Bab 10

1618 Words
*** Jarum jam sudah menunjukkan tepat pukul 4 pagi. Sementara langit masih tampak gelap. Vania terbangun dari tidurnya. Sejurus kemudian, ia turun dari ranjang tidur miliknya. Melangkah keluar kamar menuju dapur. Di sana terlihat Wulandari tengah sibuk membuat kue. Beberapa kue yang sudah masak, berjejer rapi di atas meja. "Pagi mama," sapa Vania. Ia mendudukkan diri di kursi. Mengusap-usap kedua matanya yang masih terasa ngantuk. "Pagi sayang," jawab Wulandari. Ia tengah sibuk menakar tiap bahan-bahan kue untuk membuat adonan lagi. "Aku mau bikin kopi, ma. Rasanya masih ngantuk. Mama mau kopi juga, biar sekalian Vania bikinin." Vania mengedip-ngedipkan kedua matanya. "Boleh, kebetulan mama belum buat tadi," jawab Wulandari. Vania mengangguk. Sejurus kemudian, ia berdiri mengambil dua gelas belimbing yang tersusun rapi di atas rak piring berwarna silver. Di isinya dua gelas itu dengan sesendok kopi murni, di tambah sesendok gula. Kemudian di seduhnya dengan air panas. Aroma kopi hitam buatan Vania tercium segar. "Ini kopinya, Ma." Vania memberikan kopi hitam itu kepada Wulandari. "Terimakasih sayang." Wulandari menerima kopi hitam itu, kemudian menyesapnya perlahan sebab masih begitu panas. "Hmm... rasanya pas. Pinter anak mama meracik kopi," ucap Wulandari memuji kopi hitam buatan Vania. "Mama bisa aja," sahut Vania sambil menyesap kopi buatannya sendiri. "Kamu nanti masuk kerja kan sayang? Jas atasan kamu yang kemarin, udah mama cuci. Sebaiknya cepat kamu kembalikan, ya, nanti." Wulandari mengingatkan putrinya. "Iya ma, hampir-hampir Vania lupa. Untung saja mama mengingatkan ku." Vania menghela napas. Ia benar-benar lupa kali ini. Bukan hanya kali ini, tapi sering! Ia mengambil sepotong roti buatan mamanya dan memakannya. Sebagai pengganti nasi untuk sarapan pagi nya. Setelah memakan beberapa potong roti dan menghabiskan segelas kopi. Vania merasa kenyang. "Ya udah ma, aku siap-siap dulu ya." Vania berdiri dari tempat duduknya. "Iya sayang," sahut Wulandari yang masih duduk di meja makan. *** Bi Umi selesai menyiapkan sarapan pagi. Kali ini, ia membuat sarapan nasi pecel, sesuai permintaan Tuannya, Jaya Haidar. Terlihat kedua juragannya itu, dengan lahap memakan nasi pecel ala bi Umi. "Meisha, bagaimana menurutmu?" tanya Jaya Haidar memulai pembicaraan. "Bagaimana apanya?" Jawab Evans terlihat malas membicarakan Meisha. "Dia menarik bukan. Aku harap kau memperlakukan Meisha dengan baik, ketika bersamanya. Sudah lama dia kuliah di Luar negri. Tentunya, ini kesempatan untukmu untuk mendekatinya." Jaya Haidar menginginkan kedekatan terjalin di antara Evans dan Meisha. "Bukankah tugasku hanya menjemputnya, kemarin. Selepas itu, sudah bukan tugasku." Evans tidak ingin, papanya memaksa dirinya. "Ayolah! Dia baru saja kembali dari luar negri. Tidak salahnya mengajak Meisya jalan sebentar. Kalau bukan denganmu, lantas dwngan siapa? Mengingat hanya kau yang punya banyak waktu luang, di sela-sela mengurus restoran." Bagaimana pun juga Jaya Haidar akan terus memaksa. "Aku terlalu sibuk jika hanya untuk sekedar jalan-jalan. Akan membuang waktu saja." Evans menolak. "Lantas sampai kapan kau menyibukkan diri dengan pekerjaan. Sudah terlalu lama kamu menjomblo. Cobalah dekat dengan Meisha. Dia gadis cantik, pintar dan dari keluarga terpandang. Aku melihat kalian begitu serasi untuk menjadi sepasang kekasih," tutur Jaya Haidar terlalu berharap. "Perasaan itu tidak bisa di paksakan. Kalau pun di paksakan percuma saja. Bukannya bahagia malah akan terasa tersiksa," jawab Evans lalu menghela napas dalam. "Kalau begitu jangan menjauh bila Meisha mendekat. Perasaan itu akan muncul dengan sendirinya seiring waktu. Ingat Evans! Papamu ini sakit-sakitan dan sudah tidak lagi muda. Aku ingin melihatmu bahagia. Selagi aku masih hidup." Kedua mata Jaya Haidar berkaca-kaca. Evans hanya diam tak bisa berkata-kata. Perasaannya kini bimbang. Cinta tidak semestinya di paksakan. Bila akhirnya terpaksa menyatu, tentunya tidak akan bahagia dengan sempurna. Bisa jadi malah menjadi 'terpaksa bahagia'. *** Meisha merasa seperti gadis paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak! Kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan laki-laki yang dia sukai. Kalau dia boleh memilih. Meisha akan memilih langsung, untuk di nikahkan, saja! Meisha tengah sibuk memilih baju yang tergantung rapi di lemarinya. Ia ingin tampil cantik dan menarik untuk bertemu Evans hari ini. Satu persatu baju ia coba. Hampir semua baju di dalam lemari itu, ia coba semua. Akhirnya dia memilih drees berwarna baby pink. Kemudian ia sedikit memoles wajahnya agar tampak lebih cantik. Ia sengaja mengurai rambut panjangnya. Sudah terlihat seperti artis korea saja penampilannya kini. "Meisha, kau terlihat begitu cantik, sempurna hari ini. Aku yakin Evans akan terpana melihat pesonamu." Meisha berbicara sendiri di depan kaca. Ia menirukan lagu k-pop yang membuatnya semakin percaya diri, melenggak lenggok di depan kaca. *** Evans tengah serius membaca berkas dokumen di meja kerjanya. Terdengar suara pintu di ketuk beberapa kali. "Silahkan masuk" Evans mengijinkan seseorang di balik pintu itu, untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Bukannya melihat siapa yang datang. Evans tetap sibuk melanjutkan membacanya. Seorang itu masuk, melangkah mendekati Evans yang tengah sibuk di meja kerjanya. "Maaf saya mengganggu" Dengan sedikit grogi, Vania mulai berbicara. Tatapan Evans seketika beralih kearah asal suara yang ia dengar. Benar saja, Vania yang kini tengah berdiri di hadapannya. "Vania, ada perlu apa?" Evans tak menduga Vania akan menemuinya. "Ini, saya mau mengembalikan jas kamu. Maaf kemarin aku lupa mengembalikannya." Vania memberikan jas berwarna hitam yang masih ia dekap itu, kepada Evans. Evans mengangguk menerima jas miliknya itu. "Iya tak apa." Evans tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi" Vania membalikkan badan melangkah menuju pintu. "Tunggu!" Evans menghentikan langkah Vania. Vania membalikkan badan kembali menghadap Evans. "Ada apa," ucap Vania datar. "Bisakah kau membantuku merapikan dokumen dan buku-buku ini," tanya Evans. Ia merasa tidak nyaman mejanya tampak berantakan. Sedangkan dia tak punya cukup waktu untuk sekedar merapikan. "Tentu," sahutnya. Vania memperhatikan banyak nya tumpukan buku, tersusun tak beraturan. Di tambah banyaknya kertas yang berjatuhan di sekitar meja kerja Evans. Menambah kesan berantakan lebih kental. Vania mulai mengambil beberapa kertas di bawah meja itu. Merapikan tumpukan dokumen dan buku-buku di atas meja. Dan menata sedemikian rupa. Sedangkan Evans, masih sibuk dengan kertas yang ia baca. Mengarahkan pena lalu kemudian, membubuhkan tanda tangannya. Kini meja kerja Evans terlihat rapi paripurna. Dengan tidak sadar Vania berdiri di samping Evans duduk. Sejenak ia melihat kertas yang di bubuhi tanda tangan itu. "Maaf, saya sudah selesai merapikannya. Apa ada yang bisa saya bantu lagi? Kalau tidak saya ijin untuk bekerja," ucap Vania dengan polosnya. Evans sedikit memutar kusinya berhadapan dengan Vania. "Iya, terima kasih. Kamu sudah boleh pergi," jawab Evans mengijinkan. Masih dengan wajah tampannya. Vania mangangguk. Ia membalikkan badan. Namun tiba-tiba kakinya terkilir. Vania jatuh tepat di pangkuan Evans. Dengan sigap Evans mendekap tubuh Vania. Untuk kedua kalinya, mereka saling berpandangan. Dengan jarak yang sangat dekat. Evans terpaku akan kecantikan Vania. Jantungnya berdetak kencang setiap kali bertemu dengannya. Vania menatap polos wajah Evans yang terlihat lebih tampan dari jarak pandangnya saat ini. Tak sadar perlahan Evans mendekatkan bibirnya ke bibir Vania yang berwarna pink alami. Memagut lembut Vania pun membalasnya. Dengan mata tertutup, mereka saling menikmati. Vania tak menyangka ini akan terjadi. Sama seperti adegan film romantis yang kerap kali ia lihat. Namun, kelembutan yang Evans berikan berhasil membiusnya. Ceklek.. suara knock pintu di putar. Membuat Evans dan Vania terperanjat kaget. Dengan sigap Vania berdiri. "Aduh! sakit!" Keluh Vania tak kuasa berdiri. Kakinya terasa nyeri. "Ada apa?" Meisha buru-buru mendekat. "Kenapa kamu memijit kakinya? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Meisha setelah melihat Evans memijit pergelangan kaki Vania. "Kaki Vania terkilir," jawab Evans. Vania terlihat meringis menahan sakit. Meisha menatap penuh curiga ke arah Vania. "Apa yang kau lakukan di dalam ruang kerja Evans? Tempat kerja seorang pelayan di bawah. Bukan di sini!" seloroh Meisha ketus. Perasaan cemburu menggerogoti batin Meisha. "Aku sendiri yang memintanya datang ke sini. Tempat kerjaku terlalu berantakan. Aku meminta Vania membantu merapikan." Evans berdiri membantu Vania berjalan. Sejurus kemudian mendudukkan Vania dengan perlahan di sofa. Dengan berat Meisha menelan salivanya. Ia tampak begitu kesal. Melihat Evans lebih peduli dengan pelayan itu. Dari pada menyambut kedatangannya. Vania merasa bingung berada di tengah-tengah mereka. Ia merasa seakan keberadaannya sekarang hanya menjadi parasitdi antara mereka. Vania juga sadar, ia tak bisa melakukan apa-apa. "Maaf kalau begitu, saya ijin keluar. Kebetulan tugas saya sudah selesai." Vania berusaha berdiri dan berjalan dengan kaki pincang sebelah. "Aku akan mengantarmu," sahut Evans. Memegangi kedua pundak Vania. Perlahan Vania melepaskan tangan Evans dari pundaknya. "Tidak perlu, saya bisa berjalan sendiri. Kasihan Nona Meisha bila di tinggal sendiri." Dengan halus Vania menolak. "Apa kamu yakin?" Evans menghawatirkan keadaan Vania. Vania tersenyum dan mengangguk. "Yakin" Meisha membuang muka malas. Kedua tangannya mengepal menahan emosi. Ingin rasanya ia mengumpat Vania, namun ia masih bisa menahannya. "Dasar pelayan ganjen, aku tak yakin bila kakinya benar terkilir. Bisa jadi si pelayan itu berpura-pura terkilir, guna mendapatkan simpati dari Evans. Awas saja kau!" Batinnya penuh amarah. Setelah memastikan Vania menuruni tangga. Evans kembali mendudukkan diri di kursi meja kerjanya. "Sebenarnya, apa yang terjadi sebelum aku masuk?" Tanya Meisha yang masih penasaran. "Untuk apa kau bertanya seperti itu. Bukankah tadi sudah aku jelaskan," jawab Evans, kini ia membuka laptopnya. "Aku hanya masih penasaran. Bagaimana bisa kakinya terkilir? Atau mungkin pelayan itu hanya berpura-pura, hanya untuk mendapatkan simpati darimu." Meisha tersenyum sinis. Evans menghela napas. Mendengar Meisha terlalu banyak bicara. "Sebenarnya apa tujuanmu ke sini?" "Astaga! Hampir aku di buat lupa karna pelayan itu. Papa mengundangmu dan om Jaya makan malam , di rumahku nanti malam. Sepertinya ada hal yang penting yang akan di bahas, nanti," ucap Meisha dengan tersenyum. Ia begitu mengharapkan respon baik dari Evans. Mendengar undangan makan malam dari Meisha. Evans mengingat apa yang dikatakan papanya tadi pagi. Ia tidak boleh menghindari Meisha. "Ya! Tentu aku tidak akan menolak keinginan papa untuk tidak menghindari Meisha. Tapi aku juga tidak akan memaksakan diri untuk mencintainya." Batin Evans. Ia mengangguk tanpa berbicara. Meisha masih menunggu jawaban dari Evans. Tapi ia tak kunjung mendapatkannya. Dipikiran Meisha, mungkin Evans tengah memikirkan Vania, saat ini. "Dasar pelayan ganjen. Tunggu saja. Aku akan membuat perhitungan denganmu" batinnya kesal. Meisha merasa tersaingi oleh Vania. Sedangkan Vania tak tau menahu tentang hal itu. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD