rasakan ketika pertama bertemu Monika mantan kekasihnya sekaligus cinta pertama Evans.
Waktu bisa membuat perasaan memudar, tapi kenangan akan cinta pertama tidak pernah hilang. Warna-warni kenangan kebersamaan dengan Monika selalu menghiasi dalam pikiran Evans. Namun kali ini, yang muncul di pikirannya adalah Vania. Evans tersenyum mengingat tingkah Vania saat bersamanya tadi.
"Vania.. Vania.. aku baru mengenalmu tapi kenapa kau menari-nari dalam pikiranku," batin Evans dengan senyuman menghiasi lamunannya.
Cinta bisa bersemi saat kamu pertama kali melihatnya. Tanpa sengaja bertemu di suatu momen, tatapan mata tidak bisa beralih darinya.
Jangan sampai kamu biarkan kesedihan akan kenangan masa lalu. embuatmu merusak kebahagiaan, yang tampak di depan mata.
Evans meraih sebuah foto yang terpajang di atas nakas samping tempat tidurnya. Foto sepasang kekasih yang terlihat begitu sangat romantis. Foto Monika dengan Evans semasa pacaran dulu. Sebelum tragedi memilukan merenggut nyawa kekasihnya.
"Apa kabarmu sayang?" ucap Evans dengan mata berkaca-kaca.
Mencoba berbicara dengan foto kekasihnya. Lalu mengecup di bagian wajah Monika yang tampak tersenyum manis. Evans tidak gila. Hanya saja ia melampiaskan kerinduannya lewat foto kenangannya bersama Monika.
Evans mendekap foto itu, lalu memejamkan kedua matanya. Hal yang setiap malam ia lakukan menjelang tidur. Sampai Evans terlelap dalam buaian mimpi.
Cinta nggak harus memiliki itu memang sangat pedih. Bahkan, jika di tuangkan ke dalam sebuah lagu akan sangat menyayat hati.
Bersambung...