Bab 23

1304 Words
Evans melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana hatinya merasa senang, sedangkan suasana di dalam mobilnya terasa sunyi. Vania dan Esa hanya duduk terdiam memandang ke arah luar. "Omong-omong kita mau kemana nih?" Suara Evans memecah dalam kesunyian. Membuat Vania dan Esa seketika menoleh kearahnya secara bersamaan. "Kita rencananya mau ke mall aja kok, ya kan, Van?" ucap Esa melirik kearah Vania yang tengah duduk di belakangnya. "Iya betul," sahut Vania. Evans mengangguk lalu tersenyum. "Baiklah. Aku akan mengantarkan para bidadari cantik yang tengah duduk semobil denganku, saat ini. Kemana pun itu! Jangankan ke mall, ke puncak gunung pun akan aku turuti," selorohnya, kedua mata Evans melirik spion tengah. Terlihat dengan jelas, Vania tengah duduk tenang memandang suasana jalanan yang terlihat mulai padat. Esa merasa tersanjung dengan kata bidadari cantik yang baru di lafaskan Evans. Wajahnya berubah semu merah muda, dengan kedua mata yang berseri-seri. Sedangkan, hatinya serasa berbunga-bunga. Sungguh! indahnya saat jatuh cinta! Sedangkan Vania merasa biasa saja. Nggak ada yang istimewa! "Kalau kita bidadarinya, kamu malaikatnya," ucap Esa menyambung kata-kata dari Evans. "Betul! Malaikat tapi tak bersayap," sahut Evans yang kini terlihat tersenyum lepas. Vania mengerutkan keningnya, mendengar Evans dan sahabatnya membual. Nggak lucu! Esa tak melepaskan pandangannya dari wajah Evans. Hatinya terasa luluh, melihat Evans yang semakin tampan ketika tersenyum lepas. Tanpa ada suatu beban. Vania menatap heran, menyadari Esa yang tak berkedip memandang ke arah Evans. Ia berdeham lalu tersenyum. Melihat Esa dengan ekspresi sebalnya, sebab di ganggu olehnya. "Vania! apaan sih," protes Esa merasa terganggu. Tak lama kemudian, mereka sampai di pelataran mall yang sangat luas. Kemudian Evans melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah menuju lokasi parkir. Bagi Vania dan Esa, jalan-jalan di dalam mall lebih nyaman, mengingat panasnya kota Jakarta. Mereka lebih suka ngadem di dalam mall saat libur, atau pun cuti dari pekerjaannya. Sedangkan Evans, ia hanya nurut saja dengan kemauan mereka, yang terpenting ia bisa bersama Vania. Itu tujuannya. Mereka berdiri di atas tangga berjalan, perlahan tangga itu bergerak menuju lantai teratas. Sesampainya di lantai atas. Mereka di sambut oleh beberapa tulisan yang menyatakan, diskon dan promo besar-besaran. Memang biasanya, banyak promo atau pun diskon besar-besar di akhir tahun. Tangan Esa menarik lengan Vania, berjalan menuju beberapa baju yang terlipat rapi di atas rak, yang termasuk dalam diskon. Kalau tidak ada diskon. Vania dan Esa biasa mencari barang yang bagus, awet dan yang terpenting harganya murah. Devinisi hemat!Emangnya, itu mall punya bapaknya, apa! "Van, yang ini bagus nggak?" Esa menempelkan sebuah blus berwarna putih, dibadannya. Sepertinya cocok juga, bila benar-benar di pakai olehnya. "Hmm.. lumayan bagus. Cocok buat kamu!" Esa terlihat senang dengan jawaban Vania. Vania pun memilah milih baju yang ada di depannya. Namun sepertinya, nggak ada yang cocok untuknya. Mereka berganti tempat ke tempat yang lain, mencoba baju, sepatu sesuka hati. Meski pun pada akhirnya, tak ada satu pun yang mereka beli. Kebiasaan! Evans hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Merasa puas dan terhibur setelah menjajali beberapa baju yang menurutnya bagus. Vania dan Esa akhirnya berjalan mendekati Evans. "Hasil berburumu mana Van?" tanya Evans ketika melihat Esa membawa kantung plastik berlogo sebuah fashion, sedangkan Vania tidak. "Berburu! emangnya aku ini berburu binatang, hah!" jawab Vania ketus. Bibirnya kini tampak mengkerut. Esa tersenyum melihat mereka. Evans malah tertawa kecil melihat Vania tersinggung dengan pertanyaannya. "Ya anggap saja sama," imbuhnya. "Aku bilang apa! harusnya kamu nggak usah ikut kalau pada akhirnya cuma mau mengejekku." Vania menatap tajam, seolah siap menerkam mangsa yang ada di depannya. "Bercanda! jangan marah dong. Nanti cantiknya ilang loh!" Emangnya Esa, yang di sanjung cantik langsung luluh dengan hati berbunga-bunga. Ini Vania! dia malah cuek kayak bebek! "Tadi ada sih yang Vania suka. Tapi nggak jadi di ambil, soalnya uangnya kurang. Pakai uang ku pun juga nggak cukup buat bayar sekalian," ucap Esa ceplas ceplos, meski maksut dia menengahi Vania dan Evans. Tapi kesannya malah menjatuhkan Vania. Dih, Esa ini! "Esaa!" Vania seketika mencubit pinggang sahabatnya yang ceplas ceplos itu. "Aduh! apa salahku," sahutnya meringis menahan sakit. Vania mengusap wajahnya sebal. Bagaimana sahabatnya itu nggak paham dengan apa yang dia maksut. Tiba-tiba Evans menarik tangan Vania, menuju ke tempat baju yang tadi Vania jajali. Esa membuntuti mereka dengan heran, dari belakang. Mau kemana Evans membawa Vania, pikirnya. "Baju mana yang kamu suka?" tanya Evans dengan wajah serius. Vania menatap datar Evans, yang tengah menatapnya kini. Ia masih tak mengerti kenapa Evans bertanya sedemikian kepadanya. Vania memandang kearah baju, yang tadi ia jajali. Kedua matanya seakan menunjuk, satu persatu baju yang menurutnya bagus dan cocok untuknya. Evans peka dengan sorot mata Vania. Ia mengambil semua baju yang Vania suka. Total ada 6 potong baju. Berupa blus, kemeja, dan beberapa dress yang memang kualitas dan modelnya terlihat bagus. Evans juga meraih beberapa baju yang sempat Esa jajali, tadi. Kemudian Evans melangkah meninggalkan Vania dan Eaa yang masih melongo, melihatnya berjalan ke meja kasir. Setelah membayar. Evans memberikan baju yang sudah terbungkus paperbag brand mall itu, kepada Vania dan Esa. Masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Vania hanya terdiam melihat paperbag yang tengah berada di tangannya, kini. "I-ini.. a-apa?" tiba-tiba Vania berubah menjadi gagap. Esa pun kini merasa tak enak dengan Evans. "Itu buat kamu, dan juga Esa." "Hah!" Vania masih tak percaya, baju yang menurutnya mahalnya setinggi langit itu. Kini menjadi miliknya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, ia terharu. "Te-terima kasih!" ucap Vania masih dengan terbata. "Aku juga, terimakasih ya!" sambung Esa dengan raut wajah berseri-seri. Evans tersenyum senang bisa membuat Vania terlihat bahagia. "Sama-sama! kalau nggak suka jangan di buang. Kasihkan saja sama orang yang membutuhkan." Ternyata selain baik, jiwa sosial Evans juga tinggi. Terpesona, lagi-lagi Esa terpesona oleh sejuta pesona dan kebaikan yang Evans miliki. Kemarin dia di kasih jam tangan yang jika di lihat dari merknya, sepertinya, harganya lumayan mahal. Sekarang, dia di belikan baju yang harganya lumayan melambung tinggi. Semakin jatuh cinta Esa padanya. Bukan karna Esa di kasih ini itu trus dia suka ya! Tapi memang dia suka sejak awal dia bekerja di restoran Evans. "Pastinya akan ku pakai baju ini, nanti. Kenapa di buang! aku suka kok. Thanks ya!" Vania kini merasa nggak enak kepada Evans. Dengan sikapnya tadi, mengerjai Evans dengan membuatkan kopi pahit untuknya. Ia menyesal! Dan penyesalan selalu datang di akhir. Evans mengangguk tersenyum. Vania pun membalas senyuman itu. "Sekarang, mau ngapain lagi kita?" tanya Vania bersemangat. "Gimana kalau pulang saja!" saran Vania. "Yah kok pulang sih. Aku masih pengen jalan-jalan," rengek Esa dengan wajah memelas. Vania tak tau harus bagaimana saat ini. Sebenarnya, ia juga belum puas jalan-jalan menghibur diri. Tapi ia merasa nggak enak. Jika ia melanjutkan jalan-jalan dan berkeliling, takutnya nanti Evans maju buat bayarin. Kan jadi double nggak enak. Melihat Vania yang tampak sedang memikirkan sesuatu. Evans langsung berbicara. "Gimana kalau kita makan siang dulu? Nanti baru lanjut jalan-jalan atau mau kemana lagi, terserah kalian. Yang penting isi perut dulu, okey!" Evans menatap ke arah Esa dan Vania secara bergantian. "Ide bagus tuh! kebetulan perutku sudah meronta minta jatah," sahut Esa tanpa malu. Ia tertawa. Dih, Esa terus terang begitu. Vania hanya diam nurut aja. Sebenarnya ia juga merasa lapar. Namun, ia masih bisa menahan. Mereka berjalan memasuki restoran, yang berada di dalam mall itu. Evans memilih restoran yang menyediakan menu makanan dan minuman ala Jepang. Vania dan Esa berjalan membuntuti Evans. Mereka pun duduk, setelah Evans mendudukkan diri. "Silahkan kalian pilih apa saja menu makanan yang kalian mau," ucap Evans dengan menyodorkan daftar menu yang ada di atas meja. Esa terlihat bengong dengan daftar menu yang ia baca. Nama-nama makanan dan minuman yang terkesan aneh! Untuknya. Apa lagi ketika ia melihat harga yang tertera di masing-masing makanan dan minuman itu. Esa tambah melongo. Maklum saja, dia biasanya makan lontong sayur, bakso, dll, di warteg langganannya, selepas jalan-jalan. Yang harganya jauh lebih terjangkau dan ekonomis, pastinya! Sedangkan Vania, memilih beberapa makanan dari daftar menu yang ia tau dari tayangan kulineran, di televisi. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD