Bab 13

1670 Words
Evans mengacak rambutnya yang sudah rapi. Tangannya memijit pelipisnya yang tiba-tiba pusing. Akibat berdebat dengan Meisha. Pikirannya kacau. Bukan Meisha yang ia pikirkan. Namun ia mengkhawatirkan Jaya Haidar papanya. Ia khawatir jika Meisha berani mengadu yang tidak-tidak kepada papanya. Mengingat papanya memiliki riwayat penyakit jantung. Merasa tidak tenang. Evans beranjak dari kursi duduknya. Bergegas menemui papanya yang tengah berada di kantor. Tangannya mengenggam dengan keras kemudi mobil. Pikirannya sedang kalut. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata di tengah ramainya kota Jakarta. Hampir-hampir ia menabrak pengguna jalan yang lain. Namun, berkat kemahirannya mengemudi. Tabrakan itu berhasil ia hindari. Setelah beberapa menit. Evans sampai di depan perusahaan milik papanya. Dengan langkah terburu-buru, ia melewati satpam yang sedang bertugas. "Selamat pagi, Tuan Evans." Satpam itu menyapa. Evans mengangguk tersenyum. Lalu ia menuju ke ruang kerja Jaya Haidar. Evans mendapati papanya yang tengah duduk santai membaca koran. "Evans! Ada apa," tanya Jaya Haidar saat menyadari putranya masuk ke ruang kerjanya. Kalau bukan kerena hal penting. Evans memang jarang menemuinya di kantor. "Apa Meisha tadi kesini?" Tanya Evans. Dadanya naik turun mengatur napas. "Tidak ada," jawab Jaya Haidar. "Ada apa? Apa kalian bertengkar?" Ia menebak raut wajah Evans yang tampak kesal. Evans menarik kursi lalu mendudukkan diri. "Apa papa berniat menjodohkan aku dengan Meisha?" Tanyanya dengan tatapan dingin. Jaya Haidar terdiam mendengar pertanyaan putranya. Ia menghela napas panjang kemudian menjawabnya, "Memang betul, tadinya aku ingin menjodohkanmu dengan Meisha. Tapi aku berubah pikiran, setelah pembicaraan kita kemarin. Bahwa kau tak ingin di paksakan." Evans menghela napas lega mendengar penjelasan papanya. Jaya Haidar meneguk air mineralnya. "Sekarang jawab pertanyaan papa. Apa benar kalian bertengkar?" "Meisha bilang bahwa kita akan dijodohkan. Lalu aku menolaknya secara terang-terangan. Seperti yang aku bilang aku tak mau di paksa. Tapi sepertinya Meisha tidak terima." Jaya Haidar mengangguk, mengerti. "Dua hari yang lalu, aku sudah membicarakan itu kepada Sinegar. Dia juga memahami akan hal itu. Masalah Meisha, biarkan keluarganya yang memberi pengertian kepadanya. Kita tidak perlu ikut campur." Evans tampak lebih tenang dari sebelumnya. Perasaan cemas dan pikirannya yang sempat melanda kini tak lagi ia rasakan. "Kalau begitu. Aku akan kembali ke retoran," ucapnya. "Ya, kembalilah," sahut Jaya Haidar. Kemudian Evans melangkah keluar dari perusahaan milik papanya. Berjalan menuju tempat di mana ia memarkirkan mobil sport miliknya. Sejurus kemudian ia masuk kedalam mobil. Melajukan mobilnya menuju kembali ke restorannya. *** Dugaan Evans salah. Ia kira Meisha akan mendatangi papanya. Tapi ternyata Vania lah yang di datangi Meisha. Untuk kesekian kalinya kedua wanita itu bertemu. "Kau! Mau apa lagi datang kemari." Vania membuang muka malas. Untuk apa lagi Meisha kembali ke rumahnya. Apa Meisha belum cukup puas menghinanya tadi pagi. "Dasar wanita jalang! Kau benar-benar membuat rencana ku hancur." Meisha tersulut emosi. Ia menyalahkan Vania atas semua yang tidak Vania lakukan. Vania mengernyit bingung. "Aku!" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Apa maksutmu menuduh ku tanpa sebab. Bahkan aku tidak merasa melakukan apa-apa menyangkut dengan mu." "Evans! Dia menolak perjodohannya dengan ku. Aku tau ini semua pasti karna ulahmu. Ya! Gara-gara kau semua rencana ku sekarang hancur! Dasar jalang!" Ucap Meisha dengan nada tinggi meluapkan emosi. "Kau salah. Aku tidak melakukan apapun. Dan bila akhirnya Evans menolakmu. Itu atas kemauannya sendiri. Bukan karena ku." Vania membela diri. Ia kesal dengan ulah Meisha yang tak habisnya menyalahkan dirinya. Di sisi lain, ia juga kasihan melihat penampilan Meisha yang tampak kusut, berantakan. Di banding penampilannya tadi pagi yang tampak anggun nan berwibawa. "Kau yang salah! Jika saja kau tak hadir di kehidupan Evans. Pasti dia tak akan menolak. Dan rencana ku berjalan dengan seharusnya." Meisha bersikeras. Vania menggeleng kepala heran. "Dasar bodoh!" akhirnya Vania tersulut emosi. "Kenapa kau terus menyalahkan ku! Salah kan Evans yang telah menolakmu. Dan asal kau tau. Aku tidak punya hubungan apapun dengannya." "Kau yang bodoh! Evans menolak ku karna dia lebih memilihmu. Dia menyukai mu!" Meisha tetap bersikeras menyalahkan Vania. "Apa! Apa yang dikatakan Meisha benar? Jika memang benar Evans menyukai ku. Aku benar-benar bodoh! Karna baru menyadari itu" batin Vania terkejut. Mendengar ucapan Meisha. "Apa kau sudah puas menyalahkan ku. Jika sudah. Lantas apa mau mu? Apa perlu aku memanggil pria pujaanmu itu." Vania menginginkan Meisha segera enyah dari pandangannya. Meisha merasa belum cukup puas. "Panggil saja semau, Mu," ucapnya acuh. Esa baru saja sampai di depan rumah Vania. Ia melihat Vania sahabatnya tengah serius dengan Meisha. Entah apa yang mereka bicarakan . Namun terlihat jelas dari sorot keduanya. Seakan mereka sedang saling pandang tak suka. Esa heran melihat keberadaan Meisha. "Sebenarnya apa yang tengah mereka bicarakan?" Batin Esa penasaran. "Vania, ada apa?" Tanya Esa. Ia menatap Vania dan Meisha secara bergiliran. "Nggak apa-apa, Sa," jawab Vania. Ia merasa hanya sedikit salah paham saja. Esa menelisik penampilan Meisha yang tampak kacau dari sebelumnya, yang tampil cantik sempurna. Kemudian ia menatap penuh tanya ke arah Vania. Meisha melengos beranjak pergi meninggalkan Esa dan Vania tanpa kata. Setelah kedatangan Esa. Meisha tak ingin mempermalukan dirinya sendiri perihal perjodohannya yang gagal. Vania menatap dingin kearah dimana Meisha pergi meninggalkan mereka. Ia menarik napas panjangnya. "Bagus dia sudah pergi. Itu lebih baik daripada semakin memperkeruh keadaan. Merusak mood ku saja!" Ucap Vania yang sedari awal tak menginginkan kehadiran Meisha. "Yuk masuk, Sa" Vania melangkah masuk di ikuti Esa di belakangnya. Kemudian mereka menghentikan langkahnya. Mendudukkan diri di ruang tamu. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Tanya Esa dengan ke-kepo-an nya. Kedua matanya menatap Vania yang masih terlihat diam. "Meisha menyalahkan ku atas perjodohannya dengan Evans yang gagal," jawab Vania datar. Esa terkejut dengan kedua mata membulat seakan tak percaya. "Menyalahkan mu? Memang apa yang sudah kamu lakukan?" Ke kepoan Esa belum mendapat jawaban sempurna. Vania mengangkat bahu tak acuh. "Mungkin karna Evans lebih sering mengunjungi ku, setelah kaki ku terkilir. Membuatnya cemburu. Lagi pun, dia mengunjungi karna ya memang dia peduli sama karyawannya. Benarkan Sa?" Vania mencoba menjelaskan dengan hati-hati menjaga perasaan Esa. Mengingat Esa juga menyimpan perasaan kepada Evans atasannya. Saat ini Vania berada di posisi yang rumit. Esa mengangguk mendengar penjelasan Vania. Menurutnya Vania tidak salah. Meisha hanya salah paham dan merasa cemburu. "Sabar ya, Van" Esa mengelus pundak Vania sahabatnya. "Seharusnya kau kasih tau Evans perihal Meisha yang melabrakmu". Vania menatap Esa dingin. "Untuk apa? Aku rasa tidak perlu." "Ya supaya Evans memperingatkan Meisha. Tidak menutup kemungkinan Meisha akan kembali lagi untuk menyalahkan mu." Esa menyarankan. Vania mendesah. "Bukannya nanti Meisha malah tambah benci ke aku. Bila aku memberi tahu Evans dan dia memperingatkan Meisha. Kesannya Evans membelaku. Dan aku lagi yang di salahkan oleh Meisha." "Benar juga," jawab Esa dengan menepuk jidatnya. Sarannya kurang tepat. "Jika Meisha kesini nggak usah di temui. Abaikan saja. Lagi pula itu bukan kesalahanmu." Esa membela Vania. Vania mengangguk setuju. "Bagaimana dengan keadaanmu?" Esa mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin Vania terus memikirkan tentang Meisha yang terus menyalahkannya. "Sudah lebih baik. Aku rasa besok sudah bisa masuk kerja. Hanya diam di rumah saja. Itu sangat membosankan!" Kejenuhan melanda Vania. Ia sangat merasa bosan. Sangat-sangat bosan. Padahal masih sehari dia diam diri dirumah. "Ngomong-ngomong tante Wulan kemana? Kok sepi saja," Sedari tadi Esa tak menemui keramahan Wulandari mama Vania. "Mama masih keluar. Belanja beberapa kebutuhan kue yang habis secara bersamaan." Akhirnya senyum mulai terbentuk di wajah Vania. "Nah gitu donk Van senyum. Jangan spaneng mulu!" Ucap Esa yang terlihat lebih senang melihat Vania tersenyum lagi. *** Meisha sangat kecewa, sedih, marah, semua rasa melebur menyatu di dalam jiwa. Ia menangis sejadi-jadinha di dalam kamar. Tangannya menghempaskan semua alat kecantikkannya, yang sebelumnya telah tertata rapi di meja rias. Setelah akhirnya kini berceceran di lantai. Harapannya hancur. Cintanya di tolak. Sungguh Meisha yang malang. Sakit hati membuatnya benggis. Bantal, guling bahkan sprei tempat tidur yang sudah tertata rapi, di acak-acak olehnya. Tidak berhenti di situ. Foto Evans pujaan hatinya yang ia bingkai di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia banting sampai kaca foto itu hancur. Menangis tersungkur setelah meluapkan emosi. Bahkan Meisha menyalahkan Tuhan. Ia merasa Tuhan tidak adil padanya. Kenapa tak menghendaki rencananya. Kenapa Evans harus menolak cintanya. Pikirannya benar-benar kalut. Meisha akhirnya sadar. Cinta tak harus memiliki. Dan jodoh tak mungkin tertukar. Bila akhirnya rencananya gagal. Rencana Tuhan lebih indah dan lebih baik untuknya. Namun perasaan benci dan sakit hati masih terpendam di hati Meisha. Sampai kapan pun. Ia akan membenci Vania. Vania lah tersangka utama dalam kegagalan cintanya. Di balik pintu kamar Meisha. Terdengar sjara kecemasan keluar dari bibir mama Meisha. "Meisha, kamu kenapa sayang? Tolong buka pintunya." Mama Meisha sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya di dalam kamar. Ia mengetuk ngetuk pintu kamar Meisha berkali-kali. Namun hanya keheningan yang ia dapatkan. "Meisha, sayang ayo buka pintunya nak. Ayo bicara sama mama. Jangan mengurung diri begini sayang," bujuknya. Meisha masih diam tak bergeming. Terdengar berkali-kali pintu di ketuk tanpa jeda. "Buka pintunya Mei..." Seketika, Mega terdiam mendapati putrinya berdiri di hadapannya. Kedua mata Meisha tampak sembab dan begitu sendu. Mega memeluk putrinya lalu menuntunnya masuk kedalam kamar Meisha. Dilihatnya pemandangan kamar yang tampak berantakan. Kedua matanya terhenti pada foto dengan kaca figura yang telah hancur terbanting bertabrakan degan lantai. Mega mendudukkan diri dengan putrinya di tempat tidur yang tak berseprei. Akibat luapan Emosi putrinya sendiri. Ia menenangkan Meisha. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. Membelai rambut Meisha yang tampak kusut di teracak. Meisha tampak lebih tenang di pelukan sang mama. "Sabar ya, sayang," ucap Mega menenangkan. ia mengelus pundak putrinya. Mengecup sekena nya bagian kepala Meisha. Meisha mengangguk memejamkan mata. Entah darimana datangnya ia merasakan kantuk yang luar biasa. "Aku pengen tidur ma, capek," ucap Meisha akhirnya mulai berbicara. "Baiklah sayang. Mama akan temenin kamu disini," sahut Mega penuh kasih sayang. Meisha merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama kemudian ia tertidur. Di temani sang mama di sampingnya. Mega menatap sendu wajah putrinya. Bulir bening yang sedari tadi tertahan akhirnya memaksa keluar. Ia tak kuasa melihat kondisi Meisha yang terlihat sangat kacau. Hal yang ia takuti benar terjadi. Sebenarnya ia tau, pasti Evans akan menolak. Tapi Meisha juga tau Meisha menyukai Evans sajak mereka beranjak dewasa. 'Maafkan mama sayang. Semoga kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik,' batin Mega penuh harap. Berkali-kali ia mengecup kening putrinya yang tertidur pulas. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD