Kutinggalkan

1089 Words
Alarm di kamar Kaylila berbunyi nyaring, menunjukkan pukul 05.00, mengagetkan Kaylila. Kaylila merasakan kepalanya pusing karena semalam tidak bisa tidur, masih memikirkan perkataan yang diucapkan Nosa. Kaylila berteriak, kemudian menutup wajahnya dengan selimut. “Dia menyebalkan!” Kaylila kemudian bangun, menuju kamar mandi, berwudhu untuk menjalankan sholat Subuh. Selesai sholat, kaylila kembali ke tempat tidurnya. Kaylila mencoba untuk tidur lagi, namun matanya seolah tidak dapat diajak kerja sama. Begitu pula kepalanya, Kaylila masih merasakan pusing. “Apa yang harus aku lakukan? Eh, kenapa aku harus bingung. Bukankah tinggal kujawab saja, bahwa aku tidak bersedia menerima tawarannya? Dia pikir aku ini benda apa, yang bisa dijadikan ajang bisnis? Menyebalkan, dia sungguh menyebalkan. Tapi, dia sangat keren, matang, dewasa. Ahhhhhhhh sudahlah, hapus, hapus, hapuskan dia dari pikiranku. Reset!” Kaylila mematung, memastikan bahwa dia telah melupakan tentang apa yang dikatakan Nosa. Namun hal itu sia-sia. Suara Nosa seolah mengiang-ngiang di kepalanya. Kaylila menjambak rambutnya, sambil menendang selimut yang menyelimutinya. Kaylila menyerah, kemudian keluar dari kamarnya menuju dapur, mengambil air mineral, dan meminumnya dengan terburu-buru, namun kemudian tersedak saat mendengar bel di bunyikan. Kaylila segera menuju ruang tamu, mengintip siapa yang membunyikan bel itu. Ternyata Genta, Kaylila dengan tersenyum kembali ke kamarnya, untuk mengambil Jilbab. Kaylila membuka pintu depan rumahnya, kemudian membuka pintu pagar. Tampak Genta dengan alis mengkerut dan tanpa senyum. Jam menunjukkan pukul 06.30 saat itu. Dengan setelan olahraganya, Genta langsung masuk begitu pintu pagar dibuka. “Kamu kemana aja sih, Yang? Ditelpon ga dijawab, di chat juga ga dibalas, boro-boro dibalas, dibaca aja nggak. Kamu tahu ga kalau aku cemas?” Kaylila menatap Genta, kekasih yang sangat dicintainya. Hanya Genta dan Genta yang selalu mengisi relung hatinya. Namun, entah mengapa, tadi malam Kaylila benar-benar melupakan kehadiran Genta. Kaylila merasa bersalah. “Maaf, Mas. Ga semapat buka HP. Sampe dirumah aja udah jam 11 malam, langsung sholat isya, trus tidur.” “Tapi kenapa matamu tampak berkantung begitu? Kurang tidur? Kalau jam 11 malam kan udah biasa kamu tidur jam segitu juga. Tapi ga sampe membuat matamu berkantung kan?” “Ga tau nih mas. Perasaan tidurnya juga berkualitas tadi malam. Mungkin aku cuma kelelahan aja.” “Yang, bekerja boleh penuh tanggung jawab, tapi kondisi tubuh juga wajib diperhatikan. Nanti sakit, siapa yang repot. Mau aku nginep disini kalau kamu sakit?” “Apaan sih mas. Ya ga bolehlah. Nanti digerebek warga sekitar lho, masukin cowo dirumah anak perempuan. Malu kan?” “Makanya itu, jangan lupa dijaga kondisinya.” “Iya mas, iya.” Kaylila kemudian teringat ucapan Nosa tadi malam, tentang Genta yang b******k karena tidak kunjung menghalalkannya, dan juga batas usia 27 tahun agar segera menikah. Kaylila bertanya-tanya, kira-kira Nosa tahu darimana? Sedangkan Nosa dan Kaylila baru saja bertemu secara tidak langsung kemarin siang, setelah accident terserempet. Mungkinkah Pak Wibisono? Tapi Pak Wibisono juga tidak mengetahui tentang hal ini. Mbak Della juga belum kuceritakan tentang ini. Tahu darimana dia ya? Batin Kaylila masih bertanya-tanya. Belum lagi, semalam, Nosa mengantarkan Kaylila pulang kerumah tanpa bertanya dimana alamat rumah Kaylila. Mungkin saja Pak Wibisono yang menunjukkan alamat rumahku Seribu pertanyaan memenuhi otak Kaylila, hingga melupakan bahwa ada Genta dihadapannya. “Yang, kamu mikir apa sih? Kok dari tadi bengong?” “Aahh? Aaa apa mas? Mas ngomong apa tadi?” “Duh kamu tuh ya. Tambah bingung jadinya. Kamu itu kenapa sih, Yang. Kayak orang bingung?” “Oh, itu, ya ga ada apa-apa sih. I’m fine.” “Ya udah kalo gitu. Ayo kita cari sarapan. Laper nih.” “Ya mas, sebentar aku ganti baju dulu ya. Ga mungkin kan aku pergi dengan memakai piyama tidur?” “Udah, ga papa. Tetep cantik kok.” Genta tersenyum nakal ke arah Kaylila. Ucapan Genta yang sudah biasa membuatnya terbuai kini dianggapnya suatu hal yang biasa. Ia hanya menggendikkan bahunya. Langkahnya sempat terhenti sementara. Kemudian, tanpa bersuara, ia mengekori langkah Genta menuju ke mobilnya. Ia memastikan bahwa rumah telah berada dalam keadaan tertutup, setelah mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu. *** Genta membawa Kaylila ke sebuah warung pecel di seputaran perumahan tempat tinggal Kaylila. Genta memesan 2 porsi nasi pecel dan teh manis hangat. Selama menunggu pesanan mereka datang, Genta sibuk berselancar dengan androidnya, sementara Kaylila hanya duduk sambil mengamati jalanan yang ramai dengan pejalan kaki. Karena hari Minggu, kebanyakan para penghuni perumahan memanfaatkan waktunya dengan berolahraga pagi di sekitaran komplek. Tak jarang, mereka hanya sekedar lari marathon bersama keluarga. Pikiran Kaylila kembali tertuju kepada Nosa. Pernikahan dengan perjanjian, tanpa cinta. Saling menguntungkan. Aku bisa menikah sesuai dengan tempo yang ditetapkan mama dan papa, dan dia juga bisa membahagiakan kedua orangtuanya karena akhirnya juga menikah. Tapi, bagaimana dengan mas Genta? Aku tidak akan sanggup hidup tanpanya. Tapi, bila aku tidak segera menikah, bukankah lebih gawat lagi? Mama dan papa akan menjodohkan aku dengan orang yang tidak kukenal, kemudian aku harus kembali tinggal di Jambi? Aku tidak mau pulang kesana, aku ingin berkarir disini. Seandainya aku menceritakan hal ini kepada Mas Genta, apakah dia akan menyetujuinya? Kaylila, jangan bodoh. Jangan menggali kuburmu sendiri. Memangnya Genta akan menyetujui niat si makhluk menyebalkan itu untuk menikahimu? Setelah setahun, kamu bercerai, dan kembali kepada Genta? Apakah itu yang kamu maksud? Apakah kamu yakin Genta akan kembali menerima jandamu? Jangan konyol! “Ahhhh…. Tidak tidak tidak. Reset!” Tanpa Kaylila sadari, dia berbicara sendiri sambil menepuk kepalanya dengan kedua tangannya. Genta terkejut melihat keanehan Kaylila hari ini. “Sayang, kamu kenapa sih? Aku jadi bingung.” “Tidak apa-apa kok mas. Aku baik-baik saja.” “Tapi aku jadi khawatir kalau lihat kamu begini.” “Iya sih. Masih dengan tema yang sama seperti hari kemarin.” Genta sontak terdiam mendengar ucapan Kaylila. “Sudahlah Yang. Jangan pernah membahas itu lagi. Aku sudah muak mendengarnya.” Kaylila terkejut mendengar apa yang dikatakan Genta. Genta yang lembut, tidak pernah berbicara dengan kasar dan nada tinggi, tiba-tiba kini berbicara sambil membentak Kaylila. Mata Kaylila berkaca-kaca, ingin menangis, namun ditahan. Kecewa dengan sikap Genta yang tidak mengerti gundahnya perasaannya. Kaylila langsung berdiri dan berlari keluar menjauhi warung. Genta segera mengejar Kaylila, kemudian memegang pergelangan tangan Kaylila dengan kuatnya. Kaylila menarik tangannya, namun apalah daya, Kaylila kalah kekuatan dengan Genta. Pergelangan tangan Kaylila memerah, dan Kaylila segera menghentikan larinya. “Sayang, jangan begitu. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tolong mengerti dengan keadaanku. Kamu tahu kan bagaimana keadaan kedua orangtuaku? Ibuku yang istri kedua, sementara bapakku tidak pernah menafkahi ibu dan aku. Aku masih trauma dengan keadaan itu. Aku hanya ingin memantapkan hatiku terlebih dahulu sampai aku siap. Aku akan segera menghalalkanmu, Sayang. Tolong bersabarlah, sedikit lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD