Bab 15

1217 Words
Meisha menatap benci kepada Vania. Gara-gara dia! Evans menolak dirinya. Menurutnya dia lebih cantik dan menarik dibanding Vania. Dia juga keturunan dari keluarga kaya, terpandang pula. Di banding Vania yang tampak biasa-biasa saja, apa menariknya! Bisa jadi Evans di pelet, pikirnya. Ia bergidik ngeri, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Begitu pula dengan Vania. Tatapannya tajam seolah membidik tepat sasaran. Ia mendesah dan segera pergi dari tempat Meisha duduk. Namun, baru saja ia melangkah kan kaki Meisha membuatnya terhenti. "Terimakasih, jalang!" Ucap Meisha tersenyum licik. Vania kembali ke posisinya berdiri seperti semula. "Jaga bicaramu. Belum puas kau mengumpat ku! Apa kau mau ku panggil dengan sedemikian rupa?" Kedua mata Vania melotot dengan kedua tangan mengepal menahan emosi. Meisha berdecak. "Ck memang kau itu pantas di panggil wanita jalaang atau pun pelakor. Kau sangat menjiwai peran itu," celotehnya. Kali ini Meisha benar-benar membuat Vania geram. Tangannya menggebrek meja dengan keras sampai Meisha pun terkejut. "Kau jaga bicaramu. Kalau tidak aku robek mulutmu itu!" Tangan Vania menunjuk wajah Meisha. Ia tak main-main dengan ancamannya itu. Ia tak peduli, bila ia sedang menjadi pusat perhatian para pengunjung restoran. Bukan salahnya jika ia marah dan membela diri. Meisha memang sangat keterlaluan. Jika ia hanya diam. Meisha akan lebih menjadi. Meisha menyingkirkan tangan Vania dari pandangannya. "Kau mau apa! Kau hanya seeorang pelayan di sini. Apa kuasamu? Berani-beraninya menggebrek meja dan melawanku." Jantungnya berdetak kencang dibuat Vania kaget. Lagi-lagi dia menyalahkan Vania. Padahal dia sendiri yang menyebabkan Vania tersulut emosi. Dasar Meisha! Mentang-mentang anak orang kaya. Bertingkah seenak jidatnya. "Aku memang hanya seorang pelayan. Tapi bukan berarti kau bisa menghinaku seenak jidatmu. Kau juga hanya pengunjung. Bukan pemilik restoran!" Papar Vania. Dengan berani membalikkan omongan Meisha. Bukan dia yang berkuasa. Tapi Meisha lah yang sok kuasa. Terlebih Meisha selalu saja menyalahkan dirinya. Membawa namanya ke dalam masalah pribadinya. "Aku bukan pengunjung. Disini aku calon pemilik restoran. Rencana perjodohan kami masih terus berlanjut. Jadi aku punya kuasa disini," ucap Meisha mengada-ngada. Ia merasa seolah-olah hubungannya dengan Evans masih berlanjut. Nyatanya tidak!. Vania menatap dingin. Merasakan keganjalan yang di buat Meisha. "Bukannya Evans telah menolaknya. Tidak mungkin dia berubah pikiran secepat itu. Ah, persetaan! Untuk apa aku memikirkan hubungan mereka. Masa bodoh! mereka mau pacaran atau pun menikah. Bukan urusanku," batin Vania. Ia masih berdiri terdiam merasa heran. Vania menarik napas panjang. Ia meninggalkan Meisha yang masih melotot menatap dirinya. Melihat Vania pergi. Meisha tersenyum penuh kemenangan. Ia puas sekaligus merasa menang dalam adu mulutnya. Ia pikir Vania percaya dengan omongannya. Tentang hubungannya dengan Evans yang masih berlanjut. Bohong! Ya Meisha telah berbohong. "Sialan! Masih saja aku yang di salahkan. Salah siapa jadi perempuan judesnya minta ampun. Siapa juga cowok yang mau sama dia! Orang dia nggak punya sopan santun," omel Vania sambil mendekap nampan. Esa segera mendekat dengan ke kepoannya. "Bikin ulah apalagi si Meisha. Sampai menarik perhatian semua orang di resto ini." Esa penasaran apa alasan Meisha marah kepada Vania. Sampai ia pun ikut menyaksikan nya dari kejauhan. Vania membuka botol air mineralnya yang terletak diatas meja. "Meisha itu masih saja merendahkan ku. Membuat emosi ku tersulut," jelasnya, lalu meneguk air mineralnya. Esa berdecak mendengkus kasar. Ia pun geram mendengar penjelasan Vania. "Siapa yang nggak marah jika di hina sebagai pelakor dan wanita jalang!" Sambung Vania "Apa!" Esa terkejut mendengarnya. "Emang keterlaluan si cerewet itu. Aku nggak terima kamu di rendahkan seperti itu. Aku akan buat perhitungan dengannya." Esa pun murka kepada Meisha. Ia ingin melabrak Meisha di meja makannya saat ini. Namun lengannya tertahan oleh Vania. "Mau apa kamu, Sa," tanya Vania panik. "Aku mau bikin perhitungan sama si cerewet itu. Aku nggak terima kamu di rendahkan seperti itu Van. Jadi tolong jangan tahan aku," emosi Esa menyulut, ia mencoba melepaskan genggaman tangan Vania . "Tenang Sa, tenang! Kamu nggak perlu lakuin itu. Bisa-bisa dia nanti malah berbalik menyalahkanmu dan merendahkanmu juga," ucap Vania mencoba menenangkannya. "Aku nggak peduli Van. Si cerewet itu harus di kasih pelajaran. Kalau nggak dia akan lebih semena-mena." Esa bersikeras. "Aku tau kamu marah nggak terima. Aku pun bagitu Sa. Tapi kalau kita ladenin, bukannya menyadari kesalahannya. Tapi ulahnya malah semakin menjadi." Vania berusaha melarang sahabatnya agar tidak berbuat sedemikian halnya seperti Meisha. "Jika kamu bersikeras menuruti hawa nafsumu untuk membalasnya. Apa bedanya kamu sama dia," tandasnya. Mendengar ucapan Vania. Esa menyadari amarahnya telah menguasai dirinya. "Ya Tuhan. Betul apa katamu Van." Esa menghela napas panjang mencoba mengontrol emosinya. Vania memgulurkan air mineral miliknya. "Nih minum. Sabar Sa, aku yang di hina kamu yang marah-marah," imbuh Vania. Esa meneguk air mineral itu sampai habis. Kedua mata Vania tampak berkaca-kaca. "Thanks ya, Sa. Kamu memang sahabat aku yang paling baik. Selalu membela ku dan mendukung ku." Bulir bening itu menetes di pipi Vania. Esa memeluk Vania dengan mata sendu. "Aku nggak rela sahabat aku di rendahkan. Hatiku ikut sakit mendengar penghinaan dari Meisha." Tak sadar pipi Esa pun basah berlinang air mata. Sahabat merupakan sosok yang selalu ada dalam suka dan duka. Seperti halnya mata dan tangan. Saat mata menangis tangan mengusap, saat tangan terluka mata menangis. Begitulah sejatinya seorang sahabat. Meski tidak bisa membuat masalah yang kita hadapi menghilang, namun mereka tak akan pernah menghilang di saat kita memiliki masalah. Sangat mengharukan persahabatan Vania dan Esa. "Thanks ya, Sa. Kamu memang sahabat terbaik yang pernah aku temui." Vania mengusap bulir bening di pipinya kemudian tersenyum. Esa pun ikut tersenyum melihat sahabatnya tersenyum. Waiters yang melihat persahabatan mereka, pun ikut terharu. Evans pun ikut memperhatikan mereka dari kejauhan. Entah sejak kapan ia berdiri di depan pintu dapur restoran. Ia tersenyum melihat kedua sahabat itu. "Astaga! Evans memperhatikan kita," ucap Esa lirih begitu menyadari keberadaan Evans. Vania segera mengusap pipinya yang masih basah. Mengambil nampan yang ia letakkan di atas meja, bergegas kembali bekerja. Di ikuti oleh Esa di belakangnya. "Aku salut dengan persahabatan kalian" Evans mulai berbicara. Vania dan Esa berhenti kemudian menunduk. "Maafkan kami. Seharusnya kami bekerja tapi malah berlomba mengeluarkan air mata," sahut Vania. Konyol! Apa lomba mengeluarkan air mata benar ada. Pikir Esa. "Sudahlah aku mengerti. Meisha memang keterlaluan. Aku sudah menyuruhnya pergi!" Evans bertindak tegas agar Meisha tak seenaknya di restoran miliknya. Vania bengong tak percaya dengan apa yang dikatakan Evans. "Itu artinya Evans tadi melihat aku berdebat dengan Meisha?" Tanyanya dalam hati. "Duh! Jadi malu. Untung nya nggak ada adegan jambak menjambak rambut. Atau saling tampar. Tadinya aku berpikiran ingin menjambak rambut Meisha yang sok itu." Vania menahan malu, seketika pipinya memerah. Senyuman Evans membuat Esa klepek-klepek. Apalagi jika Evans tertawa. Menambahnya terlihat ganteng maksimal. Nggak salah jika ia diam-diam menyukai atasannya itu. "Meisha nggak pantes dampingi kamu, Evans Haidar. Menolaknya adalah keputusan yang tepat." Esa membatin. Betapa ia benar mengagumi seorang Evans Haidar. Kedua sahabat itu saling berpandangan dengan pemikiran dan batin masing-masing. Salah satu kualitas paling indah dari persahabatan sejati adalah memahami dan di pahami. Restoran tampak ramai pengunjung. Saat nya pekerja kantoran memberi jatah makan perut mereka masing-masing. Esa dan Vania meninggalkan Evans dan melayani pengunjung restoran. Evans pun turut andil menyambut para pengunjung restorannya, dengan ramah. Dan memastikan restorannya berkembang dengan baik. Sesekali Evans mencuri pandang ke arah Vania. Tentu saja tanpa sepengetahuan Vania, pastinya. Entah kenapa melihat Vania tersenyum membuat pikirannya tenang. Terlebih setelah bibir mereka berciuman. Berdekatan dengan Vania saja membuat Evans terasa nyaman. "Tuhan, tolong jaga senyum itu agar tidak pudar. Jangan biarkan masalah datang menghampirinya." Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD