“Sayang, jangan begitu. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tolong mengerti dengan keadaanku. Kamu tahu kan bagaimana keadaan kedua orangtuaku? Ibuku yang istri kedua, sementara bapakku tidak pernah menafkahi ibu dan aku. Aku masih trauma dengan keadaan itu. Aku hanya ingin memantapkan hatiku terlebih dahulu sampai aku siap. Aku akan segera menghalalkanmu, Sayang. Tolong bersabarlah, sedikit lagi.”
Kaylila tak dapat menahan tangis. Tangisnya pun pecah. Kaylila yang sesenggukan, tak mampu berbicara. Orang yang lalu lalang melewati mereka mengamati, seolah olah bertanya, ada apa dengan mereka berdua. Setelah sedikit menenangkan diri, Kaylila berusaha berbicara.
“Mas, apakah kamu mencintaiku?”
Genta merendahkan diri, bersimpuh dengan kedua lututnya, dengan kedua tangannya masih memegang erat tangan Kaylila. Orang-orang semakin banyak yang memperhatikan mereka berdua. Kaylila malu, ingin melepaskan tangan dan meninggalkan Genta, tapi kuatnya pegangan Genta pada pergelangan tangannya membuat Kaylila tidak sanggup melepaskan diri. Sikap Genta yang selalu bersimpuh begini adalah senjata baginya untuk meluluhkan hati Kaylila. Setiap kali mereka bertengkar, Kaylila akan luluh hanya dengan permohonan maaf dari Genta sembari berlutut. Kali ini Kaylila mulai meragukan hatinya pada Genta. Kaylila mulai meragukan bahwa hatinya akan luluh kali ini.
“Astaga Kaylila! Apa maksudmu menanyakan hal itu? Apakah perbuatanku, kasih sayangku selama ini tidak cukup membuktikan bahwa kamu adalah cintaku. Aku mencintaimu. Tidak cukupkah itu?”
“Kamu ingin aku mengerti kamu? Selama ini apakah masih kurang aku mengerti kamu? Tidakkah kamu mencoba untuk mengerti aku kali ini? Sekali ini saja.”
“Yang, kumohon, jangan begini lagi. Please… Mengertilah aku. Kali ini saja.”
“Maafkan aku mas. Kali ini aku tidak bisa. Daripada aku harus meninggalkanmu secara paksa karena kedua orangtuaku yang akan segera menjodohkanku, lebih baik kita akhiri hubungan kita sampai disini. Aku sudah tidak sanggup lagi. Kumohon padamu. Lepaskan aku.”
Kaylila menyentakkan tangan Genta dengan sekuat tenaga. Sudah tak dipedulikannya lagi rasa sakit di pergelangan tangannya dan tatapan iba dari para pejalan kaki. Kaylila segera berlalu setengah berlari meninggalkan Genta yang masih duduk bersimpuh. Air mata Kaylila mengalir deras, menganak sungai, penglihatannya kabur, hingga sulit baginya melihat apa yang ada di hadapannya.
Kemudian brukkkk, dan Kaylila terjatuh setelah menabrak seseorang yang berada dihadapannya. Kaylila menengadahkan kepalanya, dan tidak disangka, di hadapannya berdiri si pria menyebalkan itu, Nosa, dengan tatapan iba yang ditujukan padanya. Lama mereka terpaku satu sama lain, kemudian Nosa mengulurkan tangannya. Kaylila tak kunjung menyambut, keraguan menghampiri, kemudian sadar bahwa sedari tadi menjadi perhatian orang banyak, Kaylila menerima uluran tangan Nosa. Nosa menarik tangan Kaylila, membantunya berdiri. Kemudian menarik Kaylila menjauh dari kerumunan orang banyak.
Sejenak Kaylila terpukau, kemudian terpaku, menatap Nosa kali ini. Santai, dengan setelan olahraga berwarna merah maroon dan sepatu olahraga warna senada. Kaylila mengusir rasa kekaguman pada sosok Nosa. Kemudian Kaylila mencoba membandingkan Genta dan Nosa. Genta memiliki wajah rupawan, tidak pernah hilang senyum dari wajahnya, dengan kulit putih bersih, dan rambut ikal yang selalu rapi. Genta berkepribadian hangat dan sangat perhatian. Genta tak pernah melewatkan satu waktu pun jauh atau tanpa mendengarkan kabar berita dari Kaylila. Tapi Genta tidak setinggi dan se-atletis Nosa. Nosa yang memiliki wajah tampan, tatapan mata yang tajam, beralis tebal, rambut lurus yang selalu dipotong rapi, menunjukkan sikap dewasa dan matang, jarang sekali tersenyum, Nosa cenderung menunjukkan sosoknya yang dingin.
