Bab 39

1072 Words
Mengingat restoran Evans selalu ramai pengunjung. Sedangkan para karyawannya banyak yang tidak masuk dengan alasan tertentu. Bisa di simpulkan, Esa mengajukan ijin di saat yang kurang tepat. Bisa juga tidak tepat. Evans mengelus dagunya berulangkali. Wajahnya tampak serius memikirkan sesuatu. "Memangnya, kamu mau kemana, Sa?" Tanya Evans akhirnya setelah terdiam beberapa detik. "Aku pengen jalan-jalan! Aku butuh hiburan! Kerja terus-terusan membuatku kurang piknik," jawab Esa dengan sejujur jujurnya. Asal ceplas ceplos, tanpa berpikir terlebih dahulu. Langsung to the point, tanpa alasan yang bertele-tele. "Aku jenuh kerja tanpa kehadiran, Vania. Membuatku tak bersemangat. Rencanaku mau ngajak Vania, jalan, jika memang cuti ku diijinkan," sambungnya. Wajah Evans yang tadinya tampak serius, kini mulai mengembangkan senyum. Tentunya setelah Esa menyebut nama, Vania. "Jadi, kamu ingin berlibur dengan, Vania, maksutnya!" Esa mengangguk membenarkan. "Betul! Itu memang rencanaku." "Kalau, begitu. Baiklah! Kamu boleh ambil cuti 2 hari. Tapi, kalau boleh tau. Kalian mau kemana?" Tanpa berpikir panjang lebar, Evans pun mengijinkan, Esa. Ia pun penasaran kemana mereka akan pergi. "Aku belum tau. Tapi, apa kamu mau ikut dengan kami? Kalau setuju, enaknya kita kemana?" Bagaimana Esa ini! yang punya rencana dia, yang ditanya kemana tujuannya malah Evans. "Ya, terserah kamu. Kan yang punya rencana kamu," jawab Evans. "Emangnya kamu nggak mau ikut?" "Aku besok masih ada urusan," "Yah! Nggak asik!" Esa terlihat sangat kecewa, padahal dia sangat mengharapkan Evans ikut jalan dengannya. "Permisi!" ucap Meisha yang sudah berada di depan pintu. Tanpa mengetuk terlebih dulu, ia langsung saja masuk. Esa langsung menoleh ke pusat suara. "Dih, nenek lampir ngapain kesini! Ganggu momen berdua ku aja!" Batin Esa. Menurutnya Meisha sengaja datang di saat ia sedang berdua dengan Evans. Evans hanya terdiam melihat Meisha mulai melangkah mendekati mereka. "Hey, Sa. Ternyata kamu di sini. Patesan pas aku di bawah tadi, nggak liat kamu," sapa Meisha begitu berada di samping Esa. Lalu kemudian ia mendudukkan diri tepat di bangku sebelah kiri Esa. "Ih, sok akrab. Aku jadi curiga jangan-jangan ni lampir ada maunya," gerutu Esa lirih. Meisha memicingkan kedua matanya ke arah Esa. Ia melihat mimik Esa, seperti ngomong sendirian. Meski pun ia tak mendengar dengan jelas. "Kamu ngomong apa, sih!" tanya Meisha penasaran. "Ah! Nggak ada. Aku nggak ngomong apa-apa!" Jawab Esa santai. "Tapi aku tadi liat kok! Tadi bibir kamu yang kayak ngomong sesuatu gitu. Nggak mungkin aku salah liat!" protes Meisha bersikeras membenarkan apa yang baru dia lihat. "Sudah-sudah! Kenapa jadi ribut begini!" Evans menengai perdebatan Esa dan Meisha yang semakin sengit. Esa langsung terdiam begitu Evans berbicara. Meisha melihat kearah Evans sebentar, lalu kemudian menoleh kearah Esa lagi. "Esa yang mulai! Orang aku tanya baik-baik malah sewot!" ucap Meisha menyalahkan Esa atas semua yang telah terjadi. "Lhoh! Siapa juga yang sewot. Aku cuma jawab sesuai fakta. Apa itu salah? Ih, gimana sih! Kok jadi aku yang di salahin!" Esa nggak terima dengan apa yanv Meisha tuduhkan. Faktanya, Meisha itu emang seperti mak lampir, menurut Esa. Selalu saja, Meisha marah dan ngomel-ngomel setiap saat berhadapan dengannya. Apalagi dengan Vania. Meisha selalu menganggap mereka seakan musuhnya. Mungkin karena Meisha merasa tersaingi dengan mereka. "Sudah! Hentikan!" Gertak Evans yang ikut naik pitam melihat cewek di depannya yang saling menyalahkan. Meisha dan Esa langsung terdiam. Esa merasa takut, sebab baru pertama kali ini, ia melihat Evans naik darah. Sedangkan Meisha, terlihat santai dan biasa saja. Sebab ia sering melihat Evans naik pitam di buatnya. Nggak cuma hari ini saja, jadinya dia nggak kaget. Evans menarik napas panjang. Melihat Esa dan Meisha yang menurutnya kekanak-kanakan. "Kenapa, kalian suka sekali memper-rumit hal sepele?" tutur Evans geleng-geleng kepala. "Contohnya seperti tadi itu. Nggak seharusnya kalian besar-besarkan," sambung Evans mendengus kasar. "Ma-maaf, aku nggak maksut seperti itu. Aku hanya jawab saja, apa yang dia katakan," jawab Esa merasa bersalah tapi juga masih membela diri. "Dia duluan yang buat aku emosi. Dia nggak jujur, aku tau itu!" Meisha juga bersikeras membela diri dan tetap menyalahkan Esa. Seketika Esa menatap tajam Meisha yang sedari tadi juga menatap kearahnya. Seperti kucing ketemu tikus yang siap menerkam. Evans mengeryitkan dahinya. Ia tak habis pikir dengan dua cewek yang tengah beradu mata itu. "Meisha! Kau kesini mau apa? Apa mau bikin ulah lagi," tanya Evans terus terang. "Lhoh! Kok kamu gitu sih! Bikin ulah gimana? Orang aku datang baik-baik, kesini. Kenapa selalu aku terus yang di salahkan! Nggak adil!" Meisha sama sekali tidak merasa, kehadirannya selalu saja membuat Evans emosi. Esa hanya tersenyum mendengarnya. Meisha melihat Esa yang tengah tersenyum, saat ia di salahkan. Membuat Meisha semakin kesal dan ingin sekali mengumpat Esa dengan kata-kata kasar. "Hih! Puas kamu!" Seloroh Meisha kepada Esa. "Apaan sih!" Jawab Esa dengan cueknya. "Mau mulai lagi!" Sergah Evans dengan nada tinggi. "Nggak kok," sahut Meisha dengan berani. Ia pun kesal dengan Evans yang tak pernah membela dirinya. 'Ish! Selalu saja aku yang di salahkan. Coba sekali saja Evans belain aku! Kenapa pelayan miskin itu, yang selalu di bela. Mending belain akulah! Aku cantik, menarik, sedangkan Esa! Ih, nggak banget.' Batin Meisha membanding-bandingkan. Selalu saja dia begitu. Nggak pernah berubah. "Untuk apa kau datang kesini?" Tanya Evans kepada Meisha. "Main. Aku kan sudah pernah bilang, kalau aku akan sering datang kesini. Bosanlah di rumah terus. Pengennya ngajak kamu jalan, tapi kamu selalu saja sibuk dengan pekerjaanmu." Meisha terus mengejar Evans, tapi selalu di abaikan. "Memangnya nggak ada teman kamu, selain aku. Kamu tau sendiri aku terlalu sibuk untuk sekedar kau ajak keluar." "Tapi kau selalu keluar sesuka hatimu, ke rumah Vania," sahut Meisha memotong pembicaraan Evans yang belum selesai. Evans selalu saja ada alasan untuk menolak ajakan Meisha. Akan tetapi, dia selalu ada waktu untuk Vania. Padahal, Vania tidak membutuhkan kehadirannya. Tentu saja Meisha cemburu. Dan lagi, Esa! Kedekatan mereka baru-baru ini, membuat Meisha semakin hari semakin sering menemui Evans. Dia nggak ingin memberi kesempatan untuk Esa, lebih dekat lagi dengan Evans. Esa pun merasa semakin nggak nyaman berada diantara mereka. Yang terpenting cutinya sudah di setujui oleh Evans. Dan pekerjaannya sudah menanti di bawah. "Emh, kalau begitu, aku permisi mau melanjutkan pekerjaanku," ucap Esa dengan segera berdiri. "Baguslah, cepat kerja sana. Sadar diri pelayan tempatnya di bawah," sindir Meisha yang sedari tadi menginginkan Esa enyah, dari ruangan Evans. Agar dia bisa berdua saja. "Ya sadarlah! Daripada udah di tolak tapi masih saja ngarep! Di abaikan pula," jawab Esa dengan berani, lalu kemudian melangkah pergi meninggalkan Meisha yang tengah naik pitam. Karena kata-katanya yang menusuk hati Meisha. "Dasar! pelayan kurang ajar! Sini kalau berani!" Teriak Meisha namun, Esa keburu menghilang dibalik pintu. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD