Bab 25

2033 Words
Evans nggak bisa tidur terus kepikiran kata-kata papanya tadi. Papanya meminta dirinya, untuk segera mencari pendamping untuknya sendiri. Ia pun tak habis pikir, papanya sampai mengabaikan kesehatannya. Padahal rokok sangatlah tidak baik bagi kesehatannya. Bahkan rokok merupakan ancaman, untuk kesehatan Jaya Haidar, sendiri. Dipikirannya, Evans menyalahkan dirinya sendiri. Evans meremas rambutnya sendiri dengan kasar. Kepalanya mulai terasa pusing. Untuk usianya, sebenarnya masih sangat muda untuk menikah Tetapi ayahnya mendesaknya untuk segera menikah. Alasannya karena usia dan kesehatannya yang semakin menurun. Evans menarik napas panjang lalu mengeluarkan secara perlahan. Mencoba menenangkan hati dan pikiran. Pastinya dia akan menuruti perintah sekaligus keinginan sang papa. Ya! tapi semua juga butuh waktu. Nggak mungkin instan! Seperti halnya mie instan. Jika lapar, tinggal beli saja di toko. Evans masih saja nggak bisa tidur. Ia meraih benda pipih miliknya. Ingin sekali ia menelpon Vania, namun ia urung menelponnya. Pastinya Vania juga sudah tidur. Nggak enak, nanti malah menganggu. Lalu akhirnya, ia memutar sebuah lagu di daftar musiknya. Lagu Ruang Rindu mengalun dengan merdunya. Lagu yang di populerkan oleh band Letto ini, menjadi salah satu musik yang ia sukai. Dengan tenang Evans mendengarkan lantunan lagu, kedua matanya terpejam seiring rasa kantuk yang akhirnya datang. Evans tertidur, dengan benda pipih yang masih melantunkan lagu. *** "Van! aku mau bicara sama kamu. Masuklah keruanganku. Sekarang!" Pesan singkat dari Evans, kepada Vania. "Baik!" balas Vania. Vania baru saja sampai di restoran. Ia celingukan mencari keberadaan Esa. Namun nampaknya, sahabatnya itu belum datang. Di masukkan lagi benda pipih miliknya, kedalam saku celana jeansnya. "Kenapa pagi-pagi begini dia memintaku masuk ke ruangannya?" gumalnya sendirian. Dengan malas ia berjalan menaiki tangga. Mengetuk pintu ruangan Evans, lalu kemudian masuk. "Ada apa memanggilku pagi-pagi begini!" Vania terheran-heran melihat penampilan Evans yang sedikit kacau. Tapi dia tetap terlihat tampan. "Mana kopiku?" "Hah! kopi! aku belum buat. Lagi pula kau juga nggak minta kopi tadi," protes Vania. Memang benar, dalam pesannya Evans nggak minta di bikinkan kopi. Kenapa, dia menanyakan kopinya. Heran! "Kembalilah! buatkan kopi untukku!" perintah Evans dengan menatap Vania datar. Ia menahan senyum yang hampir mengembang. Melihat wajah cantik Vania yang terlihat kesal. "Baiklah," jawab Vania dengan nada malas. Ia kembali turun, sesuai permintaan Evans. "Van, kamu buat kopi untuk siapa? Kan belum ada pengunjung yang datang," tanya Esa begitu melihat Vania menyeduh secangkir kopi. "Memang bukan untuk pengunjung. Tapi untuk Evans! dia yang meminta untuk di buatkan," jawab Vania dengan wajah yang masih terlihat sebal. Esa menelisik wajah sahabatnya itu. "Lantas! kenapa kamu menekuk wajah seperti itu? apa ada yang salah, dari pertanyaanku." "Nggak ada. Aku anterin ini dulu ya!" ucap Vania seraya membawa secangkir kopi di atas nampan. "Okke," sahut Esa sambil mengedikkan bahunya. Vania kembali masuk ke ruangan Evans. Meletakkan secangkir kopi panas dengan hati-hati ke atas meja, tepat di depan Evans. Yang masih terlihat duduk di kursi kerjanya, tanpa berubah posisi sedikit pun. Aneh! "Apa masih ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Vania kemudian. "Bagaimana menurutmu! apa aku tampan atau jelek, atau malah biasa-biasa saja." Evans menatap dengan pandangan serius. Vania kaget terheran-heran. "Kenapa bertanya seperti itu?" "Jawab saja dengan jujur!" sahut Evans. Vania terdiam. Sudah pasti dia akan menjawab tampan. Sebab kenyataannya, Evans memanglah tampan dengan sejuta pesona yang ia miliki. Ia pun mengakui itu, bahkan Esa sahabatnya tergila-gila padanya. "Jawab!" perintah Evans lagi, suaranya membuyarkan lamunan Vania. "Biasa saja," jawabnya datar. Evans menghela napas. "Jadi itu alasanmu menjauh dariku! Karena tampangku pas-pasan. Padahal menurutku, aku ini tampan," ucap Evans percaya diri. Vania tersenyum dengan bibir dikulum mendengar Evans. "Iya-iya, kamu tampan kok. Dan lagi, aku nggak menjauh darimu. Kalau menjauh darimu, mungkin aku udah nggak kerja disini." Vania terkekeh sendiri. Ucapan Vania membuat jantung Evans berdetak cepat. Pipinya tiba-tiba merasa panas. Ia berdiri, lalu dengan cepat medekati Vania. Tangannya meraih pinggang Vania yang ramping. Hingga tubuh Vania menempel lekat dengan tubuhnya. Dengan cepat pula bibirnya mengulum lembut bibir Vania. Kedua mata Vania membulat kaget. Pipinya berubah semu merah muda. Ia berusaha melepaskan diri dari Evans. Namun Evans mendekapnya dengan sangat kuat, hingga Vania merasa sedikit kesulitan bernapas. Evans berhenti mengulum bibir tipis Vania. Kini ia memandang galau, wajah cantik dengan bulu mata yang lentik milik Vania. d**a Vania kembang kempis mengatur napas. Vania menetap wajah Evans dengan penuh tanda tanya. Kenapa sikapnya kadang agresif, kadang romantis, terkadang juga membuatnya sangat kesal. Apa yang ada di benak Evans saat ini? Dan mengapa, seakan-akan ia melampiaskan semua itu kepada Vania. "Aku mencintaimu Vania. Aku mencintaimu!" Evans menenggelamkan wajah Vania ke dalam pelukannya. Vania masih terdiam dengan wajah polosnya. "Tapi aku nggak cinta sama kamu Evans," ucap Vania berkata yang tak sebenarnya. Perasaan Vania terasa perih, dengan apa yang baru ia ucapkan. Kedua matanya mulai sendu. "Bohong! kau berbohong lagi! Aku tau kau juga mencintaiku. Kenapa kau tega melakukan itu kepadaku, Vania." Evans tetap mendekap Vania. "Aku nggak bohong! aku..." Vania masih berusaha menutupi perasaannya. Demi Esa! ya! Vania melakukan itu semua untuk sahabatnya. Kini Evans mendekatkan wajah Vania hingga kening dan hidung mereka saling bersentuhan. Kedua mata mereka saling beradu. "Mungkin kau bisa membohongi ku lewat tutur katamu. Tapi tidak dengan sorot kedua matamu itu. Kau tak bisa membohongiku." Hati Vania kini terasa tersayat, sakit, namun ia tetap berusaha kuat. Bagaimana pun juga, apa yang dikatakan Evans memanglah benar. Apa yang harus ia lakukan? Ia pun juga memiliki perasaan yang sama. Di sisi lain, Vania tak ingin menyakiti sahabat baiknya. "Aku nggak bohong! Aku nggak cinta sama kamu. Kenapa kau terus memaksaku untuk suka sama kamu." "Karna aku yakin kau juga mencintaiku," sahut Evans tetap teguh dengan keyakinannya. "Nggak! Kau telah salah menilaiku. Aku memang mengagumimu, tapi aku tidak mencintaimu," berontak Vania. "Omong kosong! Kedua matamu mengatakan sebaliknya," pekik Evans. Vania membuang muka menghindar dari tataan Evans. Namun, ia juga tak bisa menjauh darinya. Evans masih saja mendekap tak melepaskan dekapannya. Tiba-tiba terdengar pintu di ketuk. Dengan sigap Evans melepaskan Vania, hingga Vania mundur beberapa langkah dari posisi sebelumnya. Meisha melenggang masuk, dengan penuh tanda tanya. "Sedang apa kau disini? pelayan tempatnya bekerja di bawah, bukan disini!" Vania ingat kini waktunya untuk bekerja. Gara-gara sikap Evans, ia sampai lupa akan hal itu. "Saya mohon permisi!" Evans hanya berdiri mematung, Tanpa Evans meresponnya, Vania segera keluar ruangan. Meninggalkan Evans berdua dengan Meisha. Meisha menatap Vania dengan sorot mata tajam. Seakan Vania telah berkuasa. "Evans apa kau baik-baik saja?" tanya Meisha menepuk pundak Evans yang masih juga diam. "Untuk apa kau datang kemari? Apa papaku yang menyuruhmu?" tanya balik Evans mencurigai kehadiran Meisha "Bukan! ini murni, real mauanku sendiri datang kesini. Aku mengkhawatirkanmu, Evans! Jangan melulu kau menuduh om Jaya gara-gara aku datang. Sebenarnya, apa yang telah terjadi? Penampilanmu sedikit kacau." Meisha menelisik Evans, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. "Tak apa! Aku hanya kurang tidur tadi malam. Pikiranku sedikit kacau." "Bagaimana, jika kita keluar jalan-jalan sebentar saja. Untuk meringankan beban pikiran kamu. Sedikit menghirup udara segar, bisa membantu pikiran kamu rileks kembali." "Nggak! Aku akan tetap disini," ucap Evans terlihat cuek. Kenapa Evans selalu saja menolak dirinya, padahal dia benar tulus ingin membantu Evans, menghadapi semua yang menjadi beban pikirannya. "Apa kau menolakku karena Vania lagi?" tanya Meisha kemudian, memicingkan kedua matanya. "Nggak usah bawa-bawa nama Vania. Kau terlalu mencurigainya," Ucap Evans selalu saja membela Vania. Bagaimana Meisha tak cemburu. Vania menuruni tangga dengan cepat. Esa yang tengah melayani pengunjung pun melihatnya dengan heran. "Apa yang sudah terjadi? apa kedatangan Meisha membuat ulah lagi," ucap Esa menerka-nerka terlalu kepo. Sebab beberapa menit yang lalu, ia melihat Meisha masuk ke ruangan Evans. Dipikiran Esa, pastilah si Meisha membuat ulah lagi. Begitulah Esa mengambil kesimpulan. Vania terus saja berjalan memasuki toilet. Menyalakan air di wastafel, lalu mengguyur wajahnya hingga basah. Ia menenang kan pikirannya yang sedang kalut. Perasaannya kini merasa kacau. Ingin rasanya berontak dengan dirinya sendiri. Kenapa tak jujur saja dengan perasaannya! Kenapa pula ia yang harus memendam perasaan itu. Sakit! Sungguh sakit. Ingin rasanya ia berteriak melampiaskan segala kegundahan, keresahan, apa pun yang kini datang menerpa. Membuat Vania galau tingkat tinggi. Terlihat Esa tengah menyusul Vania. "Vania, kamu kenapa?" Dengan sigap Vania memeluk sahabatnya itu. Esa pun kaget, ia hanya bisa mengelus punggung Vania. Mencoba menenangkan Vania. "Kamu kenapa Van? Apa Meisha bikin ulah lagi? Apa dia mengumpatmu lagi seenak jidatnya," tanya Esa masih geram kepada Meisha. "Nggak, Sa. Aku hanya merasakan rasa sedih yang tiba-tiba saja datang. Entah kenapa dan bagaimana bisa, aku pun tak tau," sangkal Vania menutupi masalah yang sebenarnya. Esa masih terheran-heran. Bagaimana bisa Vania merasakan kesedihan tanpa ada sebabnya. Pasti ada sesuatu, pikir Esa. Namun, ia tak berani menanyakan langsung kepada sahabatnya itu. Vania menghela napas. Ia melepas pelukannya lalu tersenyum. "Sa, apa kamu benar-benar mencintai Evans?" Esa sedikit kaget mendengar pertanyaan Vania yang tiba-tiba. "Tentu!" "Kalau begitu, perjuangkan dia. Jangan mau kalah sama Meisha!" Kini Meisha ia jadikan alasan. Tak mungkin Vania berkata jujur apa adanya. Yang ada hubungan persahabatan mereka bisa terpecah belah. "Aku yakin! Evans akan memilih wanita yang tepat untuk dirinya. Menurutku Meisha bukanlah masalah lagi. Karna aku tau, Evans tak menyukai kehadiran Meisha." Vania mengangguk tersenyum. Esa pun tersenyum. "Justru aku harusnya waspada sama kamu. Bisa saja kamu juga menyukai Evans." Vania kaget mendengarnya. Apa Esa sudah tau kebernaran itu. Pikiran Vania kini mulai melayang. "Yah serius banget kamu, Van. Aku cuma bercanda kok!" ucap Esa terkekeh. Vania menghela napas lega. Esa hampir membuat jantungnya serasa copot. Di kira Vania, Esa serius tadi. Vania pun ikut tertawa. Ia berusaha tampil sekuat mungkin di hadapan Esa. Layaknya sahabat, harusnya Vania mencurhatkan segala isi hati yang tengah ia rasakan, kepada sahabatnya. Tapi itu tak mungkin, lebih baik, ia meme dam perasaan itu sendirian. Vania masih saja menyalahkan perasaannya itu. "Untuk apa lagi Meisha kesini? Apa dia mau mencoba merayu Evans?" Vania mengedikkan bahunya. "Tapi percuma saja dia merayu. Evans nggak bakal mau sama dia. Orang dia mggak cinta!" ucap Esa yakin. Vania tersenyum," ya udah! yuk kita kerja lagi." "Okke," jawab Esa. Memang kasihan Vania. Demi Esa, ia mengorbankan perasaannya. Meski pun Vania sudah menolak Evans. Tetap saja Evans akan mengejar dirinya. Perasaan takut menghampiri Vania. Jika Evans nantinya berani mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan di depan Esa, bagaimana? Sebab cara penyampaian Evans hari ini pun juga beda, nggak kayak biasanya. Evans serius. "Sa! Pokoknya kamu nggak boleh nyerah ya. Kamu harus cepet menyatakan perasaan kamu. Jangan sampai Meisha berhasil meluluhkan hati Evans, agar mau menerimanya." Vania memojokkan Esa agar segera menyatakan cinta. Lebih cepat lebih baik! Vania akan tetap menghindar dari Evans. Agar tak menggoyahkan hati dan pikirannya. Kenapa bisa cinta segitiga hadir dalam persahabatan mereka. Rumit! "Ayolah Vans, kita jalan sebentar saja. Aku merasa bosan di rumah saja. Mau jalan juga nggak ada temennya!" Keluh Meisha, berusaha membujuk Evans. "Nggak bisa. Aku banyak urusan. Lagi pun aku nggak hobby jalan-jalan." Evans menolak dengan kasar. Kehadiran Meisha membuatnya bertambah malas dan kesal. "Ah, Evans nggak asik! Nggak kayak dulu, yang selalu setia menemaniku kemana saja." Meisha ngambek mengungkit masa kecilnya dulu. "Itu kan dulu! Kita masih anak-anak. Sekarang kita udah dewasa dan sudah mempunyai kesibukkan masing-masing," sahut Evans, ia menyesap kopi butan Vania pujaan hatinya. "Ya kan sekali-kali kita jalan nggak apa-apa. Bentar doang! Ketaman atau sekedar beli ice cream, aku mau kok!" masih saja Meisha memaksa Evans. "Nggak bisa Mei. Lain waktu saja, kalau aku udah nggak sibuk." "Tapi kamu selalu sibuk, Evans!" "Ya kamu tau sendiri. Lebih baik jangan memaksa." Meisha mengerucutkan bibirnya, ngambek! Tapi Evans tetap nggak peduli. Di pikirannya hanya ada Vania, Vania dan Vania. "Ya sudah! Aku ajak Dion ajalah, kalau kamu nggak mau," ucap Meisha ketus. Evans tertawa, "Untuk apa kamu ngajak Dion? Hey dia udah nikah, udah jadi suami orang. Apa kamu nggak tau?" Meisha menggeleng, " Masa sih? Kok aku nggak di undang! Dasar Dion ya, awas kalau ketemu," gerutunya. "Ya udah, kalau gitu aku pulang aja deh. Tapi besok aku main kesini lagi. Bosan di rumah terus!" "Nggak apa-apa, asal kamu nggak bikin masalah nantinya," Evans menatap dingin Meisha. Ia nggak yakin Meisha sudah berubah dan nggak berulah lagi. Dari sorot matanya melihat Vania tadi. Sepertinya Meisha masih menaruh dendam. "Ulah apa! Seburuk itukah aku dimatamu, Vans." Kini Meisha menunjukkan wajah sedihnya. "Dahlah, aku pamit," sambungnya kemudian ia berdiri berjalan keluar ruangan. Evans hanya diam menatap punggung Meisha, yang kemudian menghilang di balik pintu. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD