Seperti biasa, pagi ini indah. Langit tampak kelabu. Udara sekitar terasa dingin menyentuh kulit. Burung-burung terdengar riang bernyanyi. Kicauannya menemani aktifitas manusia setiap pagi.
Wulandari sibuk memasak di dapur, menyiapkan sarapan sekaligus bekal untuk makan siang Vania di tempat kerja. Biasanya, Vania selalu bangun lebih awal untuk membantu mamanya memasak.
Namun kali ini. Vania masih tengah lelap dalam tidurnya. Dengan berselimut tebal berwarna biru muda di atas ranjang tempat tidurnya. Kamar Vania identik dengan warna biru muda kombinasi putih. Biru muda merupakan warna faforit Vania.
Terdengar samar ketukkan di sertai suara memanggil nama Vania di balik pintu.
"Vania, ayo bangun" suara melengking Wulandari di balik pintu.
Tidak biasanya Wulandari membangunkan Vania. Biasanya Vania bangun lebih awal darinya. Efek tidur terlalu larut malam. Membuatnya bermalas-malasan untuk bangun terlalu pagi.
***
Beda lagi dengan Evans Haidar. Meskipun ia tidur terlalu malam, pagi-pagi buta sudah terjaga. Mungkin karna sudah terbiasa.
Evans selalu menyempatkan untuk berolah raga setiap pagi, sebelum aktifitas kerja menyibukkan dirinya. Kalau tidak bersepeda keliling perumahan elit. Biasanya ia cukup berolah raga di dalam rumah. Mengingat fasilitas di dalam rumahnya menyediakan beberapa alat untuk berolahraga.
Udara terasa sejuk, masih bersih belum terkontaminasi polusi pagi ini. Evans baru saja kembali dari bersepeda. Ia segera masuk kedalam rumah mengingat sudah pukul 6 pagi. Ia harus bersiap untuk bekerja.
"Selamat pagi Tuan?" salah satu IRT di rumahnya menyambut kedatangannya.
"Pagi bi Umi," jawab Evans.
Dengan cepat ia menaiki anak tangga menuju kamarnya. Melangkah menuju kamar mandi membersihkan diri. Air mengalir keluar dari shower yang baru ia nyalakan. Evans terdiam beberapa saat tepat di bawah shower yang tengah mengguyur rambut hitamnya. Menikmati sensasi pijatan air yang mengguyur deras. Sejurus kemudian tangannya meraih handuk, lekas menggenakan baju kerjanya.
Kemeja putih lekat dengan jas berwarna hitam yang di kenakan Evans. Membuat penampilannya terlihat sempurna. Sejurus kemudian, ia keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dengan santai, lalu melangkah menuju ruang makan.
Terlihat Jaya Haidar Sasongko sudah menunggunya di ruang makan.
"Kenapa belum sarapan pa?"
Evans menarik kursi kemudian mendudukkan diri berhadapan dengan Papanya.
"Hmm.. aku menunggumu. Ada suatu hal yang ingin ku bicarakan," ucap Jaya haidar seraya menyesap perlahan secangkir kopi hitam yang ada di depannya.
"Soal apa?" tanya Evans menangggapi dengan tenang. Seraya menikmati menu sarapan nasi goreng pedas buatan bi Umi.
"Kamu masih ingat Meisha Sinegar teman masa kecilmu dulu? Anak dari om Sinegar teman papa."
Evans mengangkat sebelah alis matanya.
"Ada apa dengannya? Bukannya dia sekarang kuliah di London?"
Masih teringat jelas dalam ingatan tentang teman masa kecilnya itu.
Jaya Haidar mengangguk.
"Memang benar, hari ini Meisha pulang ke Jakarta. Aku ingin kamu yang menjemputnya di Bandara, nanti siang," tutur Jaya Haidar kembali melanjutkan sarapan.
Evans mendesah, ia tahu apa yang ada dalam pikiran papanya saat ini. Papa Evans ingin mencoba mendekatkannya kembali dengan seorang wanita. Tak salah lagi, kali ini sasaran papanya adalah Meisha Sinegar. Teman masa kecilnya.
"Lantas, kenapa aku yang harus menjemputnya? Keluarga Sinegar juga pasti punya sopir pribadi. Hari ini aku banyak urusan."
Evans mencoba menolak keinginan papanya. Ia malas bila terus di paksakan dekat dengan wanita.
"Sudahlah, kali ini turuti perintah papa. Lagi pula kamu juga sudah mengenal Meisha sejak kecil. Tidak ada salahnya, bila kamu menjemputnya besok." Ucap Jaya Haidar menegaskan. "
"Baiklah," jawab Evans dengan malas.
Evans tidak begitu punya nyali untuk melawan perintah papanya. Semenjak papanya menderita penyakit jantung. Evans berusaha menuruti semua keinginan papanya. Ini pun, menjadi salah satu senjata ampuh bagi Jaya Haidar. Memanfaatkan keadaannya, agar Evans mau menjemput Meisha hari ini.
Terlihat nasi goreng di piring Evans sudah habis di lahapnya. Sejurus kemudian, ia menyesap s**u hangat di gelas kaca. Mengambil tisu lalu mengusap lembut di bibirnya.
"Aku berangkat pa," ucap Evans sembari berdiri hendak meninggalkan papanya yang masih menikmati kopi hitamnya.
"Hati-hati," sahut Jaya Haidar.
Evans mengangguk, serujus kemudian melangkah menuju bagasi mobil.
Sesampainya di bagasi mobil. Terlihat pak Samsul sopir pribadi Jaya Haidar, baru selesai mencuci kedua mobil pribadi Evans dan milik Jaya Haidar.
"Pagi pak Samsul, rajin banget pagi-pagi udah nyuci 2 mobil," sapa Evans tersenyum lepas.
"Pagi Tuan, biasa saja atu. Memang sudah menjadi tugas saya," jawab pak Samsul merendah.
"Pak Samsul udah sarapan?" tanya Evans selalu memperhatikan para pekerjanya.
"Sudah atu Tuan, pastinya biar sehat dan kuat menghadapi kenyataan, betul kan?" Canda pak Samsul.
Evans tertawa mendengar candaan supir pribadi papanya.
"Bisa aja bercandanya. Ya udah, saya berangkat dulu ya pak."
Kali ini, Evans sudah duduk di kursi mengemudi.
"Oke Tuan, hati-hati di jalan," jawab pak Samsul sambil mengelap kaca mobil.
Sejurus kemudian Evans melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Tampak seorang satpam berlarian membukakan pintu gerbang untuknya. Tidak lama kemudian mobil yang di kemudikan Evans menghilang di jalanan.
***
"Sudah sampai neng Vani," ucap mang Ujang begitu sampai mengantarkan Vania di depan restoran.
"Okke, terima kasih ya, Mang" sahut Vania.
Dengan sigap ia turun dari motor mang Ujang. Bergegas melangkah masuk ke dalam restoran.
Terlihat Esa memasukkan tas berwarna abu-abu miliknya ke dalam loker.
"Hei, Sa, kamu baru sampai juga?" Tanya Vania begitu sampai di depan lokernya. Ia pun memasukkan ransel berwarna hitam miliknya.
Esa menoleh dengan mata berseri, melihat sahabatnya datang.
"Iya Van. Hmm... Van, aku minta maaf ya soal kemarin."
Seketika raut wajah Esa berubah sedih.
"Soal apa Sa?" Sahut Vania penasaran.
"Soal kemaren. Aku ninggalin kamu, trus aku pulang duluan. Sorry ya, Van, nggak lagi-lagi deh aku begitu," ucap Esa merasa bersalah.
Vania tertawa mendengar pernyataan Esa. "Ya elah, Esa! Gitu aja pakek minta maaf. Aku kira kamu minta maaf soal apaan. Tau nya soal itu."
Vania benar-benar tidak mempermasalahkannya sama sekali. Justru ia sudah lupa soal itu. Yang ia ingat saat ini adalah nama seorang wanita. Tak lain Monika. Siapa dia! Membuatnya begitu penasaran.
"Aku serius Vania, aku nggak enak banget ma kamu. Kamu nggak marah kan?" ucap Esa merengek seperti anak kecil.
"Aku juga serius Sa, gitu aja di pikirin sih. Lagian ngapain juga aku marah. Udah, tenang aja." Vania mencoba menenang kan Esa.
"Habisnya, kemarin aku telpon nggak kamu angkat," Sahut Esa yang masih dengan perasaan cemas.
"Udah Sa, dah. Aku nggak apa-apa. Tau nggak, kemarin aku ketiduran di depan restoran. Jadinya nggak tau kalau ada telpon dari kamu," jawab Vania menjelaskan.
"Hah! Bagaimana bisa kamu ketiduran di depan resto?"
Respon Esa terkejut mendengar penjelasan Vania.
Vania menceritakan semua yang terjadi kemarin kepada Esa. Tampak Esa begitu serius mendengarkan Vania. Sesekali Esa menelan salivanya.
"Oh jadi kemarin kamu di anterin Evans. Jadi iri aku!" Ucap Esa.
Sedari dulu ia bekerja di resto belum pernah Evans menawarinya untuk mengantarkannya pulang. Nah, ini Vania masih terbilang baru bekerja. Tapi berkesempatan sedekat itu sama Evans. Membuat Esa merasa iri. Di tambah lagi, Esa mengagumi seorang Evans Haidar. Terbesit rasa cemburu yang membuai di hati Esa.
Vania mendesah dengan menatap Esa heran.
"Iri kenapa? Evans kan nganterin aku karna kasihan. Gitu aja iri sih, Sa. Lagian aku juga nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Tenang aja!" Jawab Vania.
"Ya udah. Yuk kerja," jawab Esa lalu mulai melangkah menuju meja pengunjung.
Akan tetaoi, baru melangkahkan satu kakinya, Vania membuatnya berhenti.
"Tunggu Sa! Kamu tau nggak, siapa Monika?" Tanya Vania, berharap sahabatnya memberi jawaban .
"Sstt, kamu kok tiba-tiba nanyain itu. Jadi merinding nih," jawab Esa dengan nada lirih, bulu kuduknya berdiri secara tiba-tiba.
"Lah, ada yang salah dengan pertanyaanku. Merinding kenapa kamu?" Sahut Vania, heran tiba-tiba melihat ekspresi takut di wajah sahabatnya.
"Monika itu pacarnya Evans,"
Belum selesai Esa bercerita Vania memotongnya.
"Woalah, trus kenapa kamu merinding?" tanya Vania tambah penasaran.
"Makanya dengerin dulu jangan asal potong."
Esa menoleh ke kanan dan ke kiri. Keadaan restoran pagi ini masih sangat sepi.
"Jadi gimana, lanjutin dong!" Ucap Vania ketus.
"Monika itu pacar Evans, tapi dia udah meninggal 2 tahun yang lalu karena insiden kecelakaan. Evans begitu sangat sangat mencintai Monika. Kabarnya mereka berdua udah mau tunangan, tapi sayang maut memisahkan mereka. Sejak itu, Evans nggak pernah lagi terlihat dekatbdengan seorang wanita." Esa begitu serius menceritakan kebenaran itu.
Vania merasa simpati mendengar cerita Esa.
"Kasihan ya, sedih aku dengerinnya. Berarti gantungan itu, kenangan dari Monika. Pantes aja, Evans respon memanggil nama itu."
Esa mengangguk membenarkan.
"Udah jangan sebut nama itu, bulu kudukku merinding dari tadi," ungkap Esa dengan perasaan takut.
Namun, Vania terlihat tenang saja.
"Baiklah, yuk ke depan. Sepertinya restoran sudah mulai ramai pengunjung," jawab Vania mengingat sudah waktunya untuk bekerja.
Benar saja, restoran sudah ramai pengunjung. Terlihat, Evans baru saja datang lalu ia membantu salah satu karyawannya yang nampak keteteran melayani pengunjung.
Di tengah kesibukannya, tidak sengaja Vania menoleh ke arah Evans. Di pikirannya teringatkan akan cerita sahabatnya. Tentang kisah cinta atasannya itu. Dengan rasa simpati, ia menatap Evans yang tampak sibuk menyapa pengunjung restoran.
"Wajah Monika pasti cantik!" Batin Vania.
Tangannya sibuk mengelap meja, sementara pikirannya jadi traveling kemana-mana.
Tidak sengaja Evans menoleh tepat di mana Vania berdiri. Kedua manik mata Evans bertabrakan dengan manik mata Vania, beberapa detik. Menyadari akan hal itu, Vania langsung menunduk berbalik membelakangi berpura-pura tidak tau.
"Duh! Kenapa dia menoleh pas aku liatin sih!" batin Vania, ia merasa sangat malu.
Merasa telah di perhatikan. Evans melangkah mendekati Vania.
"Pagi Vania," sapa Evans tersenyum.
Vania kaget mendengar suara Evans. Dengan cepat ia membalikkan badan berhadapan dengan atasannya itu.
"Pa pagi pak," jawab Vania terbata-bata.
Evans mengernyitkan dahinya.
"Pak lagi?" Sahutnya.
"Maaf, pagi Vans" jawab Vania mengulangi.
Vania salah tingkah. Sebab ia reflek memanggil 'pak' lagi.
Evans tersenyum. Melihat Vania salah tingkah, itu membuat Vania terkesan lucu.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Vania berbasa-basi.
Mungkin saja atasannya membutuhkan bantuannya. Tapi mustahil!
"Nggak, aku cuma mau ngasih ini. Ini punya kamu kan?" ucap Evans, dengan memperlihatkan sebuah anting.
"Hah!"
Respon Vania tak percaya dengan apa yang baru ia dengar dan ia lihat. Dengan sigap Vania meraba kedua telinganya.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku nggak sadar kalau aku cuma pakai anting sebelah saja. Memalukan kamu Van!" Batin Vania menyalahkan dirinya sendiri.
"Darimana kamu dapetin anting ini?" Tanya Vania malu.
"Di mobilku, tepat di kursi yang kamu duduki semalam. Iya kan, ini punya kamu." Tebak Evans tepat sasaran.
Mengingat memang tidak pernah ada wanita lain yang menumpang di mobil Evans, selain Vania. Ya! setelah sekian lama. Baru kali ini Evans semobil dengan seorang wanita.
Vania mengambil anting yang ada di telapak tangan Evans.
"Terima kasih, maaf merepotkan."
Vania memaksakan diri untuk tersenyum, walau sebenarnya ia sangat malu.
Evans mengangguk lalu menjawab.
"Iya sama-sama."
Drrrt.. Drrrttt.. benda pipih di saku Evans bergetar-getar tanpa nada dering. Menyadari itu, Evans langsung meraih benda pipih di dalam saku kemejanya. Melihat layar depan, tertulis jelas nama papa di layar. Tidak lama kemudian ia menerima panggilan itu.
"Hallo pa," Respon Evans menerima panggilan dari papanya.
" Hallo Evans, kamu sudah di bandara?" Tanya Jaya Haidar di seberang sana.
"Belum, aku masih di restoran pa," sahut Evans
"Apa kamu lupa pesan papa pagi tadi. Cepat kau jemput Meisha! Jangan sampai kau membuatnya menunggu nanti."
Jaya Haidar mengingatkan sekaligus meminta Evans menjemput Meisha di bandara lebih awal.
"Baiklah, aku akan segera kesana," jawab Evans dengan nada malas.
Tidak lama panggilan itu terputus. Sejurus kemudian Evans melangkah keluar restoran.
Vania masih mematung di tempatnya berdiri. Esa yang sedari tadi memperhatikan atasannya bersama sahabatnya, dari jauh. Perlahan melangkah mendekati Vania.
"Ada apa Evans nyamperin Vania?" Batin Esa penasaran.
Bersambung...