Mobil sport berwarna hitam yang di kemudikan Evans, akhirnya memasuki area Bandara. Dengan kecepatan rendah, ia melajukan mobilnya menuju pintu keluar gedung kedatangan. Dari kejauhan, terlihat wanita cantik menggunakan dress berwarna putih berdiri di samping koper berwarna soft pink miliknya. Meskipun lama tidak berjumpa setelah bertahun-tahun lamanya. Evans masih mengingat jelas wajah teman masa kecilnya itu.
Mobil Evans berhenti tepat di depan wanita cantik itu. Tidak lain dan tidak bukan wanita itu adalah Meisha Sinegar teman masa kecilnya. Kaca pintu mobil sport berwarna hitam itu turun dengan perlahan. Perlahan pun terlihat Evans tengah duduk di kursi mengemudinya.
Meisha sedikit menurunkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik mobil sport berwarna hitam itu.
"Evans! kau rupanya!"
Meisha pun mengenali pria yang duduk di dalam mobil itu. Senyum manis menghiasi wajah cantiknya.
Evans turun dari mobil, melangkah mendekati teman masa kecilnya.
"Aku pikir kamu tidak mengenaliku. Ternyata daya ingatmu masih bagus," ucap Evans sedikit mengejek.
"Kau ini! Masih saja suka mengejekku," sahut Meisha yang kini tampak cemberut.
"Ternyata masih juga suka ngambek nona bulan ini."
Evans tertawa puas meledek wanita cantik di hadapannya.
"Kamu juga masih ingat panggilan itu. Kamu masih ingat semua kenangan tentang kita. Itu artinya, aku begitu berarti bagimu. Betul kan?" ucap Meisha membanggakan dirinya sendiri. Bisa di bilang juga ke-PD-an nya selangit.
Evans hanya tertawa.
Kini, Meisha menatap Evans dengan senyum di buat-buat.
"Bagaimana dengan penampilanku sekarang. Semakin cantik bukan."
"Kata siapa kau cantik," jawab Evans
"Kataku, aku memang terlahir cantik, imut, ngangenin pastinya. Buktinya kau bela-belain menjemputku hari ini. Aku tau, betapa kau merindukanku."
Meisha terlalu percaya diri. Andai saja dia tau. Evans menjemputnya karna terpaksa. Mungkin dia akan menarik semua kata-katanya lagi.
Evans tersenyum kecut mendengar celoteh Meisha.
"Yuk pulang!" ucap Evans lalu menyeret koper Meisha, memasukkannya ke bagasi.
Meisha mengangguk, setuju. Ia membuka pintu mobil yang tepat berada di depannya. Kemudian ia masuk, mendudukkan diri di bangku mobil depan.
"Om Jaya, apa kabar?" Tanya Meisha kepada Evans, yang sudah duduk di mobil kemudi usai menyimpan koper di bagasi.
"Kabar papa baik," jawabnya serambi menggunakan sabuk pengaman.
Sejurus kemudian, Evans malajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menuju pintu keluar Bandara.
Meisha mengangguk, paham. Ia menoleh kearah Evans, menelisik wajah tampan pria yang tengah mengemudi itu.
"Aku merindukanmu Vans. Apa kau juga merindukanku?" batin Meisha.
Tanpa melihat kearah Meisha. Evans tau, jika Meisha sedang memperhatikan dirinya. "Kita makan dulu Mei. Lepas itu, aku akan mengantarkanmu pulang. Setelah perjalanan jauh, kau pasti lapar bukan" Ucapnya sambil fokus mengemudi.
"Baik. Kita makan dimana? Oh iya, kau punya restoran, bukan. Bagaimana jika kita makan di restoranmu saja?" Usul Meisha.
"Restoranku masih lumayan jauh. Kenapa, nggak milih restoran yang dekat rumahmu saja?" jawab Evans menyarankan.
Sebenarnya, tidak masalah makan di restoran miliknya. Tetapi, ia malas harus putar balik lagi. Mengingat, restoran miliknya berlawanan arah dengan arah jalannya saat ini.
"Aku pengennya makan di restoran tempatmu, Evans. Apa kau khawatir rugi, baiklah aku akan bayar nanti!" Sahut Meisha ketus.
"Bukan begitu. Baiklah kita makan di restoranku," jawab Evans menuruti teman masa kecilnya itu.
Apa boleh buat, dengan terpaksa dia balik arah. Mengingat, memang Meisha belum pernah mengunjungi restorannya, sekali pun.
Meisha tersenyum lepas, ia sangat senang Evans menuruti kemauan nya.
"Thanks, Evans"
Dengan cepat, ia mendaratkan kecupan di pipi Evans.
Evans terkejut. Ia tak mengira nona bulan akan melakukan hal itu. Seingatnya, Meisha si nona bulan ini, dulu pemalu. Tetapi sekarang, ia lebih berani dan berambisi. Bisa jadi karna pergaulannya, saat di luar negri. Pikir Evans.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" Tanya Evans mencoba mengalihkan pikirannya. Sedikit berdebar dibuatnya.
"Udah selesai, makanya aku pulang. Di sana asik, temanku juga banyak. Tapi aku juga rindu tanah kelahiranku, Indonesia," jawab Meisha
"Kenapa pulang! Kenapa sekalian nggak kerja dan menetap di sana? Pastinya kan kamu betah disana!"
Evans tetap fokus mengemudi, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Papa sama mama memintaku pulang. Kata mereka ada hal yang penting, yang mengharuskan ku pulang ke Indonesia," sahut nona bulan menjelaskan.
"Alasanku pulang yang kedua itu kamu, Van. Nggak peka banget sih. Aku kan udah cium kamu. Tandanya aku, suka!'" Batin nona bulan.
Evans mengangguk. Tak terasa mereka sudah sampai di halaman parkir restoran milik Evans.
"Jadi ini restoran kamu? Besar juga. Kata Mama restoran kamu banyak. Seru!"
Meisha kagum kepada usaha Evans.
"Yuk masuk!"
Evans keluar dari mobilnya kemudian berjalan memasuki restoran miliknya. Di ikuti oleh Meisha, berjalan di belakangnya.
"Silahkan duduk! silahkan, pilih menu yang kamu suka. Aku sendiri yang akan melayanimu, nona bulan!"
Evans menunjukkan daftar menu makanan. Lengkap dengan berbagai menu minuman yang tersedia, di restoran miliknya.
Meisha merasa di istimewakan. Sebab di layani langsung oleh Evans, sang pemilik restoran.
"Apa yang kau lakukan? Tidak seharusnya pemilik restoran melayani tamu. Duduklah bersamaku, biar pegawaimu yang berkerja," ucap Meisha, tangannya menunjuk salah satu pelayan restoran.
Meisha memanggil Vania, yang tengah sibuk membersihkan meja.
"Hey kamu!"
Mendengar suara Meisha. Vania pun menoleh, ia melihat telunjuk Meisha menunjuk tepat ke arahnya.
"Sa-saya, Mbak?" Tanya Vania memastikan dirinya yang di oanghil..
"Iya kamu, sini!" Sahut Meisha dengan nada keras.
Terlihat seakan dia yang berkuasa.
Vania pun datang menghampiri meja tempat Meisha dan Evans duduk.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Vania dengan ramah. Ia menatap Evans yang terlihat tenang.
Sejurus kemudian, Meisha memesan makanan yang ia pilih, dari daftar menu.
"Nama kamu siapa? Biar aku lebih enak memanggil kamu nantinya," ucap Meisha.
"Saya Vania, Mbak," sahutnya tersenyum.
"Okkey, cepat bawakan pesanan ku! Dan jangan sampai salah!" Perintah Meisha.
Benar-benar layaknya nyonya pemilik restoran saja dia.
"Baik" jawab Vania datar.
Sejurus kemudian, ia meninggalkan tempat Meisha duduk. Melangkah menuju dapur.
Esa yang hanya memperhatikan dari jauh pun, menghampiri Vania.
"Van, siapa dia?" Tanya Esa penasaran.
"Dia datang sama Evans, kayaknya aku belum pernah melihat, sebelumnya. Apa mungkin pacar Evans!" Tebak Vania begitu saja.
Melihat dari tingkah Meisha yang seakan berkuasa. Vania pikir, wanita yang duduk bersama Evans itu pacar atasannya.
Seketika perasaan Esa sedikit kecewa, mendengar kata-kata Vania. Bagimana tidak! Esa menyukai Evans atasannya. Jika Evans sudah punya pacar. Pupuslah cinta Esa.
"Apa benar apa yang kamu bilang Van? Aku tidak yakin." Ucap Esa dengan wajah sendu.
Vania hanya mengedikkan bahu.
"Aku juga nggak begitu yakin. Tapi dari gerak gerik wanita itu, sepertinya iya."
Evans dan Meisha memang terlihat seperti sepasang kekasih.
Esa menoleh kearah tempat dimana Meisha dan Evans duduk.
"Andai saja aku yang ada di sebelah Evans. Betapa bahagianya aku. Tapi, mungkinkah saat-saat itu akan terjadi," batin Esa berkemelut kacau.
"Kamu kenapa, Sa?" Tanya Vania begitu melihat sahabatnya tampak menekuk wajah.
"Nggak apa-apa kok," jawab Esa datar.
"Yuk aku bantu antar pesananannya. Banyak banget yang di pesan. Apa iya, bakal dia makan semua makanan ini?"
Melihat banyaknya makanan yang di pesan Meisha. Esa membantu Vania.
Vania mengangguk, setuju. Kemudian mereka berdua membawa makanan itu, ke meja Meisha.
Setelah itu, mereka kembali ke dapur kembali.
"Hmm... baunya enak banget. Nggak sabar buat makan."
Meisha memang benar-benar lapar. Ia segera melahap satu persatu makanan di atas meja. Dengan lahap, ia menghabiskannya tanpa tersisa.
Evans hanya melihat teman masa kecilnya itu melahap habis semua makanan. Dia memang lapar apa rakus! Entahlah, yang jelas dia saat ini terlihat begitu lapar setelah perjalanan jauh yang ia lewati.
"Gimana, enak nggak?" Tanya Evans basa basi.
"Enak banget ini, kalau nggak enak nggak mungkin aku habisin," jawab Meisha sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Mau nambah lagi, nona bulan," Tanya Evans tersenyum.
"Cukup, udah aku kenyang."
Meisha mengelap bibirnya dengan tisu. Kemudian menyesap minuman dingin di hadapannya.
"Ngomong-ngomong aku boleh dong ya, sewaktu-waktu maen kesini."
Meisha berharap Evans tak keberatan, jika ia sering mengunjunginya di restoran.
"Kenapa tidak. Siapapun boleh berkunjung," jawab Evans mengijinkan.
"Hmm... Vans, aku ijin ketoilet dulu ya."
Meisha terlihat meringis menahan buang air kecil. Kemudian dengan cepat, ia melangkah menuju toilet.
Drrrtt... drrrttt... benda pipih di saku kemeja Evans bergetar.
"Hallo pa, ada apa?" Evans menjawab panggilan dari Jaya Haidar.
"Kamu dimana? Sudah ketemu Meisha belum?"
"Sudah pa, kita masih makan di restoran."
"Syukurlah, kalau sudah selesai. Antar Meisha pulang. Kami sudah menunggu kedatangan kalian."
Jaya Haidar Sasongko tengah menunggu bersama keluarga Sinegar.
"Untuk apa, Papa di situ?" Tanya Evans curiga.
"Sudahlah, lebih baik kalian cepat kesini. Nanti kamu juga tau sendiri," jawab Jaya haidar.
Sedetik kemudian sambungan telpon itu terputus.
Terlihat Meisha sudah kembali dari toilet.
"Yuk aku antar pulang"
Evans berdiri setelah Meisha menghampirinya.
"Kenapa terburu-buru. Bahkan aku belum melihat semua ruangan di restoran ini. Nanti saja! Aku masih ingin disini." Meisha menolak Evans mentah-mentah.
Evans manarik napas panjan lalu mengeluarkannya lerlahan.
"Nona bulan, keluargamu sudah menunggu di rumah. Lagi pula, besok-besok kamu juga bisa kesini lagi." Dengan sabar Evans membujuk Meisha.
"Baiklah" Meisha mendengarkan kata-kata Evans. Walau harus menekuk wajah.
Kemudian mereka keluar meninggalkan restoran.
Masuk ke dalam mobil, menuju ke rumah Meisha Sinegar.
***
"Tidak terasa anak-anak kita sudah tumbuh dewasa. Aku rasa, baru saja kita menimangnya," ucap Sinegar papa Meisha. Mereka mengobrol dan bercanda. Seraya menanti kedatangan Evans dengan Meisha.
"Benar katamu, sebenarnya aku merindukan masa-masa itu."
Suara canda tawa terdengar begitu menyatu.
Setiap hari tanpa tersenyum merupakan hari yang terasa hampa dan tak bahagia. Itu pasti!
Nggak ada kekuatan yang lebih besar dari pada ketulusan cinta dan kebahagiaan merupakan kekuatan yang dapat menyelamatkan seseorang dari perasaan takut yang selalu menggerogoti setiap batin akal dan pikiran.
Tidak lama kemudian, Evans datang bersama Meisha.
"Papa..!" Teriak Meisha, ia berlari menghampiri papanya. Mereka berpelukan saling melepas rindu.
"Apa kabar Meisha?"
Jaya Haidar menyapa Meisha. Yang masih memeluk sang papa.
"Kabar baik om Jaya. Om Jaya sendiri gimana? kata papa, om baru sakit."
Meisha begitu perhatian kepada papa Evans.
"Sudah baik, bahkan lebih baik setelah mendengar kabar Meisha pulang ke Indonesia," jawab Jaya Haidar. Ia melirik Evans yang tengah berdiri memperhatikan mereka.
"Om Jaya bisa aja" Meisha tersenyum lepas.
"Mama kemana, Pa?"
Sejak ia datang, mamanya tak menampakkan diri.
"Ada, tadi masih di kamar. Nah, itu dia Mama kamu."
Terlihat nyonya Mega Sinegar menghampiri mereka, di ruang keluarga.
"Sayang, kamu udah datang." Mega memeluk hangat putrinya.
"I miss you, Mama," ucap Meisha tampak begitu bahagia.
"Terima kasih, nak Evans sudah mau repot-repot menjemput Meisha," ucap Nyonya Mega tersenyum.
"Sama-sama, Tante. Kalau begitu saya pamit dulu Om, Tante." Evans berpamitan setelah merasa tugas yang di berikan Papanya, selesai.
"Lhoh, kok cepet-cepetan. Duduk dulu dong, ngumpul bareng kita. Sudah lama kita nggak ngumpul bareng seperti ini," pinta Mega Sinegar kepada Evans.
Evans tersenyum, melihat papanya mengangguk. Mengisyaratkan Evans untuk ikut duduk bersama mereka. Akhirnya, tak ada alasan lain bagi Evans untuk menolak.
Bersambung...