Nosa masih memegang pergelangan tangan Kaylila sambil setengah berlari hingga jauh, sampai tak tampak lagi sosok Genta. Entah apa yang terjadi pada Genta saat ini. Nosa menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Kaylila. Sepertinya Nosa baru menyadari bahwa sedari tadi dia memegang pergelangan Kaylila tanpa melepaskannya. Nosa melepaskan pegangannya.
“Kamu sudah sarapan?”
Kaylila yang tidak menduga akan ditanyakan hal tersebut, segera menjawab dengan gelengan kepala. Nosa kemudian menarik tangan Kaylila lagi, setengah berlari mereka menuju area parkir, kemudian menaiki taksi yang standby saat itu. Selama di dalam mobil, Kaylila dan Nosa hanya berdiam diri. Nosa menelpon seseorang, sementara Kaylila lagi-lagi masih mengingat pertengkarannya dengan Genta. Kaylila meyakinkan diri, bahwa dia mampu hidup tanpa Genta. Tak terasa, air mata Kaylila menetes lagi, menyayangkan apa yang telah terjadi, antara dia dan Genta. Seharusnya mereka bisa saling mengisi dan saling mengerti, pada saat tekanan yang datang kepada Kaylila, mengenai masa depan Kaylila, masa depan mereka berdua.
***
Sementara Kaylila berlari menjauh, Genta yang masih dengan posisi bersimpuh, memukulkan tinjunya ke jalan, hingga berdarah. Genta kesal dengan sikap Kaylila, tuntutan orangtua Kaylila yang tidak masuk akal. Semua membuatnya kesal. Genta masih mengamati kepergian Kaylila yang menjauh darinya, kemudian terjatuh karena menabrak seorang pria, tinggi, tampan, dengan kematangan seorang pria dewasa.
Genta segera berdiri ingin menyusul Kaylila, namun urung, dilihatnya pria itu mengulurkan tangan kepada Kaylila, dan tak lama kemudian pada akhirnya Kaylila menyambut uluran tangan pria itu, kemudian berlari menjauh meninggalkan Genta dengan kemarahannya.
Genta mengingat pria itu, yang semalam mengantarkan Kaylila pulang, menunggu Kaylila masuk kedalam rumah, kemudian pergi meninggalkan rumah Kaylila. Bara api cemburu membakar Genta. Mungkinkah terjadi sesuatu antara Kaylila dan pria itu, sehingga Kaylila begitu berubah. Kaylila bukanlah gadis penuntut, dia cenderung menerima, sabar, dewasa dan mandiri. Namun, kejadian kemarin siang membuat Genta merasakan ada sesuatu yang berubah pada diri Kaylila. Genta mengepalkan kedua tangannya.
“Tunggu saja Kaylila, kamu tidak akan bisa lepas dariku. Jangan pernah kamu mencoba untuk meninggalkan aku. Aku akan tetap mencarimu, sampai dimanapun.”
Kemudian Genta berlalu menuju tempat dia memarkinkan mobilnya, dan melajukan kendaraannya menuju ke rumah Kaylila yang tidak jauh dari tempat terakhir dia berpisah dari Kaylila. Tiba dirumah Kaylila, Genta mengamati rumah itu, kosong, sepertinya Kaylila belum pulang kerumah. Genta memukul kemudi, sambil memaki.
“Dasar sial!.”
Genta kemudian melajukan kendaraannya, mencari-cari kalau saja Kaylila masih berada di jalanan, namun nihil, tidak juga ditemukannya Kaylila di sepanjang jalan yang ia lalui. Tiba-tiba saja penyesalan itu hadir melingkupi hatinya. Ada rasa bersalah dan merasa kehilangan sosok Kaylila sedikit membuatnya terguncang. Tanpa disadari, bahwa Kaylila sangatlah berarti bagi hidupnya.
Betapa kerasnya Genta mencari sosok Kaylila, hanya keputus asaan yang dirasa. Apakah dia terlalu keras terhadap Kaylila, atau ia benar-benar terlalu keras pada sosok Kaylila. Hingga peluh membanjiri kening dan punggungnya, Kaylila tak mampu ditemukannya. Genta menghela napas dalam, ia pun berjalan gontai meninggalkan tempat itu.
****