Ketika restoran sepi pengunjung. Esa bercengkrama dengan Vania, tepat di meja pengunjung.
"Van, apa benar tadi pacarnya Evans. Kalau benar, patah hatiku! Nggak ada harapan lagi deh," Esa mengungkapkan isi hati. Kegalauan melanda nya.
"Aku juga nggak tau Sa. Nggak usah terlalu di ambil hati. Belum tentu mereka berpacaran. Lagi pula, kalau pun memang benar. Belum tentu mereka berjodoh." Vania meyakinkan Esa sahabatnya, yang sedang galau.
"Betul juga kata kamu, Van. Jodoh nggak kemana. Tapi, ya tetep sakit hayati."
Esa begitu sangat mengharapkan Evans.
"Sabar. Kalau kamu beneran suka sama dia. Kenapa nggak mencoba lebih deket lagi, Sa" Vania menepuk-nepuk pundak Esa.
"Nyali ku terlalu ciut saat di dekatnya. Beda seperti saat nggak ada dia, Van." Esa memangku tangan. Seakan sedang memikirkan sesuatu.
Vania menggelitik Esa.
"Nglamun mulu, nanti kesambet lhoo!"
Vania nggak suka melihat sahabatnya terlihat sedih, yang ada dia juga ikut sedih.
Mereka terlihat begitu asyik. Hingga tak menyadari kedatangan Evans, yang baru saja memasuki restoran.
Dan kini, Evans berdiri tepat di belakang Vania dan Esa duduk.
"Lagi ngomongin apa sih, kelihatannya seru," tanya Evans, tidak menyadari bahwa dia yang sedang jadi bahan pembicaraan.
Vania dan Esa terkejut mendengar suara Evans dari belakang mereka. Vania dan Esa saling memandang sedetik kemudian menoleh kebelakang secara bersamaan.
Vania nyengir melihat Evans.
"Rahasia perempuan, laki-laki nggak boleh tau! Ya nggak, Sa!" Sahut Vania menanggapi pertanyaan Evans. Ia menutup-nutupi.
"Syukurlah, dia tadi nggak dengar. Kalau iya dengar, mau di taruh mana muka ku." Batin Vania.
Esa mengangguk, membenarkan.
"Oh jadi begitu. Boleh aku ikut duduk disini," ucap Evans melihat masih ada beberapa bangku kosong di sebelah mereka.
"Boleh, silahkan!"
Vania mengijinkan. Dalam batinnya bertanya-tanya. Kemana wanita cantik yang tadi bersama Evans.
Evans mendudukkan diri satelah Vania mengijinkan.
Esa masih tak percaya. Jika Evans kini duduk bersama mereka. Ia terdiam, begitu pun dengan Vania. Ia juga diam menatap atasannya heran.
"Loh! Kok pada diem gini, setelah aku ikut gabung. Tadi kelihatannya seru!"
Evans tak kalah heran menatap Vania dan Esa. Kedua wanita itu, kini malah memilih diam dengan tatapan aneh mengarah kepadanya. Wanita memang sulit di tebak.
"Pacarnya cantik juga, ya, Pak?" Tanya Esa memberanikan diri.
"Pacarnya? Pacar siapa?" sahut Evans dengan Wajah tampak seperti memikirkan sesuatu.
"Siapa lagi kalau bukan wanita cantik yang bersama pak Evans, tadi. Yang baru makan disini." Vania menjelaskan.
"Oh! Meisha!" jawab Evans sedikit menahan tawa.
"Mereka kira Meisha pacarku!" Batin Evans menggeleng-geleng kepala.
"Wanita yang makan disini tadi itu, namanya Meisha. Dia teman masa kecilku, dulu. Tadi dia baru saja pulang dari luar negri, jadi aku mengajaknya untuk makan di sini."
Evans menjelaskan kepada mereka, agar tidak ada salah paham. Sekalipun mereka pikir Meisha pacarnya, sebenarnya juga nggak masalah.
Esa menghela napas lega, mendengar penjelasan Evans.
Vania mengangguk, mengerti bahwa dia dan Esa sudah salah paham.
"Saya kira, itu pacar pak Evans. Soalnya terlihat begitu serasi," jawab Vania dengan sengaja mengompor-ngompori Esa.
Dengan gemas, Esa mencubit pinggang Vania.
Vania hanya meringis menahan cubitan Esa yang terasa, sedikit sakit. Kemudian tangannya melepas kan tangan Esa darinya.
"Bercanda, Sa," ucap Vania lirih.
Evans tersenyum melihat tingkah kedua waitersnya itu.
"Kalian sendiri, apa sudah makan?"
Evans begitu perhatian terhadap semua karyawannya.
Vania dan Esa hanya mengangguk bersamaan.
"Sa, bentar ya. Aku ke toilet dulu. Kalian lanjut ngobrolnya, aku permisi dulu."
Vania berniat meninggalkan sahabatnya, hanya berdua dengan Evans. Memberi kesempatan Esa untuk lebih dekat dengan Evans.
Esa mengerti, mengapa Vania meninggalkannya berdua saja.
Evans hanya memperhatikan Vania menjauh pergi. Menuju toilet wanita. Lalu kemudian, ia fokus berhadapan manatap Esa.
Esa merasa gerogi. Sial!
"Kenapa aku nggak bisa ngomong apa-apa di depan dia. Seketika pikiranku kosong. Gila! Masa aku hanya diam seperti ini. Ayolah Vans, mulailah bertanya sesuatu." Batin Esa penuh harap.
"Kamu kenapa Sa, apa kamu sakit?" Evans bertanya seperti itu, sebab, Esa terlihat sedikit pucat dari sebelumnya.
"Nggak kok, aku nggak apa-apa." Jantung Esa berdetak kenjang.
"Apa kamu yakin?"
"Ya" Esa tersenyum meyakinkan.
"Baiklah, sebentar lagi restoran tutup. Sebaiknya kamu segera berkemas." Evans mengingatkan. Ia berdiri dari tempat duduknya. Meninggalkan Esa yang masih duduk terpana menatapnya. Evans melangkah menaiki anak tangga dengan perlahan. Menuju ruang kerjanya.
Esa menghela nafas dalam. Ia merasa begitu senang, Evans tadi memperhatikannya. Walau hanya begitu, rasa galaunya sudah terobati.
"Hai Esa, apa kabar?"
Suara tak asing terdengar di telinga Esa. "Kamu lagi, ngapain kesini," Tanya Esa ketus.
"Aku tadinya mau ketemu Evans. Kebetulan aku liat kamu sendiri. Jadi aku samperin," jawab Dion apa adanya.
Esa menatap malas.
"Ya udah sana! Ngapain masih di sini!"
Dion paham betul, mengapa Esa bersikap seperti itu. Dion juga menyadari kesalahannya, sempat mempermainkan hati Esa.
"Sa, aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku tau, kamu tidak menyukai ku. Hanya aku saja yang keterlaluan dengan terus merayumu. Sebenarnya, kedatanganku ingin memberimu ini."
Dion memberikan sebuah kartu undangan pernikahan berwarna putih. Terlihat jelas, ada foto sepasang calon mempelai di kartu undangan itu.
Esa menerima kartu undangan itu, lalu membaca nama calon kedua mempelai.
"Syukurlah kalau akhirnya kamu menikah dengan gadis itu. Semoga kalian bahagia." Esa tersenyum sinis.
Dion mengangguk.
"Terima kasih, Sa. Aku berharap kamu datang di acara pernikahan kami. Dan, aku titip ini. Tolong sampaikan kartu undangan ini kepada Vania. Sekali lagi terima kasih, Sa."
Dion meninggalkan Esa. Sebelum Esa sempat menjawabnya. Ia melangkah menuju ruang kerja Evans.
Esa menghela napas dalam. Ia ikut senang akhirnya Dion akan menikah. Setidaknya, dia nggak akan merayu-rayu Esa lagi. Membuatnya sangat risih. Meski kadang emosi nya naik ketika bertemu Dion. Tapi terkadang Esa juga rindu, dengan tingkah Dion di saat menghibur dirinya, ketika sedang badmood. Hanya saja, ia tak suka dengan sifat Dion yang playboy.
Vania melihat Esa, berdiri mematung dengan membawa sebuah kartu undangan. Lalu kemudian menghampirinya.
"Kartu undangan dari siapa Sa?" Tanya Vania penasaran.
Esa memberikan salah satu undangan itu kepada Vania.
Dengan penasaran Vania membacanya.
"Dion! dia nikah! Nggak nyangka dia nikah secepat ini. Bukannya masih kemarin dia ngejar-ngejar kamu" Vania menggeleng kepala.
Esa tersenyum kecut. "Ya begitulah cowok playboy!" Jawabnya ketus.
Sementara itu, di ruang kerja Evans. Dion terlihat duduk santai, melihat Evans yang tengah sibuk mengamati gambar grafik pada laptopnya.
"Kerja, kerja, kerja terus, kapan nyari ceweknya brow!" Dion tengah menyindir Evans yang hanya fokus dalam usahanya.
Evans melirik ke arah Dion sebentar, kemudian menatap laptopnya kembali.
"Apa tujuanmu datang ke mari hanya buat nyindir? Kalau memang benar, lebih baik pulang saja kau!"
Dion menahan tawa.
"Jangan mudah emosi. Belum ada pacar sudah beruban, nanti."
Lagi-lagi Dion kembali menyindir.
Evans menggeleng kepala.
"Buat apa nyari, bila akhirnya tidak berjodoh. Santai lebih baik, bukankah jodoh tidak kemana," jawab Evans dengan santai dan penuh keyakinan.
Betul juga apa yang di katakan Evans. Dion mengangguk mengerti.
"Ini kartu undangan untukmu. Aku harap kau akan hadir dengan menggandeng, seorang wanita," ucap Dion mengharuskan.
Sejurus kemudian, Evans membaca kartu undangan itu.
"Apa aku nggak salah baca? Kau benar menikah! Seorang Dion menikah secepat ini. Mengejutkan!" Canda Evans.
Ia menatap Dion tak yakin. Apakah Dion sudah tobat! Tentunya sudah. Tidak mungkin juga Dion meremehkan sebuah pernikahan.
"Jadi kau masih juga meragukan ku. Aku sudah terlalu lelah harus merespon semua perasaan wanita yang jatuh cinta kepada ku. Makanya aku mutusin buat menikah dengan wanita pilihanku," tutur Dion begitu percaya diri.
Ia membalikkan fakta bahwa para wanitalah yang mengejar-ngejar dia.
"Okke. Selamat untukmu," ucap Evans datar.
"Kau harus datang di acaraku, besok. Siapa tau nanti kau ketularan segera menikah, setelah aku. Lupakan masalalu, masa depanmu sudah menanti. Jangan sampai rambutmu berubah menjadi putih. Baru kau memikirkan untuk menikah."
Dion blak-blak an. Dia memang sengaja memancing emosi Evans.
Evans menghela nafas. Meskipun kata-kata yang di lontarkan Dion kepadanya terlalu pedas. Evans terlihat begitu tenang. Tak tersulut emosi sedikit pun. Kata-kata Dion itu, sudah seperti makanan sehari-hari bagi Evans. Bagaimana pun juga, Evans sudah menganggap Dion seperti saudara sendiri.
"Aku tak mau terburu-buru. Bila saatnya tiba, kartu undanganku juga pasti sampai kepadamu."
Evans menyesap kopi hitam yang sudah dingin, sebab ia terlalu sibuk hingga lupa meminumnya.
Terlihat sesekali mengusap-usap dagunya. Memgamati Evans yang tengah santai, berbincang dengannya.
"Baiklah! Aku akan menunggu undangan darimu. Pastinya om Jaya juga sangat menunggu. Aku yakin! Beliau orang pertama yang sangat berbahagia melihat kau menikah."
Jaya Haidar juga meminta Dion, untuk membujuk Evans. Supaya mau membuka hatinya, agar tidak terus terbelenggu oleh masalalunya.
"Aku tau, kau juga di suruh Papa untuk membujukku. Sudahlah, jangan terlalu meikirkan ku. Pikir saja momen pernikahanmu, besok. Aku pasti datang," pungkas Evans tak ingin memperpanjang perihal dirinya.
Evans menutup leptop. Melihat jam berwarna hitam yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. Mengingat sebentar lagi restoran tutup. Biasanya jam-jam segini. Para karyawan berkemas siap untuk pulang.
"Baiklah. Kalau begitu aku pulang," ucap Dion berpamitan.
Melihat Evans mengangguk. Dion lalu berdiri melangkah keluar kemudian menghilang di balik pintu.
Evans pun berkemas untuk pulang. Secepatnya dia keluar dan menuruni tangga. Di lantai bawah restorannya sudah terlihat sepi. Hanya beberapa karyawan laki-laki yang masih sibuk merapikan pantry. Evans melangkah keluar. Terlihat Esa dan Vania masih ada di sana.
"Kalian belum pulang?" Suara Evans mengagetkan mereka.
Belum mereka menjawab, Mang Ujang datang menjemput Vania.
"Sa, aku duluan ya. Permisi Vans, saya duluan." Vania tersenyum, kemudian duduk tepat di belakang mang Ujang. Ia melambaikan tangan lalu kemudian hilang di jalanan.
Hanya tinggal Evans dan Esa berdua saja. "Hmm, saya juga permisi pulang," ucap Esa berpamitan.
"Iya, hati-hati di jalan," sahut Evans.
Evans pun melangkah menuju mobilnya. Dan bergegas untuk pulang.
***
Di rumah keluarga Sinegar.
Meisha terlihat duduk santai di ruang keluarga. Ia membaca Novel ber Genre Romance, yang tengah di gandrunginya. Lengkap dengan teh hangat dan cemilan menemaninya.
Mega sinegar menghampiri putri kesayangannya.
"Mei, baca apa sih. Mama liat kok senyum-senyum sendiri," tanyanya penasaran dengan apa yang di baca putrinya.
"Ini ma, aku baca novel. Kisahnya seru, romantis banget," sahut Meisha tanpa menoleh ke arah mamanya. Kedua matanya tetap fokus, dengan novel yang di bacanya.
"Oh, novel romantis. Ngomong-ngomong Evans tipe cowok romantis nggak sih?"
Sengaja Mega membicarakan Evans.
Seketika Meisha berhenti membaca lalu menutup novelnya. Pertanyaan mamanya berhasil menarik perhatiannya.
"Kenapa mama tanya begitu?" Meisha berbalik tanya.
"Ya, nggak kenapa-napa. Cuma nanya aja. Mama liat kayaknya Evans anaknya baik, sopan. Kayaknya kalian cocok."
Mega berharap putrinya punya pemikiran yang sama.
Meisha tersenyum penuh arti, dengan kedua mata berseri-seri.
"Sebenarnya, aku suka sama Evans, Ma" ungkap Meisha tanpa basa basi.
"Tapi, aku nggak tau. Dia punya perasaan yang sama apa enggak ke aku."
"Tenang saja, pasti kamu akan bersatu sama Evans. Papa kamu dan om Jaya, berniat menjodohkan kalian berdua. Kita akan membicarakan lagi hal ini, besok." Mega mengusap-usap lembut rambut putrinya.
"Benarkah itu Ma"
Dengan cepat Meisha memeluk sang mama. Ia terlihat begitu bahagia mendengarnya.
"Meisha seneng banget ma"
"Mama juga bahagia, liat putri mama bahagia."
Melihat istri dan putrinya berpelukan dan terlihat bahagia. Sinegar menghampiri mereka.
"Waah, ada apa ini. Kaliatannya seneng banget."
Meisha dengan mamanya menahan tawa.
"Ini lho pa, putri kesayanganmu sedang jatuh cinta," jawab mega tersenyum.
"Jatuh cinta sama siapa? Kok papa nggak di kasih tau." Sinegar tampak begitu penasaran.
"Rahasia dong pa, nanti papa juga tau sendiri. Ya kan ma?" Sahut Meisha semakin membuat papanya penasaran.
Maga hanya mengangguk, setuju.
Sinegar geleng-geleng kepala di buat penasaran putrinya. Melihat istrinya mengerlingkan sebelah mata. Mengisyaratkan sesuatu kepadanya. Ia mengangguk mengerti kemudian tersenyum lepas.
"Asal hati-hati saja kalau suka sama cowok. Jangan mudah di manfaatkan sama cowok. Jaman sekarang banyak anak gadis rela melakukan apa saja demi pacarnya. Padahal belum tentu. Cowok itu benar-benar baik dan tulus," tutur Sinegar mengingatkan putrinya.
"Kalau begitu, Meisha nurut sama papa aja. Cowok mana yang menurut papa pantas untuk Meisha. Itu yang akan Meisha pilih. Asal cowoknya ganteng lho pa, kan Meisha cantinya nggak ketulungan begini. Mirip-mirip papa sedikit lah. Tapi cantiknya kayak mama."
Meisha terlihat begitu senang. Besok, dia berencana ingin menghampiri Evans di restorannya.
"Aku akan memberikan mu kejutan besok, tunggu saja"
Bersambung...