Pria Menyebalkan

1045 Words
“Wah siapa mbak cantik ini?” Tiba-tiba Bu Sasongko yang sedari tadi berbincang dengan Nosa, Pak Wibisono dan Pak Sasongko bertanya kepada Kaylila. Kaylila terkejut. “Saya Kaylila, Bu Sasongko, sekretarisnya Pak Wibisono.” “Oh, begitu toh. Pinter kamu mendapatkan sekretaris, Wib. Cantik. Sudah berkeluarga apa belum mbak Kaylila?” “Ah tante, bisa saja. Anggap saja keberuntungan saya. Kaylila masih lajang, Tante, tapi sudah ada yang punya. Mereka pacaran sudah lama, tapi Kaylila belum kunjung dilamar juga.” Pak Wibisono tersenyum menatap Kaylila. Kaylila hanya menundukkan kepalanya, malu. Tapi memang begitulah kenyataannya, yang hingga saat ini Kaylila pun belum mendapatkan kepastian. “Oh, begitu. Sayang sekali, seandainya belum ada yang punya, boleh dong tante minta untuk Nosa. Tante sudah putus asa rasanya, menunggu. Coba, sudah umur 34 tahun belum kunjung memberikan istri, apalagi anak. Bersabar ya mbak, kalau memang jodoh tidak akan kemana. Mungkin masnya belum siap. Waktunya pasti datang nanti.” “Eh, iya bu Sasongko. Terima kasih atas perhatiannya.” “Mbak Kaylila sudah makan malam belum ya. Ibu lihat dari tadi hanya berdiri disini saja. Ayo sekalian temani ibu. Ibu juga belum makan malam. Kalian lanjutkan saja obrolannya.” Kaylila sedikit terkejut dengan ajakan Bu Sasongko. Namun Kaylila menganggap hal itu hal yang wajar, karena mungkin Bu Sasongko tidak memiliki teman untuk santap malam. Kaylila pun mengiyakan ajakan Bu Sasongko. Sementara si pria dingin itu, Nosa, hanya menatap ibunya dengan tatapan yang aneh, dan hanya mampu tertegun. “Iya tante, diajak aja Kaylila, kasihan dia sendirian tidak ada yang dikenalnya.” Pak Wibisono yang juga terkejut mengiyakan tawaran Bu Wibisono kepada Kaylila. Kaylila mengikuti bu Sasongko menuju hidangan prasmanan yang telah disiapkan. Bu Sasongko mengambilkan piring untuk Kaylila, kemudian mengambil piring lagi untuk dirinya. Sepanjang menikmati hidangan itu, Bu Sasongko terus bercerita tentang topic yang sedang umum saat ini. Kaylila mendengarkan dan menanggapinya dengan santai. Kaylila sedikit heran, biasanya ibu-ibu pasti akan menceritakan tentang dirinya, keberhasilan anak-anaknya dan tentang keberhasilan suaminya. Kaylila tidak mampu menyembunyikan rasa kagumnya pada bu Sasongko. Dan sungguh ini adalah keberuntungan baginya, karena bisa berbincang bersama bu Sasongko. Jauh disana, tempat dimana Pak Sasongko, Pak Wibisono dan Nosa, tampak bahwa Nosa selalu mengamati gerak Kaylila dan Bu Sasongko. Nosa teringat kejadian saat di warung lesehan Jogja tadi siang. Tanpa sengaja dia mendengar perdebatan sepasang kekasih. Yang wanita ingin segera di lamar karena usianya telah menginjak 27 tahun, sementara sang pria meminta waktu selama 2 tahun untuk mempersiapkan menta. Nosa hanya tersenyum saat mendengarkan alasan pria itu. Nosa tahu bahwa itu hanya akal-akalan pria itu agar tidak perlu mempertanggung jawabkan hubungannya dengan sang wanita. Dasar pria tidak bertanggung jawab. Batin Nosa saat itu. Sebagai pria Nosa bisa mencium kelicikan pada pria itu. Nosa heran, mungkinkah si wanita telah dibutakan cinta sehingga tidak mampu menyadari hal itu. Nosa hanya mampu menggelengkan kepala. Siang itu, kebetulan Nosa sedang menunggu Gladis, yang sengaja mengajak bertemu di warung lesehan itu, namun ternyata Gladis ada panggilan dari managernya untuk persiapan syuting. Nosa duduk di meja yang berdekatan dengan meja yang dipesan oleh sepasang kekasih itu, dan ternyata sepasang kekasih itu adalah Kaylila dan Genta. Saat ini, Kaylila sepertinya telah mencuri hati mamanya, Bu Sasongko. Nosa hanya mampu tertegun. Pak Sasongko dan Bu Sasongko tidak pernah memberikan perhatian lebih apalagi mengajak Gladis berbicara secara santai seperti Bu Sasongko memperlakukan Kaylila. Ada perasaan cemburu dalam hati Nosa. Gladis adalah seorang model, yang memiliki jam terbang tinggi. Nosa mengenal Gladis saat masih kuliah di Singapura. Gladis adalah adik tingkat Nosa saat berkuliah, satu jurusan. Nosa yang notabene cuek, didekati oleh Gladis yang ramah, hangat dan pandai membuat Nosa tertawa. Cinta bersemi hingga saat ini. Sudah beberapa kali Nosa mencoba memohon agar Pak Sasongko dan Bu Sasongko bersedia menerima Gladis menjadi menantu mereka, namun jawaban Pak Sasongko dan Bu Wibisono tetap tidak menyetujui. “Nosa, Gladis itu seorang model, yang terbiasa mempertontonkan tubuhnya di depan kamera, di depan orang banyak. Apa kamu mau menikah dengan orang yang seperti itu? Apa tidak ada yang lain? Sampai kapanpun papa tidak akan merestui hubungan kalian.” Nosa hanya mampu terdiam mendengar ultimatum Pak Sasongko. Namun begitu, hubungan antara Nosa dan Gladis tetaplah berjalan, meskipun tanpa restu. Nosa berharap suatu hari dia akan mendapatkan restu dari kedua orangtuanya. Nosa masih mengamati Kaylila dan Bu Sasongko yang sedang asyik berbincang. Mereka berdua seolah-olah telah sering bertemu sehingga tampak sekali bahwa mereka berdua sangatlah akrab. Nosa mengamati Kaylila, gadis anggun dengan menggunakan gaun tertutup, dan berjilbab, dia tampak cantik, polos, dan sederhana. Mungkin Kaylilalah yang diinginkan Bu Sasongko untuk menjadi istri Nosa. Nosa tidak memungkiri bahwa Kaylila sangat menarik, mulai dari ucapannya, perilakunya dan sikapnya. Dia sangat berbeda saat bertemu tadi siang. Dia begitu cerewet dan keras kepala. Mungkin karena kekecewaannya dengan pacarnya. Batin Nosa, dan tanpa disadari, Nosa tersenyum mengingat kejadian itu. “Lanjukan ngobrolnya ya Wib, Om mau mengobrol dengan tamu yang lain. Hari Senin kamu datang saja ke kantor, kita bahas lagi kerjasamanya.” “Siap, Om. Besok segera saya kabari kalau mau ke kantor Om.” “Jangan lupa, carikan Nosa calon istri, bukan pacar. Oke?” “Hahahahha, siap Om. Wib carikan yang pas deh.” Nosa hanya menunduk dan tersenyum simpul tanpa mampu menjawab sindiran Pak Sasongko. “Eh, Nosa, bukannya kamu masih jalan sama Gladis? Terus kenapa Om Sasongko masih menyuruhku mencarikan calon untukmu? Atau, masih belom mendapatkan restu?” “Ga perlu dijawab pertanyaanmu Wib. Saya sudah capek juga berusaha agar Gladis mampu mengambil hati mereka. Tapi tetap nihil. Makanya saya tidak kunjung menikah sampai sekarang.” “Kamu sih, masih pilih-pilih juga. Tapi aku heran, tante kayaknya akrab sekali sama Kaylila. Kode keras tuh Nosa. Kamu harus mengerti dengan tanda itu.” Wibisono ternyata sependapat dengan Nosa. Sepertinya apa yang dikatanya Wibisono ada benarnya. “Ngomong-ngomong, kamu ketemu Kaylila dimana, kalian saling kenal?” “Tadi siang ada sedikit accident, sewaktu saya pulang dari makan siang.” Nosa kemudian menceritakan kejadian singkat siang tadi, saat terjadi perdebatan antara Kaylila dan Genta, kekasihnya, hingga kecelakaan kecil yang menimpa Kaylila. Wibisono hanya mampu ber ohh panjang. Sepertinya Wibisono sangat memahami kondisi Kaylila selama ini. “Oh… Begitu rupanya. Aku juga prihatin mendengarnya. Mereka sudah lama menjalin hubungan kekasih. Namun, sampai sekarang masih belum ada kabar bagus dari mereka. Nah kesempatan bagi kamu nih.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD