Bab 12

1807 Words
Hidup di buat happy saja. Abaikan yang tidak suka. Karena dia tidak mampu bahagia. Vania mencoba menggerakkan kakinya yang sudah membaik. Kakinya juga sudah tidak bengkak lagi. Vania berdiri lalu melangkah dengan hati-hati. Memastikan kakinya tidak sakit lagi. Terlihat dari ia berjalan yang masih pincang. Dan masih sedikit nyeri saat ia berjalan. "Lebih baik jangan memaksakan diri, Nak," ucap Wulandari melihat putrinya yang masih berjalan pincang. "Sepertinya kakiku nggak apa-apa ma. Walaupun masih sedikit nyeri. Nggak papa Vania akan bekerja hari ini." Vania tetap memaksakan diri. "Istirahat saja dulu. Jalanmu terlihat seperti itu. Takutnya nanti bengkak lagi jika Vania paksakan untuk banyak berjalan. Istirahat saja dulu untuk hari ini. Pasti atasan kamu juga menyuruh demikian kalau melihat Vania memaksa bekerja." Wulandari cemas bila putrinya memaksakan diri. Bisa jadi putrinya akan tarjatuh kembali jika jalannya seperti itu. Dan pasti bisa membuat kakinya bertambah parah lagi. Vania menghela napas dalam. "Baiklah. Aku akan istirahat untuk hari ini," ucapnya dengan wajah datar. Ia mendudukkan diri di sofa keluarga bersama mamanya. "Ya sudah. Mama tinggal ke dapur dulu ya. Mama belum membuat sarapan untuk kamu," sahut Wulandari tersenyum kepada putrinya. Ia melihat Vania mengangguk selepas itu, ia berdiri melangkah menuju dapur. Jam menunjukkan tepat pukul 6 pagi. Terdengar suara pintu di gedor beberapa kali. Vania terlihat heran siapa yang berkunjung kerumahnya pagi-pagi sekali. Vania berdiri melangkah dengan hati-hati menuju pintu utama. Ia memutar kunci yang semalaman mengunci pintu itu. Lalu kemudian, menarik gagang pintu sampai pintu itu benar-benar terbuka. Dengan wajah heran Vania menatap seseorang yang bertamu di rumahnya, pagi-pagi buta. "Meisha! Kau! Ada perlu apa?" Tanya Vania datar. Meisha melihat penampilan Vania dari atas kebawah, lalu kembali keatas. Ia menatap tajam Vania yang tampak heran. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja," ucapnya basa-basi. Vania tampak mencibir. "Munafik! Sejak kapan kau peduli. Aku tau kau tidak menyukaiku. Katakan saja! Apa mau mu?" Vania sadar. Meisha tidak begitu menyukai dirinya. Terlihat jelas dari sikap dan sorot tatapan mata Meisha. Saat setiap kali bertemu dengannya. Entah! Apa yang membuat Meisha bersikap seperti itu padanya, ia tak tau pasti. Meisha tersenyum licik. "Aku peringatkan kau. Jangan berani-berani mendekati Evans. Jika tidak! Kau akan menyesal nantinya." Kini Meisha mengancam Vania secara terang-terangan. Vania tersenyum tenang. Akhirnya ia tau, alasan apa yang membuat Meisha membencinya selama ini. "Aku tidak pernah mencoba mendekati Evans. Evans sendiri yang selalu mengejarku. Dan asal kau tau, kemarin kita sempat berciuman mesra sebelum akhirnya kau masuk mendapati kakiku yang terkilir." Vania memanas manasi Meisha. Ia puas melihat wajah Meisha yang tampak syok saat ini. "Dasar pelayan ganjen! Berani-beraninya kau..." Tangan Meisha mendarat kan tamparan ke arah Vania. Namun dengan sigap Vania menggenggam, menahan tangan Meisha. "Simpan saja tenagamu. Pikirkan saja bagaimana caranya, supaya Evans tidak mengejarku. Sepertinya, itu lebih baik." Vania menghempas kan lengan Meisha. Hingga lengan Meisha yang tadinya putih, tampak memerah akibat genggamannya yang begitu kuat. Dadaa Meisha mengembang kempis begitu cepat menahan emosi. Tangan sebelahnya mengusap lengannya yang memerah dan terasa sakit. "Asal kau tau. Aku dan Evans akan bertunangan. Bila kau masih saja mendekati Evans. Kau tak beda dengan seorang pelakor!" Meisha berbicara dengan kilatan mata tajam, penuh dengan amarah. Vania manahan tawa. "Sudah ku bilang Evans lah yang mengejar ku. Akui saja, kau kalah saing denganku. " "Tidak mungkin Evans mengejarmu jika kau tidak menggodanya. Dasar pelakor! Awas saja jika kau masih berani mendekati tunanganku." Meisha kini menyebut Vania sebagai pelakor, setelah ia memberi sebutan pelayan ganjen kepada Vania, sebelumnya. "Lebih baik kau cepat pergi dari sini. Sebelum aku berubah pikiran untuk benar-benar merebut Evans darimu." Vania tampak murka dengan sebutan pelakor yang Meisha lontarkan kepadanya. Nyali Meisha menciut seketika. Ia takut jika Vania berani manyakitinya. Ia memang merasa kalah saing dengan Vania. Meisha mutuskan untuk segera pergi. "Aku tegas kan kepadamu sekali lagi! Evans akan bertunangan denganku. Jadi menjauhlah dari kehidupan kami," ucap Meisha sebelum akhirnya ia benar-benar pergi. Vania mendesah, ia membuang muka. Tak mengindahkan sedikit pun. Apa yang telah Meisha ucapkan. Berbanding terbalik saat mengahadapi Meisha, Vania terlihat kuat, tubuh Vania melemas setelah Meisha benar-benar pergi. "Nggak! Aku bukan pelakor" gerutunya. Ia menggeleng-geleng kepala berkali-kali. *** Bayangan wajah polos cantik Vania selalu mengganggu pikiran Evans. Terlebih setelah mereka berciuman, membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Setiap kali ia memejamkan mata. Bayangan wajah Vania tampak tersenyum manis menatapnya lembut. Kali ini Evans mengenakan celana hitam, kemeja putih dengan lengan yang di lipat. Tanpa menggunakan jas seperti biasanya. Tak menghilangkan kesan tampan dan gagah nya sedikit pun. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Menuju rumah minimalis di mana Vania tinggal disana. Ia mencemas kan keadaan Vania. Terlebih ia ingin selalu dekat dengan Vania, yang berhasil meluluh kan hatinya. Setelah sekian lama ia sulit untuk jatuh cinta kembali. Akhirnya Evans sampai di depan rumah Vania. Ia keluar dari mobil setelah memarkirkannya dengan sempurna. Dengan cepat ia melangkah menuju pintu lalu mengetuknya. "Ck siapa lagi" Vania berdecak setelah mendengar ketukan pintu. Ia melangkah secara pelahan lalu menarik gagang pintu yang tidak terkunci. Vania menghela napas setelah pintu benar terbuka. Mendapati Evans sedang tersenyum di depan pintu. "Pagi Vania," sapa Evans sedikit canggung berada di depan Vania saat ini. Vania hanya menatap dingin. "Bagaimana keadaanmu sekarang," tanya Evans terlihat cemas. "Baik. Apa kau begitu mencemaskan ku," sahut Vania melihat wajah Evans yang masih terlihat tampan, meski sedikit pucat akibat kurang tidur memikirkannya. "Ya. Aku mencemaskanmu," jawab Evans dengan jujur. "Tak perlu cemas. Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja. Jangan menghukum diri tak tidur karna memikirkanku. Terlihat jelas dari wajahmu yang tampak pucat." Terdengar datar, tapi sebenarnya ia peduli. Jantung Vania berdetak tak karuan menghadapi Evans. Evans tersenyum menatap Vania. "Eh ada tamu rupanya. Kok nggak di persilahkan masuk," ucap Wulandari melihat Vania dan Evans tengah berbincang di depan pintu. "Selamat pagi tante," sapa Evans tersenyum begitu melihat mama Vania. "Pagi nak Evans, mari masuk. Kok di luar aja sih ngobrolnya." Wulandari tampak senang dengan kedatangan Evans. "Nggak perlu ma. Dia juga mau pergi kok. Ya kan!" Vania bermaksud mengusir Evans. Evans terdiam sejenak menatap Vania datar, lalu tersenyum. "Lhoh kenapa buru-buru nak Evans. Kebetulan tante udah selesai bikin sarapan. Yuk sarapan bareng kita," ajak Wulandari. Evans terlihat bingung. "Mama..." Belum selesai bicara Wulandari memberi isyarat untuk Vania agar diam. "Ayo dong, nak Evans. Jangan menolak niat baik Tante. Mari Evans, masuk!" Wulandari menuntun Vania masuk. Dan menarik lengan Evans agar Evans mengikutinya. Evans tak bisa menolak ajakan mama Vania. Kebetulan juga dia belum sarapan pagi ini. Setelah Sampai di ruang makan. Evans mendudukkan diri berhadapan dengan Vania. "Nak Evans mau dibuatkan apa? Kopi, apa teh?" Wulandari menawarkan. "Teh hangat saja Tante" jawab Evans tersenyum dengan tatapan yang tak beralih dari Vania. Vania menghela napas panjang menatap Evans dingin. Ia mengisi piringnya dengan nasi, sayur, sambal dan ayam goreng. Terbesit dalam pikiran Vania untuk melayani Evans. "Kenapa hanya diam. Sini aku ambilkan." Vania meraih piring Evans yang masih kosong. Mengisinya dengan nasi lengkap dengan lauknya. Tapi kali ini, momen sarapan Evans pagi ini begitu special. Bagaimana tidak, Vania mencampur nasi Evans dengan sambal yang tidak sedikit. Lalu kemudian memberikannya kepada Evans. Dengan sulit Evans menelan salivanya. Begitu melihat apa yang ada di piringnya. Vania tersenyum puas dengan apa yang di lakukannya. "Kau suka sambal kan?" Tanya Vania senang. "Tentu," jawab Evans mengangguk. Melihat Evans yang terlihat kepedasan kqrna ulahnya. Vania tersenyum lepas membuat wajah cantiknya terlihat sempurna. Evans terpana menatap Vania. Seakan ia tak ingin pagi ini cepat berlalu. Kebersaman ini begitu membuatnya bahagia. Meski Vania bersikap dingin kepadanya akhir-akhir ini. Tak membuatnya menyerah untuk mendekati Vania. Wulandari meletakkan teh di sebelah piring Evans. "Kamu suka sambel juga nak Evans. Sama Seperti Vania, dia juga suka sekali sama yang namanya sambal," ucap Wulandari begitu melihat isi piring Evans penuh dengan nasi dan sambal. Evans mengangguk. "Iya Tante. Saya memang suka makanan pedas," jawabnya. Ia meneguk air putih yang berada di samping tehnya. Menatap Vania lembut. Merasa tidak nyaman terus di perhatikan Evans. Vania melotot kearah Evans. Membuat Evans tersenyum lepas. Wulandari tersenyum. "Makan yang banyak. Nggak usah sungkan-sungkan ya. Anggap saja seperti rumah sendiri. Oh iya, nak Evans, Vania hari ini ijin dulu ya. Kakinya belum betul-betul sembuh ." Wulandari mendudukkan diri bergabung untuk sarapan. "Oh iya tante. Saya memang melarang Vania berkerja sebelum kakinya benar-benar sudah sembuh," jawab Evans jujur. "Nak Evans ini, sudah baik pengertian ya." Wulandari muji kebaikan Evans. "Biasa saja, Tante," sahut Evans merendahkan diri. Setelah selesai sarapan Evans pamit kepada Wulandari dan Vania. "Terima kasih Tante, sudah berbaik hati sampai repot menyiapkan makan dan minum untuk saya. Saya pamit, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," ucap Evans tersenyum. "Sama-sama nak Evans. Kalau begitu hati-hati dijalan. Sering-sering main ke sini ya," tutur Wulandari. "Mama apaan sih, dia itu super sibuk ma. Nggak ada waktu buat main. Ngapain juga ke sini!" Gerutu Vania kesal. Wulandari harnya tersenyum. Ia melambaikan tangan melihat mobil Evans melaju di jalanan. *** Evans kaget begitu mendapati Meisha sudah duduk di ruang kerjanya. "Sejak kapan kau di sini," tanya Evans "Sejak kau masuk dalam rumah Vania." Meisha menatap tajam kedua mata Evans. "Dari mana kau tau aku dari sana?" tanyanEvans heran sekaligus penasaran. Bagaimana Meisha tau semuanya. Diam-diam Meisha membayar seseorang untuk memata-matai Evans dan Vania. "Dari mana aku tau itu tidak penting! Untuk apa kamu menemuinya." Rasa cemburu mulai menggerogoti batin Meisha. "Aku melihat keadaannya. Bagaimana pun juga dia pegawaiku. Aku pasti akan peduli padanya," ucap Evans sambil mendudukkan diri di kursi kebesarannya. "Jangan-jangan kau menyukainya!" Pertanyaan Meisha tepat sasaran. Evans terlihat tenang menanggapi Meisha. "Haruskah aku kemana-mana meminta ijinmu. Sementara kita tidak ada hubungan apa-apa." "Sebentar lagi kita akan bertunangan. Apa om Jaya tidak memberitahumu," Ucap Meisha. "Tunangan" Evans tertawa menggeleng kepala. "Apa kau setuju tunangan dengan orang yang tak pasti bisa mencintaimu?" sahut Evans terang-terangan. "Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Aku percaya itu. Aku tau kau masih mencintai Monika, bukan. Sama halnya kamu. Aku mencintaimu Vans. Sejak kita beranjak dewasa, sampai aku akhirnya kuliah di luar negri dan sampai sekarang aku mancintaimu. Orang tua kita sepakat menjodohkan kita." Meisha menatap lembut kedua mata Evans. "Aku tak mau memaksa perasaan. Tentang lerjodohan itu. Aku tak setuju," ucap Evans. Buliran bening menetes di kedua pipi Meisha. Apa yang di dengarnya tak sesuai dengan harapannya. "Ini semua pasti gara-gara Vania. Betulkan!" "Tidak perlu membawa nama Vania dengan urusan ini. Ini tentang perasaan yang tak mungkin di paksakan. Harusnya kau tau itu," jawab Evans mempertegas. Meisha membuang muka benci. Ia benci kenapa Vania hadir di antara mereka. "Dasar pelakor! Aku alan buat perhitungan dengan mu! Lihat saja!" Emosi Meisha semakin memuncak. Dengan cepat Meisha melangkah keluar restoran. Menghentikan taxi yang kebetulan melintas. Kemudian ia masuk air matanya tumpah seketika ia duduk di bangku belakang taxi itu. Supir taxi melihat Meisha yang sedang menangis melalui sepion depan. Terdengar begitu sendu. Akan tetapi supir taxi itu sadar ia tak bisa melakukan apa-apa. "Pasti korban php ini, persis kayak di tipi-tipi," batinnya menebak. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD