Vania tengah duduk di ruang pantry sendirian. Ia masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Bagaimana bisa ia berciuman dengan Evans tadi. Tangannya mengusap dan meraba bibir nya yang masih basah. Masih sangat jelas dalam ingatan.
Bagaimana bisa? Ia membiarkan Evans mencuri ciuman pertama darinya. Vania mendesah kesal. Bagaimana pula ia bisa terlena dengan sentuhan bibir atasannya.
"Bodoh! Bagaimana bisa aku sebodoh ini. Ciuman pertama ku terjadi begitu saja." Vania menghela napas panjang.
Esa menghampiri Vania. Wajahnya terlihat begitu cemas, setelah mendengar kabar Vania terkilir dari salah satu rekan kerjanya.
"Vania, Bagaimana dengan kakimu?" Tanya Esa dengan khawatir. Ia memegangi pergelangan kaki sahabatnya.
Vania meringis merasa kan nyeri ketika Esa memegang kakinya.
"Aduh! Sakit!"
Esa perlahan memijit kaki Vania.
"Bagaimana kamu bisa terkilir?" Esa kembali bertanya.
Vania terdiam. Ia bingung menjawab pertanyaan sahabatnya. Sial! Tidak mungkin bila ia menceritakan baru berciuman dengan Evans. Terlebih Esa menyukai atasannya yang baru berciuman dengannya.
"Entah! Saat aku berbalik badan mau keluar ruangan, tiba-tiba saja kakiku terkilir," jawabnya dengan pasti.
"Sepertinya aku mau pulang saja. Tidak mungkin aku memaksa bekerja dalam kondisi pincang seperti ini. Buat jalan aja susah. Apalagi buat bekerja. Tapi aku juga belum ijin tadi."
Vania merasa dirinya tidak mampu berdiri sempurna. Ia memutuskan untuk pulang kerumah.
Esa mengoles salep pereda nyeri di pergelangan kaki Vania.
"Kalau begitu, yuk aku anterin pulang. Mumpung restoran belum begitu ramai. Soal ijin, nanti saja aku sampaikan ke Evans."
Kini, Esa selesai mengoles salep pereda nyeri.
"Baiklah," jawab Vania datar.
Esa membantu Vania berdiri. Sejurus kemudian menuntun Vania berjalan yang terlihat pincang. Sesampainya di tempat parkir. Esa membonceng Vania menggunakan motor matic miliknya.
***
Meisha duduk di hadapan Evans. Ia menatap Evans dengan pandangan dingin. Evans masih saja sibuk dengan laptopnya.
"Berasa sia-sia aku dandan secantik ini. Kedua mata Evans tak lepas dari laptopnya. Kalau tidak laptopnya, dia begitu sibuk membaca dokumen yang tertumpuk rapi di meja kerjanya!" Batin Meisha kesal.
"Nampaknya hari ini kau terlalu sibuk. Aku membawakanmu nasi goreng spesial buatanku sendiri."
Meisha memberikan kotak bekal berwarna biru laut milik nya.
Evans melirik Meisha sebelum akhirnya menatap ke arah laptopnya kembali.
"Terima kasih," jawabnya datar.
Tidak ada istimewanya pemberian Meisha. Lagi pula, Evans memiliki restoran yang makanannya pun cukup populer dan pasti lezat. Kenapa Meisha malah memberinya nasi goreng ala buatan nya sendiri! Bukannya membuka dan memakannya. Evans hanya meletakkan nasi gorwng pemberian Meisha di samping tumpukan buku.
Meisha begitu bangga saat memberikan nasi goreng buatannya dalam wadah bekal itu. Ia membuatkan nasi goreng untuk Evans. Sebab memang hanya itu yang bisa Meisha masak. Itu pun dia harus belajar memasak terlebih dahulu. Demi seorang Evans.
"Kenapa nggak dimakan? Aku sudah capek-capek buatin spesial buat kamu lho," tanya Esa menatap dengan mata berbinar. Berharap Evans membuka bekal yang ia berikan, walau hanya sekedar mencicipi.
"Nanti saja. Tadi sudah sarapan dan masih kenyang."
Kali ini ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Rupanya cepat-cepat ia menyelesaikan pekerjaan itu. Sebab ia ingin segera menghampiri Vania. Yang sedari tadi melayang-layang di pikirannya.
Evans berdiri dari kursi kebesarannya.
"Mau kemana?" Tanya Meisha bagitu melihat pergerakan Evans.
"Aku mau turun sebentar. Melihat keadaan Vania," nawabnya datar.
"Aku ikut!" Sahut Meisha berjalan mengikuti Evans keluar ruangan.
"Tidak mungkin aku akan membiarkan Evans menemui Vania sendirian. Bisa-bisa pelayan ganjen itu dengan leluasa menggodanya." Batin Meisha curiga.
Evans menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Kedua matanya mencari keberadaan Vania. Namun, tak di dapatinya Vania di dalam restorannya.
"Kemana dia" batin Evans dengan wajah tampak khawatir. Sejurus kemudian ia bertanya kepada salah satu karyawannya.
"Kau tau dimana Vania?"
"Vania baru saja pulang di antar Esa, pak. Kakinya cidera dan tidak memungkinkan untuk berkerja," jawab karyawan itu.
Evans sudah sangat terlambat. Tangannya meremas rambutnya dengan kasar. Mungkin Vania sudah sampai di rumahnya. Sial! Jika saja dia turun lebih cepat. Pasti ia masih mendapati Vania di restoran itu.
Meisha menatap Evans dengan penuh rasa cemburu kepada Vania.
"Sudahlah Vans. Tidak usah di pikirkan. Sudah bagus dia pulang. Dari pada hanya diam saja di sini. Nanti kan kamu rugi membayar pengangguran," ucap Meisha dengan sinis.
Evans tak mengindahkan apa yang Meisha katakan. Ia melangkah meninggalkan Meisha. Keluar restoran menuju mobilnya yang terparkir rapi. Meisha mendengus kesal. Ia segera membuntuti kemana pun Evans pergi.
Evans masuk kedalam mobil sport miliknya. Di ikuti dengan Meisha masuk mendudukkan diri di bangku sampingnya.
"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Evans. Ia menginjak pedal gas dengan kecepatan rendah keluar area restoran.
"Tentu. Kemana pun kau pergi aku ikut. Tidak lucu jika aku menunggumu sendirian di restoran. Apalagi tujuanmu keluar untuk menemui perempuan itu. Betulkan?"
Meisha tau betul apa yang ada dinpikiran Evans. Pasti ia sedang menghawatirkan pelayan ganjen itu.
Evans menghela napas panjang. Ia melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Teringat jelas saat ia dengan refleks memagut bibir Vania. Pesona Vania membuatnya hilang akal seketika. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah minimalis yang pernah ia datangi itu. Ia segera keluar setelah memarkirkan mobilnya. Terlihat motor maticmilik Esa terparkir di depan rumah Vania. Terlihat pintu rumah Vania yang terbuka. Sejurus kemudian ia melangkah masuk.
Meisha masih terdiam di dalam mobil. Mengamati rumah sederhana namun terlihat begitu cantik dan rapi.
"Tanpa bertanya, tanpa tersesat di jalan. Evans tau rumah si pelayan ganjen. Itu artinya, dia sudah pernah ke sini sebelumnya. Tapi untuk apa dia ke sini sebelumnya?"
Pikiran Meisha penuh dengan tanda tanya. Ia segera menyusul Evans masuk ke dalam rumah Vania.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Evans mendapati Vania dan Esa masih duduk di ruang tamu.
Vania dan Esa kaget menyadari kedatangan Evans.
"Hmm..baik," jawab Vania singkat. Ia merasa sedikit kesal mengingat kejadian tadi.
Esa masih duduk terdiam di samping Vania. Melihat dan mendengar percakapan di antara mereka.
Melihat kaki Vania yang sedikit bengkak. Kekhawatiran Evans tampak jelas di wajahnya.
"Kakimu bengkak. Sebaiknya aku antarkan kamu periksa ke dokter spesialis," ucap Evans dengan tatapan sendu. Ia merasa bersalah atas kejadian itu.
"Tidak perlu. Ini hanya terkilir bukan patah tulang. Hanya dengan di pijit saja, aku rasa nanti juga sembuh." Vania menolak tawaran Evans.
"Jangan menganggap remeh. Kakimu saja sampai bengkak. Itu artinya ada urat pada kakimu yang bermasalah. Apa kau mau berjalan pincang selamanya," jelas Evans menakut nakuti Vania.
"Kau berharap aku pincang selamanya! Jahat sekali kau. Bukannya menenangkan malah menakut nakuti. Apa itu tujuanmu ke sini." Entah dari mana keberanian Vania itu muncul. Ia terlihat sering membantah apapun yang Evans katakan. Bila tak sesuai dengan jalan pikirannya.
Evans terpaku melihat sikap Vania. Ia terlihat lebih tegas dari sebelumnya.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kakimu bertambah parah jika tidak segera mengambil tindakan," jawab Evans tersenyum.
Lagi-lagi senyuman Evans membuat Vania terpesona. Ia terlihat lebih tampan ketika tersenyum. Sangat mirip dangan oppa-oppa Korea. Dengan segera Vania menepis kehaluannya itu.
"Tindakan apa! Sudah ku bilang kakiku baik-baik saja. Hanya dipijit dan di oles krim pereda nyeri pasti sembuh. Tidak perlu memaksaku ke dokter." Vania mendengus kesal.
Esa mengeryit bingung menatap Vania. Kenapa bisa sikap Vania berubah seberani ini. Sebelumnya dia terlihat lebih diam tidak banyak bicara. Tapi sekarang terlihat judes dan pandai berkata-kata.
Evans menghela napas panjang. Tak segan ia duduk di lantai. Kedua tangannya memijit perlahan area kaki Vania yang terlihat bengkak. Mengoles krim pereda nyeri yang terletak di atas meja dekat dengan posisi duduknya, saat ini.
"Aduh!" Vania meringis kesakitan.
"Kau harus menahannya kalau tidak mau ke dokter," ucap Evans tak menghiraukan Vania yang sedang menahan sakit.
"Apa yang kau lakukan? Kau bukan tukang pijit handal. Bukannya sembuh, bisa-bisa kau membuat kaki ku semakin parah!"
Vania tampak menahan sakit, namun perlahan rasa nyeri itu perlahan mereda. Kini ia heran melihat tangan Evans dengan lihainya memijit pergelangan dan telapak kakinya.
Menyadari Vania kini menikmati pijitannya. Evans berhenti dan menatap Vania.
"Bagaimana? Masih sakit?"
"Sudah lumayan. Tapi jangan ke-PD-an, itu berkat krim pereda nyeri yang membuat rasa sakitnya perlahan menghilang. Bukan karna pijitanmu yang bukan tukang pijit handal," jawab Vania ketus.
"Syukurlah jika sudah membaik. Jadi aku tidak perlu repot membuang uangku untuk membayar dokter."
Evans membalas sikap Vania sedemikian juga.
Vania melonggo mendengar ucapan yang di lontarkan Evans.
"Jadi kau tak tulus bertanggung jawab untuk membawaku ke dokter!"
Evans mengedikkan bahu.
"Bukannya kau sendiri yang menolaknya?"
Kini Vania tampak menekuk wajahnya.
Esa terlihat bingung sendiri melihat sahabatnya berdebat dengan atasannya. Sikap mereka membuat Esa merasa heran bukan main.
Meisha melangkah masuk menyusul Evans. Ia bingung mendapati Evans duduk di lantai. Sedangkan kedua pelayannya malah duduk di sofa ruang tamu.
"Apa yang kamu lakukan?" Ucapnya. Ia mendekati Evans dan menarik lengannya, agar Evans segera berdiri.
Dengan sigap Evans pun berdiri. Mengingat ia sudah selesai memijit kaki Vania yang sudah merasa membaik.
"Kenapa kau duduk di lantai. Kau kan tamu bukan pembantu," ucap Meisha mengingatkan Evans.
"Dan kau!" Tatapan Meisha tertuju ke arah Vania.
"Kenapa kau menyuruh bos mu duduk di bawah. Apa ini caramu menghormati bosmu?" Ucap Meisha dengan nada tinggi.
Vania menghela napas panjang.
"Aku tidak menyuruhnya duduk di lantai. Itu atas kemauannya sendiri," jawab Vania datar.
Evans mendudukkan diri di sofa.
"Duduklah! Dan kecilkan nada bicaramu. Kita sedang bertamu." Evans memperingatkan Meisha.
"Aku tau kita bertamu, tapi apa iya tamu duduk di lantai apalagi kamu bos dia," ucap Meisha bersulut.
"Apa tujuanmu ke sini hanya untuk berdebat? Sudah ku bilang itu kemauannya sendiri. Sebaiknya kalian berdua segera pergi. Aku mau istirahat."
Vania mengusir Evans dan Meisha. Kini kepalanya terasa pusing.
Meisha membuang muka.
"Baiklah, aku akan segera pergi. Jaga kesehatanmu, semoga kakimu cepat sembuh."
Tak ingin situasi semakin memanas. Evans mengenggam lengan Meisha dan menariknya agar mengikuti langkahnya keluar rumah Vania.
Vania dan Esa menatap keduanya sampai hilang di balik pintu.
Esa menatap kearah sahabatnya.
"Van, kau tidak apa-apa?" Esa melihat Vania memijit lembut pelipisnya.
"Aku sedikit pusing," jawab Vania.
Ia heran kenapa Meisha bersikap keras padanya. Seingatnya, ia tidak pernah melakukan kesalahan terhadap Meisha. Tapi sekarang setiap bertemu dengannya. Meisha seakan ingin menerkamnya.
Begitupun dengan Esa. Ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sabaiknya kau beristirahat sekarang. Aku juga harus cepat kembali ke restoran," ucap Esa. Lalu ia membantu Vania berdiri melangkah masuk kedalam kamar.
"Kamu nggak apa-apa kan tinggal sendiri di rumah?" Tanya Esa memastikan. Mengingat mama Vania belum kembali dari memanggil tukang pijit untuk Vania.
"Nggak papa Sa. Lebih baik kamu cepat kembali ke restoran," jawab Vania tersenyum. "Sebentar lagi mama juga kembali. Kamu nggak usah khawatir."
"Baiklah. Aku tinggal ya"
Dengan berat Esa meninggalkan Vania di rumah sendirian. Esa melangkah keluar dan menutup pintu depan rumah Vania. Ia segera kembali ke restoran untuk bekerja.
***
Sedangkan dalam perjalanan. Meisha masih terdiam dengan sejuta rasa cemburu dan kesal. Evans pun diam fokus mengemudi.
"Kita mau kemana?" Tanya Meisha menyadari arah yang ia lewati bukan arah menuju restoran Evans.
"Aku akan mengantarmu pulang," jawab Evans datar.
"Tapi! Aku belum ingin pulang. Aku pikir kita akan kembali ke restoran. Aku jenuh berada di rumah," sahut Meisha cemberut. Ia hanya ingin dekat dengan Evans. Malah mau di antarkan pulang.
"Aku ada sedikit urusan. Jadi aku antar kamu pulang terlebih dulu."
Evans melirik Esa yang terlihat kesal sebentar, lalu kembali melihat kearah jalan.
"Aku ikut. Aku lebih baik ikut kamu. Aku benar-benar jenuh di rumah. Nggak ada kegiatan sama sekali membuatku bosan!"
Meisha bersikeras nggak mau di antar pulang.
"Aku akan bertemu dengan kolega yang akan bergabung dalam proyek pembangunan cabang restoran di Bandung. Sebaiknya kau tidak ikut. Mengingat perjalanan jauh dan lamanya aku disana nanti. Lebih baik kau tidak ikut. Kau akan sangat bosan nanti." Ucap Evans.
Meisha mendengus kasar. Rencana berduaan dengan Evans gagal total.
"Jika pelayan ganjen itu tidak membuat sandiwaranya. Aku masih berkesempatan berdua dengan Evans sebelum ia pergi ke Bandung. Memang Dasar pelayan itu," Batin Meisha menyalahkan Vania penyebab kegagalannya itu. Sial!
"Tapi nanti malam kamu pasti datang ke rumahkan?" Meisha mengingatkan Evans dwngan undangannya makan malam bersama keluarga Sinegar.
"Aku belum tau pasti. Bisa iya, bisa juga tidak," jawab Evans dengan santai.
"Papa, Mamaku pasti akan kecewa bila kau tak bisa datang." Meisha tampak sedih.
"Mau bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa menunda proyek yang sudah jauh-jauh hari terjadwal. Bilang saja pada papamu yang sebenarnya. Pasti om Sinegar mengerti," jawab Evans yakin.
Tak terasa mobil Evans sudah memasuki halaman rumah Meisha.
"Aku tidak ikut masuk Mei"
Evans melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kenapa?" Sahut Meisha dengan nada sedih yang di buat-buat.
"Aku harus segera ke Bandung. Jika aku mengulur waktu, aku akan terlambat nanti. Maaf ya." Evans memberi pengertian kepada Meisha.
"Baiklah!" Meisha membuka pintu mobil lalu turun. Ia melambaikan tangan melihat mobil yang di kemudikan Evans melaju dan menghilang di jalanan.
Bersambung...