Nosa

1185 Words
“Kesempatan apaan sih, Wib. Dia juga masih jadi milik orang lain. Ga gentle juga kalau saya merebut Kaylila yang jelas-jelas masih berstatus kekasihnya orang. Lagian dia bukan tipe saya.” “Nosa, kamu bilang bukan tipe kamu tapi lihat tuh, Tante sepertinya menikmati percakapan itu, mereka akrab sekali. Kamu yang peka sedikit kenapa. Lagipula Kaylila gadis yang baik. Selama menjadi sekretarisku, belum pernah ada cacat sedikitpun mengenai dia.” Nosa terdiam, Nosa memikirkan apa yang dikatakan Wibisono. Meskipun Nosa sangat mencintai Gladis, namun rasanya Nosa ingin menyerah karena tidak kunjung mendapatkan restu. Jam menunjukkan pukul 22.00. Bu Sasongko yang sedari tadi berbincang dengan Kaylila, kemudian mengajak Kaylila mendekati Wibisono dan Nosa yang masih berbincang juga. “Nosa, nanti kalau pulang, sekalian antarkan Mbak Kaylila pulang ya. Bukannya kalian searah jalan pulangnya?” “Ah, tidak perlu repot-repot Bu Sasongko, saya bisa pulang naik taksi kok.” “Hush, anak perempuan tidak baik naik taksi sendirian malam-malam. Tidak apa-apa, Nosa tinggalnya berdekatan kok dengan tempat tinggalmu. Jangan sungkan-sungkan. Bisa ya Nosa?” Bu Sasongko mendelikkan bola matanya kearah Nosa. Nosa memahami bahwa dengan sikap itu, bahwa Bu Sasongko tidak menerima perdebatan, dan tidak menerima kata tidak. Akhirnya Nosa menganggukkan kepalanya. “Nah gitu dong. Wibisono masih harus membahas beberapa hal sama papamu, jadi tidak mungkin mengantarkan Kaylila dulu baru kembali lagi kesini. Ya udah, sekarang udah malam, langsung aja anterin Mbak Kaylila pulang. Hati-hati di jalan. Mbak Kaylila kalau ada waktu nanti kita ngobrol lagi ya. Sekarang sudah malam, silakan pulang, biar dianterin Nosa.” “Baik Bu Sasongko, terima kasih. Mohon maaf merepotkan. Pak Wibisono, saya pamit terlebih dahulu.” “Iya Kay, lanjut aja. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok Senin di kantor ya.” “Ya, Pak wibisono. Selamat malam, Bu Sasongko.” “Ma, Nosa pamit dulu.” “Ya, hati-hati membawa anak gadis.” Nosa mencium tangan Bu Sasongko, kemudian berjalan menuju pintu keluar. *** “Mas, eh Pak Nosa. Saya bisa pulang sendiri kok. Bapak tidak perlu repot-repot mengantarkan saya.” Kaylila berujar sembari mengekori langkah Nosa yang jauh didepannya. Nosa yang tinggi dengan kaki panjangnya, tidak mampu diimbangi oleh Kaylila. Dengan menggunakan high heels dengan tinggi hak 5 cm saja, tinggi Kaylila hanya sebatas bahu Nosa. Apalagi bila Kaylila tidak menggunakan high heels. Kaylila mencoba membarengi langkah Nosa. Nosa hanya diam saja mendengar perkataan Kaylila. Tanpa aba-aba, Nosa menghentikan langkahnya, sementara Kaylila yang berada di belakang, tidak dapat menduganya, dan tak ayal, Kaylila menabrak tubuh Nosa yang menjulang tinggi. Kaylila meringis sambil memegang keningnya. Sekilas Kaylila mencium aroma maskulin dari tubuh Nosa, membuat Kaylila tergeragap, dan mulai menyadari kekonyolannya. Kaylila pun mundur selangkah, sedangkan Nosa membalikkan tubuhnya menghadap Kaylila. Jarak mereka begitu dekat, Kaylila yang merasa jengah mundur selangkah lagi untuk menjaga jarak. Kaylila menatap Nosa yang ternyata sedari tadi memperhatikannya. “Maaf, saya tidak sengaja.” “Saya bukan lelaki tidak memegang janji. Perintah mama adalah mutlak bagi saya. Bila saya memang keberatan mengantarkan kamu, tentu sudah saya tolak dari tadi.” Nosa mengatakannya dengan tegas, dingin, dan penuh penekanan. Kaylila hanya mampu terdiam, kemudian kembali mengekori Nosa yang mulai berjalan menuju kendaraannya di parkir. Namun kali ini Kaylila lebih menjaga jarak sedikit lebih jauh ke belakang, Kaylila tidak ingin kejadian yang sama terjadi lagi. Nosa membuka pintu mobil di bagian pengemudi, sementara Kaylila bersiap-siap masuk ke dalam mobil di kursi penumpang. “Saya bukan supir, jadi silakan duduk di depan.” Kaylila menghembuskan nafas, kemudian mengurungkan niatnya membuka pintu. Kaylila berjalan memutar menuju kursi disamping kemudi. Nosa segera menghidupkan kendaraannya, kemudian melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Nosa dan Kaylila masih saling diam. “Kamu mau menikah dengan saya?” Tiba-tiba saja Nosa berbicara, yang membuat Kaylila langsung mengarahkan kepalanya menatap Nosa dengan ekspresi terkejut, tidak percaya dan tidak masuk akal. Tentu saja, dengan mata melotot, sambil memperhatikan Nosa yang tanpa ekspresi mengemudikan kendaraannya. “Maaf? Pak Nosa bilang apa tadi?” “Jangan memanggil saya dengan sebutan Pak. Apakah saya terlihat tua?” “Maaf. Tapi bukankah anda seumuran dengan Pak Wibisono?” “Saya lebih muda setahun dengannya. Tetaplah memanggilku dengan panggilan seperti siang tadi.” Nosa tersenyum sinis, masih tetap sambil mengemudikan kendaraannya. Kaylila kemudian menganggap bahwa dia salah dengar. Kaylila memutar kepalanya menatap ke luar jendala di samping kirinya. Memperhatikan lampu jalan yang seolah-olah ikut berjalan mengiringi kendaraan yang dikemudikan Nosa. “Satu tahun. Hanya butuh satu tahun kita menjalani pernikahan. Kita menikah dengan perjanjian. Tanpa cinta, dan tanpa saling bersentuhan. Saya tidak akan menyentuhmu. Saya juga akan jarang berada di Malang, karena saya akan lebih sering berada di Singapura, mengurus bisnis yang sudah saya jalankan disana. Silakan kamu tetap bekerja.” Kaylila kembali menolehkan kepalanya kearah Nosa. Rasa tak percaya yang sedari tadi dipendamnya kini mulai yakin dengan pendengarannya sendiri, bahwa Kaylila tidak salah dengar. Kaylila menyipitkan matanya. Sementara Nosa masih dengan tanpa ekspresi, dan dengan gayanya yang dingin, membuat Kaylila merasa geram. Pernikahan dengan perjanjian katanya? Dia benar-benar menyebalkan. “Maaf mas, saya sudah punya calon.” Kaylila menjawab dengan singkat dan tegas, untuk membuktikan bahwa dia tidak bisa dipermainkan seperti apa yang dia pikirkan. Nosa tertawa sarkas. “Calon yang mana? Yang mencoba mempermainkanmu dengan mengulur waktu untuk bisa melamarmu?” Nosa kembali tersenyum sinis. Kaylila terkejut mendengar ucapan Nosa. “Maksudnya apa Mas Nosa, saya tidak paham apa yang mas Nosa sampaikan.” “Apakah kamu selalu se naïf ini? Atau kamu memang telah dibutakan cinta dari pria b******k itu?” Kaylila masih tidak bisa mempercayai pendengarannya. Dengan jelas Nosa mengumpat Genta, kekasihnya. “Kita berbisnis saling menguntungkan. Saya bisa menikah, kamu juga bisa menikah sebelum usiamu 27 tahun. Adil kan? Saya akan menjamin segala keperluanmu. Kamu ingin kuliah? Di dalam negeri atau di luar negeri? Saya akan membiayainya.” Belum sempat Kaylila membalas ucapan Nosa, Kaylila di kagetkan lagi ucapan Nosa yang seolah-olah mengetahui segalanya tentang hubungan Kaylila dan Genta. Kaylila masih tidak percaya dengan ucapan Nosa. “Tidak perlu dijawab sekarang. Masih ada waktu sebelum usiamu 27 tahun kan? Silakan dipikir dengan matang. Kamu tahu bagaimana cara menghubungi saya bukan?” Kaylila hanya mampu melongo, masih dengan keterkejutannya, sehingga tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. “Sudah sampai, silakan buka pintunya.” Kaylila kembali terkejut, tanpa disadari, mereka sudah tiba di rumah Kaylila. Kaylila merasa bahwa dia bahkan belum mengatakan alamat rumahnya, dan sekarang tiba-tiba sudah sampai. Nosa turun dari mobil, diikuti oleh Kaylila. Kaylila segera membuka pintu pagar depan rumahnya. Nosa masih berdiri di samping kendaraannya. “Jangan mengusirku. Anggap saja ini bentuk tindakan menjaga sopan santun, memastikan bahwa sesorang yang telah saya antarkan telah sampai dirumahnya. Silakan masuk, pastikan kamu telah mengunci semua pintu setelah saya pergi.” Dia sungguh menyebalkan. Yaa Allah, makhluk apakah sebenarnya ini? Kaylila membatin, dengan semua keterkejutan dan ketidak percayaan yang dialaminya malam ini, terhadap sosok Nosa yang dingin. Setelah Kaylila masuk kedalam pagar, Kaylila menguncinya, kemudian membuka pintu depan rumahnya. Nosa masuk kedalam mobil. Setelah Kaylila masuk kedalam rumah dan menutup pintu, Nosa segera berlalu melajukan mobilnya. Setibanya didalam rumah, Kaylila merasakan lututnya seolah lemah, Kaylila terduduk di lantai. Kaylila masih tidak mampu mempercayai apapun yang diucapkan oleh Nosa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD